ILUSI SOSIAL, KOMPLEKSITAS PENGARUH, TERHADAP BANGUNAN POLITIK

ILUSI SOSIAL, KOMPLEKSITAS PENGARUH, TERHADAP BANGUNAN POLITIK

ILUSI SOSIAL, KOMPLEKSITAS PENGARUH, TERHADAP BANGUNAN POLITIK
Joko Sukmono

_Pembersihan filosofis harus membuka ruang bagi manusia untuk memahami kembali keberadaannya, bukan memaksakan satu bentuk identitas atau keyakinan yang dianggap paling benar oleh suatu kekuasaan._

Dechiperis mengonstruksikan bahwa _REALITAS SOSIAL POLITIK OTENTIK_ tidak dibangun oleh _ILUSI_, tidak pula oleh kekuatan sebuah narasi, dan tidak tunduk begitu saja kepada pengaruh sebuah kekuatan ekonomi raksasa.

Realitas sosial-politik otentik juga bukan merupakan akumulasi dari berbagai _KOMPLEKSITAS PENGARUH_ yang selama ini telah membentuk keyakinan sebagian besar manusia.

Sebab, sesuatu yang telah diyakini oleh banyak manusia belum tentu merupakan kenyataan yang otentik. Sesuatu yang telah diwariskan selama ratusan tahun belum tentu mengandung kebenaran substansial.

Demikian pula, sesuatu yang telah memperoleh legitimasi melalui kebudayaan, tradisi, institusi, maupun kekuatan ekonomi tidak dengan sendirinya menjadi dasar yang sah bagi berdirinya sebuah bangunan politik.

Di sinilah Dechiperisme meletakkan persoalan mendasar: manusia dapat hidup di dalam suatu kenyataan sosial yang sesungguhnya dibentuk oleh berbagai ilusi, tetapi karena ilusi tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, manusia tidak lagi mampu membedakan antara kenyataan yang dialaminya dan konstruksi yang selama ini mengarahkan kesadarannya.

Bangunan politik yang berdiri di atas keadaan demikian mungkin tampak kokoh, tetapi kekokohannya dapat bersumber dari ketergantungan manusia terhadap sesuatu yang belum pernah diperiksa secara ontologis dan epistemologis.

Oleh karena itu, ‘Realitas Sosial Politik Otentik’ harus menjadi landasan bagi berdirinya ‘Bangunan Politik Otentik’ yang kokoh. Bangunan politik tidak dapat dibangun hanya dengan mengandalkan kemampuan suatu rezim dalam memproduksi narasi, mengelola persepsi, mengumpulkan dukungan, atau mengonsolidasikan berbagai kekuatan sosial-ekonomi.

Semua itu dapat menjadi bagian dari dinamika politik, tetapi tidak dapat menggantikan kebutuhan terhadap landasan realitas yang konkret.

Politik otentik harus berangkat dari keberadaan manusia yang sesungguhnya, dari kondisi sosial yang dapat dikenali, dari hubungan-hubungan kekuasaan yang dapat diperiksa, dan dari kebutuhan hidup yang tidak boleh disembunyikan di balik abstraksi.

Jika bangunan politik hanya memperoleh kekuatannya melalui kemampuan menciptakan keyakinan kolektif, maka ia berisiko menjadi bangunan yang lebih sibuk mempertahankan persepsi tentang dirinya daripada menjawab kenyataan sosial yang seharusnya menjadi dasar keberadaannya.

Dengan demikian, kekuatan sebuah bangunan politik tidak ditentukan oleh seberapa besar pengaruh yang dapat dikerahkannya, melainkan oleh seberapa kuat hubungan antara prinsip-prinsip yang diklaimnya dan kehidupan konkret manusia yang berada di dalamnya.

Persoalan menjadi semakin kompleks ketika _Ilusi Sosial_ dipelihara dan direproduksi oleh rezim melalui berbagai mekanisme kehidupan sosial.

Dechiperis mengingatkan bahwa suatu rezim dapat mempertahankan pola-pola ilusi tertentu karena pola tersebut membuat masyarakat terbiasa menerima menu sosial yang telah disediakan kepadanya.

Manusia dibentuk untuk mengenali batas-batas tertentu sebagai sesuatu yang wajar, menerima hierarki sebagai sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan, dan menganggap keadaan yang diwariskan sebagai satu-satunya kemungkinan kehidupan.

Dalam situasi demikian, masyarakat tidak lagi memiliki cukup ruang untuk membayangkan bentuk kehidupan politik yang berbeda dari kenyataan yang selama ini diterimanya.

