Filsafat Politik
Baja Sejarah yang Menghantam Pelaku Politik
Oleh Joko Sukmono
_Sekali dalam Sejarah sebuah bangsa menjadi besar, tidak ada status permanen bagi kekuasaan, dan tidak ada Pelaku Politik yang kebal terhadap Hukum Rasional Peralihan Sejarah._
Transhistorisitas Manusia adalah tempat bergeraknya Hukum Rasional Sejarah dengan instrumen yang bernama Hukum Rasional Perubahan yang konkret di dalam Sejarah menjadi Peristiwa-Peristiwa Politik yang menampilkan gambarnya sebagai Hukum Rasional Peralihan Sejarah, yang dalam bahasa Dechiperirisme dinamakan sebagai Dinamika dan Romantika Historis.
Di dalam Transhistorisitas Manusia itulah kehidupan politik tidak pernah benar-benar berhenti pada suatu bentuk yang final.
Apa yang hari ini tampak sebagai struktur yang kokoh, pada suatu saat dapat berubah menjadi struktur yang rapuh; apa yang tampak sebagai kekuasaan yang permanen dapat berubah menjadi objek dari perubahan; dan apa yang tampak sebagai ketertiban dapat menyimpan tekanan historis yang pada waktunya menuntut jalan keluar.
Sejarah bukan benda mati yang dapat disimpan oleh manusia di dalam dokumen, konstitusi, institusi, atau narasi politik.
Sejarah adalah gerak kehidupan manusia itu sendiri, dan karena itu ia selalu memiliki kemungkinan untuk melampaui bentuk-bentuk yang telah dibangun oleh manusia.
Transhistorisasi sosial-politik global kemudian memberikan warning kepada para Pelaku Politik agar mempersiapkan diri memasuki wilayah yang dalam bahasa Dechiperirisme dibacakan sebagai Ruang Historis Politis Otentik, yakni suatu keadaan yang menjadi singgasana politik bagi para globalis untuk menentukan Arah Politik Mercusuar Dunia.
Namun singgasana tersebut bukanlah ruang yang bebas dari kontradiksi. Ia justru merupakan ruang tempat berbagai kehendak politik bertemu, berhadapan, dan saling meniadakan.
Di dalam konstruksi Dechiperirisme, keadaan tersebut dinamakan sebagai Situasi Ultimasi Politis Kontingensi, yaitu sebuah ruang sosial-politik terakhir yang bernama The Politics of Crime, yang diterjemahkan oleh Dechiperis sebagai Kejahatan Politik berupa institusionalisasi dan instruksionalisasi politik global yang bertujuan melawan kehendak Hukum Rasional Sejarah.
Di sini politik tidak lagi sekadar menjalankan fungsi administratif terhadap kehidupan manusia, tetapi mulai berhadapan secara langsung dengan pertanyaan yang lebih fundamental: apakah struktur politik yang dibangun manusia masih mampu menampung gerak sejarah, atau justru telah menjadi penghalang terhadap perubahan yang secara historis sedang mendesak untuk terjadi?
Kemudian oleh Dechiperis dibacakan bahwa Politik telah memerintahkan kepada para Pelaku Politik Global untuk menentukan Arah Politik Mercusuar Dunia menuju terjadinya Kejahatan Politik di segala kategori kontingensi politik, sebagai usaha untuk mengimbangi tingkah laku para penjahat negara yang ditengarai telah menguras sumber daya dan membahayakan Historisitas Manusia.
Di dalam konstruksi ini, politik memasuki keadaan paradoksal. Ia mengaku bertindak untuk mempertahankan kehidupan manusia, tetapi tindakan politiknya justru dapat menghasilkan struktur yang semakin menjauh dari kehidupan konkret manusia.
Ia mengaku menjaga stabilitas, tetapi stabilitas tersebut dapat berubah menjadi penahanan terhadap perubahan.
Ia mengaku menjaga masa depan, tetapi masa depan yang dijaganya dapat sesungguhnya hanyalah masa lalu yang diperpanjang melalui instrumen-instrumen baru.
Selanjutnya Dechiperis membacakan bahwasanya kekuatan konservatisme telah berubah bentuk menjadi singgasana Politik yang dibatasi oleh tembok-tembok sosial-kultural, gerbang-gerbang ideologis, rumput-rumput mitologis, serta institusionalisasi dan instruksionalisasi politis yang romantis.
