Opini:
K E R J A
Djoko Sukmono
Kerja adalah hukuman.
Di dunia sosial saat ini, apa yang sesungguhnya diperoleh dari kerja?
Yang muncul justru ketidaklayakan antara apa yang dikerjakan dan apa yang didapatkan.
Sebab kerja di dalam sistem kapitalistik hari ini sarat dengan eksploitasi—
eksploitasi yang dibungkus efisiensi, produktivitas, dan meritokrasi palsu.
Di sisi lain, ada virus mental yang terus dijejalkan kepada orang-orang yang rajin bekerja:
yakni seruan untuk bersyukur.
“Syukurillah,” kata mereka.
Seruan yang seakan menenangkan, tetapi sejatinya menundukkan.
Sementara itu, Homo Economicus kapitalistik mengeluarkan satu lagi ilusi besar yang mereka sebut sebagai keberuntungan.
Dengan narasi yang berulang-ulang mereka kumandangkan:
“Hai para pekerja…
Sudah ribuan kali kami memberikan keberuntungan kepada kalian,
namun kalian tetap saja—pekerja.
Karena itu, kami berikan keberuntungan baru yang disebut Keberuntungan yang Membebaskan.
Bentuknya: baja melengkung.
Luruskan baja itu,
dan bila kalian berhasil,
kalian akan terbebas dari seluruh penderitaan hidup.
Tidak ada lagi eksploitasi.”
Namun bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun berlalu,
dan baja itu tetap melengkung—
meskipun seluruh pekerja di dunia telah bergotong-royong mencoba meluruskannya.
Ironis.
Tetapi itulah ironi yang sengaja diciptakan.
Kemudian, muncullah pernyataan ekstrem dari seorang filsuf: “Yang mengubah dunia adalah kerja. Kerja bukan demi memiliki, melainkan demi ada dan menjadi.”
Di menara gading lain, ada pula yang berkata: “Kerja adalah menempa keutamaan,
bukan jalan menuju kepongahan.”
Namun klaim-klaim seperti itu sering kali tidak bertumpu pada eksistensi kerja itu sendiri. Mereka melupakan kenyataan paling mendasar:
bahwa kerja adalah keniscayaan historis,
bagian dari dinamika yang mengotomatisasi kehidupan sosial manusia dalam proses mereka men-dunia.
Eksistensi kerja tidak lahir dari moral,
dan tidak pula muncul dari idealisme.
Ia adalah tarikan niscaya sejarah,
medan benturan antara kebutuhan hidup, struktur produksi, dan cara manusia mempertahankan keberadaannya.
Di sinilah dunia sosial bekerja—
dunia yang menggerakkan manusia,
sekaligus dunia yang digerakkan manusia.
Dunia tempat kerja bukan lagi sekadar aktivitas, melainkan struktur yang membentuk seluruh ritme keberadaan.
Inilah yang dinamakan Dunia Sosial yang Bekerja.
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 18 November 2025