Ketika politik otentik berusaha hadir, ia justru tidak memperoleh respons positif karena kesadaran masyarakat telah lebih dahulu dibentuk oleh berbagai pengaruh yang bekerja secara terus-menerus.

Keadaan ini bukan semata-mata persoalan kurangnya informasi atau rendahnya pengetahuan individual. Ia merupakan persoalan struktural mengenai bagaimana lingkungan sosial membentuk cara manusia memahami dirinya, masyarakatnya, dan kemungkinan politik yang tersedia baginya.

Kompleksitas pengaruh tersebut menemukan bentuk yang semakin esensial ketika kekuatan psikologis-politik memanfaatkan berbagai kategori kontingensi sosial-budaya dan sosial-ekonomi untuk mengarahkan manusia ke dalam _Situasi Batas Sosial_ yang absurd.

Identitas, tradisi, kedudukan ekonomi, pengalaman historis, dan berbagai bentuk keanggotaan sosial dapat digunakan sebagai instrumen untuk membentuk respons kolektif.

Manusia tidak lagi berhadapan dengan persoalan berdasarkan kenyataan konkret yang harus diselesaikan bersama, tetapi melalui kategori-kategori yang telah lebih dahulu menentukan siapa kawan, siapa lawan, siapa yang dianggap pantas memperoleh pengakuan, dan siapa yang harus disingkirkan dari ruang sosial.

Pada titik ini, kompleksitas pengaruh tidak hanya membentuk persepsi, tetapi juga mengatur kemungkinan manusia untuk berpikir dan bertindak.

Manusia dapat merasa sedang menentukan sikapnya sendiri, padahal pilihan-pilihan yang tersedia telah dibatasi oleh struktur pengaruh yang bekerja di sekelilingnya.

Inilah situasi psikologis-politis yang oleh Dechiperis dibaca sebagai salah satu sumber lahirnya Post Political Stagnan: keadaan paradoks ketika upaya membangun ‘Politik Otentik’ harus berhadapan dengan masyarakat yang kesadarannya telah dibentuk oleh pengaruh-pengaruh yang justru menghambat kelahiran politik otentik itu sendiri.

Dari keadaan tersebut Dechiperis memperkenalkan metafora _Binatang Raksasa Politik_. Ia menggambarkan kekuatan yang dipersiapkan oleh suatu rezim sebagai predator politik yang mampu melahap berbagai bentuk kontingensi politik primordial yang masih menuntut terwujudnya bangunan politik otentik.

Binatang Raksasa Politik bukan sekadar figur atau institusi tertentu, melainkan gambaran tentang struktur pengaruh yang memiliki kemampuan besar untuk menyerap, mengendalikan, atau meniadakan kemungkinan-kemungkinan politik yang tidak sesuai dengan kepentingannya.

Kekuatan tersebut dapat bekerja melalui birokrasi, penguasaan sumber daya ekonomi, dominasi narasi, pengelolaan informasi, dan berbagai mekanisme institusional yang membentuk batas-batas partisipasi masyarakat.

Namun, metafora ini juga harus dibaca secara kritis: tidak setiap kekuatan negara atau institusi yang besar dengan sendirinya merupakan predator politik.

Persoalan muncul ketika kekuatan tersebut tidak lagi dapat dikoreksi, tidak memiliki pertanggungjawaban yang memadai, dan menggunakan kapasitasnya untuk menutup ruang bagi perubahan.

Pada saat itulah bangunan politik menghadapi ancaman dari kekuatan yang seharusnya menjadi bagian dari penyelenggaraan kehidupan bersama.

Lebih lanjut, Dechiperis mengingatkan para ‘Pelaku Politik’ dan para Akademisi bahwa bangunan ‘Politik Otentik’ untuk benar-benar menjadi dan mendunia membutuhkan konsentrasi historis yang tinggi.

Ia menuntut sikap tegas terhadap ‘Instruksionalisasi Politik’, yakni proses ketika gagasan dan prinsip politik diterjemahkan menjadi orientasi, tindakan, serta mekanisme konkret di dalam kehidupan sosial.

Sebuah gagasan tidak akan pernah menjadi kenyataan hanya karena telah dirumuskan dengan bahasa filosofis yang meyakinkan. Ia harus memiliki kemampuan untuk memasuki ruang sosial, membentuk hubungan antarmanusia, dan menghasilkan perubahan yang dapat dikenali.

Dalam proses itulah ‘Palu Ontologis-Episremologis Politik Otentik’ memperoleh fungsinya. Palu tersebut merupakan perangkat filosofis untuk membedah dasar keberadaan dan struktur pengetahuan yang menopang suatu bangunan politik.

