Filsafat Politik
Kerja, Profesionalisme Politik, dan Mekanisme Global dalam Konstruksi Dechiperisme
Joko Sukmono
Yang mengubah dunia adalah kerja. Pernyataan ini pada awalnya berasal dari propaganda politik ideologis kaum Marxis, namun dalam konstruksi Dechiperisme pengertiannya mengalami perluasan ontologis yang lebih radikal.
Kerja bukan lagi sekadar aktivitas produksi dalam rangka kepemilikan material, melainkan tindakan eksistensial manusia untuk ada dan menjadi. Kerja bukan semata-mata alat memperoleh kekayaan, melainkan penempatan diri manusia di dalam ruang dan waktu sejarahnya sendiri.
Kerja adalah rangkaian tindakan produktif yang dilakukan manusia untuk mempertahankan keberadaannya sebagai manusia konkret. Kerja adalah inisiatif historis yang tak terelakkan. Kerja adalah tindakan eksistensial yang memaksa manusia hadir di dunia sosial dengan seluruh tanggung jawab ontologisnya.
Oleh sebab itu dalam pembacaan Dechiperisme, kerja tidak dapat direduksi hanya menjadi persoalan ekonomi, sebab kerja adalah proyeksi historis dari kehendak manusia untuk melangsungkan keberadaannya di tengah dunia sosial politik yang terus berubah.
Namun demikian, Dechiperisme menunjukkan bahwa kerja yang berlangsung pada abad ke-21 ini adalah kerja yang telah mengalami distorsi historis.
Struktur kerja modern dibangun di atas konstruksi upah yang tidak lagi memiliki landasan ontologis historisnya. Upah tidak lagi dipahami sebagai keseimbangan antara tindakan eksistensial manusia dengan hasil kerjanya, melainkan berubah menjadi instrumen manipulasi sosial ekonomi yang menopang mekanisme global.
Dalam masyarakat agraris, upah pada awalnya merupakan bentuk kompromi terhadap tindakan brutal penjarahan hasil produksi pertanian. Akan tetapi ketika masyarakat industri berkembang, upah berubah menjadi wilayah politik yang sangat kompleks.
Regulasi ketenagakerjaan, sistem pengupahan, perlindungan sosial, dan berbagai mekanisme kesejahteraan hanyalah bentuk formal dari upaya mempertahankan stabilitas struktur sosial industri. Dalam konstruksi Dechiperisme, upah tidak pernah benar-benar menyelesaikan problem eksistensial kerja, sebab upah hanyalah ilusi sosial politik yang terus dipertahankan agar mekanisme produksi global tetap berjalan.
Oleh karena itu, Dechiperisme membacakan bahwa tuntutan kesejahteraan pekerja sesungguhnya berada pada situasi paradoksal. Dunia industri menjanjikan kebebasan, kemakmuran, dan peningkatan kualitas hidup, namun pada saat yang sama justru menciptakan ketergantungan baru yang lebih kompleks.
Sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan psikologis manusia modern semuanya dikonstruksi sebagai kebutuhan permanen yang harus dipenuhi melalui mekanisme kerja tanpa akhir.
Di sinilah kerja berubah menjadi situasi batas sosial yang absurd. Para pekerja dituntut terus produktif demi mencapai kesejahteraan yang secara ontologis tidak pernah benar-benar hadir secara utuh.
Dechiperisme kemudian mengilustrasikan absurditas tersebut melalui metafora lempeng baja: para borjuis menjanjikan kesetaraan dan kemakmuran kepada pekerja, tetapi syaratnya adalah meluruskan sesuatu yang secara fundamental hampir mustahil diluruskan.
Dengan demikian relasi kerja modern sesungguhnya adalah relasi paradoksal antara harapan kesejahteraan dan ketidakmungkinan historis untuk mencapainya secara sempurna.
Hari ini, pada tahun 2026 di abad ke-21 ini, moral kerja juga mengalami pergeseran fundamental. Dunia sosial manusia bergerak menuju paradigma profesionalisme global. Setiap individu diberi ruang sosial baru melalui berbagai predikat profesi yang semakin beragam dan kompleks.
Ada pekerja kontrak, pekerja spiritual, pekerja politik, pekerja sosial, pekerja digital, pekerja seksual komersial, pekerja paruh waktu, hingga berbagai bentuk profesi baru yang sebelumnya tidak pernah dikenal dalam sejarah masyarakat tradisional.
