Filsafat Sosial
MENJADI MANUSIA KONKRET
Joko Sukmono
Manusia konkret adalah manusia yang menyadari keberadaannya sebagai manusia, dan kesadaran terhadap keberadaan itu bukan sekadar kesadaran biologis bahwa dirinya hidup, bernapas, berjalan, bekerja, dan menua, melainkan kesadaran ontologis bahwa dirinya benar-benar ada sebagai manusia yang hidup di dalam ruang dan waktu.
Manusia konkret berada di tengah dunia sosial, menghadapi sejarah, menghadapi perubahan, menghadapi penderitaan, menghadapi ketakutan, dan menghadapi berbagai tekanan budaya yang terus-menerus berusaha membentuk dirinya menjadi sesuatu yang bukan dirinya sendiri.
Kesadaran akan keberadaan dan keberadaan sejati sebagai manusia konkret adalah perintah rasional yang lahir dari keberanian manusia untuk melihat dirinya sendiri tanpa lapisan-lapisan ilusi sosial yang selama ribuan tahun diwariskan melalui agama, negara, moralitas, tradisi, dan sistem kehidupan kolektif. Hanya manusia yang memiliki rasio.
Di luar manusia tidak ada rasio, dan karena itu hanya manusialah yang mampu mempertanyakan keberadaannya sendiri, menolak keberadaannya sendiri, ataupun membangun dirinya sendiri sebagai keberadaan yang otentik.
Manusia adalah endapan material yang terakumulasi melalui proses sejarah yang sangat panjang. Ia bukan makhluk yang jatuh begitu saja dari langit sejarah, melainkan hasil dari rangkaian peristiwa sosial, budaya, ekonomi, biologis, geografis, dan historis yang saling bertubrukan selama ribuan tahun.
Dalam dirinya mengendap memori sejarah, trauma budaya, ketakutan kolektif, moralitas kawanan, serta berbagai bentuk pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Oleh sebab itu manusia modern sesungguhnya hidup di bawah tekanan masa lalu yang terus menghantuinya. Ia merasa dirinya bebas, padahal kesadarannya dibentuk oleh struktur-struktur sosial yang jauh lebih tua daripada dirinya sendiri.
Inilah sebabnya mengapa sebagian besar manusia gagal menjadi manusia konkret, sebab mereka hidup hanya sebagai bayangan dari konstruksi budaya yang diwariskan kepadanya.
Dalam kehidupan sosialnya manusia selalu berhadapan dengan esensi yang mewujud dalam transformasi nilai-nilai budaya. Nilai-nilai tersebut bergerak melintasi sejarah dan masuk ke dalam kesadaran manusia melalui pendidikan, simbol, agama, adat, hukum, tradisi, media, bahkan melalui bahasa yang digunakan sehari-hari.
Esensi menjadi dasar kemungkinan bagi keberadaan manusia. Apa itu esensi? Esensi adalah segala pandangan yang membentuk cara manusia memahami dirinya dan dunia.
Ia bisa hadir sebagai agama, negara, moralitas, ideologi, nasionalisme, bahkan sebagai konsep kesucian dan kebaikan yang dianggap mutlak.
Namun dalam pembacaan Dechiperisme, esensi pada hakikatnya adalah bentuk pemaksaan budaya yang paling halus. Ia bekerja tanpa rantai, tanpa penjara, tanpa cambuk, tetapi mampu mengendalikan jutaan manusia sekaligus.
Esensi bekerja melalui penetrasi budaya dalam bentuk informasi. Ia tidak lagi hadir dalam bentuk larangan kasar sebagaimana masyarakat kuno, melainkan hadir sebagai persuasi, edukasi, motivasi, propaganda, dan narasi besar tentang bagaimana manusia seharusnya hidup.
Anak-anak manusia tumbuh di bawah penetrasi tersebut sejak kecil. Mereka diajarkan tentang apa yang baik dan buruk, apa yang suci dan hina, apa yang pantas dan tidak pantas, tanpa pernah diberikan kesempatan untuk mempertanyakan siapa yang pertama kali menciptakan kategori-kategori tersebut.
Akibatnya manusia hidup bukan sebagai dirinya sendiri, melainkan sebagai produk sosial yang terus direproduksi oleh sejarah. Inilah ilusi terbesar kehidupan sosial modern.
