Djoko Sukmono: Pandangan Rasio Historis dalam Proses Menjadi Manusia Konkret

Djoko Sukmono: Pandangan Rasio Historis dalam Proses Menjadi Manusia Konkret

Surabaya | sarinahnews.com || – Rasio. Manusia konkret adalah mereka yang menyadari keberadaannya sebagai manusia. Kesadaran akan keberadaan dan keberadaan sejati sebagai manusia konkret adalah perintah yang disengaja oleh rasio. Hanya manusia yang memiliki rasio; di luar manusia, tidak ada.

Manusia merupakan endapan materi yang terakumulasi melalui proses sejarah dan budaya yang panjang.

Dalam kehidupan sosialnya, manusia berhadapan dengan esensi yang terwujud dalam transformasi nilai-nilai budaya yang berkembang sepanjang sejarah.

Esensi adalah dasar kemungkinan dari keberadaan manusia. Apa itu esensi? Esensi adalah pandangan yang bersumber dari agama, negara, dan budaya.

Esensi ini sebenarnya merupakan bentuk pemaksaan budaya yang tidak kentara, bertransformasi melalui penetrasi budaya dalam bentuk informasi.

Sebagai dasar kemungkinan keberadaan manusia, esensi terlihat dalam nilai-nilai fundamental yang secara transhistoris menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak-anak manusia.

Esensi ini benar-benar suatu pemaksaan budaya yang tidak kentara. Ia bertransformasi melalui Penetrasi budaya berupa Informasi. Kemudian dari pada itu Rasio Historis dengan Trans- Idea-nya merangkaikan Kerangka berfikir sbb:

Proses Menjadi Manusia
Kita juga tidak menjadi manusia ketika melihat orang dengan kesadaran.
Manusia otentik inilah yang bisa menjadi manusia individu konkret dan manusia sosial konkret.

Kita tidak menjadi manusia ketika melihat orang dengan fisik.

Menjadi manusia konkret lebih mulia daripada menjadi umat beragama Utuh: tidak terpisah-pisah, satu kesatuan yang terorganisir antara fisik dan kesadaran.
Manusia itu adalah eksistensi yang beresensi.

Memang, menjadi pemeluk suatu agama itu sepertinya menjadi model yang seksi, menjadi spiritualis seperti menjadi orang yang sakti dan gawat, padahal itu hanyalah model saja yang kebetulan peminatnya banyak.

Masalah yang berhubungan dengan pribadi itu tidak perlu disampaikan kepada orang lain, misalnya siapa Tuhanmu, apa tujuanmu, apa agamamu, percaya dengan Tuhan atau tidak, dan sebagainya.

Manusia adalah dimensi yang multikompleks, konkret, dan individual, hidup di dalam ruang dan waktu, berada pada posisinya sebagai esensinya yang utuh sebagai eksistensi yang autentik.

Yang bisa saya mengerti adalah esensi saya.
Yang bisa saya percayai adalah eksistensi saya. Saya menjadi sebagaimana saya mengerti dan mempercayai.

Historisitas manusia adalah menyadari keberadaannya sebagai manusia.
Saya ada dan menjadi manusia karena adanya perjumpaan.
Saya ada dan menjadi manusia karena adanya proses.
Saya ada dan menjadi manusia karena cinta.
Saya ada dan menjadi manusia karena keterikatan dengan ada yang lain.
Saya ada dan menjadi manusia karena mempercayai.
Saya ada dan menjadi manusia karena mengerti.

Jarak yang tersedia di jalan sejarah setiap individu berbeda, dan secara universal jaraknya tiada berbatas.

Dan jalan sejarah telah tersedia untuk dilalui meskipun ada juga yang melaluinya dari arah yang berlawanan.
Saya ada dan menjadi manusia karena kehendak sejarah.

Dan oleh karenanya, berjalan di jalan sejarah itu dengan kasih yang tiada berkesudahan.

Waktu telah mengharu-birukan kehidupan anak-anak manusia. Hampir setiap anak manusia berpacu dengan waktu, sehingga tanpa terasa kehidupan sosial ini membawa serta perubahan-perubahan dengan cepatnya.

