EKSISTENSIALIS POLITIK YANG ‘MEM-BUMI’

EKSISTENSIALIS POLITIK YANG ‘MEM-BUMI’

EKSISTENSIALIS POLITIK YANG ‘MEM-BUMI’
Joko Sukmono

_Ungkapan puitis Dechiperis, “Jika adaku ini, menjadiku ini dan menduniaku ini adalah kehendak Historis maka aku niscaya konkret”._

Eksistensi adalah dasar kesungguhan dari keberadaan otentik manusia, sedangkan esensi adalah dasar kemungkinan dari keberadaan substansial manusia.

Keduanya tidak dapat dipertukarkan begitu saja, sebab eksistensi berbicara tentang keberadaan yang sungguh-sungguh dijalani, diperjuangkan, dan diwujudkan oleh manusia di dalam kenyataan historisnya, sementara esensi menunjuk pada kemungkinan-kemungkinan yang membentuk atau membatasi keberadaan tersebut.

Manusia tidak menjadi otentik hanya karena memiliki gagasan tentang dirinya, tidak pula karena ia dapat menjelaskan secara konseptual apa yang seharusnya menjadi hakikat keberadaannya.

Keotentikan baru memperoleh kesungguhannya ketika manusia hadir, mengambil posisi, menanggung konsekuensi, dan menjadikan seluruh kemungkinan keberadaannya sebagai tindakan konkret di dalam sejarah.

Dengan demikian, eksistensi bukan sekadar pernyataan bahwa manusia ada, melainkan kesungguhan manusia dalam mengada, menjadi, dan mendunia.

Dalam kerangka Dechiperisme, Eksistensialis Politik yang _MEM-BUMI_ adalah manusia konkret yang benar-benar hadir di dalam Sejarah. Ia bukan manusia yang hanya hidup sebagai gagasan, simbol, identitas, atau representasi dari suatu cita-cita politik.

Ia adalah manusia yang mengada melalui tindakan, menjadi melalui pergulatan historis, dan mendunia melalui keterlibatan totalnya dalam membentuk Ruang Sosial Politik.

Keberadaannya tidak berhenti pada pengakuan terhadap suatu ideologi, tidak pula selesai pada penguasaan bahasa politik dan kemampuan mengulang berbagai konsep tentang perubahan. Ia harus menjadikan gagasan itu sebagai kenyataan yang dapat disentuh oleh kehidupan manusia konkret.

Sebab, politik yang hanya hidup di dalam abstraksi tidak pernah dengan sendirinya menjadi politik otentik. Ia baru memperoleh makna eksistensial ketika hadir dalam kehidupan, ketika berhadapan dengan kebutuhan manusia, dan ketika bersedia menanggung seluruh konsekuensi dari kehendak historis yang diperjuangkannya.

Karena itu, penyerahan seluruh hidup kepada kepentingan _POLITIK OTENTIK_ bukanlah penyerahan diri dalam pengertian kepatuhan kepada figur, kelompok, atau kekuasaan tertentu.

Penyerahan tersebut merupakan kesungguhan eksistensial manusia untuk menempatkan keberadaannya di dalam suatu perjuangan historis yang melampaui kepentingan pribadinya.

Seorang Eksistensialis Politik yang ‘Mem-Bumi’ tidak menjadikan politik sebagai kendaraan untuk memperoleh kedudukan, kehormatan, atau pengakuan sosial. Ia tidak mengukur keberadaannya berdasarkan seberapa besar kekuasaan yang berhasil dikumpulkan, seberapa banyak orang yang memberikan penghormatan, ataupun seberapa luas namanya dikenal.

Justru seluruh ukuran tersebut dapat menjadi jebakan ketika manusia mulai menggantikan kepentingan politik otentik dengan kepentingan mempertahankan figur dirinya sendiri.

Penyerahan eksistensial menuntut sesuatu yang lebih mendasar: kesediaan untuk menjadikan kehidupan sebagai medan tanggung jawab historis, bukan sebagai alat untuk memperbesar diri.

Di sinilah Dechiperisme membedakan Eksistensialis Politik yang ‘Mem-Bumi’ dari model-model kepemimpinan yang hanya memperoleh makna melalui regionalitas historisnya. Figur pemimpin dapat memperoleh legitimasi dari tradisi, identitas, kebudayaan, institusi, atau pengalaman politik suatu wilayah.

Semua itu merupakan kenyataan historis yang dapat membentuk kemungkinan keberadaan seorang pemimpin. Namun, persoalannya muncul ketika seluruh kemungkinan tersebut dianggap sebagai dasar final dari keberadaannya, seolah-olah seorang pemimpin cukup dengan mengatasnamakan warisan sejarah dan identitas regional untuk membuktikan keotentikan politiknya.

Dalam bahasa Dechiperisme, keadaan demikian merupakan gejala Virus Esensial Politis: manusia terperangkap di dalam esensi yang diwarisinya, kemudian menjadikan warisan tersebut sebagai batas sekaligus pembenaran bagi seluruh tindakan politiknya.