Menjadi manusia konkret bukan berarti sekadar sadar terhadap tubuh dan keberadaan fisik. Menjadi manusia konkret berarti menyadari bahwa hidup ini benar-benar sedang dijalani oleh dirinya sendiri, bukan dijalani oleh agama, negara, budaya, atau moralitas yang diwariskan kepadanya.
Manusia konkret adalah manusia yang mulai berani memandang hidup tanpa ilusi metafisis yang berlebihan. Ia tidak lagi menggantungkan seluruh hidupnya pada harapan-harapan abstrak yang tidak pernah benar-benar hadir di dalam kehidupan konkret.
Ia mulai melihat bahwa hidup adalah tanggung jawab eksistensial yang harus dipikul sendiri.
Kita tidak menjadi manusia hanya dengan melihat orang lain sebagai tubuh biologis. Kita juga tidak menjadi manusia hanya dengan memiliki identitas sosial tertentu.
Menjadi manusia konkret adalah keberanian untuk menjadi diri sendiri secara utuh sebagai kesatuan antara fisik, kesadaran, pengalaman, penderitaan, keinginan, dan tanggung jawab.
Di sinilah manusia mulai memasuki wilayah eksistensial yang sebenarnya, yakni ketika dirinya tidak lagi sekadar menjalani kehidupan sosial, tetapi mulai mempertanyakan alasan mengapa ia hidup dan untuk siapa hidup itu dijalani.
Dalam konstruksi Dechiperisme, manusia adalah eksistensi yang beresensi. Ia hidup di tengah dunia yang dipenuhi esensi-esensi sosial, tetapi pada saat yang sama ia juga memiliki peluang untuk melampaui esensi tersebut melalui kesadaran eksistensialnya.
Karena itu menjadi manusia konkret lebih mulia daripada sekadar menjadi manusia yang patuh secara formal terhadap agama, budaya, ataupun negara.
Sebab manusia konkret tidak hidup sebagai makhluk yang terpecah-pecah. Ia hidup sebagai keberadaan yang utuh. Ia tidak membutuhkan pengakuan kolektif untuk membuktikan keberadaannya.
Menjadi pemeluk agama sering kali tampak sebagai model sosial yang menarik. Menjadi spiritualis tampak seperti menjadi manusia yang sakti, suci, dan tinggi derajatnya.
Namun dalam pembacaan Dechiperisme, semua itu sering kali hanyalah model eksistensial yang diproduksi oleh budaya. Banyak manusia menjalani agama bukan karena kesadaran ontologis, melainkan karena kebutuhan sosial untuk diakui.
Mereka takut dikucilkan, takut dianggap sesat, takut dianggap berbeda. Akibatnya agama berubah menjadi identitas sosial dan kehilangan dimensi eksistensialnya.
Masalah-masalah pribadi seperti siapa Tuhanmu, apa agamamu, apa keyakinanmu, atau apa tujuan hidupmu sesungguhnya tidak perlu diumbar kepada publik. Sebab keberadaan manusia terlalu kompleks untuk direduksi menjadi identitas-identitas sederhana.
Manusia adalah dimensi yang multikompleks, individual, dan konkret. Ia hidup di dalam ruang dan waktu dengan pengalaman yang tidak pernah benar-benar sama antara satu individu dengan individu lainnya.
Oleh karena itu manusia konkret adalah manusia yang memahami bahwa dirinya sendiri adalah pusat pengalaman hidupnya.
Historisitas manusia adalah kesadaran bahwa dirinya hidup di dalam sejarah. Saya ada dan menjadi manusia karena adanya perjumpaan. Saya ada karena adanya proses. Saya ada karena cinta, karena penderitaan, karena pengalaman, karena keterikatan dengan keberadaan yang lain.
Tidak ada manusia yang benar-benar berdiri sendiri. Bahkan manusia yang paling individualistis sekalipun tetap terbentuk oleh relasi historis dengan dunia sosialnya.
Jalan sejarah telah tersedia untuk dilalui, meskipun setiap individu melaluinya dengan arah, kecepatan, dan pengalaman yang berbeda-beda. Ada yang bergerak mengikuti arus sejarah, ada yang bergerak melawan arus sejarah, dan ada pula yang tenggelam sebagai endapan struktur sosial yang tragis.
