Perang, Imperialisme, dan Masa Depan Dunia
Oleh Djoko Sukmono
Pendahuluan
Sejarah dunia ditandai oleh konflik dan perebutan kekuasaan yang tiada akhir. Perang bukan sekadar pertumpahan darah, tetapi juga cerminan ambisi, ideologi, dan perebutan supremasi.
Dari Perang Dunia I hingga dominasi kapitalisme modern, dunia terus bergerak dalam siklus kekerasan, eksploitasi, dan upaya rekonstruksi sosial.
Babak Perang yang Mengubah Dunia
Dentuman artileri, derap infanteri, dan rentetan peluru membuka lembaran baru sejarah global. Perang Dunia II bukan hanya perang antar negara, tetapi perang ideologi yang membentuk dunia hingga saat ini.
Di Eropa, Adolf Hitler dan Nazi Jerman membakar benua dalam ambisi supremasi Ras Arya. Perancis yang dulu berjaya di era Napoleon menyerah tanpa syarat. Britania Raya nyaris tumbang. Stalin di Timur menanti dengan strategi politiknya yang licin.
Di Asia, Kekaisaran Jepang bangkit, mengibarkan panji imperialisme dan mendeklarasikan dominasi di Asia Timur Raya. Dari Jawa hingga Manchuria, satu suara menggema: “Kami tunduk kepada Kaisar Jepang.”
Namun, tindakan gegabah Jepang mengebom Pearl Harbor membangunkan raksasa yang tidur—Amerika Serikat masuk ke kancah perang.
Afrika Utara menjadi medan tempur antara Sekutu dan Rommel, Sang Rubah Gurun. Pasukan Sekutu mendarat di Normandia, memulai babak akhir dominasi Nazi. Tiba-tiba…
● Hiroshima dan Nagasaki terbakar bom atom.
● Mussolini dieksekusi rakyatnya sendiri.
● Hitler menghilang, meninggalkan teka-teki sejarah.
● Jepang menyerah tanpa syarat.
● Tentara Merah Soviet memasuki Berlin.
Perang pun usai, tetapi dunia tidak pernah benar-benar damai.
Era Baru: Imperialisme yang Berubah Wajah
Perang Dunia II melahirkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan jargon “Declaration of Human Rights”.
Namun, pertanyaannya: apakah PBB benar-benar menjadi lambang kebebasan? Ataukah ini hanya imperialisme dalam bentuk baru?
Kini, imperialisme tidak lagi hadir dengan penjajahan fisik, tetapi melalui dominasi ekonomi, teknologi, dan budaya.
Kapitalisme tumbuh menjadi kekuatan yang sulit dibendung, melahirkan kesenjangan ekonomi yang semakin lebar. Eksploitasi menjadi makanan pokoknya.
● Kebenaran di mata kapitalisme adalah segala sesuatu yang bisa dijual.
● Kebaikan diukur dari seberapa laku sebuah produk di pasar.
● Neo-liberalisme menjadi wajah baru imperialisme, menguasai sektor-sektor strategis.
Refleksi: Ke Mana Kita Menuju?
Dunia saat ini tidak hanya berhadapan dengan perang senjata, tetapi juga perang gagasan dan ekonomi.
Setiap era memiliki konstruksi yang membentuk cara berpikir, berbicara, dan bertindak manusia. Kita memasuki fase baru: imperialisme terstruktur dalam era digitalisasi.
Pertanyaan mendasar yang harus direnungkan: siapa sebenarnya pemenang dari semua ini? Kapitalisme? Marxisme? Atau nilai-nilai kemanusiaan yang masih bertahan di tengah pusaran perubahan?
Sejarah tidak pernah benar-benar berhenti. Sejarah adalah arena pertarungan tanpa akhir, dan kita semua adalah bagiannya.
IMPERIALISME KAPITALISME
Gold, Gospel, War, Glory and Victory…
Ekplorasi Sumber Daya Alam (SDA)
Ekploitasi Sumber Daya Manusia (ADM)
Keduanya telah dijadikan sebagai pijakan pergerakan Imperialis dan kapitalis dalam rangka meningkatkan kekayaan.
Inilah yang dinamakan bahwa Imperialis adalah ekspresi niscaya dari kapitalisme
dan dariNya kapitalisme dijadikan sebagai binatang buas yang tahan banting dan pada tahapan tertingginya adalah yang mengakhiri Sejarah.
Ketika kapital telah menumpuk dalam jumlah yang tidak dapat lagi diinvestasikan secara menguntungkan maka ekspansi menjadi yang tak terelakkan
Bagi imperialis kapitalis sudah tidak ada batas batas negara, penguasaan terhadap setiap jengkal demografis maupun geografis adalah mutlak.
Pemetaan segenap wilayah didunia telah disistemadikan Menjadi berbagai komponen dengan tujuan utamanya adalah dalam rangka Hegemoni penentuan secara politis adalah dengan klaim terhadap seluruh wilayah di muka bumi dibagi-bagi menjadi beberapa geopolitik.
Kemudian pemberlakuan klasifikasi kepada setiap populasi dengan kelas-kelas yang berbeda-beda.
Imperialisme, Kolonialisme, Feodalisme:
Sebuah Konsekuensi Historis
Imperialisme telah konkret menjadi institusi dengan liberalisasinya yang bernama institusionalisasi.
Institusionalisasi ini adalah kerangkeng raksasa dengan sistem sosialnya yang bernama Post Delivered Order. Ia adalah cengkeraman yang runcing, tajam, dan mengerikan.
Postmodernisme berada pada posisi esensialnya yang stagnan. Hal yang demikian berakibat kepada terjadinya jeda transhistorisitas manusia di dalam men-dunia.
Dunia sosial telah gagal dalam proses menjadi dan cenderung berada pada posisi kesia-siaan serta tidak menjadi apa pun.
Kepanikan sosial ini menimbulkan semacam Aufklärung yang konyol. Misalnya, kelimpahan produksi dijadikan instrumen pengelabuan yang manipulatif.
Distribusi mengalami kulminasi dan berakibat kepada kebusukan serta kelapukan terhadap produk yang tidak terkonsumsi secara normal.
Ketika data menjadi sarana utama dalam proses sosial, maka seluruh anak-anak manusia hanyalah sebuah kompilasi;
maka kemanusiaan sudah kehilangan nilai-nilai fundamentalnya. Dan manusia adalah mekanik belaka.
Ironis!
Rasio historis memperingatkan bahwa kebingungan sosial ini akan berakibat pada terjadinya revolusi sosial yang tak terbayangkan.
Penutup
Inilah akibat dari imperialisme.
Imperialis telah menjadi presiden, menteri, gubernur, bupati, dan wali kota.
Sedangkan yang diakibatkan oleh kolonialisme adalah budaya yang telah menjadi pola pikir. Kolonialisme telah menjadi kolonialis-kolonialis yang konkret.
Mereka adalah koruptor.
Yang diakibatkan oleh feodalisme adalah suatu kondisi psiko-sosial yang membentuk pola-pola perilaku.
Mereka adalah orang-orang yang menjalankan tugas dan fungsi sebagai tokoh yang bergaya:
Adigang,
Adigung,
Adiguna.
Inilah yang menjadi embrio nepotisme.
Sedangkan liberalisme melahirkan liberalis-liberalis kolektif. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 14 Oktober 2025