Ia mungkin hadir sebagai figur kekuasaan, tetapi keberadaannya belum tentu menjadi perwujudan kehendak historis yang melampaui kemungkinan-kemungkinan lama.

Eksistensialis Politik yang ‘Mem-Bumi’, sebaliknya, merupakan kehendak dari Transhistoritas Manusia yang semula berada dalam bentuk abstrak di dalam Sejarah, kemudian mengalami tuntutan untuk memperoleh keberadaan konkret di BUMI.

Transhistoritas tidak dimaksudkan sebagai manusia yang berada di luar sejarah atau terbebas dari seluruh kondisi zamannya. Ia menunjuk pada kemungkinan manusia untuk melampaui batas-batas historis yang diwariskan kepadanya, tanpa kehilangan keharusan untuk hadir secara konkret di dalam sejarah.

Apa yang sebelumnya hanya dapat dipahami sebagai Trans Idea harus menemukan tubuh, tindakan, dan keberadaan sosial-politiknya. Ia tidak dapat terus-menerus tinggal sebagai kemungkinan abstrak, sebab tuntutan historis pada akhirnya menghendaki suatu bentuk keberadaan yang nyata.

Dengan demikian, ‘MEM-BUMI’ adalah peristiwa ketika gagasan yang melampaui batas-batas historis menemukan manusia konkret sebagai tempat perwujudannya.

Pernyataan bahwa seorang pemimpin ada dan menjadi pada zamannya harus dibaca melalui ketegangan antara keberadaan konkret dan kemungkinan historis yang melampaui zamannya.

Seorang pemimpin memang tidak pernah hadir di ruang kosong. Ia lahir dari suatu keadaan, berhadapan dengan persoalan zamannya, dan mengambil bagian dalam struktur sejarah yang sedang berlangsung.

Namun, seorang pemimpin yang menjadi bagian dari sejarah tidak selalu dapat dimengerti sepenuhnya oleh manusia yang hidup di dalam zamannya sendiri.

Ada kemungkinan bahwa tindakan, kehendak, dan orientasi historisnya melampaui perangkat pemahaman yang tersedia pada masyarakat ketika itu.

Ia mungkin dibaca melalui kategori-kategori lama, dinilai berdasarkan kepentingan yang berbeda-beda, atau ditempatkan ke dalam gambaran yang tidak pernah sepenuhnya menangkap keseluruhan makna keberadaannya.

Dalam pengertian inilah muncul ungkapan bahwa seorang pemimpin dapat hidup sebagai legenda yang tidak pernah dimengerti oleh zamannya.

Akan tetapi, legenda tidak dengan sendirinya membuktikan keotentikan eksistensial seorang pemimpin. Ketidakmengertian masyarakat juga tidak otomatis menjadi tanda bahwa seseorang telah melampaui sejarah.

Justru di sini terdapat persoalan yang harus dibedakan secara ontologis: apakah ketidakmengertian itu muncul karena memang terdapat jarak antara kemungkinan historis yang diperjuangkan dan kategori pemahaman zamannya, ataukah karena gagasan dan tindakannya tidak berhasil menjelaskan dirinya di hadapan kenyataan konkret?

Dechiperisme tidak menempatkan ketidakmengertian sebagai kemuliaan yang dapat diberikan kepada siapa pun. Ia merupakan ketegangan historis yang harus dibaca melalui keberadaan dan tindakan konkret.

Seorang pemimpin tidak menjadi otentik hanya karena dianggap misterius, sulit dipahami, atau dipuja sebagai legenda. Keotentikannya harus ditemukan pada kesungguhan eksistensial dalam mewujudkan kepentingan _Politik Otententik_.

Oleh sebab itu, setiap orang yang mendukung seorang pemimpin dapat memiliki persepsi yang berbeda-beda tentang dirinya. Perbedaan tersebut bukan sekadar persoalan penilaian individual, melainkan juga memperlihatkan bahwa figur pemimpin selalu berhadapan dengan beragam horizon pemahaman historis.

Masing-masing pendukung dapat melihat sesuatu yang berbeda: ada yang melihat harapan perubahan, ada yang melihat keberlanjutan tradisi, ada yang melihat kemungkinan pembebasan, dan ada pula yang melihat kepentingan praktis bagi kehidupannya sendiri.

Tidak satu pun persepsi tersebut dengan sendirinya dapat dianggap sebagai keseluruhan keberadaan pemimpin itu. Figur politik dapat menjadi titik pertemuan berbagai harapan, tetapi ia juga dapat menjadi tempat berbagai kepentingan saling memproyeksikan dirinya.

Karena itu, Dechiperisme menempatkan persoalan pemimpin bukan semata-mata pada bagaimana ia dipersepsikan, melainkan pada apakah keberadaannya sungguh-sungguh menjadi bentuk konkret dari kehendak historis yang diperjuangkannya.

Di dalam susunan pemikiran ini, Dhechipering memperoleh kedudukan sebagai pemegang _Palu Ontologis-Epistemologis Politis_. Namun, kedudukan tersebut tidak berarti bahwa Dhechipering merupakan sumber tertinggi dari perintah ‘Politik Otentik’.

