Administrator, Progresitas Program, dan Regulasi Politik Global dalam Konstruksi Dechiperisme

Administrator, Progresitas Program, dan Regulasi Politik Global dalam Konstruksi Dechiperisme

Filsafat Politik

Administrator, Progresitas Program, dan Regulasi Politik Global dalam Konstruksi Dechiperisme
Joko Sukmono

 

Racun sosial itu bernama Kebijakan yang dieksekusi dalam bentuk Regulasi. Kebijakan dirumuskan oleh para perumus yang bermoralkan mekanis administratif, dan dalam pembacaan dechiperisme mereka adalah manusia-manusia yang beriman kepada apa yang disebut sebagai para pelacur Programming Linier.

Mereka menyusun sistematika yang terstruktur, menyusun pola-pola teknis, menyusun jalur-jalur administratif yang tampak rasional, namun sesungguhnya sedang menyiapkan mekanisme sosial yang kontradiktif terhadap realitas konkret kehidupan manusia.

Dalam konstruksi Dechiperisme keadaan seperti itu disebut sebagai kejahatan konseptual, yakni sebuah tindakan perencanaan yang terputus dari denyut eksistensial manusia konkret.

Programming Linier dalam pandangan Dechiperisme bukan sekadar metode teknis administratif, melainkan bentuk riil dari proyeksi dunia sosial yang dibangun melalui adonan komprehensif kepentingan esensial formal. Ia mampu berubah menjadi pabrik sosial raksasa yang memproduksi tingkah laku manusia secara massal.

Krisis global dapat ditimbulkannya, kontraksi sosial dapat dipercepat olehnya, bahkan kepanikan kolektif dapat dipublikasikan sewaktu-waktu melalui mekanisme yang tampak legal dan administratif.

Dalam pembacaan Dechiperisme, situasi seperti ini disebut sebagai lintasan sosial yang terkendali, yakni ruang sosial yang bergerak bukan berdasarkan kehendak eksistensial manusia, melainkan berdasarkan desain programatik rezim global.

Dan dari sanalah lahir apa yang oleh Dechiperisme dinamakan sebagai jala api sosial, yaitu perangkat sosial yang disiapkan untuk membakar kehidupan sosial manusia dari dalam dirinya sendiri.

Lebih dalam lagi Dechiperisme menunjukkan bahwa lintasan historis yang bergerak cepat di dalam kehidupan sosial manusia sesungguhnya adalah api abadi yang terus menyala. Percikan-percikannya dapat dijadikan alat rekayasa sosial oleh kekuatan politik global.

Rekayasa sosial dalam konstruksi Dechiperisme adalah tindakan eksekusi sosial yang bersifat esensial formal namun kontradiktif terhadap realitas sosial konkret. Ia tidak membangun manusia sebagai manusia otentik, melainkan membentuk manusia sebagai obyek administratif yang tunduk kepada mekanisme regulatif.

Oleh karena itu manusia modern perlahan kehilangan daya eksistensialnya dan berubah menjadi sekadar angka statistik dalam sistem besar yang disebut tata kelola global.

Lebih lanjut Dechiperis membacakan bahwa tindakan rekayasa sosial yang otoritatif berakibat kepada terbentuknya moral sosial yang terpecah-pecah. Kehidupan sosial manusia diurai menjadi serpihan-serpihan kecil yang kehilangan muatan eksistensialnya.

Individu dipisahkan dari akar historisnya, masyarakat dipisahkan dari orientasi ontologisnya, dan bangsa dipisahkan dari tujuan keberadaannya sendiri.

Dalam konstruksi Dechiperisme keadaan seperti itu disebut berada pada posisi esensinya yang retak dan tercabik-cabik. Manusia tidak lagi hidup sebagai subyek sejarah, melainkan sekadar penonton dari program besar yang mengendalikan hidupnya.

