KEBANGKITAN DAN TRAGEDI

KEBANGKITAN DAN TRAGEDI

Ruang Filsafat:

KEBANGKITAN DAN TRAGEDI
Djoko Sukmono

Kita sedang berada pada posisi yang sungguh-sungguh kritis. Situasi batas sosial-politik telah memenjarakan daya-daya revolusioner dan membelokkannya ke dalam ruang sempit kompromistis.

Pada titik ini, sejarah tidak sedang ramah; ia sedang menguji siapa yang layak melanjutkan perjalanan, dan siapa yang harus tertinggal sebagai endapan masa lalu.

Manusia konkret berada pada posisi esensinya yang tidak berhenti pada situasi batas. Ia tidak menggantungkan keberadaannya pada janji, harapan, atau penangguhan moral.

Ia hadir sepenuhnya di dalam ada, dan di dalam keberadaan itu ia sungguh-sungguh ada. Inilah keberadaan otentik: bukan keberadaan yang menunggu, melainkan keberadaan yang bertindak.

Namun sejarah juga mencatat sisi gelap dari kegagalan manusia memilih bentuk moralnya.

Jiwa-jiwa anak manusia yang mati—bukan semata mati secara biologis, melainkan mati secara eksistensial—akibat tunduk pada moral yang tidak manusiawi, telah melahirkan sebuah moral baru: moral kawanan.

Moral ini menyamar sebagai solidaritas, tetapi sejatinya adalah penyerahan tanggung jawab individual kepada kehendak kolektif yang buta.

Ia lebih menyerupai moral budak, moral yang takut berdiri sendiri dan memilih bersembunyi di balik jumlah.

Dalam ironi yang getir, sang Moral Tuan tertawa terbahak-bahak. Dengan nada mengejek ia bersabda kepada para pengikutnya: terimalah buku tebal ini sebagai pedoman hidupmu.

Buku itu diberi judul Perjuangan, Pengabdian, dan Pengabdian. Sebuah pengulangan kosong yang tidak pernah benar-benar menjelaskan untuk siapa, oleh siapa, dan demi apa perjuangan itu dilakukan. Buku itu menjadi simbol penjinakan kesadaran.

Di titik inilah seruan itu kembali menemukan urgensinya: ayo bertindak. Dunia tidak pernah berubah oleh omon-omon. Menerangkan dunia telah lama selesai.

Dunia telah diterangkan berkali-kali, dari berbagai sudut pandang, dengan berbagai bahasa.

Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan, kecuali satu hal: keberanian untuk bertindak. Dunia tidak bekerja dengan hukum mistis, tidak pula tunduk pada mantra moral.

Dunia bergerak dengan hukum sekularistiknya sendiri, dengan kausalitas konkret yang menuntut intervensi nyata.

Manusia adalah pusat dunia, bukan dalam pengertian narsistik, melainkan dalam arti historis. Kehidupan sosial manusia adalah realitas sosial konkret.

Di sanalah sejarah bekerja, di sanalah kekuasaan bergerak, dan di sanalah konflik menemukan bentuknya. Namun kebahagiaan sosial konkret telah lama terendap menjadi ilusi-ilusi absurd.

Keadilan sosial direduksi menjadi jargon yang diucapkan dengan lantang tetapi kosong dari isi praksis.

Waktu kemudian kehilangan maknanya. Berada pada waktu tertentu dianggap sebagai tujuan, padahal ia hanyalah ilusi.

Ruang pun kehilangan daya pembebasannya; berada di dalam ruang justru sering kali berarti melangkah semakin dekat ke situasi batas.

Tempat, yang dijanjikan sebagai locus pemenuhan, justru menjadi lokasi penangguhan yang tak berkesudahan. Di situlah esensi penuh dambaan terus dijanjikan, tetapi tak pernah benar-benar tiba.

Di antara kebangkitan dan tragedi, sejarah manusia bergerak.

Sebuah historiografi yang berdimensi religius mencatat kebangkitan Israel sebagai proyek historis yang ditancapkan oleh Abraham, yang dipahami sebagai figur iman pertama yang berhadapan langsung dengan Tuhannya.