Ia menguji apakah sesuatu yang selama ini dianggap sebagai kenyataan benar-benar memiliki dasar substansial, atau justru merupakan hasil penumpukan ilusi dan kompleksitas pengaruh.

Proses adanya, menjadinya, dan mendunianya politik otentik harus berlangsung melalui pemeriksaan tersebut, sehingga bangunan politik tidak hanya menjadi susunan konseptual, tetapi memperoleh bentuk konkret dalam sejarah.

Melalui ‘Palu Ontologis-Epistemologis’ tersebut, Dechiperis juga membuka kemungkinan untuk memeriksa berbagai elemen yang selama ini menempelkan dan mencangkokkan dirinya pada bangunan politik yang telah berdiri.

Elemen-elemen tersebut meliputi ILUSI SOSIAL, MITOS, EPOS, serta berbagai bentuk ABSURDITAS POLITIK yang secara perlahan memperoleh tempat di dalam konstruksi kelembagaan dan kebudayaan politik.

Pada mulanya, unsur-unsur tersebut mungkin hanya hadir sebagai narasi, simbol, atau kebiasaan yang tampak tidak berbahaya.

Namun, ketika terus-menerus direproduksi, dilembagakan, dan diwariskan tanpa pemeriksaan kritis, ia dapat menjadi bagian dari struktur yang menentukan cara bangunan politik bekerja.

Bangunan politik kemudian tidak lagi bergerak berdasarkan prinsip-prinsip yang dinyatakannya sendiri, melainkan berdasarkan berbagai unsur yang telah mencangkokkan diri ke dalam tubuhnya. Dechiperis menyebut keadaan demikian sebagai BANGUNAN POLITIK PATOLOGIS.

Patologi tersebut tidak selalu tampak melalui keruntuhan institusi atau konflik terbuka. Ia dapat justru tersembunyi di balik keberlanjutan administratif, ketika institusi tetap berjalan tetapi substansi keberadaannya telah bergeser dari tujuan yang semula hendak diwujudkan.

Dari sini timbul pertanyaan filosofis yang selama ini perlu diajukan secara lebih mendasar: apakah negara-negara yang telah berdiri di dunia benar-benar memenuhi persyaratan sebagai BANGUNAN POLITIK OTENTIK?

Apakah keberadaan suatu negara cukup dibuktikan oleh pengakuan internasional, batas teritorial, pemerintahan, dan perangkat hukum, ataukah masih diperlukan pemeriksaan terhadap realitas sosial-politik yang menjadi landasan keberadaannya?

Pertanyaan berikutnya menyangkut Perserikatan Bangsa-Bangsa: apakah PBB juga dapat disebut sebagai sebuah bangunan politik, dan jika demikian, apakah keberadaannya telah memenuhi tuntutan politik otentik?

Dechiperis tidak memberikan jawaban definitif yang dapat menutup seluruh perdebatan tersebut. Jawaban semacam itu masih memerlukan kejernihan konseptual agar pemeriksaan filosofis tidak terjebak pada penyederhanaan.

Namun, bagi Dechiperis, persoalan yang lebih mendesak bukanlah sekadar memberikan predikat otentik atau tidak otentik kepada institusi yang telah ada.

Yang lebih penting adalah bagaimana sebuah bangunan politik otentik dapat menjadi konkret di dalam ruang dan waktu, hadir di dalam sejarah, serta berfungsi sebagai instrumen pembebasan manusia.

Dengan demikian, ukuran politik otentik harus ditemukan melalui hubungan nyata antara keberadaan institusi dan kemungkinan manusia untuk hidup secara merdeka.

Untuk memudahkan pembacaan, Dechiperis mengonstruksikan hubungan antara ‘Ilusi Sosial’, ‘Kompleksitas Pengaruh’, dan ‘Bangunan Politik Otentik’. Namun, konstruksi tersebut tidak dimaksudkan sebagai sistematika tertutup yang membatasi seluruh kemungkinan pemikiran.

Dechiperisme tidak hendak menjadikan konsep-konsep tersebut sebagai kategori yang kaku, seolah-olah seluruh kenyataan sosial dapat disusun secara sempurna ke dalam satu urutan penjelasan. Sebab, kehidupan sosial memiliki kompleksitas yang terus bergerak dan tidak selalu dapat ditangkap melalui pembagian konseptual yang sederhana.

Justru karena itu, ketiga konsep tersebut harus dibaca sebagai perangkat untuk memahami hubungan antara pembentukan kesadaran manusia, akumulasi pengaruh sosial, dan usaha membangun keberadaan politik yang otentik.

