IMPERIALISME INSTITUSIONAL

IMPERIALISME INSTITUSIONAL

Ruang Filsafat

IMPERIALISME INSTITUSIONAL
Joko Sukmono

Imperialisme telah menjelma secara konkret menjadi institusi melalui liberalisasinya yang bernama institusionalisasi.

Institusionalisasi ini adalah kerangkeng raksasa dengan sistem sosial yang dikenal sebagai post-delivered order.

Ia memiliki cengkeraman runcing, tajam, dan mengerikan, karena bekerja tidak dengan kekerasan langsung, melainkan melalui normalisasi, prosedur, dan kepatuhan yang tampak rasional.

Postmodernisme berada pada posisi esensinya yang stagnan. Keadaan ini berakibat pada terhentinya transhistorisitas manusia dalam proses men-dunia.

Manusia tidak lagi bergerak melampaui sejarahnya, melainkan terjebak dalam fragmentasi makna yang berulang dan tanpa orientasi emansipatoris.

Dunia sosial pun gagal dalam proses menjadi. Ia tidak bergerak menuju pembentukan baru yang lebih unggul, tetapi justru cenderung berada dalam kondisi kesia-siaan, mandek, dan tidak menjadi apa pun.

Yang berlangsung bukan perkembangan, melainkan repetisi krisis dalam bentuk-bentuk yang semakin kompleks.

Kepanikan sosial dari kondisi ini melahirkan semacam Aufklärung yang konyol. Pencerahan palsu ini bekerja secara manipulatif.

Kelimpahan produksi dijadikan instrumen pengelabuan, seolah-olah kuantitas identik dengan kemajuan.

Distribusi mencapai kulminasi, tetapi justru berujung pada kebusukan dan pelapukan barang-barang yang tidak terkonsumsi secara normal. Di sini, rasionalitas ekonomi berubah menjadi absurditas sosial.

Ketika data dijadikan sarana utama dalam seluruh proses sosial, manusia direduksi menjadi sekadar kompilasi angka. Dalam kondisi ini, kemanusiaan kehilangan nilai-nilai fundamentalnya.

Manusia tidak lagi dipahami sebagai subjek historis, melainkan sebagai komponen mekanik dalam sistem. Ironis, sekaligus tragis.

Rasio historis memberi peringatan bahwa kebingungan sosial semacam ini niscaya akan bermuara pada revolusi sosial yang tak terbayangkan bentuk dan skalanya. Inilah konsekuensi logis dari imperialisme yang bekerja secara total.

Imperialisme tidak lagi hadir sebagai kekuatan eksternal. Ia telah menjadi presiden, menteri, gubernur, bupati, dan wali kota.

Ia menjelma dalam kebijakan, regulasi, dan bahasa kekuasaan yang tampak sah, tetapi sesungguhnya mengabdi pada kepentingan di luar rakyat.

Kolonialisme meninggalkan akibat yang berbeda, tetapi tidak kalah berbahaya. Ia mewujudkan diri sebagai budaya yang membentuk pola pikir.

Kolonialisme melahirkan kolonialis-kolonialis konkret, yaitu mereka yang secara aktif mereproduksi penindasan di dalam bangsanya sendiri. Mereka adalah para koruptor.

Feodalisme, pada sisi lain, menghasilkan kondisi psiko-sosial yang membentuk pola-pola perilaku hierarkis dan tunduk pada kultus kekuasaan.

Mereka yang lahir dari struktur ini menjalankan peran sebagai tokoh dengan gaya adigang, adigung, adiguna. Dari sinilah embrio nepotisme tumbuh dan mengakar.

Sementara itu, liberalisme melahirkan kaum liberalis kolektif yang kehilangan orientasi sosial. Kebebasan direduksi menjadi kebebasan individual semata, terlepas dari tanggung jawab historis dan solidaritas sosial. ***)

Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 9 Januari 2026

 

Note:

https://www.cnnindonesia.com/edukasi/20230202113938-569-908032/pengertian-imperialisme-jenis-dan-latar-belakangnya-di-indonesia?utm_source=perplexity

https://www.liputan6.com/hot/read/5020320/3-tujuan-imperialisme-modern-pahami-penyebab-dan-dampaknya?utm_source=perplexity