Esai: Politik
1 Juni: Merah Putih Berkibar di Halaman Kantor DPC PDIP, Makna Pancasila di Kepala Rakyat
Oleh Kadir Wahyudi
– DPC PDIP Kota Malang Menggelar Upacara Bendera Memperingati Hari Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945
1 Juni 2026, bangsa ini lagi memperingati Hari Lahir Pancasila. Tepat 81 tahun lalu, 1 Juni 1945, Bung Karno pertama kali menyebut “Pancasila” di dalam sidang BPUPKI.
BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau dalam bahasa Jepang disebut Dokuritsu Junbi Cosakai adalah badan yang dibentuk oleh pemerintah pendudukan Jepang pada 1 Maret 1945, yang diketuai oleh Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat.
Dikutip dari berbagai sumber referensi: jntuk diketahui bahwa, BPUPKI telah melaksanakan dua kali sidang resmi sebelum akhirnya dibubarkan pada 7 Agustus 1945 dan digantikan oleh PPKI:
Sidang Pertama (29 Mei – 1 Juni 1945): Bertujuan merumuskan dasar negara. Pada sidang ini, Ir. Soekarno menyampaikan gagasan yang kemudian dinamakan “Pancasila”.
Sidang Kedua (10 – 17 Juli 1945): Membahas rancangan Undang-Undang Dasar (UUD), bentuk negara, wilayah negara, serta kewarganegaraan. (CNN Indonesia)
Senin, 1 Juni 2026, DPC PDIP Kota Malang menggelar upacara bendera. Bendera Merah Putih dikibarkan, upacara digelar, teks Pancasila dibacakan. Upacara itu penting. Tapi yang lebih penting: _apa yang kita bawa pulang dari upacara itu_.
Apa makna lahirnya Pancasila itu. Perlu diketahui bahwa Pancasila lahir bukan di medan perang, tapi di ruang sidang. Pancasila Lahir dari debat beberapa hari dan beberapa malam (29 Mei – 1 Juni 1945), antara Islam, nasionalis, Kristen, dan adat.
Tidak ada yang menang-menangan, nggak ada yang saling mengalahkan, dan nggak ada yang menang telak. Yang menang adalah “musyawarah”.
Sila 1-5, dalam Pancasila itu adalah hasil kristalisasi perjuangan bangsa yang digali oleh Soekarno. Pancasila itu hasil kompromi anak bangsa, biar Indonesia nggak pecah, nggak bercerai-berai, dan nggak berantem sebelum merdeka. Makanya sila ke-4 bunyinya “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”.
Intinya: _negara ini bukan milik satu golongan, bukan milik satu seragam_. Negara ini milik hasil rembuk. Milik hasil kompromi para founding father kita. Demi masa depan kita semua. Demi anak cucu kita semua.
Karena itu, hari ini, Senin, 1 Juni 2026, di kantor DPC PDIP Jalan Panji Suroso 5A Kota Malang, digelar upacara di halaman kantor DPC partai, maknanya nggak cuma seremonial.
Bendera yang dikibarkan itu simbol. Yang dikibarkan harusnya juga “semangat 1 Juni 1945”: berani beda pendapat tapi tetap satu meja. Berani gontok-gontok’an gak ngoceh dibelakang. Gak kentir ketika beda pendapat! Be smilling face, itu elegant seperti yang ditunjukkan pimpinan DPC partai.
Pancasila nggak akan hidup kalau cuma dihafal pas upacara. Dia hidup kalau kita pake buat bedah kebijakan: SDA buat siapa? Utang buat apa? Tentara di dapur MBG dan di KMP sesuai sila ke-2 “Kemanusiaan yang Adil” apa nggak? Masak adil di kalangan kroninya sendiri. Itu tidak diharapkan oleh Pancasila.
Konsep perjuangan Pancasila itu apa? Sesungguhnya, konsep perjuangan Pancasila adalah “kemerdekaan”. Merdeka. Kata _merdeka_ jangan dimaknai sempit. Kata _merdeka_ bukan milik partai moncong putih saja! Kok seperti alergi ketika diteriakkan kara “_merdeka!_”.
Pancasila itu sebuah ideologi pembebasan. Konsep perjuangan Pancasila itu adalah kemerdekaan. Merdeka dari segala bentuk penindasan. Merdeka dari sistem perampasan berkedok “kemakmuran”, berkedok kesejahteraan bersama. Perampasan tanah untuk korporasi asing aseng itu adalah penjajahan. Imperialis bangsa sendiri!
Karena Pancasila itu kayak api. Upacara itu korek apinya. Yang bikin nyala terus adalah kita, di rumah, di kantor, di pasar, di kolom komentar dan di medsos gak ada sepi-sepinya! Pancasila itu konsep kemerdekaan ngajarin kita:
Sila ke-1, dalam Pancasila, ngajarin kita: beda Tuhan itu boleh, tapi saling menghormati itu harus. Artinya, kita itu berketuhanan. Terserah Tuhanmu, yang penting bertakwa. Beriman tidak bertakwa, buktinya korupsi ugal-ugalan. Jare wong Rodowo, gak duwe utek!
Sila ke-2, dalam Pancasila, ngajarin kita: manusia itu berharga, siapapun dia. Buruh, jenderal, petani, semua punya martabat yang sama. Jangan melakukan inovasi penjajahan berdalih kemanusiaan. Manusia beradap tinggal di tanah adat kok diusir berdalih “kemanusiaan yang adil dan beradap”.
Sila ke-3, dalam Pancasila ngajarin kita: ribut boleh, tapi jangan bubar. Indonesia itu rumah besar. Kotor dikit wajar, harusnya cepat dibersihken, asal jangan dibakar. Berdalih “persatuan” auranya ngajak ribut.
Sila ke-4, dalam Pancasila ngajarin kita: negara ini nggak dibangun sama satu orang jenius saja, tetapi ia dibangun sama rembug banyak kepala, banyak orang-orang bijak. Musyawarah itu capek, tapi hasilnya awet. Sejarah sudah mengajarkan, sistem otoriter dan militerisme itu cepat, instan tetapi tidak awet. Masak lupa. Lagi mau eksperimen ya? Gak bahaya ta?
Sila ke-5, dalam Pancasila ngajarin kita: merdeka itu nggak lengkap kalau tetangga kita masih lapar. Keadilan sosial itu PR harian, bukan slogan 17 Agustus. Keadilan sosial itu bukan adil dalam pembagian perampokan SDA oleh para gerombolan korporasi asing dan aseng!
Please, come home! Come back to the real of Pancasilaism. And, “Selamat Hari Lahir Pancasila”. Bendera boleh turun sore nanti. Tapi mari kita jaga “bendera” di kepala kita: bendera akal sehat, bendera musyawarah, bendera jiwa yang berani.
Tetapi, menjaga Pancasila dimulai dari hal mudah: tiap 1 Juni, kita tanya lagi pada diri sendiri, “Apa yang sudah kita lakuin buat Sila ke-5: _Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia?_” ***)
Posted: sarinahnews.com
Malang, 1 Juni 2026