Sudah hampir tidak ada lagi ruang dan kesempatan yang tersedia bagi individu-individu yang lemah untuk hidup layak sebagai manusia. Hanya individu yang unggul yang mempunyai peluang untuk mendapatkan keberuntungan.

Bergerak di jalan yang sama tetapi dengan arah yang berlawanan, itulah jalan sejarah yang tersedia, dan jarak tempuhnya tiada berbatas.

Pada hari inilah hidup itu dimulai, karena pada hari yang kemarin hidup sudah dilalui, sedangkan hari esok masih belum terlalui. Hari esok itu bukanlah bayang-bayang yang menakutkan.

Hari esok itu bukanlah dendam masa lalu yang harus diperjuangkan. Hari esok adalah tempat segala keindahan, tempat segala harapan, tempat segala cita-cita, dan bahkan tempat keadilan yang ketika di masa lalu belum terdistribusikan secara proporsional.

Setiap individu manusia sedang ketakutan.
Lihatlah di luar sana.
Sedang gelisah.
Ayo bertindak.
Karena yang bisa mengubah dunia adalah bertindak.
Sedang tidak punya pengharapan.

Berpikir dan memikirkan sudah selesai.
Tetapi harus diingat bahwa milenial di Republik Indonesia ini sudah menjadi libertarian.

Waktunya menghimpun tenaga-tenaga revolusioner untuk melalap siapa saja yang kontra kemajuan, yang kontra perubahan.
Dan jangan salahkan mereka jika suatu saat milenial ini akan membunuh semuanya.
Libertarian-libertarian telah menghantui dunia.

Mereka sudah muak dengan perilaku orang tua mereka yang kebanyakan pembohong dan otoriter.
Mereka sudah tidak peduli dengan bangsa dan negara.

Libertarianisme adalah eksistensiku.
Manusia yang membuat jalan sejarahnya sendiri.

Libertarianis sudah konkret dalam ruang dan waktu sebagai eksistensi manusia.
Libertarianisme adalah eksistensiku.
Aku bukan struktur lagi.
Aku bukan esensi lagi.
Libertarianisme adalah keberadaanku yang utuh dan menyeluruh.
Aku bukan endapan struktur sosial ekonomi lagi.
Aku bukan stratifikasi sosial lagi.

Ada yang bernama pembentukan, kemudian bentuk tersebut dimodifikasi dan diadaptasikan dengan kondisi dan situasi. Di situ mulai ada berbagai paradoks. Itu awal adanya perubahan.

Libertarianisme sudah tidak peduli dengan dinding Britania yang menguak.

Dalam menjalani hidup ini tetaplah fokus pada tujuan, karena hidup ini adalah untuk mencapai tujuan. Tujuan yang telah kita capai akan menimbulkan tujuan berikutnya.

Bagi yang muda-muda, teruslah berinisiatif dengan penuh semangat untuk menjelang hari esok yang lebih baik dan lebih sukses.

Aku adalah eksistensialis yang sedang menjalankan tugas dan fungsi sebagai manusia.

Kejahatan sejarah itu dilakukan oleh para penganjur, sehingga jalannya sejarah menjadi salah arah bahkan tidak bertujuan. Dan ini berakibat kepada hampir setiap individu yang tinggal di muka bumi.

Dunia ini, yang sedang berada di diri kita dan yang berdiri tegar di hadapan kita, adalah produk peradaban manusia yang terus berproses menggerus kemanusiaan kita.

Mereka yang menjadi pelaku sejarah secara masif dan terstruktur terus membawa serta fanatisme, hedonisme, dan menyebarkan virus mental yang berakibat kronis kepada hampir setiap individu manusia.

Sejarah telah menghapus segala sesuatu yang tidak benar dan tidak definitif. Baja sejarah telah menghantam pelaku-pelaku yang mengklaim dirinya sebagai pelaku sejarah.