Namun sejarah terus bergerak tanpa kompromi. Ia tidak menunggu manusia yang lemah, tidak mempedulikan manusia yang lambat, dan tidak bersedih atas kehancuran generasi-generasi yang gagal menyesuaikan diri terhadap perubahan.
Waktu telah mengacaukan kehidupan anak-anak manusia. Hampir seluruh manusia modern hidup dalam tekanan percepatan sosial yang luar biasa.
Revolusi teknologi, digitalisasi, kapitalisme global, kompetisi ekonomi, dan perubahan budaya bergerak sangat cepat sehingga sebagian besar manusia kehilangan pegangan eksistensialnya.
Mereka hidup dalam kecemasan permanen. Mereka takut tertinggal, takut gagal, takut miskin, takut tidak diakui, takut tidak relevan. Akibatnya kehidupan sosial modern berubah menjadi arena perlombaan massal yang brutal.
Hampir tidak ada lagi ruang yang benar-benar aman bagi individu-individu lemah. Dunia modern hanya memberikan peluang lebih besar kepada mereka yang mampu beradaptasi dengan perubahan.
Inilah sebabnya mengapa generasi muda mulai kehilangan kepercayaan terhadap struktur-struktur lama. Mereka muak terhadap kemunafikan generasi tua yang berbicara tentang moral tetapi hidup dalam korupsi, berbicara tentang keadilan tetapi menikmati ketimpangan, berbicara tentang agama tetapi memelihara kebencian.
Dalam konteks inilah libertarianisme mulai muncul sebagai mode eksistensial generasi baru. Libertarianisme dipahami bukan sekadar sebagai teori politik, melainkan sebagai pemberontakan eksistensial terhadap segala bentuk dominasi sosial yang dianggap mengekang kebebasan individu.
Generasi baru mulai merasa bahwa dirinya tidak lagi memiliki keterikatan emosional terhadap bangsa, negara, maupun institusi-institusi lama. Mereka ingin membangun jalan hidupnya sendiri.
Libertarianisme adalah eksistensiku. Aku bukan lagi struktur. Aku bukan lagi endapan moral kolektif. Aku bukan lagi sekadar identitas sosial. Aku adalah keberadaanku sendiri yang konkret di dalam ruang dan waktu. Inilah jeritan eksistensial generasi baru yang mulai muak terhadap sistem lama.
Kejahatan sejarah dilakukan oleh para penganjur yang salah arah. Mereka membangun narasi besar tentang kebenaran, kemajuan, kesucian, dan moralitas, tetapi pada akhirnya justru menghasilkan penderitaan kolektif.
Dunia modern yang berdiri di hadapan manusia hari ini adalah produk peradaban yang terus menggerus kemanusiaan manusia itu sendiri. Fanatisme, hedonisme, kapitalisme ekstrem, dan berbagai bentuk manipulasi sosial telah menciptakan manusia-manusia yang kehilangan kedalaman eksistensialnya.
Namun sejarah tidak pernah berhenti. Baja sejarah terus menghantam struktur-struktur lama yang membusuk. Segala sesuatu yang tidak mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan akan dihancurkan oleh gerak sejarah.
Dekonstruksi sosial bergerak cepat merobohkan dinding-dinding lama peradaban. Apa yang dahulu dianggap kokoh kini mulai retak. Apa yang dahulu dianggap sakral kini mulai dipertanyakan.
Historisitas manusia sedang memasuki fase baru yang tidak terelakkan. Perubahan menjadi karakter paling mendasar dari kehidupan modern. Barang siapa menolak perubahan akan ditinggalkan sejarah dan perlahan menjadi sampah peradaban.
Dalam konteks sosial-politik Indonesia, manusia modern menghadapi tekanan yang jauh lebih kompleks. Kapitalisme global, neo-liberalisme, digitalisasi, dan penetrasi budaya asing telah menciptakan masyarakat yang kehilangan akar historisnya.
Anak-anak manusia di Indonesia hidup di antara tuntutan modernitas dan beban tradisi yang saling bertabrakan. Mereka diajak menjadi modern tetapi tetap dibelenggu oleh moralitas lama yang tidak lagi relevan dengan kehidupan konkret.