ILUSI SOSIAL tidak berdiri sendiri, KOMPLEKSITAS PENGARUH tidak bekerja dalam ruang kosong, dan BANGUNAN POLITIK tidak pernah terlepas dari keduanya. Hubungan tersebut merupakan medan historis yang terus berubah, sehingga pemeriksaan filosofis harus selalu terbuka terhadap kenyataan yang sedang berlangsung.

Bagi Dechiperis, ILUSI SOSIAL dan KOMPLEKSITAS PENGARUH menemukan bentuknya yang esensial karena mengalami penumpukan selama ratusan tahun. Penumpukan tersebut berlangsung melalui pewarisan kebiasaan, pembentukan identitas, reproduksi nilai, pengulangan narasi, dan pelembagaan berbagai bentuk hubungan sosial.

Manusia tidak dilahirkan dengan seluruh kategori sosial yang kelak digunakannya untuk memahami dunia. Ia tumbuh di dalam lingkungan yang telah memiliki sejarah, struktur, dan pola pengaruh tertentu.

Sejak awal kehidupannya, ia berhadapan dengan berbagai bentuk pengetahuan dan kebiasaan yang diterima sebagai sesuatu yang wajar.

Sebagian dari warisan tersebut tentu memiliki fungsi sosial yang penting, tetapi sebagian lainnya dapat mempertahankan ketidaksetaraan, menutup kemungkinan perubahan, atau membuat manusia menerima keadaan yang seharusnya dapat dipertanyakan.

Ketika penumpukan berlangsung lintas generasi, suatu konstruksi sosial dapat memperoleh kesan seolah-olah bersifat alamiah dan tidak mungkin diubah.

Di sinilah ilusi menemukan kekuatan esensialnya: bukan karena ia selalu hadir sebagai kebohongan yang mudah dikenali, melainkan karena ia telah menyatu dengan cara manusia menjalani kehidupan.

Oleh sebab itu, bangunan Politik Otentik membutuhkan pembedahan filosofis terhadap berbagai lapisan warisan tersebut. Dechiperisme menyebut kebutuhan ini sebagai pembersihan terhadap Virus Ilusi Sosial dan Kompleksitas Pengaruh yang telah berkarat di dalam kehidupan sosial.

Pembersihan di sini tidak boleh dipahami sebagai penghapusan manusia, kebudayaan, agama, tradisi, atau identitas tertentu. Yang harus diperiksa adalah struktur pengaruh, klaim kebenaran, dan praktik kekuasaan yang membuat unsur-unsur sosial tersebut tidak lagi dapat dikritik serta digunakan untuk membatasi kebebasan manusia.

Sebuah identitas tidak otomatis merupakan ilusi; sebuah tradisi tidak otomatis merupakan penghalang; dan sebuah keyakinan tidak otomatis bertentangan dengan rasionalitas. Persoalannya adalah bagaimana semua itu bekerja di dalam relasi sosial dan politik.

Apakah ia membuka ruang bagi manusia untuk berpikir dan hidup secara merdeka, atau justru menuntut kepatuhan tanpa pemeriksaan? Apakah ia memperluas solidaritas, atau menjadikan perbedaan sebagai dasar permusuhan?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang harus diajukan oleh Palu Ontologis-Epistemologis Politik Otentik agar pembedahan filosofis tidak berubah menjadi pembenaran bagi penghancuran sosial.

Dechiperis kemudian menghubungkan persoalan tersebut dengan berbagai peristiwa besar dalam sejarah manusia. Revolusi Perancis, misalnya, memperlihatkan bagaimana perubahan politik dapat disertai pembongkaran simbol-simbol dan struktur kekuasaan lama yang sebelumnya dianggap tidak tergoyahkan.

Namun, revolusi itu juga memperlihatkan bahwa proses pembebasan dapat menghasilkan kekerasan dan tragedi ketika penghancuran tatanan lama tidak disertai perlindungan terhadap kehidupan manusia.

Demikian pula, gerak maju Tentara Merah di Eropa Timur hingga kekalahan Nazi Jerman pada 1945 merupakan bagian dari peristiwa militer dan politik yang mengakhiri rezim Nazi, tetapi tidak dapat direduksi menjadi satu cerita sederhana tentang penghancuran ilusi sosial.

Revolusi Kebudayaan di Republik Rakyat Tiongkok yang berlangsung sejak 1966 hingga 1976 juga memperlihatkan bagaimana suatu gerakan politik dapat berusaha membongkar warisan kebudayaan dan struktur sosial yang dianggap menghambat perubahan, tetapi sekaligus menghasilkan penganiayaan, kekacauan, dan penderitaan manusia dalam skala luas.

Sementara itu, peristiwa 1965–1966 di Indonesia merupakan tragedi sejarah yang melibatkan kekerasan massal, penangkapan, dan penganiayaan terhadap manusia.

