Artikel:
Pandangan Hidup, Ideologi, Hegemoni dan Operasi Politik: Suatu Penjelasan Analitik Tentang Kekuasaan
Oleh Djoko Sukmono
Dalam filsafat analitik, istilah pandangan hidup merujuk pada kerangka konseptual yang dipakai individu atau kolektif untuk memahami dunia dan menentukan bagaimana mereka seharusnya bertindak didalamnya.
Pandangan hidup mencakup keyakinan metafisik (tentang apa yang nyata), epistemologis (tentang apa yang bisa diketahui), dan normatif (tentang apa yang baik atau benar).
Namun, berbeda dengan sistem filsafat akademik, pandangan hidup bersifat lebih praktis dan terpadu: ia memuat narasi identitas, tujuan, dan orientasi terhadap dunia yang bersifat implisit maupun eksplisit.
Misalnya, seseorang yang memandang hidup sebagai perjuangan moral akan menilai politik, ekonomi, bahkan sains dari sudut keberpihakan etis.
Pandangan hidup semacam itu menjadi dasar bagi tindakan dan persepsi sosial, serta dapat menjadi sumber dari ideologi ketika ia mulai dipolitisasi.
Ideologi dalam pengertian analitik dapat dipahami sebagai sistem keyakinan normatif-deskriptif yang secara eksplisit digunakan untuk mengorganisasi masyarakat dan melegitimasi struktur kekuasaan tertentu.
Ia bukan hanya kumpulan pendapat, tetapi seperangkat klaim tentang fakta sosial (apa adanya), nilai-nilai sosial (apa seharusnya), dan strategi tindakan kolektif (apa yang harus dilakukan).
Ciri khas ideologi adalah fungsinya yang ganda: ia memberi arah dan justifikasi terhadap kebijakan politik, sekaligus membentuk persepsi umum mengenai apa yang dianggap normal, sah, atau rasional.
Dalam konteks ini, ideologi bertindak sebagai medium antara pandangan hidup dan struktur sosial: ia mentransformasi keyakinan personal menjadi basis bagi tindakan institusional.
Misalnya, ideologi neoliberal mentransformasikan pandangan hidup yang individualistik menjadi prinsip kebijakan ekonomi pasar bebas.
Namun ideologi tidak bekerja dalam ruang kosong. Ia beroperasi dalam ruang kontestasi sosial yang disebut hegemoni.
Hegemoni adalah keadaan di mana suatu ideologi berhasil menanamkan dirinya sebagai “akal sehat” sosial, bukan karena kemenangan kekerasan terbuka, melainkan karena diterimanya nilai-nilai dan narasi tertentu secara sukarela oleh mayoritas populasi.
Konsep ini berasal dari Gramsci, tetapi dapat dijabarkan secara analitik sebagai mekanisme persetujuan simbolik yang menyembunyikan dominasi dalam bentuk internalisasi nilai.
Dalam hegemoni, rakyat tidak dipaksa untuk tunduk, tetapi diajarkan untuk menganggap penundukan itu sebagai pilihan rasional dan etis.
Oleh karena itu, keberhasilan ideologi tergantung pada kemampuannya menciptakan hegemoni: yakni menjelma menjadi horizon berpikir yang tidak dipertanyakan.
Untuk menjembatani ideologi dan hegemoni kedalam kekuasaan aktual, diperlukan operasi politik. Ini adalah serangkaian tindakan strategis yang dilakukan oleh aktor politik untuk menegosiasikan, membentuk, atau mempertahankan konfigurasi kekuasaan.
Operasi ini bisa bersifat material (misalnya alokasi sumber daya), simbolik (pengendalian narasi, makna, identitas), maupun institusional (pembentukan aliansi, perancangan hukum, kontrol terhadap aparat negara).
Dalam kerangka ini, operasi politik bukan sekadar teknik mengambil alih kekuasaan, melainkan teknik membentuk kondisi di mana kekuasaan dapat tampil sebagai sah dan efektif.