Kemudian lebih lanjut lagi Dechiperisme menunjukkan bahwa lintasan sosial yang ditimbulkan oleh progresitas program tidak ubahnya seperti ledakan historis yang bernama Supernova.

Ledakan itu menghasilkan serpihan-serpihan yang kemudian membentuk dunia-dunia baru. Akan tetapi Supernova tidak sama dan sebangun dengan rekayasa sosial.

Supernova adalah peristiwa kosmis yang masih misterius secara ontologis, sedangkan rekayasa sosial tetap berdiri di atas desain Programming Linier yang disiapkan administrator atas perintah rezim politik global.

Rekayasa sosial bukan kejadian alamiah sejarah, melainkan tindakan politik yang disengaja untuk mengendalikan arah kehidupan manusia.

Dalam konteks Indonesia, Dechiperisme membacakan bahwa kebijakan sering kali dipengaruhi oleh moral para perumus kebijakan itu sendiri. Ketika moral tersebut kehilangan orientasi eksistensialnya lalu dieksekusi menjadi regulasi, maka regulasi itu berubah menjadi instrumen pembunuh kolektif.

Sebuah kebijakan yang tampak rasional dapat berubah menjadi racun sosial apabila tidak memiliki keterhubungan dengan kondisi objektif rakyat yang dibebani olehnya.

Oleh sebab itu Dechiperisme menegaskan bahwa regulasi sejatinya harus beresonansi dengan keadilan distributif, bukan sekadar menjadi alat legitimasi kekuasaan administratif.

Moral para perumus Programming Linier adalah moral positivistik yang konsisten terhadap mekanisme, tetapi sering kali tidak memiliki keberanian eksistensial untuk membaca realitas konkret.

Indonesia hari ini, dalam pembacaan Dechiperisme, bukan lagi Indonesia yang membutuhkan idealisme abstrak semata. Indonesia membutuhkan moral administratif yang logis dan realistis, yakni perubahan perilaku administratif yang mampu memandang kondisi objektif psikologis-esensial bangsanya sendiri.

Indonesia tidak membutuhkan borok politik yang bernama reformasi tanpa arah. Indonesia tidak bisa direformasi melalui slogan-slogan kosong. Indonesia membutuhkan konstruksi politik baru yang disebut sebagai konstruksi Indonesia Emas.

Moral Indonesia Emas, demikian Dechiperisme membacakan, adalah moral yang dilandasi oleh Tri Sakti Bung Karno: berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian di dalam kebudayaan.

Tri Sakti dalam pembacaan Dechiperisme bukan sekadar dokumen historis, melainkan horizon eksistensial bangsa. Ia adalah arah historis yang harus diterjemahkan secara konkret ke dalam progresitas program yang rasional dan objektif.

Oleh sebab itu Indonesia Emas dalam konstruksi Dechiperisme bukan mimpi utopis, melainkan Programming Linier nasional yang dibangun melalui konstruksi sosial-politik yang terhubung dengan realitas objektif bangsa.

Rasionalitas teknisnya adalah penentuan kategori-kategori riil yang terhubung secara objektif dengan seluruh komponen bangsa sebagai sekrup-sekrup sistem tanpa adanya kejahatan konseptual.

Sebab dalam pembacaan Dechiperisme, banyak regulasi gagal bukan karena kekurangan aturan, melainkan karena struktur konseptualnya sendiri telah rusak sejak awal. Regulasi dibuat bukan untuk menjawab realitas, tetapi untuk mempertahankan mekanisme kekuasaan.

Tadinya positivisme adalah momok ideologis-politis bagi bangsa Indonesia. Namun seiring waktu Dechiperisme menunjukkan bahwa tanpa kerja positivistik, manifestasi Tri Sakti Bung Karno tidak mungkin menjadi konkret dan otentik.

Ketika Tri Sakti dijadikan landasan politik negara, bahkan dalam waktu singkat Indonesia mampu tampil sebagai bangsa yang diperhitungkan dalam percaturan politik internasional.