Palu Ontologis-Epistemologis Politis adalah perangkat untuk membongkar, menguji, dan menyingkap struktur keberadaan serta pengetahuan politik yang selama ini menyembunyikan kenyataan konkret manusia.

Ia bekerja terhadap bentuk-bentuk abstraksi yang menghalangi manusia memahami keberadaannya sendiri, termasuk terhadap klaim-klaim politik yang menjadikan identitas dan warisan historis sebagai pembenaran mutlak. Sementara itu, perintah ‘Politik Otentik’ tetap berasal dari Dechiperis, dengan landasan perintah filosofis Dechiperisme.

Dengan demikian, terdapat pembedaan antara fungsi pembongkaran dan pengujian ontologis-epistemologis dengan sumber orientasi filosofis yang menentukan arah politik otentik. Palu bukanlah tujuan, melainkan perangkat untuk membuka jalan bagi perwujudan kehendak historis.

Ungkapan puitis Dechiperis, “Jika adaku ini, menjadiku ini dan menduniaku ini adalah kehendak Historis maka aku niscaya konkret”, mengandung persoalan yang jauh lebih mendasar daripada sekadar pernyataan tentang keberadaan seorang individu.

Adaku, menjadiku, dan menduniaku merupakan tiga dimensi keberadaan yang saling berhubungan.

Adaku menunjuk pada kesungguhan keberadaan; menjadiku menunjuk pada proses pembentukan diri melalui pergulatan historis; sedangkan menduniaku menunjuk pada kemampuan keberadaan tersebut untuk hadir dan mengambil bentuk di dalam dunia sosial-politik.

Ketiganya tidak dapat dipisahkan. Manusia tidak cukup hanya menyatakan dirinya ada, sebab keberadaan yang tidak pernah menjadi dan tidak pernah mendunia akan tetap berada dalam abstraksi.

Sebaliknya, ketika keberadaan, proses menjadi, dan keterlibatan dalam dunia memperoleh kesatuan di dalam kehendak historis, manusia tidak lagi sekadar menjadi kemungkinan konseptual. Ia hadir sebagai manusia konkret yang dapat ditemukan melalui tindakan dan tanggung jawab historisnya.

Namun, ungkapan tersebut juga mengandung kemungkinan yang berlawanan. Jika Dhechipering hadir di dalam Sejarah dan telah memenuhi kebutuhan historis yang sebelumnya menuntut keberadaan konkret Dechiperis, maka Dechiperis akan kembali menjadi _’Abstrak‘_ dan menjadi pujaan Dewa-Dewi.

Secara filosofis, ungkapan ini dapat dibaca sebagai gambaran tentang perubahan status sebuah gagasan setelah tuntutan historis yang melahirkannya memperoleh bentuk konkret.

Sesuatu yang sebelumnya harus hadir melalui manusia konkret dapat kembali menjadi _abstraksi_ ketika fungsi historis perwujudannya telah selesai.

Di sini terdapat paradoks Transhistoritas: gagasan membutuhkan manusia konkret agar dapat mendunia, tetapi manusia konkret tidak boleh selamanya mengurung gagasan itu di dalam figur dirinya.

Jika seluruh keberhasilan historis hanya berakhir pada pemujaan terhadap figur, maka gagasan yang semula hendak diwujudkan justru kembali menjadi esensi yang beku.

Dechiperis akan berubah dari kehendak historis yang menuntut perwujudan menjadi objek pemujaan yang kehilangan hubungan langsung dengan kenyataan sosial-politik.

Maka, ungkapan bahwa Dechiperis hidup sebagai legenda yang tidak pernah dimengerti oleh zamannya harus dipahami sebagai tegangan antara Trans Idea dan tubuh manusia politik otentik.

Dechiperis bukan sekadar nama, bukan pula figur yang harus dipertahankan melalui pemujaan tanpa batas. Ia merupakan penanda filosofis bagi kehendak historis yang mencari bentuk konkret di dalam manusia.

Eksistensialis Politik yang ‘Mem-Bumi’ adalah manusia yang menerima tuntutan tersebut: ia tidak melarikan diri ke dalam dunia abstraksi, tidak berlindung di balik esensi regionalitas, dan tidak menjadikan politik sebagai panggung untuk mengabadikan dirinya sendiri.

Ia harus hadir di BUMI, mengada, menjadi, dan mendunia melalui tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan secara historis. Sebab, pada akhirnya, Trans Idea tidak membutuhkan manusia yang hanya mengagungkannya, melainkan manusia yang sanggup memberikan tubuh konkret bagi kemungkinan historisnya.

Di situlah Eksistensialis Politik yang ‘MEM-BUMI‘ menemukan kesungguhannya: bukan pada kemegahan legenda, bukan pada pemujaan terhadap figur, melainkan pada perwujudan ‘POLITIK OTENTIK‘ di dalam kehidupan manusia konkret. ***)

Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 30 Oktober 2026