Operasi politik yang berhasil bukan hanya menundukkan lawan, tetapi mengintegrasikan dukungan melalui logika hegemonik yang telah dibentuk sebelumnya.
Ia mengandalkan kemampuan membingkai realitas, mengartikulasikan tuntutan, dan mendefinisikan identitas kolektif.
Dengan demikian, pembangunan kekuasaan tidak dapat dipahami hanya sebagai akumulasi alat koersif. Kekuasaan, dalam pengertian analitik dan strategis, adalah efek dari artikulasi sistematis antara pandangan hidup, ideologi, hegemoni, dan operasi politik.
Pandangan hidup menyediakan horizon nilai dan identitas; ideologi merumuskan dan menstrukturkan nilai tersebut dalam bentuk program politik; hegemoni memastikan penerimaan nilai itu dalam benak publik; dan operasi politik mengimplementasikannya ke dalam sistem institusional.
Kekuasaan adalah struktur yang dikonstruksi melalui interaksi semua elemen ini secara simultan.
Maka, untuk membangun kekuasaan yang tahan lama dan sah, tidak cukup dengan memenangkan pemilu atau mendominasi institusi; yang jauh lebih penting adalah menguasai narasi, membentuk common sense, dan mengorganisasi keyakinan publik melalui ideologi yang konsisten dan hegemonik.
Pola informasi dan komunikasi
Pada saat ini Dunia sedang berada di suatu situasi yang bernama situasi sosial informatif yang dikomunikasikan dengan instrumen yang sana sekali baru.
Di era ini yang bernama era digital sudah tersedia model desain yang terpolakan dengan hebat dalam artian sanggup membentuk cara berfikir, cara berbicara dan cara berperilaku.
Inilah sebuah Era yang membentuk kelakuan administratif yang baru dan dalam hal ini kaum milenial berada pada posisi didepan dalam menyongsong datangnya sebuah era yang tidak terbayangkan sebelumnya.
Hari adalah ‘hari’ ‘hari’ yang progresif dan revolosioner, ‘hari’ ini, ‘hari’ ‘hari’ merangkai tindakan-tindakan produktif, ‘hari’ ini adalah ‘hari’ ‘hari’ yang menyajikan gambar-gambar Peradaban, ‘hari’ ini adalah ‘hari’ ‘hari’ terbukanya pintu dan jendela Dunia.
Hari ini adalah ‘hari’ ‘hari’ yang membuat segala sesuatunya menjadi ada, hari ini adalah ‘hari’ ‘hari’ berpikir yang logis, realistis dan praktis karena kemudahan-kemudahan telah tersedia.
Hari ini adalah ‘hari’ ‘hari’ yang tidak membutuhkan berbicara yang berbusa-busa, ‘hari’ ini adalah ‘hari’ ‘hari’ yang terwakili oleh jari jemari untuk mengakses segala aspek kehidupan.
Ada sebuah paradigma yang berbunyi Komunikasi adalah Jembatan Emas untuk dilalui dalam rangka pencapaian tujuan, namun jembatan tersebut tidak untuk dijadikan tempat pemberhentian selamanya melainkan untuk dibakar dan dihancur leburkan.
Dan, sudah tidak menjadi sebuah sesuatu yang mengganggu jalannya peradaban baru, namun dengan metodologi yang relevan yang efektif dan efisien menyongsong melanjutkan suatu Era Baru yang saat ini bernama Era Digital.
Dalam pada itu kekuatan pengetahuan ilmiah adalah satu-satunya yang bisa digunakan untuk mengurus globalisasi dengan segala konsekwensinya.
Kakuatan pengetahuan untuk mengurus globalisasi pada saat stagflasi (stagnansi dan inflasi) ekonomi globalisasi telah menggunakan instrumen yang handal dan akurat.
Ia adalah digitalisasi yang terus bergerak berimplikasi riil terhadap kehidupan sosial anak manusia yang tinggal di muka bumi rezim politil, rezim sosial, rezim keagamaan maupun rezim kebudayaan telah menyatakan siap bergabung dengan rezim digital dan dengan kata lain sudah menyerah tanpa syarat.