Dalam konstruksi Dechiperisme, fenomena ini menunjukkan bahwa manusia modern tidak lagi hidup berdasarkan identitas ontologisnya sebagai manusia, melainkan berdasarkan fungsi profesional yang dilekatkan kepadanya oleh mekanisme global.
Manusia akhirnya diukur berdasarkan produktivitas, sertifikasi, kompetensi, dan nilai tukarnya di dalam pasar sosial global. Bahkan stratifikasi moral pun berubah mengikuti profesionalisme tersebut. Ada profesi yang dianggap mulia dan ada profesi yang dianggap hina.
Ada profesi terhormat dan ada profesi yang dipandang rendah. Bagi Dechiperisme seluruh kategorisasi itu hanyalah residu dari struktur sosial budaya lama yang masih mempertahankan moralitas ilusif tentang baik dan buruk, senonoh dan tidak senonoh.
Lebih dalam lagi Dechiperisme menunjukkan bahwa profesionalisme modern sebenarnya adalah strategi mekanisme global untuk mengoperasikan mesin sosial secara lebih efektif.
Sistem global membutuhkan manusia-manusia yang terampil, adaptif, kompetitif, dan terus bergerak produktif agar roda produksi dunia tetap berjalan. Oleh sebab itu dunia pendidikan, pelatihan kerja, universitas, lembaga sertifikasi, hingga industri motivasi dikembangkan secara besar-besaran.
Semua itu tampak seperti kemajuan peradaban, namun dalam konstruksi Dechiperisme sesungguhnya adalah bentuk baru dari peternakan sosial modern. Manusia dibentuk menjadi roda-roda kecil yang menopang struktur mekanisme global.
Mereka diberi ilusi tentang kesuksesan individual, karier, profesionalisme, dan kemajuan hidup, padahal secara eksistensial mereka sedang diarahkan untuk menjadi penopang sistem yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Kemudian Dechiperisme membacakan bahwa situasi ini dibaca secara cermat oleh para pekerja politik. Profesionalisme akhirnya tidak hanya menjadi persoalan ekonomi, tetapi berubah menjadi slogan politik elektoral.
Para politisi menjadikan kemiskinan, pengangguran, kesejahteraan pekerja, dan pembangunan profesionalisme sebagai komoditas kampanye demi kemenangan politik. Maka muncullah janji-janji pembangunan yang sering kali absurd dan tidak memiliki fondasi ontologis nyata.
Seorang pekerja politik dapat menjanjikan pembangunan “jembatan kemakmuran” di wilayah yang bahkan tidak memiliki sungai. Ironi seperti inilah yang oleh Dechiperisme disebut sebagai politik sloganistik, yakni situasi ketika narasi pembangunan lebih penting daripada realitas konkret pembangunan itu sendiri.
Lebih jauh lagi Dechiperisme menunjukkan bahwa profesionalisme politik hari ini telah menjadi profesi yang sangat dominan. Para bankir, teknokrat, pengusaha, ulama, akademisi, bahkan pemimpin spiritual mulai memasuki arena politik profesional karena politik menjadi ruang distribusi kekuasaan paling efektif dalam mekanisme global.
Akan tetapi Dechiperisme juga menyatakan bahwa profesionalisme politik semacam itu tidak memiliki landasan ontologis yang kokoh. Mereka hanyalah produk limbah dari mekanisme global yang sewaktu-waktu dapat dihancurkan oleh perubahan sejarah.
Para profesional politik itu hanyalah gedibal-gedibal politik yang dipelihara selama masih berguna dan akan dibuang ke pinggiran sejarah ketika tidak lagi memiliki nilai strategis. Mereka hidup di bawah hukum rasional peralihan yang setiap saat dapat menggulingkan posisi sosial politiknya.
Dalam pembacaan Dechiperisme, runtuhnya struktur profesionalisme bukanlah tragedi, melainkan bagian normal dari gerak sejarah. Setiap struktur yang kehilangan relevansi ontologisnya akan digantikan oleh bentuk baru yang lebih sesuai dengan hukum rasional perubahan.