Semua peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa perubahan politik yang mengatasnamakan pembebasan tidak dengan sendirinya menghasilkan bangunan politik otentik.

Justru sejarah mengingatkan bahwa penghancuran dapat menjadi tragedi baru ketika manusia dijadikan korban bagi suatu klaim politik yang tidak dapat dikoreksi.

Dengan demikian, hubungan antara Ilusi Sosial, Kompleksitas Pengaruh, dan instrumen pembebasan politik mengandung persoalan historis yang jauh lebih rumit daripada sekadar pertentangan antara kekuatan lama dan kekuatan baru.

Tragedi demi tragedi dapat muncul ketika suatu kekuasaan menganggap dirinya memiliki hak mutlak untuk menentukan apa yang harus dihancurkan dan apa yang harus dipertahankan atas nama pembebasan.

Dechiperisme perlu membedakan secara tegas antara pembedahan filosofis terhadap ilusi sosial dan penghancuran manusia yang dianggap sebagai pembawa ilusi tersebut.

Yang pertama merupakan pekerjaan kritis untuk membongkar struktur pemikiran dan relasi kekuasaan; yang kedua merupakan tindakan kekerasan yang dapat menciptakan ketidakadilan baru. Tidak ada bangunan politik otentik yang dapat dibenarkan dengan mengorbankan manusia secara sewenang-wenang.

Sebab, jika pembebasan justru menghilangkan kebebasan dan martabat manusia, maka ia telah menyangkal dasar ontologis dari politik yang hendak dibangunnya.

Palu Ontologis-Epistemologis harus diarahkan kepada struktur dan klaim yang dapat diperiksa, bukan menjadi alasan untuk menyerang manusia berdasarkan identitas atau keyakinannya.

Sejarah manusia hingga 2026 memperlihatkan bahwa konfrontasi antara Ilusi Politik, Kompleksitas Pengaruh, dan usaha membentuk bangunan politik otentik terus berlangsung dalam berbagai bentuk kontingensi.

Perubahan teknologi, perkembangan ekonomi, pergeseran komunikasi, dan keterhubungan masyarakat lintas negara telah mengubah cara pengaruh bekerja.

Jika pada masa sebelumnya pengaruh sosial banyak direproduksi melalui institusi tradisional, hubungan personal, dan saluran komunikasi yang terbatas, kini teknologi memungkinkan narasi, simbol, dan konstruksi persepsi bergerak dalam skala yang jauh lebih luas dan cepat.

Peristiwa di suatu tempat dapat memengaruhi suasana sosial-politik di tempat lain bahkan ketika kedua masyarakat tersebut tidak memiliki hubungan langsung yang intensif sebelumnya.

Informasi, krisis ekonomi, konflik bersenjata, dan perubahan kebijakan dapat melintasi batas negara dan membentuk respons sosial yang saling berhubungan.

Teknologi dengan demikian menjadi salah satu instrumen penting dalam pembentukan realitas sosial-politik modern. Namun, teknologi bukan dengan sendirinya instrumen pembebasan.

Ia dapat memperluas akses pengetahuan dan partisipasi, tetapi juga dapat digunakan untuk memperkuat manipulasi, pengawasan, propaganda, dan konsentrasi kekuasaan.

Persoalannya kembali kepada struktur sosial-politik yang mengendalikan penggunaannya dan kemampuan manusia untuk memeriksa pengaruh yang dihasilkan.

Dechiperis juga melihat bahwa Ilusi Sosial pada masa kini mengalami peningkatan karena Kompleksitas Pengaruh terus terakumulasi dan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Ilusi tersebut dapat termodifikasi menjadi gerakan-gerakan perlawanan terhadap rasionalitas, terutama ketika suatu keyakinan telah memperoleh kedudukan sebagai moral konvensional yang tidak boleh dipertanyakan.

Dalam keadaan demikian, kritik terhadap suatu keyakinan dapat dipahami sebagai serangan terhadap identitas, sementara pemeriksaan rasional dianggap sebagai ancaman terhadap tatanan sosial.

Akan tetapi, rasionalitas sendiri juga tidak boleh ditempatkan sebagai alat legitimasi yang kebal terhadap kritik. Setiap klaim yang mengatasnamakan rasionalitas harus terbuka terhadap pengujian, bukti, dan pertanggungjawaban.

Demikian pula, kritik terhadap rezim politik global tidak cukup dilakukan dengan menganggap seluruh institusi atau kekuatan internasional sebagai satu kesatuan yang memiliki kehendak tersembunyi.

