POTRET TRAGEDI FILOSOFIS PANCASILA 1 JUNI

POTRET TRAGEDI FILOSOFIS PANCASILA 1 JUNI

Opini:
POTRET TRAGEDI FILOSOFIS PANCASILA 1 JUNI
Oleh Djoko Sukmono

Potret Tragedi Filosofis Pancasila 1 Juni itu diakibatkan oleh Operasi Politik Kronil berupa peniadaan terhadap keberadaannya.

Pancasila 1 Juni itu adalah Phylosophy Groundslag artinya (Dasar Filsafat Hukum) bagi landasan berdirinya Indonesia merdeka.

Akan tetapi, Pancasila 1 Juni secara eksistensial tidak diberlakukan menjadi dasar filsafat hukum bagi negara kesatuan Republik Indonesia, hanya istilahnya saja yang digunakan didalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Inilah Bunyi Pancasila 1 Juni itu :

1 KEBANGSAAN INDONESIA
2 INTERNASIONALISME atau KEMANUSIAAN
3 MUFAKAT atau DEMOKRASI
4 KEADILAN SOSIAL
5 KETUHANAN yang BERKEBUDAYAAN

Dikarenakan Pancasila 1 Juni itu digali oleh Bung Karno dari nilai-nilai fundamental kemanusiaan dan dia adalah Dasar Filsafat Hukum bagi berdirinya negara bangsa Indonesia Merdeka maka dapat dinyatakan bahwa Pancasila adalah dasar bagi penyelenggaraan pemerintahan negara.

Kemudian dari pada itu, pada tanggal 22 Juli tahun 1945 PPKI menelorkan sebuah bunyi Pancasila sebagai berikut;

1 Ketuhanan yang Maha Esa dengan menjalankan syari’at Islam bagi Pemeluk Pemeluknya
2 Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
3 Persatuan Indonesia
4 Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan
5 Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Dan, pada tanggal 18 Agustus tahun 1945 Pancasila mengalami pengurangan kata pada Sila pertama dari Ketuhanan yang Maha Esa dengan menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk pemeluknya menjadi ‘Ketuhanan yang Maha Esa’.

Sehingga inilah bunyinya:
1 Ketuhanan yang Maha Esa
2 Kemanusiaan yang adil dan beradab
3 Persatuan Indonesia
4 Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
5 Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tanggal 1 Juni adalah momok yang menakutkan bagi rezim militer Soeharto sehingga pada masa kekuasaannya, Pancasila 1 Juni ditiadakan dari sejarah idiologis bangsa Indonesia dan Pancasila dijadikan alat gebuk bagi lawan-lawan politiknya.

Dengan didukung oleh kelompok anti Soekarno, Soeharto menghimpun kekuatan dalam rangka Desoekarnoisasi.

Propaganda demi propaganda dilakukan untuk memberangus para Soekarnois di seluruh pelosok negeri.

Yang awalnya diklaim sebagai anti Pancasila adalah Partai Komunis Indonesia (PKI), dengan korban jutaan jiwa anak-anak bangsa mati sia-sia kini operasi politik ditingkatkan kepada kelompok tertentu yang dianggap eks-PKI

Dan bahkan yang terkejam adalah para Soekaronis (Marhaenis) dinyatakan sebagai bahaya laten dan dianggap anti Pancasila.

Sedangkan Marhaen itu adalah komponen bangsa yang percaya Pancasila dan para Marhaenis adalah penegak Pancasila.

Inilah operasi politik Soeharto dan dari sinilah awal terjadinya Tragedi Filosofis Pancasila dilakukan dengan perintah politik berupa:

— Pembentukan Laboratorium Pancasila
— Terbitnya Tafsir Pancasila berupa Santiaji Pancasila
— Pembentukan Bp 7
— Perlakuan diskriminasi terhadap seluruh anak bangsa yang dinyatakan sebagai Anti Pancasila dengan penandaan pada kartu tanda penduduk.

Dan, yang paling ironis adalah tidak ada lagi peringatan hari lahirnya Pancasila di Republik Indonesia ini selama 30 tahun.

Pandangan Hidup, Ideologi, Hegemoni, dan Operasi Politik: Suatu Penjelasan Analitik tentang Kekuasaan

Dalam filsafat analitik, istilah pandangan hidup merujuk pada kerangka konseptual yang dipakai individu atau kolektif untuk memahami dunia dan menentukan bagaimana mereka seharusnya bertindak di dalamnya.

Pandangan hidup mencakup keyakinan metafisik (tentang apa yang nyata), epistemologis (tentang apa yang bisa diketahui), dan normatif (tentang apa yang baik atau benar).

Namun, berbeda dengan sistem filsafat akademik, pandangan hidup bersifat lebih praktis dan terpadu:

Ia memuat narasi identitas, tujuan, dan orientasi terhadap dunia yang bersifat implisit maupun eksplisit.

Misalnya, seseorang yang memandang hidup sebagai perjuangan moral akan menilai politik, ekonomi, bahkan sains dari sudut keberpihakan etis.

Pandangan hidup semacam itu menjadi dasar bagi tindakan dan persepsi sosial, serta dapat menjadi sumber dari ideologi ketika ia mulai dipolitisasi.