Konservatisme tidak lagi berdiri hanya sebagai gagasan yang ingin mempertahankan sesuatu yang lama. Ia telah menjadi suatu arsitektur kehidupan sosial yang membangun batas terhadap kemungkinan perubahan.
Tembok sosial-kultural menjaga agar manusia tetap berada di dalam kebiasaan yang diwariskan. Gerbang ideologis menentukan gagasan mana yang boleh masuk ke dalam kesadaran politik.
Rumput-rumput mitologis menutupi tanah historis sehingga luka dan kontradiksi masa lalu tampak sebagai sesuatu yang alamiah. Sementara institusionalisasi politik membangun bentuk permanen bagi sesuatu yang sebenarnya bersifat sementara.
Inilah gerak Hukum Rasional Sejarah dengan instrumen Hukum Rasional Perubahan yang konkret di dalam menciptakan saluran bagi mekanisme Dinamika Historis Politis berupa Hukum Rasional Peralihan Sejarah.
Perubahan tidak lahir dari ruang yang steril. Ia lahir justru ketika struktur yang ada menghasilkan tekanan yang tidak lagi dapat diselesaikan oleh struktur itu sendiri. Semakin kuat suatu sistem menutup saluran perubahan, semakin besar kemungkinan tekanan historis mencari saluran lain.
Pada saat itulah Peristiwa Politik tidak lagi dapat dikendalikan sepenuhnya oleh desain institusional. Sejarah mulai bergerak melalui celah-celah yang tidak diperhitungkan oleh mereka yang merasa telah menguasainya.
Kemudian oleh Dechiperis, dengan Metodologi Dechiperirisme, Politik ditelanjangi secara otentik dengan menyediakan Ruang Operasi yang digunakan untuk menentukan keberadaan otentik dari Politik dan para pelakunya.
Yang tampak secara radikal adalah bahwa Jiwa Politik tidak pernah diam dan tidak pernah mati oleh revolusi, tragedi, maupun instruksionalisasi politik global.
Jiwa Politik dapat ditekan, diarahkan, dipenjara dalam institusi, bahkan dikaburkan oleh bahasa kekuasaan, tetapi tidak dengan mudah dapat dihapus dari kehidupan manusia.
Selama manusia masih memiliki kehendak untuk hidup, selama manusia masih mengalami ketidakadilan, kehilangan, harapan, ketakutan, dan kehendak untuk mengubah kehidupannya, selama itu pula Politik akan terus mencari bentuk historisnya.
Dari pembacaan tersebut muncul sebuah pesan historis yang berbunyi: sekali dalam Sejarah sebuah bangsa menjadi besar, tidak ada status permanen bagi kekuasaan, dan tidak ada Pelaku Politik yang kebal terhadap Hukum Rasional Peralihan Sejarah.
Besarnya sebuah bangsa tidak menjamin kekekalan kekuasaan yang pernah membesarkannya.
Sebuah kekuasaan dapat menciptakan hukum untuk melindungi dirinya, institusi untuk memperpanjang keberadaannya, ideologi untuk membenarkan tindakannya, bahkan sejarah untuk mengabadikan namanya.
Tetapi seluruh instrumen tersebut tetap berada di dalam sejarah, dan karena berada di dalam sejarah, semuanya tunduk pada kemungkinan perubahan.
Di sinilah Baja Sejarah menghantam Pelaku Politik yang telah mengalami kesenjangan hidup, ketika Pelaku Politik tidak lagi mampu membaca perubahan yang terjadi di sekelilingnya dan justru menganggap dirinya sebagai pemilik tunggal dari sejarah.
Baja Sejarah bukanlah penghukuman moral terhadap seseorang. Ia adalah gambaran filosofis mengenai keadaan ketika manusia yang merasa telah menggenggam Sejarah justru berhadapan dengan Sejarah sebagai kekuatan yang berada di luar kehendaknya. Dan segala sesuatunya dapat berakhir seumur hidup.
Apa yang dibangun selama puluhan tahun dapat runtuh dalam satu Peristiwa Politik. Apa yang dianggap sebagai kekuasaan permanen dapat kehilangan daya dalam waktu yang singkat.
Dan nama yang pernah dianggap sebagai representasi dari Sejarah dapat berubah menjadi nama yang justru dicatat oleh Sejarah sebagai bagian dari masa lalu.
Lebih lanjut lagi, Dechiperis mengonstruksikan bahwasanya bahasa politik yang digunakan selama puluhan tahun telah dinyatakan gagal di dalam instruksionalisasinya.
