Ruang Filsafat:
Bahasa Eksistensial Manusia Konkret
Djoko Sukmono
Manusia konkret tidak terhubung dengan piagam, konstitusi, pasal, dan ayat. Dokumen-dokumen itu adalah hasil pengendapan sejarah; ia mungkin menyeberanginya, menggunakannya, bahkan mengakui keberadaannya sebagai realitas sosial, tetapi dirinya sendiri tidak pernah ditentukan olehnya.
Manusia konkret berdiri pada wilayah yang lebih dalam: pengalaman langsung, kesadaran-diri, dan keputusan eksistensial yang tidak dapat sepenuhnya ditangkap oleh perangkat hukum mana pun.
Manusia konkret terhubung dengan yang transhistoris—yakni dengan dimensi pengalaman manusia yang tetap, walaupun bentuk-bentuk sosial selalu berubah.
Transhistoris bukanlah sesuatu yang melayang di luar dunia, melainkan inti pengalaman manusia yang melintasi zaman: kecemasan, kebebasan, tanggung jawab, dan daya untuk mengatakan “aku adalah aku”.
Di titik ini, fakta filosofisnya jelas: tidak ada institusi, ideologi, atau tatanan sosial yang dapat menggantikan keputusan pribadi dalam menanggung keberadaan.
Namun manusia konkret tidak terhubung dengan yang adikodrati. Ia tidak mencari pijakan di luar dunia, tidak menunggu legitimasi dari langit, dan tidak menyandarkan eksistensinya pada dalil metafisis tentang kekuatan luar.
Manusia konkret adalah dirinya sendiri; kebebasannya sendiri; tanggung jawabnya sendiri. Eksistensinya tidak diberikan, melainkan dihidupi; tidak diwariskan, melainkan dipertaruhkan setiap saat.
Ketika membangun relasi dengan Ada yang lain, manusia konkret tidak “memberitahukan” keberadaannya kepada yang lain. Ia tidak menyodorotkan identitas, tidak meminta pengakuan sebagai syarat menjadi diri sendiri.
Sebab ada yang lain, bagi manusia konkret, bukan lawan bicara yang harus diyakinkan, melainkan cermin tempat keberadaannya memantul.
Ada yang lain bukan ancaman; bukan juri yang menilai; bukan perangkat moral eksternal. Ia adalah bagian dari ruang eksistensial yang memperlihatkan kepada manusia konkret siapa dirinya, melalui perjumpaan, konflik, atau cinta.
Oleh karena itu, interaksi sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari adalah interaksi politis murni.
Bukan politis dalam pengertian kekuasaan formal atau kemegahan institusi, melainkan politis dalam arti bahwa setiap perjumpaan manusia selalu menyangkut kebebasan, pengakuan, daya bertindak, dan risiko menjadi.
Setiap keputusan kecil adalah keputusan tentang bagaimana manusia konkret menegakkan eksistensinya di tengah dunia yang tidak memberinya panduan pasti.
Di titik inilah ia menjadi “kemanusiaannya sendiri”: bukan sekadar anggota masyarakat, tetapi subjek yang menanggung makna hidupnya.
Manusia konkret memandang bahwa manusia otentik adalah manusia yang memiliki hidupnya sendiri, dan hidup itu tidak lain adalah apa yang sedang dijalani saat ini.
Tidak ada hidup yang lain; tidak ada kelanjutan yang sudah dipastikan; tidak ada rancangan yang dijamin berhasil oleh sejarah.
Masa depan hanyalah kemungkinan, bukan kepastian. Satu-satunya realitas yang dapat ditanggung adalah saat ini—dan keberanian untuk berdiri di dalamnya.
Oleh karena itu momentum ini tidak boleh disia-siakan. Setiap saat adalah kesempatan untuk memilih, menegaskan diri, dan membentuk arah eksistensi.
Kebebasan bagi manusia konkret adalah hidupnya. Kebebasan bukan janji abstrak, bukan asas yang ditulis dalam konstitusi, bukan slogan ideologis.
Kebebasan adalah fakta eksistensial: bahwa manusia hidup, menanggung, dan memutuskan. Dan kebebasan itu hanya ada sejauh manusia berani hidup, bukan sekadar menunggu mati.
Dengan demikian, manusia konkret bukan bayangan abstrak, bukan konsep ideal, melainkan tubuh yang berdiri di dunia, penuh keterbatasan namun penuh kemungkinan.
Hidupnya adalah proyek, sebuah gerak terus-menerus antara peluang dan keputusan. Dan dalam gerak itulah ia menemukan dirinya sebagai manusia—tanpa perlu legitimasi dari piagam atau ayat mana pun.
Eksistensialisme klasik—dari Kierkegaard, Heidegger, hingga Sartre—telah membuka jalan bagi pemahaman manusia sebagai subjek yang bebas dan bertanggung jawab. Namun manusia konkret berdiri selangkah lebih maju.