Bangsa yang telah digembleng sejarah itu dipersiapkan untuk memandang satu horizon besar: Indonesia Emas, yang oleh kader bangsa disebut sebagai Mercusuar Dunia.

Kemudian lebih lanjut kader bangsa menunjukkan bahwa runtuhnya stabilitas nasional justru menjadi titik awal bagi administrator negara untuk menjalankan kebijakan nasional yang berlandaskan manifestasi Tri Sakti Bung Karno.

Dalam konstruksi Dechiperisme keadaan seperti itu dibaca sebagai momentum historis bagi lahirnya ruang hukum yang otoritatif terhadap pelaksanaan progresitas program nasional.

Programming Linier Republik Indonesia menuju Indonesia Emas dipandang sebagai rancang bangun nasional yang membutuhkan keberanian politik eksistensial untuk menjalankannya secara konkret.

Namun di sisi lain Dechiperisme menyatakan bahwa regulasi global hari ini sedang menjalani hukuman sejarah. Struktur sosial global berada pada situasi panik dan mengalami kanibalisasi sosial.

Ironisnya, mode-mode limbah global itu justru diimpor dan dijadikan model kebijakan publik di Indonesia. Oleh sebab itu Dechiperisme menyebut Indonesia sebagai negara pemakai limbah global, yakni bangsa yang mengonsumsi residu-residu kegagalan peradaban global tanpa melakukan restrukturisasi ontologis terhadap dirinya sendiri.

Dalam konstruksi Dechiperisme, struktur sosial Indonesia telah berubah menjadi tong sampah sejarah yang dipenuhi endapan kebijakan tanpa arah eksistensial.

Dalam konteks ini administrator yang disediakan rezim di Indonesia hanyalah administrator palsu yang sekadar memerintahkan para perumus bermoralkan tukang.

Yang penting jadi, yang penting selesai, yang penting sudah dibayar upah. Mereka tidak peduli bahwa regulasi yang dirumuskan sesungguhnya adalah racun sosial yang menghancurkan mekanisme kehidupan berbangsa dan bernegara.

Inilah potret Indonesia dalam pembacaan Dechiperisme: sebuah bangsa yang kehilangan esensi dan eksistensinya sendiri, sebuah bangsa yang sedang sekarat dan sebuah negara yang perlahan mengalami collapse historis.

Lebih lanjut Dechiperis membacakan bahwa Administrator, Progresitas Program, dan Regulasi Politik Global dalam konstruksi Dechiperisme adalah tindakan-tindakan yang kehilangan arah proyeksinya dan kehilangan daya ontologisnya karena adanya kejahatan konseptual yang disengaja oleh rezim global.

Dunia global hari ini berada pada situasi psiko-sosial yang tidak mampu lagi menentukan keterhubungan antara regulasi dengan kondisi objektif kehidupan manusia. Regulasi bergerak sendiri sebagai mesin administratif, sementara manusia konkret tertinggal sebagai korban dari mekanisme tersebut.

Dan lebih dalam lagi Dechiperisme menegaskan bahwa Regulasi Politik Global sesungguhnya adalah Programming Linier yang sengaja diadakan oleh rezim global untuk melawan hegemoni Hukum Rasional Peralihan.

Dalam konstruksi Dechiperisme keadaan seperti itu disebut sebagai kegagalan rezim global di dalam mengemban perintah politik dari Hukum Rasional Perubahan. Sebab sejarah tidak pernah tunduk sepenuhnya kepada administrasi, regulasi, maupun mekanisme programatik.

Sejarah bergerak berdasarkan hukum rasionalnya sendiri, dan ketika rezim global gagal membaca arah geraknya, maka sejarah akan menggulung seluruh konstruksi sosial-politik yang dibangunnya menjadi reruntuhan peradaban. ***)

 

Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 22 Mei 2026