Kalimat “yang abadi adalah perubahan” secara filosofis substansial ditiadakan dengan membakar habis makna yang terkandung di dalamnya.
Bagi Dechiperis, kalimat tersebut dapat berubah menjadi kalimat yang dipelihara oleh para Pelaku Politik agar penjarahan terhadap sumber daya negara dapat dilakukan dengan lancar.
Perubahan kemudian menjadi kata yang sangat mudah digunakan, tetapi sangat sulit diwujudkan.
Setiap kekuasaan dapat berbicara tentang perubahan, setiap rezim dapat menjanjikan pembaruan, setiap institusi dapat menyatakan dirinya progresif, tetapi perubahan yang dimaksud dapat berhenti pada pergantian wajah, pergantian bahasa, atau pergantian prosedur, sementara substansi kekuasaan tetap berada di tempat yang sama.
Karena itu, masalahnya bukan apakah Politik berbicara tentang perubahan, melainkan apakah perubahan tersebut benar-benar menyentuh substansi kehidupan manusia.
Perubahan yang hanya mengubah nama tanpa mengubah struktur adalah perubahan yang kehilangan daya historisnya.
Perubahan yang hanya memindahkan kekuasaan dari satu tangan ke tangan lain tanpa mengubah hubungan manusia dengan kekuasaan hanya merupakan mutasi permukaan.
Hukum Rasional Perubahan menuntut lebih daripada itu. Ia menuntut adanya peralihan yang benar-benar mengubah hubungan antara manusia, institusi, kekuasaan, dan sejarah.
Hari ini, pada tahun 2026, abad ke-21 ini, Politik Global menyisakan borok politik berupa Demarkasi Korea, Perang Ukraina, Konflik Timur Tengah, dan berbagai kategori kontingensi politik lainnya.
Borok-borok tersebut bukan sekadar sisa dari konflik yang belum selesai, tetapi merupakan tanda bahwa terdapat persoalan historis yang belum memperoleh bentuk penyelesaian yang memadai.
Di dalam ruang yang sama muncul lingkaran-lingkaran kecil komunitas politik yang mulai menggunakan berbagai ruang yang tersedia di dalam mutasinya.
Mutan-mutan politik tersebut terus-menerus bergerak ke dalam wilayah komodifikasi dan koeksistensi, lalu diadaptasi secara intensif sesuai dengan prinsip dasar sebuah organisme, yakni kehendak untuk hidup yang menghendaki terus.
Kehendak untuk hidup tersebut menjadikan kehidupan politik tidak pernah berhenti pada satu bentuk. Ketika satu ruang tertutup, manusia mencari ruang lain. Ketika satu institusi gagal, manusia membentuk institusi baru.
Ketika satu bahasa politik kehilangan daya, manusia mencari bahasa baru. Ketika satu identitas politik tidak lagi mampu menampung kehidupan konkret, identitas tersebut mengalami mutasi.
Di dalam pengertian inilah komunitas-komunitas politik yang kecil sekalipun dapat memiliki arti historis. Mereka mungkin tidak memiliki kekuasaan material yang besar, tetapi mereka membawa kemungkinan bagi bentuk kehidupan sosial yang belum memperoleh tempat di dalam struktur lama.
Di dalam sejarah umat manusia yang telah dikonstruksikan oleh Dechiperis, dijelaskan bahwa Baja Sejarah selama ribuan tahun belum memasuki wilayah tindakan historisnya secara penuh.
Namun Baja Sejarah tersebut telah diarahkan kepada Pelaku Politik yang menganggap dirinya telah menggenggam Sejarah, bahkan menganggap dirinya sebagai Sejarah itu sendiri.
Inilah Manusia Politik yang dengan keotentikannya menyatakan konfrontasi dengan Sejarah. Ia bukan lagi manusia yang hidup di dalam sejarah, tetapi manusia yang mengklaim bahwa sejarah telah menjadi miliknya.
Ia menganggap bahwa keberlangsungan kekuasaannya merupakan keberlangsungan sejarah, bahwa keruntuhannya merupakan keruntuhan bangsa, dan bahwa perlawanan terhadap dirinya merupakan perlawanan terhadap sejarah itu sendiri.
Dia adalah Sang Tiran yang diincar oleh Hukum Rasional Sejarah untuk kemudian, dengan Palu Godaannya, dihantamkan kepada Pelaku Politik yang ahistoris tersebut.