Kompleksitas pengaruh harus ditelusuri melalui mekanisme yang konkret: siapa yang memiliki sumber daya, bagaimana informasi diproduksi, bagaimana keputusan dibuat, kepentingan apa yang terlibat, dan bagaimana akibatnya dirasakan oleh masyarakat.

Tanpa pemeriksaan semacam itu, kritik terhadap ilusi justru dapat melahirkan ilusi baru.

Salah satu bentuk Kompleksitas Pengaruh  yang disoroti Dechiperis adalah kecenderungan menjadikan manusia sebagai adonan sosial yang dipersiapkan untuk dicetak menjadi alat produksi.

Dalam susunan kehidupan ekonomi tertentu, manusia dapat direduksi menjadi tenaga kerja yang hanya dinilai berdasarkan kegunaannya bagi proses produksi. Keberadaannya diukur melalui produktivitas, efisiensi, kemampuan memenuhi target, dan nilai ekonomis yang dapat dihasilkan.

Dalam kondisi demikian, manusia berisiko diperlakukan seolah-olah setara dengan komponen mesin, robot, atau perangkat produksi lainnya.

Padahal, manusia bukan sekadar kapasitas kerja. Ia memiliki kebutuhan, kehendak, relasi sosial, kemampuan berpikir, dan kemungkinan untuk menentukan arah kehidupannya sendiri.

Persoalan ini menjadi semakin serius ketika struktur sosial dan ekonomi membuat manusia menerima reduksi tersebut sebagai sesuatu yang alamiah.

Mereka dapat menganggap kelelahan, ketidakpastian, ketidakamanan kerja, dan hilangnya kendali atas kehidupannya sebagai harga yang tidak dapat dihindari untuk menjadi bagian dari masyarakat.

Dechiperisme menyebut keadaan tersebut sebagai ironi sosial: manusia membangun sistem produksi, tetapi kemudian kehidupannya sendiri justru disesuaikan dengan kebutuhan sistem produksi itu.

Kompleksitas pengaruh juga dapat dibaca melalui hubungan antara perkembangan sosial di berbagai wilayah dunia. Pertumbuhan ekonomi Vietnam, misalnya, tidak dapat dipahami sebagai peristiwa yang sepenuhnya terpisah dari dinamika ekonomi dan sosial negara-negara lain.

Demikian pula, konflik di Timur Tengah tidak hanya menjadi persoalan lokal, karena dapat memengaruhi hubungan diplomatik, perdagangan, migrasi, keamanan, dan persepsi masyarakat di berbagai kawasan.

Namun, keterhubungan tersebut tidak berarti bahwa seluruh masyarakat dunia mengalami keadaan yang sama atau memiliki respons yang seragam.

Setiap masyarakat memiliki kondisi historis, institusi, kebudayaan, dan struktur ekonomi yang berbeda. Justru perbedaan itulah yang membuat kompleksitas pengaruh menjadi penting untuk dipahami.

Suatu peristiwa dapat menghasilkan akibat yang berbeda di tempat yang berbeda, bergantung pada bagaimana hubungan sosial di wilayah tersebut terbentuk.

Dengan demikian, dunia sosial bukanlah kumpulan ruang yang terisolasi, tetapi juga bukan satu ruang homogen yang bergerak dengan cara yang sama. Ia merupakan jaringan relasi yang memungkinkan perubahan di satu tempat menghasilkan konsekuensi di tempat lain melalui berbagai mekanisme yang harus diperiksa secara konkret.

Lebih jauh, Dechiperis mengidentifikasi beberapa kategori kontingensi karakteristik sosial yang dapat menjadi tempat berkembangnya Ilusi Sosial, antara lain Identitas Sosial, Kesadaran Kolektif Fanatisme, serta berbagai bentuk kontingensi primordial sosio-kultural lainnya.

Identitas sosial dapat menjadi dasar solidaritas dan pengakuan, tetapi juga dapat berubah menjadi batas yang menutup hubungan dengan kelompok lain.

Kesadaran kolektif dapat menjadi sumber tindakan bersama, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan prasangka dan kepatuhan tanpa pemeriksaan.

Fanatisme dapat membuat manusia kehilangan kemampuan untuk membedakan antara komitmen terhadap suatu keyakinan dan penolakan terhadap segala bentuk kritik.

Dalam situasi tertentu, kompleksitas pengaruh mampu membentuk kesadaran kolektif menjadi semacam adonan sosial yang mudah diarahkan oleh lingkungan politik dan kebudayaannya.

Manusia tidak lagi memeriksa apakah suatu pandangan memiliki dasar yang memadai, melainkan menerimanya karena pandangan tersebut telah menjadi bagian dari identitas kelompoknya.