Lihatlah diluar sana! Setiap individu, setiap manusia sedang ketakutan, sedang gelisah, sedang tidak punya pengharapan, dan ketika mereka lapar berkepanjangan, dan bagaimana kalau mereka marah, kalau mereka kesumat. Apa yang akan terjadi?!
Yang terjadi adalah perubahan pola dengan keterlibatan langsung baik physik maupun mental untuk menjadi bersatu dengan era globalisasi saat ini yaitu digitalisasi.
Ayo bertindak! Karena yang bisa merubah dunia adalah bertindak, berpikir dan memikirkan sudah selesai. Tetapi harus diingat bahwa milenial di Republik Indonesia ini sudah menjadi Libertarin.
Dia sudah tidak peduli dengan bangsa dan negara. Dia individualistik. Dia Anti sosial.
Dia sudah muak dengan perilaku orang tuanya yang kebanyakan ‘Pembohong’ dan otoriter.
Dan jangan salahkan mereka jika suatu saat milenial ini akan membunuh semua Libertarian-libertarian yang telah menghantui dunia.
Libertarianis sudah kongkrit dalam ruang dan waktu sebagai eksistensi manusia. Libertarianisme adalah eksistensiku. Manusia yang membuat jalan sejarahnya sendiri.
Libertarianisme adalah keberadaanku yang utuh dan menyeluruh. Libertarianisme adalah eksistensiku. Aku bukan endapan struktur sosial ekonomi lagi, aku bukan esensi lagi, aku bukan struktur lagi, dan aku bukan stratifikasi sosial lagi.
Libertarianisme sudah tidak peduli dengan dinding Britania yang menguak. Aku adalah eksistensialis yang sedang menjalankan tugas dan fungsi sebagai manusia.
Inilah yang dinamakan libertarianisme telah menjadi model yang seksi dan keren karena pola-pola yang lama sudah dianggap tidak pecus dan usamg!
Dan hanya sebagai pengganggu kaum milenial didalam menjalani kehidupan sosialnya sebagai eksistensi yang kongkrit dan otentik.
Penjelasan libertarianisme
Secara singkat Libertaranisme dan liberalisme memiliki akar yang sama, yakni kebebasan individual. Secara prinsip, libertarian adalah seorang liberal.
Namun, dalam konteks akhir-akhir ini, libertarianisme lebih dipandang sebagai pandangan bahwa pemerintah tidak boleh ikut campur pada masalah sosial (agama, identitas, komunitas, dan lain-lain) dan ekonomi (pajak, regulasi ekonomi, pembatas, subsidi, dan lain-lain).
Sedangkan liberasime, secara minimal, hanya pandangan yang menuntut bahwa pemerintah tidak boleh ikut campur pada masalah sosial saja (tentu saja ada liberal yang berada di ruang abu-abu dengan libertarian).
Ini mengapa, para liberal masih percaya bahwa pemerintah masih perlu membuat regulasi tentang, misal pajak dan intervensi regulasi di ekonomi pasar bebas, selama ia, di akhir, membuat kemerdekaan individu di masalah sosial meningkat.
Ini berbeda dari para libertarian yang percaya bahwa semakin besar negara, semakin kecil individu.
Para libertarian berpikir bahwa regulasi ekonomi dan sosial yang dibuat oleh negara perlu diminimalisasi semaksimal mungkin, bahkan dalam bentuk jaminan kesehatan, sosial, atau ekonomi, terutama pajak dan regulasi.
Ini tidak mengagetkan karena liberalisme dan libertarianisme lahir dari kondisi sosial-ekonomi-politik yang berbeda.
Penggunaan kata liberal sekarang sering dikaitkan lahir dari konsep kebebasan setelah perang dunia ke dua, sedangkan libertarian lahir atas respon terhadap ide-ide negara kesejahteraan (welfare state).