Roda sejarah telah menggilas para penganjur yang tidak becus dan usang. Dekonstruksi sosial bergerak cepat merobohkan struktur-struktur.

Historisitas manusia memasuki sejarah baru yang tak terelakkan. Dinding-dinding misterius, tembok-tembok kokoh adalah sampah sejarah dan telah berubah menjadi endapan-endapan struktur yang tragis.

Perubahan adalah gerak sejarah yang tak terelakkan.

Barang siapa yang tidak siap menghadapi perubahan maka dia akan ditinggalkan oleh kemajuan.

Apalagi mereka yang anti-perubahan dan kemajuan. Mereka ini secara bertahap dan pasti akan menjadi sampah sejarah.

Renungan terhadap Situasi Sosial dan Masa Depan Bangsa Indonesia

Historisitas manusia tidak lagi ditentukan oleh dogma. Masa depan tidak lagi berpedoman pada keadilan sosial, melainkan berpijak pada proses sejarah. Ada masa depan yang sama sekali tidak terhubung dengan masa kini yang sedang kita jalani.

Kolaborasi kapitalis semakin bertumbuh dan berkembang menjadi struktur yang menggurita. Tanpa disadari, hampir seluruh anak manusia di muka bumi ini menjadi “sekrup” kapitalisme.

Pembusukan terhadap tradisi berjalan dengan lancar. Kapitalis adalah individu yang menjalani hidup dengan semboyan: Gold, Gospel, War, Glory, and Victory.

Peradaban kapitalisme saat ini sudah tak terelakkan. Dekonstruksi sosial telah berjalan dengan lancar, dan kemenangan kapitalisme sudah konkret.

Kita telah menjadi penyokong kapitalisme. Kapitalis birokrat dan kaum borjuis mentertawakan anak-anak manusia yang bermoral budak.

Neo-liberalisme mendominasi jiwa zaman ini. Ini adalah hal yang logis dan realistis. Namun, banyak orang diajak untuk sadar sebagai manusia, tetapi malah cenderung marah.

Kebanyakan orang lebih takut pada godaan (setan) dan lebih kagum pada malaikat karena dianggap suci. Mereka menyembah Tuhan dengan cara “menyuap” melalui doa, meskipun Tuhan tidak pernah mengeluarkan perintah untuk itu.

Berpikirlah positif dan sederhana. Sesuatu yang tidak terjangkau oleh pikiran jangan dijadikan pedoman. Pedoman yang kita gunakan sehari-hari adalah pedoman yang konkret, artinya dapat dilakukan dan nyata.

Kematian adalah hal yang pasti. Namun, membahas kematian dan apa yang terjadi setelahnya sering kali mencerminkan ketakutan.

Sejarah kehidupan manusia menunjukkan bahwa semua orang, termasuk mereka yang dianggap pilihan Tuhan, pasti mati.

Jangan biasakan sesumbar tentang kesucian karena kesucian itu tidak ada. Jangan berpikir tentang hal yang tidak ada, karena itu hanya membuang waktu dan tenaga. Yang tidak ada, pasti tidak ada.

Pesan sederhana: jadilah manusia yang sungguh-sungguh ada. Biasakan bernapas dengan lega. Jika tidak bisa bernapas, itu artinya mati. Dunia tidak akan berkabung karena manusia terus beregenerasi.

Carilah yang ada di dunia ini untuk bekal hidup, bukan untuk bekal mati. Pikiran kita memiliki batas. Sejauh apa pun pikiran mengembara, ia hanya akan sampai pada situasi yang ilusi.

Berpikirlah positif dengan mencari sebab-sebab yang ada di dunia, lalu melihat potret akibat-akibat yang terjadi. Inilah hidup konkret, hidup yang berasal dari hidup itu sendiri dan bersifat sederhana.

Hidup dimulai dari keterhubungan antara yang hidup dengan yang hidup lainnya. Ini adalah distribusi embriologis yang terus berkembang mengikuti gerak geografis dan topografis yang ada.