Dari sinilah dapat muncul suasana kejiwaan sosial yang absurd: manusia mempertahankan sesuatu bukan karena memahami alasan keberadaannya, tetapi karena merasa bahwa keberadaannya sendiri akan terancam apabila sesuatu itu dipertanyakan.

Karena itu, tugas utama Palu Ontologis-Epistemologis Politik Otentik adalah membongkar kondisi tersebut melalui pemeriksaan terhadap dasar keberadaan dan pembentukan pengetahuan sosial-politik.

Ia harus mampu menyingkap bagaimana ilusi terbentuk, bagaimana pengaruh direproduksi, dan bagaimana keduanya memperoleh legitimasi di dalam kehidupan masyarakat.

Namun, pembongkaran tersebut tidak boleh menjadi proyek pemurnian sosial yang menghapus keragaman manusia. Yang harus dibersihkan adalah hubungan kekuasaan yang memanipulasi identitas, membatasi kebebasan berpikir, dan menjadikan manusia sebagai objek dari kepentingan tertentu.

Pembersihan filosofis harus membuka ruang bagi manusia untuk memahami kembali keberadaannya, bukan memaksakan satu bentuk identitas atau keyakinan yang dianggap paling benar oleh suatu kekuasaan.

Dengan demikian, Palu Ontolologis-Epistemologus bukanlah alat untuk menghancurkan kelompok sosial, melainkan perangkat untuk membongkar konstruksi yang membuat manusia terperangkap dalam hubungan sosial yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Tujuannya adalah agar konflik yang berkepanjangan tidak semakin meluas dan kompleks, serta agar perbedaan tidak terus-menerus diubah menjadi alasan bagi permusuhan.

Dari seluruh konstruksi tersebut muncul pertanyaan filosofis yang lebih mendasar: apakah telah tersedia sarana institusional yang sungguh-sungguh bekerja untuk menjadikan bangunan Politik Otentik, ataukah Realitas Politik Otentik itu sebenarnya telah menjadi dan mendunia di dalam kehidupan konkret manusia?

Pertanyaan ini tidak dapat dijawab hanya dengan menunjuk keberadaan lembaga, peraturan, atau program pemerintah.

Keberadaan institusi belum tentu menunjukkan bahwa politik otentik telah terwujud, sebagaimana ketiadaan suatu institusi tertentu tidak selalu berarti bahwa seluruh kemungkinan politik otentik telah tertutup.

Yang harus diperiksa adalah apakah mekanisme kelembagaan tersebut benar-benar memungkinkan manusia terlibat dalam menentukan kehidupan bersama, mengawasi kekuasaan, dan memperoleh perlindungan atas kebebasan serta martabatnya.

Dechiperis menyebut kemungkinan tindakan yang memiliki daya perubahan ontologis-politis tinggi sebagai Post Social Political Power.

Istilah ini dapat dibaca sebagai penanda bagi tindakan yang berusaha mengubah dasar hubungan sosial-politik, bukan sekadar mengganti susunan administratif atau figur kekuasaan.

Namun, daya perubahan yang tinggi tidak boleh dipisahkan dari legitimasi, pertanggungjawaban, dan perlindungan terhadap manusia. Tanpa itu semua, perubahan yang mengatasnamakan politik otentik dapat kembali menjadi bentuk dominasi yang baru.

Pernyataan Dechiperis bahwa situasi historis hari ini tidak lagi mengenal identitas sebagai dasar penentuan sasaran penghancuran harus dibaca dengan kehati-hatian filosofis.

Hukum Rasional Sejarah tidak boleh dijadikan alasan untuk menyerang entitas religius, etis, kebudayaan, atau identitas sosial tertentu.

Tidak ada identitas manusia yang dengan sendirinya layak menjadi sasaran penghancuran hanya karena dianggap mewakili masa lalu atau menghambat perubahan.

Jika Palu Ontologis Politik diarahkan kepada suatu entitas, maka yang harus menjadi objek pemeriksaan adalah struktur, klaim, praktik, dan hubungan kekuasaan yang dapat dibuktikan telah menghambat kebebasan atau menghasilkan ketidakadilan.

Di sini Hukum Rasional Perubahan harus dipahami sebagai tuntutan untuk memeriksa dan mengubah struktur yang tidak lagi dapat dipertanggungjawabkan, sedangkan Hukum Rasional Peralihan Sejarah menunjuk pada proses ketika perubahan tersebut memperoleh bentuk institusional melalui aturan dan mekanisme yang sah.

Institusionalisasi tidak boleh menjadi tahap ketika suatu kekuasaan baru memperoleh hak untuk memaksakan kehendaknya tanpa batas.