Kolaborasi kapitalisme global semakin menggurita. Hampir seluruh manusia di muka bumi tanpa sadar telah menjadi sekrup kapitalisme. Mereka bekerja, membeli, mengonsumsi, dan menjalani hidup di bawah mekanisme pasar global. Bahkan impian dan cita-cita manusia modern pun mulai ditentukan oleh logika kapitalisme.
Kapitalisme hidup dengan semboyan: gold, gospel, war, glory, and victory. Inilah moralitas dunia modern. Kemenangan kapitalisme telah konkret di dalam kehidupan sehari-hari manusia. Bahkan mereka yang mengutuk kapitalisme sering kali tetap hidup dari fasilitas kapitalisme itu sendiri.
Neo-liberalisme menjadi jiwa zaman modern. Namun ironisnya, banyak manusia justru marah ketika diajak sadar terhadap realitas tersebut. Mereka lebih nyaman hidup di dalam ilusi ketimbang menghadapi kenyataan konkret bahwa dunia sosial modern digerakkan oleh kepentingan ekonomi dan kekuasaan.
Kebanyakan manusia lebih takut kepada setan daripada takut kepada kemiskinan. Mereka lebih kagum kepada malaikat daripada kepada ilmu pengetahuan. Mereka menyembah Tuhan dengan cara yang mekanistis seolah-olah Tuhan dapat disuap melalui ritual dan doa. Padahal hidup konkret membutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar pengharapan metafisis.
Berpikirlah sederhana dan konkret. Sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh rasio jangan dijadikan pusat kehidupan. Sebab pikiran manusia memiliki batas. Sejauh apa pun manusia mengembara secara metafisis, pada akhirnya ia tetap harus kembali kepada kehidupan konkret.
Kematian adalah kepastian. Semua manusia akan mati, termasuk mereka yang dianggap suci, agung, atau pilihan Tuhan. Oleh sebab itu manusia konkret tidak hidup untuk mempersiapkan kematian, melainkan hidup untuk menjalani kehidupan itu sendiri.
Jadilah manusia yang sungguh-sungguh ada. Bernapaslah dengan lega. Jalani hidup dengan keberanian eksistensial. Sebab dunia tidak akan berhenti hanya karena satu manusia mati. Kehidupan akan terus bergerak, sejarah akan terus berjalan, dan generasi baru akan terus lahir menggantikan generasi lama.
Situasi sosial modern adalah akumulasi dari berbagai aktivitas masa lalu yang menggumpal menjadi krisis sosial. Manusia hidup di tengah cita-cita palsu yang diproduksi oleh sistem sosial. Mereka mengejar kemewahan, pengakuan, status, dan kesuksesan semu, tetapi kehilangan kedalaman hidupnya sendiri.
Krisis terbesar manusia modern adalah moral budak, yakni mentalitas yang selalu menunggu keajaiban tanpa keberanian untuk bertindak. Mereka ingin hidup berubah tetapi takut menghadapi risiko perubahan.
Padahal hidup konkret selalu menuntut tindakan. Ilustrasi tentang Si Amin menunjukkan hal tersebut. Ketika kopi, gula, rokok, dan beras habis, tidak ada keajaiban yang tiba-tiba menyelamatkannya. Ia harus bertindak. Ia harus bekerja. Ia harus bergerak. Inilah hidup konkret. Bukan hidup yang dipenuhi harapan kosong.
Revolusi sains dan teknologi menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu lahir dari kelanjutan teori lama. Albert Einstein membuktikan bahwa dunia dapat berubah melalui cara berpikir yang sama sekali baru. Oleh sebab itu manusia konkret adalah manusia yang berani meninggalkan struktur lama ketika struktur tersebut tidak lagi relevan dengan kehidupan.
Perubahan adalah gerak sejarah yang tidak terelakkan. Barang siapa tidak siap menghadapi perubahan akan ditinggalkan sejarah. Dan mereka yang anti terhadap perubahan secara perlahan akan menjadi endapan struktur yang tragis, membusuk di pinggir jalan sejarah tanpa pernah benar-benar menjadi manusia konkret. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 13 Mei 2026