Sang Tiran bukan sekadar manusia yang memiliki kekuasaan besar. Sang Tiran adalah manusia yang kehilangan kemampuan untuk memahami bahwa kekuasaannya sendiri bersifat historis dan karena itu bersifat sementara.
Ia menjadikan dirinya sebagai ukuran bagi zaman, menjadikan kehendaknya sebagai hukum, dan menjadikan keberadaannya sebagai batas bagi kemungkinan manusia lain.
Pada saat itulah kekuasaan tidak lagi menjadi alat bagi kehidupan, tetapi berubah menjadi tembok yang menghalangi kehidupan.
Kemudian Dechiperis menggambarkan bahwa konfrontasi ini adalah situasi kontradiktif yang memberikan peluang kepada Hukum Rasional Sejarah untuk bertindak, meskipun tindakan tersebut dapat melahirkan sebuah tragedi yang tragis.
Tragedi tidak selalu lahir karena manusia menghendakinya. Ia dapat lahir karena struktur yang telah terlalu lama dipertahankan akhirnya tidak lagi memiliki ruang untuk berubah secara damai.
Ketika perubahan ditutup dari segala arah, tekanan sejarah akan mencari bentuk lain. Dan ketika tekanan itu menemukan bentuknya, perubahan dapat datang dengan kekerasan yang jauh lebih besar daripada yang seharusnya terjadi apabila ruang perubahan sebelumnya dibuka.
Kemudian daripada itu semuanya, Dechiperis membawa ketiga kontingensi esensial eksistensial itu, yakni Baja Sejarah, Pelaku Politik, dan Historisasi Sosial Politik, ke dalam ruang filosofis dengan menjelaskan secara radikal substansi esensial masing-masing.
Apakah Baja Sejarah itu?
Siapakah Pelaku Politik itu?
Apakah Historisasi Sosial Politik itu?
Ketiga pertanyaan tersebut bukan pertanyaan tentang istilah, melainkan pertanyaan tentang keberadaan.
Ia hendak mengetahui dari mana perubahan memperoleh tenaganya, melalui siapa perubahan memperoleh bentuk konkretnya, dan di dalam ruang seperti apa perubahan tersebut menjadi Peristiwa Politik yang historis.
Oleh Dechiperis, dengan metodologinya yang bernama Pembacaan terhadap Naskah yang mengalami Kebuntuan Filosofis, semuanya dibacakan sebagai berikut: Baja Sejarah adalah Jiwa Politik yang hidup, yang hadir di dalam Sejarah menjadi Peristiwa-peristiwa Politik konkret berupa penghancuran total terhadap yang ahistoris, yang oleh Dechiperis disebut sebagai Situasi Batas Absurditas Sosial Politik.
Baja Sejarah dengan demikian adalah kemungkinan historis yang muncul ketika sesuatu telah mencapai batas keberadaannya.
Ia tidak hadir karena struktur lama sekadar tidak disukai, tetapi karena struktur tersebut telah mengalami kebuntuan ontologis. Ia tidak lagi mampu memberikan ruang bagi kehidupan untuk berkembang, dan karena itu sejarah menghasilkan tekanan yang dapat menghancurkannya.
Kemudian Dechiperis menggambarkan bahwa Pelaku Politik adalah Manusia Politik yang hadir di dalam Sejarah sebagai mutasi dari yang abstrak kepada yang konkret, dan dia adalah Eksistensialis Esensial. Ia adalah manusia yang mengambil kemungkinan dan menjadikannya tindakan.
Tetapi karena tindakan itu berada di dalam sejarah, Pelaku Politik juga harus menerima konsekuensi bahwa dirinya sendiri dapat menjadi objek dari perubahan sejarah.
Tidak ada manusia yang menjadi Pelaku Politik yang dapat secara mutlak berada di luar sejarah. Justru semakin besar kekuasaan historis yang dimilikinya, semakin besar pula kemungkinan bahwa dirinya akan berhadapan dengan Hukum Rasional Peralihan Sejarah.
Dan lebih daripada itu, Historisasi Sosial Politik adalah keharusan keberadaan otentik yang lahir dari tekanan Hukum Rasional Sejarah.
Ia adalah Hukum Rasional Perubahan itu sendiri yang tergambar di dalam Hukum Rasional Peralihan Sejarah. Historisasi bukan sekadar perubahan yang tercatat dalam kronologi. Ia adalah perubahan yang telah memperoleh keberadaan konkret di dalam kehidupan manusia.