Kebangkitan ini tidak lahir dari kedamaian, melainkan dari pengorbanan yang ekstrem: pemutusan ikatan darah dan daging demi memenuhi perintah transenden. Di sinilah kebangkitan spiritual menorehkan tragedi pertamanya.

Seruan “Bangkit, Zion, bangkit” bukan sekadar ungkapan religius, melainkan pernyataan ideologis-politis tentang kebangkitan yang panjang dan berdarah.

Ia melahirkan salah satu tragedi terpanjang dalam sejarah kehidupan sosial manusia.

Musa kemudian tampil sebagai figur pembebas, bukan untuk mengakhiri sejarah penderitaan, melainkan untuk memastikan kelanjutannya dalam bentuk lain.

Secara ideologis dan politis, kebangkitan Israel dipatrikan melalui figur Daud. Patriotisme Daud menjadi simbol konsolidasi kekuasaan.

Kematian Goliat di tangannya dicatat sebagai momentum fantastis, sebuah narasi kemenangan yang mengukuhkan imajinasi kebesaran bangsa.

Sejak saat itu, sejarah Israel dibangun di atas rangkaian kebangkitan yang selalu menuntut korban.

Ketika sejarah dunia mencatat perjalanan bangsa-bangsa, dapat dikatakan secara ekstrem bahwa Israel memenuhi syarat esensial sebagai bangsa: kontinuitas narasi, kesadaran kolektif, dan proyek historis yang diwariskan lintas generasi.

Namun menjadi bangsa besar tidak pernah mudah. Kebesaran tidak jatuh dari langit sebagai hadiah. Ia adalah hasil tempaan keadaan.

Bung Karno pernah menegaskan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang telah digembleng oleh keadaan.

Pernyataan ini bukan retorika kosong, melainkan tesis historis. Eksistensi sebuah bangsa adalah kehendak sejarah, tetapi kebesaran tidak pernah dianugerahkan begitu saja.

Ia harus direbut melalui perjalanan eksistensial bangsa itu sendiri dalam men-dunia, dalam bangkit berulang kali tanpa jaminan keselamatan.

Sering kali kebangkitan justru harus melewati fase paling mengerikan: bangkit dari puing-puing kehancuran. Bangkit lalu hancur. Hancur lalu bangkit kembali. Dan hanya sebagian kecil yang akhirnya mencapai kebesaran.

Sejarah filsafat dan religi memperlihatkan pola yang sama.

Kebangkitan kebijaksanaan ditandai oleh terbunuhnya Sokrates, sebuah tragedi filosofis yang menunjukkan bahwa kebenaran sering kali tidak diterima oleh zamannya sendiri.

Kebangkitan religiusitas ditandai oleh penyaliban Yesus, dengan postulat kebangkitan dari antara orang mati, yang justru mengukuhkan tragedi spiritual terbesar dalam sejarah agama.

Rasio historis membaca bahwa setiap tonggak kebangkitan selalu dibayar dengan tragedi kemanusiaan.

Tidak ada kebangkitan tanpa korban. Tidak ada kebesaran tanpa luka. Dan kebesaran suatu bangsa, ketika mencapai puncaknya, justru berada paling dekat dengan keruntuhan.

Romawi pernah besar, lalu runtuh. Prancis pernah besar, lalu runtuh. Pada era Napoleon, Eropa diobrak-abrik dengan penyingkiran batas-batas negara.

Seorang filsuf sosial bahkan menyebut Napoleon sebagai roh politik yang bergentayangan, membabat apa pun yang menghalangi jalannya revolusi. Namun kebesaran itu pun tidak abadi.

Pelajaran sejarah tidak pernah menghentikan kebangkitan. Tragedi demi tragedi terus berlangsung. Keruntuhan disusul kejayaan. Kekalahan dibalas kemenangan. Inilah jalan sejarah bagi seluruh anak manusia, bagi seluruh bangsa.

Dan hal yang demikian bukan penyimpangan, melainkan kewajaran dalam historisitas manusia: sebuah proses panjang dalam memenuhi panggilan sejarah yang tidak pernah menjanjikan keselamatan, tetapi selalu menuntut keberanian untuk bangkit kembali. ***)

Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 13 Desember 2025