Dalam konteks politik Amerika Serikat, jika kita membagi persoalan keterlibatan pemerintah dalam dua bidang di atas. Libertarian setuju dengan para konservatif yang juga yakin bahwa intervensi ekonomi pemerintah harus kecil, tetapi akan bertabrakan dalam isu sosial.
Di tempat lain, para liberal biasanya setuju dengan para progresif yang mengusahakan intervensi pemerintah untuk menjamin kesetaraan, tetapi akan bertabrakan saat hal-hal tersebut menggangu masalah kebebasan individu dalam ruang sosial mereka, seperti aturan tentang pembuatan rumah-rumah baru di daerah elit.
Pembusukan terhadap tradisi telah bejalan dengan lancar. Waktu telah mengharu birukan kehidupan anak manusia.
Hampir setiap anak manusia berpacu dengan waktu, sehingga tanpa terasa kehidupan sosial ini membawa serta perubahan dengan cepatnya.
Sudah hampir tidak ada lagi ruang dan kesempatan yang tersedia bagi individu yang lemah untuk hidup layak sebagai manusia. Hanya individu yang unggul yang mempunyai peluang untuk mendapatkan keberuntungan.
Ada masa depan yang sama sekali tidak terhubung dengan masa kini yang sedang kita jalani.
Dekontruksi sosial telah berjalan dengan Neo Liberalisme yang mendapatkan tempat di jiwa jaman ini.
Neoliberalisme adalah pembolehan untuk berprestasi, untuk berpersepsi, terhadap segala sesuatu yang telah ada dan menjadi instrumen kebebasan yang tersedia bernama digital yang merupakan sarana kebebasan untuk men-Dunia.
Milinial telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan neoliberalisme. Milenial adalah seorang liberal sekaligus seorang liberian.
Dan hidup itu seindah bunga mawar dan seharum bunga melati, ketika kewajiban bukanlah beban, ketika perjuangan bukanlah derita, ketika tualang bukanlah senang, dan bayang-bayang hari esok bukanlah kecemasan, tetaplah optimis menjelang masa depan.
Hanya di situlah, di masa depan itu tempat segala sukses, tempat segala harapan dan cita-cita yang berkemajuan.
Pesan dari Eyang Sukmono
“Hidup ini tak hanya tentang berbagi dan mencintai. Tak hanya tentang memberi dan mengasihi. Tak hanya tentang merampas dan menindas. Kehidupan ini tak pernah luput dari yang namanya kehilangan, perjuangan, dan merelakan.
Bukankah seperti itu kehidupan ini? Selama kita masih hidup, telah banyak keputusan yang sudah kita buat. Keputusan itu untuk kita sendiri ataupun orang lain.
Namun, apakah benar keputusan itu baik untuk kita? Atau justru itu bukan yang terbaik? Oleh karenanya, hidup hanya sekali, maka gunakanlah dengan sebaik mungkin.
Memilih teman yang baik untuk hidup, memilih lingkungan yang baik untuk tinggal, dan seterusnya. Bila kau sudah memilih, maka putuskanlah, eksekusi lah hal tersebut.
Dan cinta itu adalah pelayanan dalam setiap perkataan dan perbuatan, cinta itu ialah pancaran kasih dari Tuhan yang maha Esa Yang Tiada Berbatas dan Tiada Berkesudahan.
Ia terus mengalir sepanjang masa, ia tiada lelah menanti dengan penuh kesabaran, dan pintu-pintu itu terbuka untuk seluruh suku bangsa manusia dan di situ terlihat dengan jelas hamparan-harapan hidup bagi anak manusia.
Dambaan demi dambaan terus tumbuh dan berkembang menjadi sebuah renungan demi renungan terhadap situasi psikologis setiap individu.
Perubahan kelakuan administratif, artinya logis dan realistis dalam memandang setiap perubahan, organisasi itu didalam perjalanannya pastilah akan mengalami disintegrasi.
Hal itu terjadi karena adanya Interaksi, baik interaksi politis, maupun interaksi edukatif, demikianlah keberadaan organisasi itu, dan penghancuran organisasi itu diawali oleh Code Etik organisasi itu sendiri.