Ini adalah konsep non-teologis yang berdasar pada rasio historis, bukan keyakinan absurd. Saat ini, kita semua berada di era informasi global, revolusi sains dan teknologi, serta digitalisasi dari revolusi industri.

Keadaan ini adalah milik generasi dan keniscayaan yang tak terelakkan. Jika kita tidak larut ke dalamnya, kita akan menjadi endapan struktur yang tragis dan dilupakan sejarah.

Inilah Percikan RASIO HISTORIS itu, kiranya bisa dijadikan Referensi didalam Memahami Fenomena Kemanusiaan yang UTUH.

Situasi Sosial yang Gelap

Situasi sosial adalah akumulasi dari berbagai kegiatan masa lalu yang menggumpal menjadi permasalahan sosial. Permasalahan sosial ini mencerminkan cita-cita yang belum terwujud atau bahkan cita-cita yang diciptakan secara semu.

Dari kedua jenis cita-cita tersebut, mayoritas penghuni Bumi lebih cenderung memilih cita-cita yang sebenarnya tidak ada. Sementara itu, cita-cita yang nyata dan dapat dicapai sering kali tidak disukai karena masih dalam proses dan membutuhkan tindakan produktif, kreatif, inovatif, serta progres yang optimal.

Sayangnya, cita-cita yang logis dan realistis ini kerap ditentang oleh para pemalas dan pelamun.

Masalah ini mencerminkan krisis moral yang telah melekat selama ribuan tahun, yaitu moral budak.

Sikap mental ini selalu mengharapkan keajaiban dan bersandar pada kebenaran serta kebaikan, tanpa menyadari bahwa kebenaran dan kebaikan tersebut sering kali hanyalah hasil dari halusinasi dan ilusi manusia-manusia yang gagal memahami realitas dunia.

Pertanyaannya: Apakah segala produk manusia adalah kejahatan?

Ketika Pancasila diajukan sebagai sintesis dari kapitalisme dan komunisme, sering kali secara diam-diam dianggap sebagai produk manusia.

Ini adalah kesalahan besar yang dilakukan oleh para teolog, yang dengan terselubung terus berupaya mempertahankan hegemoni mereka dalam kehidupan sosial.

Ketika kapitalisme membuktikan dominasinya di dunia, golongan tertentu dengan cepat mengecamnya sebagai “kapitalis keparat”.

Sebaliknya, ketika komunisme berhasil mengembangkan kesejahteraan, mereka segera berteriak “komunis ateis”.

Ironisnya, golongan mayoritas ini sering kali adalah orang-orang yang tidak mampu mengantisipasi tantangan zaman.

Sebuah Ilustrasi:
Si Amin memiliki kebiasaan minum kopi hangat dan merokok untuk relaksasi setiap pagi.

Namun, pada suatu pagi, ia mendapati dirinya dalam keadaan tanpa uang sepeser pun. Gula, kopi, rokok, beras, dan air minum habis.

Ia bahkan malu berutang ke warung karena utangnya yang sebelumnya belum dilunasi. Apa yang harus dilakukan Si Amin? Apakah ia hanya diam menunggu keajaiban—kopi dan rokok tiba-tiba muncul di depannya—atau ia harus berusaha mencari uang terlebih dahulu sebelum bisa menikmati kebiasaan paginya?

Segala norma, kontrak sosial, lembaga, pandangan etika, moral, dan aliran religi menciptakan hiruk-pikuk kehidupan sosial manusia.

Revolusi sains dan teknologi ditandai oleh kehadiran seorang tokoh bernama Albert Einstein.

Dari Einstein, kita belajar bahwa perubahan dan kemajuan tidak harus selalu melanjutkan teori-teori lama.

Perubahan dapat dimulai dengan teori baru yang sama sekali tidak berhubungan dengan teori sebelumnya. Apa gunanya kita terus berpaut pada sesuatu yang lama jika hal tersebut justru membawa kegelapan?

Sementara itu, revolusi sains dan teknologi terus mengalami perubahan cepat, meninggalkan berbagai pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi di masyarakat. ***)

Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 22 September 2025