P O L I T I K

P O L I T I K

Opini:

P O L I T I K
Djoko Sukmono

Merasa paling benar. Berwatak hegemonistik. Itu bukan tanda seorang revolusioneris. Itu ciri kaum reaksioneris mereka yang menahan laju zaman, bukan menembusnya.

Namun, keduanya selalu hadir dalam perjalanan sejarah. Dan sejarah, pada akhirnya, akan membuktikan: siapa pemilik masa depan—revolusioneris atau reaksioneris.

Apakah pada abad ke-21 ini masih tersisa para revolusioner sejati?
Ataukah mereka baru mulai bangkit dari puing-puing kehancuran pada tahun 2025 ini?

Dunia sosial kini berada dalam genggaman para reaksioneris. Siapakah mereka?

Mereka adalah kaum kapitalistik dengan wajah yang beraneka rupa:
Neo-liberalis, Pancasialis, Marhaenis, Komunis, Oligarkis, Homo Economicus kapitalistik, bahkan mereka yang bersembunyi di balik kubah agama.

Warna berbeda, kepentingan berbeda, tetapi akarnya sama: status quo yang dipertahankan dengan segala cara.

Padahal kemampuan tertinggi manusia historis adalah men-dunia—menghadirkan dirinya ke dalam sejarah melalui rasio historis.

Kemampuan tertinggi manusia berpikir adalah refleksi, kemampuan menembus permukaan peristiwa untuk menangkap makna terdalamnya.

Sebaliknya, kemampuan tertinggi kaum reaksioner adalah koreksi:
membangun virus mental yang disebarkan secara terstruktur, sistematis, dan masif,
demi mengontrol nalar publik.

Sementara itu, kemampuan tertinggi kaum revolusioner adalah tindakan eksistensial—
tindakan yang menjebol dan membangun, meruntuhkan yang lapuk dan menciptakan kemungkinan yang sama sekali baru.

Keduanya berjalan di jalan sejarah yang sama, tetapi dari arah yang berlawanan.

Ketika benturan antara keduanya mencapai titik puncak, maka meledaklah perang dunia.
Dan sejarah telah mencatatnya:
Perang Dunia I, Perang Dunia II, dan Perang Dingin di abad ke-20.

Pada abad ke-21, benturan itu tampil sporadis di berbagai sudut dunia:
konflik Timur Tengah, perang Ukraina, perang dagang Cina-Amerika.

Inilah yang disebut sebagai post-delivered order—tatanan yang tidak lagi dipegang oleh satu kekuatan hegemonik, melainkan diperebutkan secara kacau dan serentak.

Karena itu, bersiaplah.
Sejarah tidak pernah berpihak kepada siapa pun.
Tidak kepada yang reaksioner, dan tidak pula kepada yang revolusioner.

Sejarah hanya bergerak menurut relnya sendiri: war, glory, and victory. Dan siapa yang berdiri di akhir perjalanan itulah yang akan menuliskan namanya sebagai pemilik masa depan. ***)

Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 17 November 2025