Filsafat: Esensi (I)
E S E N S I
Djoko Sukmono
MONOLOG
Manusia sosial konkret menyatakan bahwa apa pun dan siapa pun yang menghalangi anak-anak manusia konkret untuk hidup sejahtera adalah Kontra Revolusi.
Manusia individual konkret juga menegaskan bahwa segala ancaman terhadap wilayah privasi anak-anak manusia adalah musuh kemanusiaan.
Eksistensi yang Beresensi
Sesungguhnya manusia itu satu adanya, dan karena itu manusia wajib hidup. Segala sesuatu yang menghalangi kehidupannya—baik dalam bentuk struktur, ideologi, maupun kebijakan—harus disingkirkan dari bumi.
Pembentukan manusia yang utuh mesti dilakukan cepat, tepat, dan merata kepada seluruh inisial yang ada, dengan pedoman keadilan sosial yang bertumpu pada tiga pilar utama: identitas, integritas, dan loyalitas.
Namun, kegagalan esensial telah menjadi fakta otentik, sementara kegagalan eksistensial justru tampil paradoksal.
Upaya menjadi manusia konkret terhalangi oleh struktur sosial yang dikonstruksi sedemikian rupa sehingga memenjarakan manusia di dalam definisi-definisi yang tidak ia ciptakan sendiri.
Di sisi lain, budaya ekstremis radikal—yang mengklaim memegang kebenaran dan kebaikan—mengunci perkembangan manusia konkret pada pancang-pancang moral yang rapuh.
Kekuatan moneter menjelma monster yang siap melahap eksistensi manusia, dan revolusi dalam bentuk baru tidak lagi membawa pembebasan, melainkan menjerumuskan anak-anak manusia yang masih kekanak-kanakan ke jurang kehancuran sosial.
Dalam situasi inilah Orde Digitalisasi muncul sebagai harapan besar bagi anak-anak manusia untuk mempraktikkan eksistensinya. Ruang kebebasan terbuka; dunia tampak dari pintu dan jendela yang sebelum ini terkunci.
Yang esensial dinyatakan usang, lalu digantikan oleh Google dan internet—dua entitas yang menyediakan bentuk baru bagi kehidupan sosial dan membuka jalan bagi lahirnya anak-anak Orde masa depan.
Kecepatan Orde Digitalisasi adalah konsekuensi tak terelakkan dari revolusi sains dan teknologi, yang merupakan manifestasi progresivitas revolusi industri.
Kekuatan ini menembus pelosok dunia dan merambah relung-relung identitas manusia yang sebelumnya dianggap mapan.
Struktur sosial esensial runtuh.
Budaya esensial berantakan.
Sistem sosial mudah terdekonstruksi.
Para esensialis melakukan bunuh diri massal.
Generasi milenial dan Gen Z membunuh semua yang kontra terhadap Orde Digitalisasi.
Keruntuhan rezim politik, sosial, kebudayaan, dan keagamaan kini terhuyung-huyung di depan mata.
Mengapa demikian?
Karena keberadaan rezim-rezim itu rentan terhadap hukum-hukum rasional perubahan. Inilah Hukum Rasional Sejarah yang tengah memanifestasikan diri.
Dengan godam sejarah, struktur ahistoris dihancurkan; dengan baja sejarah, para pelaku struktural yang stratifikatif dan otoritatif dihantam tanpa ampun.
Inilah yang esensial itu, yang telah gagal mendunia
Jika yang esensial—yang merupakan dasar kemungkinan keberadaan—masih diandaikan mungkin, maka yang eksistensial—yang sungguh-sungguh hadir—menjadi tidak mungkin.
Kehidupan sosial manusia kini hanya menyediakan hamparan ketidakmungkinan yang absurd. Maka keberadaan manusia berhenti pada wilayah esensi dan gagal mencapai eksistensi.
Esensi menyediakan kemungkinan manusia menjadi ada; eksistensi menuntut kesungguhan keberadaan itu sendiri.
Beresensi dan bereksistensi bagi manusia konkret hanya berujung pada situasi batas, demikian pula kondisi sosial konkret.
Keduanya berakhir pada situasi batas sosial yang absurd: keberadaan yang pecah karena esensi jatuh ke jurang kesia-siaan.
Kebebasan, keadilan, dan kesejahteraan adalah nilai dasar kemanusiaan, tetapi apakah ketiganya sudah konkret? Tidak!
Kemanusiaan tetap absurd—dan absurditas itu menyingkirkan harapan untuk menjadi manusia autentik.
Dengan susah payah, anak-anak manusia berusaha menjadi manusia autentik, tetapi berkali-kali gagal.
Hitler gagal.
Uni Soviet bubar.
Reformasi absurd.
Partai politik gagal.
Demokrasi gagal.
Marxisme menghasilkan konfrontasi berkepanjangan.
Kapitalisme menggali kuburnya sendiri.
Anak-anak manusia berdiri di atas esensi yang rapuh, sebab esensi, betapapun kuat dipertahankan, tetap merupakan jebakan yang mengurung manusia dalam ruang segala kemungkinan tanpa kepastian.
Paradoksal adalah jalan menuju absurditas
Paradoks membelah keutuhan menjadi kepingan-kepingan tercerai yang melahirkan situasi absurd—tanpa tujuan, misterius, dan mengerikan.
Negara-bangsa Indonesia berada pada posisi itu. Timur Tengah pun hidup di dalam situasi batas sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Yang esensial hanyalah bayang-bayang waktu yang ilusif.
Kehidupan manusia dibatasi oleh kemarin, sekarang, dan esok. Dalam struktur berpikir reflektif, rasio dapat menajamkan diri untuk membuka jalan menuju eksistensi, yaitu titik di mana kebebasan manusia konkret dapat dijelaskan secara utuh.
Manusia adalah makhluk multi-kompleks, konkret, dan individual; ia hidup dalam waktu, hadir dalam ruang, bersinergi dengan esensi, beraktivitas dalam transhistoris dan transidios, lalu tampil sebagai eksistensi yang autentik dan konkret—meski rentan terhadap keterpecahan, paradoks, dan absurditas sejarah. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 9 Desember 2025