Ketika struktur sosial berubah sedemikian rupa sehingga hubungan manusia dengan kekuasaan, hukum, institusi, dan kehidupan bersama tidak lagi sama, pada saat itulah Historisasi Sosial Politik berlangsung.
Penggeledahan substansial terhadapnya dilakukan oleh Dechiperis dengan telanjang melalui metodologinya yang bernama Pembacaan Ruang Gelap Filsafat Politik yang disebut Pusaran Kekuasaan.
Di dalam Pusaran Kekuasaan, politik dibaca tanpa pakaian retorisnya. Bahasa moral, bahasa hukum, bahasa keamanan, bahasa pembangunan, dan bahasa stabilitas tidak diterima begitu saja sebagai substansi politik.
Semuanya dibuka untuk melihat kehendak yang berada di belakangnya.
Siapa yang menghendaki apa?
Siapa yang memperoleh keuntungan?
Siapa yang kehilangan ruang?
Siapa yang menentukan arah?
Dan siapa yang hanya dijadikan objek dari keputusan yang dibuat oleh orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membawa pembacaan politik ke dalam ruang yang lebih gelap, tetapi sekaligus lebih dekat kepada kenyataan konkret.
Dari pembacaan tersebut diperoleh sebuah adonan filosofis yang bernama Realitas Sosial Politik Otentik.
Di dalam realitas tersebut, Politik tidak lagi tampak sebagai susunan institusi yang bersih dan rasional, tetapi sebagai kehidupan manusia yang penuh dengan kehendak, konflik, ketakutan, harapan, ingatan, luka, dan perjuangan.
Politik menjadi hidup karena manusia hidup. Dan karena manusia hidup, politik selalu membawa kemungkinan perubahan. Tidak ada bentuk politik yang dapat mengklaim dirinya sebagai bentuk terakhir selama kehendak untuk hidup masih bekerja di dalam manusia.
Akhirnya, Dechiperirisme menelanjangi Politik sebagai sebuah Romantika dan Dinamika Historis Politis yang digunakan bagi kehendak untuk hidup yang menghendaki terus dalam bentuk kontingensi politik yang terus-menerus mencari saluran historisnya.
Di dalam gerak itu, Politik dapat menjadi perjuangan, dapat menjadi tragedi, dapat menjadi kemenangan, dapat menjadi kekalahan, dapat menjadi revolusi, bahkan dapat menjadi keheningan sebelum ledakan berikutnya.
Tetapi semua itu merupakan bentuk dari satu kenyataan yang sama: _kehidupan manusia tidak pernah berhenti mencari bentuk keberadaannya sendiri._
Dan tentang kapan dan di mana perjumpaan Baja Sejarah dengan Pelaku Politik itu berada, Dechiperis membacakan bahwasanya peristiwa itu semuanya belum terjadi, dikarenakan terjadinya hanya sekali di dalam Sejarah sebagaimana ledakan Supernova.
Perjumpaan tersebut tidak dapat dipastikan melalui perhitungan politik biasa. Ia tidak dapat ditentukan oleh jajak pendapat, dokumen kebijakan, keputusan institusi, atau ramalan politik.
Ia adalah peristiwa yang singular, peristiwa yang ketika terjadi akan menghasilkan perbedaan antara sebelum dan sesudahnya. Justru karena itu, manusia yang hidup hari ini hanya dapat membaca gejalanya, bukan menentukan secara pasti bentuk kedatangannya.
Dalam konteks historis, Dechiperirisme mengonstruksikan bahwasanya Baja Sejarah sering kali memercikkan serpihan kecil bajanya terhadap Peristiwa-peristiwa Politik dunia.
Napoleon Bonaparte, misalnya, oleh historiografi dinyatakan sebagai Roh Politik yang mengubah dunia, dan terdapat berbagai kategorikal anak-anak manusia yang menyerupainya dalam arti menjadi medium bagi perubahan historis yang sangat besar.
Lenin, Adolf Hitler, Gandhi, Sukarno, dan masih berderet beberapa nama lainnya dapat disebut sebagai contoh manusia yang pada zamannya menjadi titik konsentrasi kekuatan politik dan perubahan sejarah.
Mereka tidak berada dalam satu kategori moral ataupun ideologis, tetapi mereka memperlihatkan bahwa sejarah dapat menggunakan manusia konkret sebagai medium bagi perubahan yang jauh melampaui kehidupan individualnya.
