
KOTA MALANG | SARINAH NEWS || – DPC PDIP Kota Malang menggelar upacara HUT PDI Perjuangan yang ke 53 tahun di halaman kantor DPC partai Jl. Panji Suroso dikuti seluruh pengurus partai, badan dan sayap partai.
Setiap tanggal 10 Januari, PDI Perjuangan memperingati hari jadinya, kali ini, hari ini, PDI Perjuangan genab berusia 53 tahun sejak PNI berfusi menjadi PDI pada tahun 1973 yang tergabung dengan partai nasionalis lainnya.
Sugiarto (Totok Duro) bertindak selaku inspektur upacara didukung Satgas Cakra Buana sebagai komandan upacara dan petugas upacara bersama struktural DPC partai
Prosesi upacara berjalan lancar dan hikmat. Upacara kali ini sangat sederhana tanpa dihadiri seluruh elit partai, ketidak hadiran mereka karena ada tugas partai di Jakarta untuk menghadiri HUT partai di DPP partai.
Tetapi, pidato tertulis Amithya Ratnanggani Sirraduhita Ketua DPC partai disampaikan oleh Sugiarto Inspektur upacara.
Setelah prosesi upacara bendera, kegiatan dilanjut dengan potong tumpeng HUT PDIP ke 53th, Berbagi kasih (nasi kotak) dengan pejalan kaki dan pengendara kendaraan di halaman kantor partai dan ditutup nonton bareng pidato Megawati Soekarno Putri ketua DPP partai via streeming TV.
Lebih dari itu, sarinahnews.com mengutip isi pidato tertulis Amithya yang disampaikan oleh Sugiato yang bertindak sebagai inspektur upacara:
PIDATO HUT PDI PERJUANGAN KE-53:
Assalamualaikum wr. Wb.
Salam sejahtera
Shalom
Om swastiastu
Namo budaya
Rahayu
Merdeka !!!
Saudara-saudari seperjuangan yang saya cintai dan saya banggakan,
Hari ini kita memperingati Hari Ulang Tahun PDI Perjuangan ke-53. Usia yang tidak lagi muda bagi sebuah partai politik, namun justru menjadi penanda kedewasaan dalam berpikir, keteguhan dalam bersikap, dan konsistensi dalam berjuang bersama rakyat.
Lima puluh tiga tahun perjalanan ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan rangkaian ujian ideologis. Kita ditempa oleh zaman, diuji oleh kekuasaan, dan disaring oleh kepercayaan rakyat. Karena itu, peringatan HUT ini harus kita maknai bukan hanya dengan seremonial, tetapi sebagai momentum konsolidasi total seluruh kekuatan partai.
PDI Perjuangan sejak kelahirannya menegaskan diri sebagai partai ideologis yang berakar kuat pada Pancasila 1 Juni 1945. Pancasila bukan hanya dasar negara, tetapi jiwa perjuangan kita: Ketuhanan yang membebaskan, Kemanusiaan yang berkeadilan, Persatuan yang memerdekakan, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan, serta Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Nilai-nilai inilah yang menjadi kompas moral dan politik PDI Perjuangan dalam setiap langkah dan keputusan.
Konsolidasi bukan sekadar rapat dan laporan. Konsolidasi adalah memastikan bahwa denyut partai terasa hidup hingga ke akar rumput. Dari DPP, DPD, DPC, PAC, ranting, hingga anak ranting—semua harus bergerak dalam satu nafas perjuangan. Struktur bukan hanya bangunan organisasi, tetapi alat ideologis untuk memastikan kehadiran partai di tengah rakyat.
PDI Perjuangan lahir dari rahim penderitaan rakyat dan akan terus hidup bersama rakyat. Karena itu, jejaring struktur di akar rumput harus diperkuat, bukan sekadar sebagai mesin politik elektoral, tetapi sebagai ruang pengabdian. Kader-kader kita harus hadir di sawah, di pabrik, di pasar, di kampung-kampung, mendengar suara rakyat, dan memperjuangkannya dalam kebijakan nyata. Di situlah Pancasila bekerja—bukan sebagai hafalan, tetapi sebagai tindakan.
Bung Karno mengajarkan kepada kita satu prinsip yang melampaui zaman, yakni Satyam Eva Jayate—kebenaran pasti menang. Pesan ini bukan slogan kosong. Ini adalah fondasi moral perjuangan politik kita. Dalam dunia yang penuh intrik, fitnah, dan manipulasi, PDI Perjuangan harus berdiri tegak di atas kebenaran, keberanian, dan kejujuran.
Bung Karno juga menegaskan sikap ideologis yang tidak boleh kita tawar-menawar: “Aku adalah seorang Pancasilais. Dan di sanalah aku berdiri untuk selama-lamanya.” Kalimat ini bukan sekadar pernyataan personal, melainkan ikrar perjuangan. Maka PDI Perjuangan pun berdiri tegak di atas Pancasila—bukan saat mudah saja, tetapi justru saat diuji, ditekan, dan dilawan oleh kepentingan sempit.
Kebenaran itulah yang harus menjiwai setiap langkah konsolidasi kita. Kebenaran dalam membangun struktur, kebenaran dalam melayani rakyat, dan kebenaran dalam menjaga marwah partai. Sebab partai yang besar bukan hanya karena jumlah kursi, tetapi karena kepercayaan rakyat yang dirawat dengan kejujuran dan keberpihakan.
Di usia ke-53 ini, mari kita teguhkan kembali jati diri kita sebagai partai ideologis, partai kader, dan partai rakyat. Kita rapatkan barisan, kita kuatkan struktur, dan kita hidupkan jejaring akar rumput dengan semangat gotong royong, disiplin organisasi, serta keberpihakan yang nyata kepada wong cilik—sebagaimana amanat Pancasila dan cita-cita Proklamasi.
Dengan keyakinan pada kebenaran—Satyam Eva Jayate—dan dengan kesetiaan penuh pada Pancasila, kita melangkah ke depan dengan kepala tegak dan hati yang menyala. Karena selama kita setia pada ideologi dan rakyat, PDI Perjuangan akan terus menang, bukan hanya dalam pemilu, tetapi dalam sejarah bangsa.
Dirgahayu PDI Perjuangan ke-53.
Solid bergerak, setia pada ideologi, menang bersama rakyat. Disanalah aku berdiri untuk selama-lamanya. ***)
Malang, 10 januari 2026
Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Malang periode 2025-2030
Amithya Ratnanggani Sirraduhita, SS
Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!
PDI Perjuangan! (jaya)
Mega Mega Mega! (Yes)
Banteng! (Solid bergerak)
Wassalamualaikum wr.wb
Salam sejahtera
Shalom
Om shanti shanti shanti om
Namo budaya
Rahayu
Autor: toyik
Editor: kadir wahyudi