Dan, ketika ada konflik kepentingan yang tajam dan runcing itu lah awal organisasi berkembang.
Selamat Berorganisasi…….
Meskipun organisasi itu secara bertahap akan usang, berkarat dan membusuk, karena kepemimpinan yang tidak pecus!
Salam Perubahan dan Kemajuan.
Waspada! Waspadalah terhadap situasi sosial yang partisipatif. Karena dia adalah para penindas yang telah melepaskan hantu sosial yang bernama Drakula Politik.
Waspada! Waspadalah terhadap kondisi obyektif psikologis yang tidak menentu dan tidak dapat dikendalikan.
Situasi sosial itu adalah fenomena dari para mahluk sosial kongkrit yang merangkai tindakan produktif dalam bentuknya yang unik dan beragam.
Ia bisa beraktivitas sosial politik maupun sosial ekonomi. Dalam bahasa Jawa namanya ‘WIWIL’ (ketika Bangsa ini kita analogikan sebagai ‘Pohon’, maka sarana yang tersedia bernama tanah yang cocok untuk tumbuh dan berkembangnya pohon itu.
Itulah fondasi, yaitu Pancasila, kemudian di delapan penjuru pohon itu ada sektor pendukung yaitu Topografi.
Ia adalah pelindung dan pohon itu dari berbagai ancaman misalnya hembusan angin yang melampaui kapasitas, sinar matahari yang terlalu terik, bencana longsor Banjir dan sebagainya.
Topografi itu adalah pemerintah, dan ia bersifat topografis yang ekologis, kemudian pohon tersebut tidak independen. Ia mesti hiterogin, aneka hayati ada disana. Mulailah ada yang bernama Co Adaptasi, dan Co modifikasi.
Ada hukum yang tak terelakkan yang terjadi di situ, yaitu barang siapa yang mendapatkan matahari paling banyak, maka ia akan semakin kuat dan semakin bertumbuh dan berkembang menjadi sebuah Raksasa.
Kembali kepada ‘WIWIL’: Ketika campur tangan dari pihak lain yang berorientasi ekonomis, maka pohon yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, mulailah dieksplorasi dan benih-benih yang kwalitas mulailah disemaikan untuk ditanam dalam rangka kepentingan Ekonomi.
Inilah WIWIL mulai diefektifkan, tentunya berakibat pada menurunnya kualitas pohon yang bertumbuh dan berkembang secara alamiah.
Naturaisme adalah hal yg sangat asing dan hampir tidak pernah digaungkan di Republik ini.
Sebuah Ilustrasi, pada suatu waktu ada sebuah kejadian yang fondamental, yaitu tentang adanya lembaga baru, yang dibatasi oleh tembok raksasa, gedung putih, rumput hijau dan kebun binatang yang berujut manusia.
Sementara sosok Kampus Biru berubah menjadi Kelabu, semangat merah, Api Revolusi. ‘Api’ kemarahan dibakar habis oleh bomb atom, kampus itu saksi bisu.
Kampus itu diam tanpa suara bahkan bahasa. Mendadak Hitler, Stalin berkata, “Ayo kita kuasai dunia!”
Stalin dan Hitler membentak, “Pergilah ke timur hai Komunis! Dan aku pergi ke barat!”
Secepat kilat momen historis terjadi, gemuruh sejuta marinir mendarat di Normandia konspirasi Hitler dan Stalin gagal.
Hiroshima dan Nagasaki dibakar bom atom, benar-benar hebat, Si keparat Amerika, tetapi, di sebelah Tenggara Bumi ini ada yang meledakkan Revolusi Sosial dengan kulminasi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. ***)
Selamat belajar! Dan Bermanfaat…
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 21 Juni 2025
Penulis, Djoko Sukmono, Filsuf, Badan Pendidikan dan Pelatihan Gerakan Pemuda Nasionalis Marhaenis (Nasmar)