Namun, serpihan Baja Sejarah bukanlah Baja Sejarah itu sendiri. Manusia dapat menjadi percikan dari perubahan tanpa menjadi perwujudan penuh dari tenaga historis tersebut.
Ia dapat menjadi Pelaku Politik yang sangat besar, tetapi tetap merupakan bagian dari sejarah yang pada akhirnya akan bergerak melampaui dirinya.
Di sinilah persoalan menjadi semakin radikal: manusia yang mengubah sejarah tidak otomatis menjadi pemilik sejarah. Justru orang yang paling kuat pengaruhnya terhadap sejarah dapat menjadi orang yang paling keras dihantam oleh sejarah ketika ia menganggap bahwa perubahan telah berhenti pada dirinya.
Maka muncul pertanyaan yang lebih tajam: apakah Baja Sejarah ini mutlak harus dihantamkan kepada Pelaku Politik? Dechiperirisme mengonstruksikan hal ini sebagai sesuatu yang mungkin.
Baja Sejarah dapat menemukan Pelaku Politik sebagai titik perjumpaan konkret, tetapi ia tetap merupakan kemungkinan. Ia bukan keniscayaan yang dapat dipastikan oleh pikiran manusia hari ini.
Sejarah dapat memilih manusia tertentu sebagai mediumnya, tetapi sejarah juga dapat bergerak melalui massa, institusi yang runtuh, gerakan sosial, perubahan generasi, konflik antarkelompok, atau bentuk-bentuk lain yang belum mampu dikenali oleh kesadaran politik yang sedang berkuasa.
Karena itu, perjumpaan antara Baja Sejarah dan Pelaku Politik tetaplah kemungkinan yang mungkin. Dan justru karena ia adalah kemungkinan, kejadiannya tidak mungkin dibayangkan secara utuh hari ini.
Kita hanya dapat membaca tanda-tanda yang muncul, membaca tekanan yang semakin mengeras, membaca borok yang semakin terbuka, membaca bahasa politik yang semakin kehilangan daya, dan membaca kekuasaan yang semakin berusaha mempertahankan dirinya.
Tetapi bentuk akhir dari peristiwa tersebut tetap berada di luar jangkauan kesadaran manusia sekarang.
Baja Sejarah dapat berada di ambang tindakan tanpa memperlihatkan kapan ia akan bertindak. Pelaku Politik dapat berada di hadapan sejarah tanpa mengetahui bahwa dirinya sedang berdiri di ambang sebuah peralihan.
Historisasi Sosial Politik dapat bergerak perlahan di bawah permukaan kehidupan sebelum tiba-tiba muncul sebagai Peristiwa Politik yang mengubah segala sesuatu.
Di dalam keadaan seperti itulah sejarah menjadi sesuatu yang sekaligus menakutkan dan membebaskan. Menakutkan karena manusia tidak dapat menguasai seluruh akibat tindakannya sendiri; membebaskan karena tidak ada kekuasaan yang benar-benar mampu menutup seluruh kemungkinan masa depan.
Maka, Baja Sejarah tidak harus dipahami sebagai pedang yang setiap saat siap menghantam seorang Pelaku Politik tertentu. Ia lebih tepat dipahami sebagai kemungkinan historis yang terus bekerja di balik kehidupan sosial-politik manusia.
Ia menjadi keras ketika kehidupan dipaksa menjadi beku. Ia menjadi tajam ketika kekuasaan menganggap dirinya abadi. Ia menjadi destruktif ketika struktur sosial telah mencapai Situasi Batas Absurditas Sosial Politik.
Dan ketika akhirnya perjumpaan antara Baja Sejarah dan Pelaku Politik benar-benar terjadi, peristiwa tersebut bukan lagi sekadar jatuhnya seorang manusia dari kekuasaan, melainkan suatu peralihan historis yang membuat manusia menyadari bahwa tidak seorang pun dapat menggenggam Sejarah untuk selama-lamanya. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 10 September 2026
<span;>Note: <span;>_<span;>“Baja Sejarah yang Menghantam Pelaku Politik” merupakan ungkapan metaforis yang sangat kuat. Kalimat ini menggambarkan bagaimana hukum sejarah, rekam jejak masa lalu, atau konsekuensi logis dari tindakan politik pada akhirnya akan kembali dan “menghantam” atau menghakimi para pelaku politik itu sendiri.<span;>_ (Ai)