Justru ia harus memastikan bahwa perubahan dapat dipertanggungjawabkan, bahwa hak manusia tetap terlindungi, dan bahwa kekuasaan baru tidak mengulangi patologi kekuasaan yang hendak dibongkarnya.

Dalam pengertian tersebut, perubahan historis tidak harus selalu dibaca sebagai _TRAGEDI POLITIK_ ataupun _IRONI HISTORIS_. Ia dapat menjadi keniscayaan perubahan ketika suatu struktur telah kehilangan kemampuan untuk menjawab kenyataan sosial.

Namun, keniscayaan historis tidak berarti bahwa setiap peristiwa yang terjadi otomatis benar, adil, atau tidak dapat dihindari. Sejarah berlangsung melalui tindakan manusia, keputusan politik, konflik kepentingan, dan berbagai kemungkinan yang tidak selalu dapat dipastikan sebelumnya.

Karena itu, Dechiperisme perlu membedakan antara kenyataan bahwa perubahan terus berlangsung dan klaim bahwa suatu bentuk perubahan tertentu pasti merupakan satu-satunya jalan yang tersedia. Pembedaan ini penting agar Hukum Rasional Sejarah tidak berubah menjadi dogma baru yang justru meniadakan rasionalitas.

Sebuah bangunan politik otentik harus memiliki kemampuan untuk mengoreksi dirinya sendiri, termasuk mengoreksi klaim filosofis yang menjadi dasar pendiriannya. Jika ia tidak dapat dikritik, maka ia berisiko berubah menjadi bangunan politik patologis yang baru.

Pada akhirnya, ILUSI SOSIAL dan Kompleksitas Pengaruh merupakan persoalan mendasar karena keduanya dapat membuat manusia kehilangan hubungan dengan keberadaan konkret dirinya.

Manusia yang seharusnya menjadi subjek sejarah dapat direduksi menjadi objek dari narasi, identitas, kekuasaan, dan sistem produksi yang tidak pernah diperiksanya.

Ia hidup di dalam dunia yang dibentuk oleh berbagai pengaruh, tetapi tidak selalu memiliki kesempatan untuk memahami bagaimana pengaruh tersebut bekerja.

Ia dapat merasa bebas ketika sebenarnya ruang pilihannya dibatasi; merasa memiliki keyakinan sendiri ketika pandangannya dibentuk oleh pengulangan sosial; dan merasa menjadi bagian dari bangunan politik ketika keberadaannya hanya dibutuhkan sebagai alat legitimasi.

Inilah ironi sosial yang paling mendasar: manusia ikut membangun sistem yang kemudian dapat mengatur dan membatasi kehidupannya sendiri, sementara negara tidak selalu hadir untuk memeriksa atau mengoreksi keadaan tersebut.

Maka, tugas filosofis Dechiperisme adalah membongkar lapisan-lapisan yang membuat manusia terasing dari keberadaannya sebagai manusia konkret, sekaligus membuka kemungkinan bagi terbentuknya hubungan sosial-politik yang lebih otentik.

Dengan demikian, Bangunan Politik Otentik tidak akan pernah lahir hanya melalui pergantian rezim, perubahan slogan, penggantian institusi, atau penghancuran simbol-simbol masa lalu.

Ia membutuhkan pemeriksaan ontologis dan epistemologis yang terus-menerus terhadap dasar kehidupan sosial, struktur pengaruh, dan cara kekuasaan dijalankan.

Ia harus mampu membedakan antara realitas dan ilusi, antara solidaritas dan fanatisme, antara tradisi dan dominasi, antara pembebasan dan penghancuran, serta antara kekuatan institusional dan pemusatan kekuasaan.

Palu Ontologis-Epistemologis Politik Otentik  harus bekerja sebagai perangkat pembongkaran yang sekaligus membuka jalan bagi pembentukan kehidupan sosial-politik yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sebab, tujuan akhirnya bukanlah menciptakan manusia yang seragam, bukan pula membangun kekuasaan yang tidak dapat digugat, melainkan menghadirkan manusia sebagai subjek yang merdeka di dalam sejarahnya sendiri.

Realitas Sosial Politil Otentil  harus menjadi dan mendunia melalui kehidupan konkret manusia, bukan melalui ilusi yang dipelihara, pengaruh yang tidak diperiksa, ataupun kekuasaan yang menjadikan manusia sekadar adonan sosial bagi kepentingannya.

Di situlah bangunan politik otentik menemukan dasar keberadaannya: ketika manusia tidak lagi menjadi alat bagi bangunan politik, melainkan bangunan politik hadir sebagai instrumen pembebasan bagi manusia. ***)

Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 2 November 2026