Ideologi dalam pengertian analitik dapat dipahami sebagai sistem keyakinan normatif-deskriptif yang secara eksplisit digunakan untuk mengorganisasi masyarakat dan melegitimasi struktur kekuasaan tertentu.

Ia bukan hanya kumpulan pendapat, tetapi seperangkat klaim tentang fakta sosial (apa adanya), nilai-nilai sosial (apa seharusnya), dan strategi tindakan kolektif (apa yang harus dilakukan).

Ciri khas ideologi adalah fungsinya yang ganda: Ia memberi arah dan justifikasi terhadap kebijakan politik, sekaligus membentuk persepsi umum mengenai apa yang dianggap normal, sah, atau rasional.

Dalam konteks ini, ideologi bertindak sebagai medium antara pandangan hidup dan struktur sosial: Ia mentransformasi keyakinan personal menjadi basis bagi tindakan institusional.

Misalnya, ideologi neoliberal mentransformasikan pandangan hidup yang individualistik menjadi prinsip kebijakan ekonomi pasar bebas.

Namun ideologi tidak bekerja dalam ruang kosong. Ia beroperasi dalam ruang kontestasi sosial yang disebut hegemoni.

Hegemoni adalah keadaan di mana suatu ideologi berhasil menanamkan dirinya sebagai “akal sehat” sosial, bukan karena kemenangan kekerasan terbuka, melainkan karena diterimanya nilai-nilai dan narasi tertentu secara sukarela oleh mayoritas populasi.

Konsep ini berasal dari Gramsci, tetapi dapat dijabarkan secara analitik sebagai mekanisme persetujuan simbolik yang menyembunyikan dominasi dalam bentuk internalisasi nilai.

Dalam hegemoni, rakyat tidak dipaksa untuk tunduk, tetapi diajarkan untuk menganggap penundukan itu sebagai pilihan rasional dan etis.

Oleh karena itu, keberhasilan ideologi bergantung pada kemampuannya menciptakan hegemoni: yakni menjelma menjadi horizon berpikir yang tidak dipertanyakan.

Untuk menjembatani ideologi dan hegemoni ke dalam kekuasaan aktual, diperlukan operasi politik.

Ini adalah serangkaian tindakan strategis yang dilakukan oleh aktor politik untuk menegosiasikan, membentuk, atau mempertahankan konfigurasi kekuasaan.

Operasi ini bisa bersifat material (misalnya alokasi sumber daya), simbolik (pengendalian narasi, makna, identitas), maupun institusional (pembentukan aliansi, perancangan hukum, kontrol terhadap aparat negara).

Dalam kerangka ini, operasi politik bukan sekadar teknik mengambil alih kekuasaan, melainkan teknik membentuk kondisi di mana kekuasaan dapat tampil sebagai sah dan efektif.

Operasi politik yang berhasil bukan hanya menundukkan lawan, tetapi mengintegrasikan dukungan melalui logika hegemonik yang telah dibentuk sebelumnya.

Ia mengandalkan kemampuan membingkai realitas, mengartikulasikan tuntutan, dan mendefinisikan identitas kolektif.

Dengan demikian, pembangunan kekuasaan tidak dapat dipahami hanya sebagai akumulasi alat koersif.

Kekuasaan, dalam pengertian analitik dan strategis, adalah efek dari artikulasi sistematis antara pandangan hidup, ideologi, hegemoni, dan operasi politik.

Pandangan hidup menyediakan horizon nilai dan identitas; ideologi merumuskan dan menstrukturkan nilai tersebut dalam bentuk program politik; hegemoni memastikan penerimaan nilai itu dalam benak publik; dan operasi politik mengimplementasikannya ke dalam sistem institusional.

Kekuasaan adalah struktur yang dikonstruksi melalui interaksi semua elemen ini secara simultan.

Maka, untuk membangun kekuasaan yang tahan lama dan sah, tidak cukup dengan memenangkan pemilu atau mendominasi institusi; yang jauh lebih penting adalah menguasai narasi, membentuk common sense, dan mengorganisasi keyakinan publik melalui ideologi yang konsisten dan hegemonik.

Dan, Pancasila 1 Juni saat ini sudah diperingati kembali sebagai tonggak sejarah.
Yang membidani lahirnya bangsa Indonesia dan negara bangsa Indonesia

Peringatan hari lahir Pancasila Pada 1 Juni th 2025 ini kiranya menjadikan anak-anak Bangsa Indonesia menjadi lebih dewasa di dalam memahami Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa.

Tetaplah menjadi anak-anak bangsa Indonesia yang percaya Pancasila dan penegak Pancasila.

Kiranya tragedi filosofis Pancasila tidak terulang kembali di dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia.

Dan, Pancasila adalah ideologi dan sumber dari segala sumber hukum di NKRI yang darinya bisa membawa seluruh anak Bangsa Indonesia menuju kemajuan dan kejayaan.

Dari anak bangsa yang percaya Pancasila! ***)

Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 1 Juni 2025

Author: Djoko Sukmono Badan Pendidikan dan Pelatihan Gerakan Pemuda Nasionalis Marhaenis (NASMAR)