Oleh sebab itu kerja dalam konstruksi Dechiperisme dipahami sebagai proyeksi historis yang terus bergerak mengikuti perubahan dunia sosial politik. Kerja bukan keadaan statis, melainkan tindakan eksistensial yang selalu berubah bersama gerak sejarah manusia.
Dechiperisme kemudian menempatkan seluruh institusi dunia sebagai endapan historis dari kerja manusia selama ribuan tahun. Negara, perusahaan, universitas, organisasi internasional, bahkan imperium global adalah hasil akumulasi kerja kolektif manusia yang berlangsung terus-menerus sepanjang sejarah.
Amerika Serikat misalnya, pada awalnya hanyalah wilayah geografis yang nyaris kosong, tetapi melalui moral kerja yang agresif dan produktif akhirnya berubah menjadi negara adidaya global.
Bahkan institusi internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berdiri sebagai simbol konkret dari akumulasi kerja historis manusia modern. Dalam konteks ini Dechiperisme menyebut kerja sebagai filsafat kontrak sosial politik yang melahirkan konstruksi dan struktur dunia sosial manusia.
Namun demikian Dechiperisme juga menunjukkan bahwa moral kerja modern telah mengalami disorientasi akut. Upah yang seharusnya menjadi manifestasi kesejahteraan eksistensial berubah menjadi hantu sosial politik yang menghantui seluruh manusia.
Raja, presiden, paus, menteri, pengusaha, bankir, manajer, hingga buruh semuanya sesungguhnya bekerja demi upah. Bahkan bahasa-bahasa moral dan spiritual pun dipenuhi oleh metafora upah: upah dosa adalah maut, upah kejahatan adalah penderitaan.
Hal ini menunjukkan bahwa upah telah melampaui sekadar ekonomi dan berubah menjadi struktur kesadaran kolektif manusia modern. Akan tetapi dalam konstruksi Dechiperisme, upah tidak pernah menemukan bentuk otentiknya karena selalu dimanipulasi oleh relasi kekuasaan, regulasi politik, dan mekanisme distribusi global yang timpang.
Lebih dalam lagi Dechiperisme menyatakan bahwa kerja sebenarnya adalah dasar bagi seluruh peradaban manusia. Akan tetapi ketika kerja direduksi hanya menjadi alat produksi dan upah direduksi hanya menjadi angka ekonomi, maka dunia sosial memasuki fase disorientasi historis.
Krisis global abad ke-21, resesi ekonomi, depresi sosial, konflik geopolitik, hingga ketidakstabilan dunia modern semuanya merupakan efek dari kegagalan manusia memahami kerja secara ontologis eksistensial.
Dunia modern terlalu sibuk membangun sistem produksi, tetapi kehilangan pengertian mendasar tentang mengapa manusia bekerja dan untuk apa manusia melanjutkan peradabannya.
Oleh sebab itu Dechiperisme akhirnya membacakan bahwa kerja, profesionalisme politik, dan mekanisme global hanyalah bentuk-bentuk esensial formal yang belum benar-benar dipahami secara eksistensial.
Dunia modern terus mempertahankan struktur kerja global melalui regulasi, propaganda kesejahteraan, penciptaan hoaks sosial politik, dan distribusi ilusi kemajuan agar sistem tetap berjalan stabil.
Namun di balik seluruh itu terdapat kontradiksi ontologis yang sangat tajam antara keberadaan manusia konkret dengan mekanisme global yang menguasainya.
Dan bagi Dechiperisme, satu-satunya cara membaca situasi tersebut adalah melalui metodologi Dechipering, yakni teknik rasionalitas yang tajam, jujur, dan berani menembus lapisan-lapisan ilusi sosial politik yang selama ini dianggap sebagai kebenaran permanen.
Dengan demikian kerja dalam konstruksi Dechiperisme tetap berada di bawah kendali politik global dan terus bergerak mengikuti hukum rasional sejarah. Selama rezim global masih mampu menopang relasi-relasi sosial yang menopang mekanisme kerja tersebut, maka struktur itu akan tetap bertahan.
Namun ketika fondasi ontologisnya benar-benar runtuh, maka sejarah akan memaksa lahirnya bentuk-bentuk baru dari kerja, profesionalisme, dan peradaban manusia yang sama sekali berbeda dari dunia sosial politik yang dikenal manusia hari ini. ***)
Posted: saeinahnews.com
Surabaya, 20 Mei 2026