Eksistensialisme masih menempatkan manusia di bawah bayang-bayang konsep metafisis tertentu: kecemasan fundamental, nothingness, atau struktur ontologis yang mengatur bagaimana “Ada” harus dipahami.
Eksistensialis masih mencari dasar-dasar makna di dalam arsitektur filosofis yang luas. Mereka mencoba menggali hakikat keberadaan melalui bahasa ontologis yang abstrak.
Manusia konkret tidak memerlukan itu
Manusia konkret tidak bertanya “apa itu Ada” sebelum hidup; ia hidup dulu, baru kemudian makna mengalir dari tindakan. Ia tidak menunggu kerangka ontologis untuk memahami dirinya.
Jika eksistensialisme masih terikat pada perangkat kategori tertentu—meski tidak seketat metafisika tradisional—bahasa manusia konkret bebas dari semua itu.
Eksistensialisme berusaha menjelaskan manusia dengan kerangka, sementara manusia konkret menghancurkan kerangka itu agar manusia dapat berdiri sendiri tanpa intervensi konsep yang mengerdilkan pengalaman langsung.
Eksistensialisme juga masih terjebak pada kebutuhan akan “otentisitas” sebagai ukuran. Pada titik tertentu, “otentik” berubah menjadi moralitas baru: seolah manusia harus memenuhi standar tertentu untuk disebut bebas.
Manusia konkret tidak membutuhkan label otentik. Ia tidak hidup untuk menjadi “otentik”—ia hidup karena tidak ada alternatif lain selain hidup.
Otentisitas bukan tujuan, melainkan konsekuensi dari keberanian untuk hadir pada kenyataan.
Selain itu, eksistensialisme masih beroperasi dalam cakrawala individualisme filosofis. Sartre menegaskan bahwa neraka adalah orang lain.
Manusia konkret menolak pandangan itu. Bagi manusia konkret, Ada yang lain bukan neraka; ia adalah pantulan. Ia adalah kesempatan, bukan ancaman.
Relasi bukan kubangan konflik mutlak, tetapi ruang di mana manusia menemukan batas dan kemungkinan dirinya. Dengan demikian manusia konkret lebih unggul karena ia tidak memusuhi dunia; ia mengolahnya.
Eksistensialisme pun masih menyisakan jejak pencarian akan legitimasi metafisis: entah pada Tuhan (Kierkegaard), struktur Dasein (Heidegger), atau kebebasan radikal sebagai hukum eksistensi (Sartre).
Semua itu, dalam pandangan manusia konkret, masih merupakan pencarian penjamin. Masih ada kerinduan terhadap dalil yang dapat menjelaskan kehidupan.
Namun manusia konkret tidak membutuhkan penjamin apa pun. Hidup itu sendiri adalah penjamin. Bahwa manusia hidup itulah alasan cukup untuk hidup secara penuh.
Manusia konkret lebih unggul karena ia memutuskan hubungan dengan metafisika, ontologi, moralitas otentisitas, dan kerangka rasionalisasi tentang keberadaan.
Manusia konkret tidak menoleh ke belakang untuk mencari fondasi; tidak menatap ke depan untuk mencari jaminan; tidak melihat ke atas untuk mencari legitimasi; tidak melihat ke bawah untuk mencari asal-usul.
Ia melihat ke samping: kepada dunia, kepada tubuhnya, kepada Ada yang lain. Ia hidup dalam lintasan horizontal, bukan vertikal, karena di sanalah kehidupan benar-benar berlangsung.
Di titik inilah keunggulannya atas eksistensialisme menjadi jelas:
Eksistensialisme membantu manusia memahami kecemasan;
manusia konkret mengatasi kecemasan dengan bertindak.
Eksistensialisme mencoba menjelaskan kebebasan sebagai struktur;
manusia konkret memakai kebebasan tanpa menanyakannya.
Eksistensialisme menguraikan makna melalui teori;
manusia konkret mewujudkan makna melalui kehidupan.
Eksistensialisme mengajarkan manusia menghadapi absurditas;
manusia konkret menembus absurditas dengan keberanian yang sederhana:
berdiri, memilih, dan terus hidup—tanpa perlu alasan metafisis.
Oleh karena itu, bahasa manusia konkret bukan bahasa konsep, melainkan bahasa kehidupan.
Ia unggul karena ia tidak menunggu dunia menjadi jelas untuk bertindak. Ia bergerak dalam ketidakpastian, dan dari sanalah muncul ketegasan eksistensinya.
Kebebasan manusia konkret bukan abstraksi; ia adalah denyut nadi. Dan selama nadi itu berdenyut, hidup adalah medan tempat manusia membuktikan dirinya—tanpa kerangka, tanpa dogma, tanpa dalil, hanya keberanian untuk hidup sebagai dirinya sendiri. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 10 Desember 2025





