Dunia: Persinggahan yang Menguji, Bukan Tempat Menetap

Dunia: Persinggahan yang Menguji, Bukan Tempat Menetap

Keagamaan dan Dakwah:

Dunia: Persinggahan yang Menguji, Bukan Tempat Menetap
Oleh Cicin Suhendy

“Dunia adalah tempat persinggahan, bukan tempat tinggal. Ia adalah medan perjalanan, dan di dalamnya manusia terbagi menjadi dua: ada yang menjual dirinya dan membinasakannya, dan ada yang membebaskan dirinya dan memerdekakannya.”
— Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu

Kalimat ini bukan sekadar nasihat, melainkan tamparan lembut bagi jiwa yang terlalu lama betah di dunia.

Dunia, seindah apa pun rupanya, sejatinya hanyalah jalan yang dilalui, bukan rumah yang dituju.

Namun betapa banyak manusia yang keliru membaca arah, lalu menjadikan persinggahan sebagai tujuan akhir.

Di medan perjalanan ini, manusia memang terbagi menjadi dua.

Pertama, mereka yang menjual dirinya—menukar iman dengan kesenangan sesaat, menggadaikan prinsip demi pujian, mengorbankan ketaatan demi kepentingan dunia.

Mereka mengira sedang meraih kebahagiaan, padahal perlahan sedang membinasakan dirinya sendiri.

Kedua, mereka yang membebaskan dirinya—menjadikan dunia sekadar alat, bukan berhala.

Mereka bekerja, berjuang, dan hidup di dunia, tetapi hati mereka terikat kuat pada akhirat. Dunia ada di tangan, bukan di dalam dada. Inilah esensi manusia merdeka.

Rasulullah ﷺ bersabda:
_“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang pengembara.”_
(HR. al-Bukhari)

Orang asing tidak akan sibuk memperindah rumah singgahannya.
Seorang pengembara tidak akan bertengkar demi sesuatu yang akan ia tinggalkan.
Ia fokus pada bekal, arah, dan tujuan akhir perjalanannya.

Imanlah yang menentukan kita termasuk golongan yang mana. Iman yang hidup akan melahirkan sikap zuhud tanpa meninggalkan tanggung jawab. Iman yang kokoh akan menjadikan dunia ladang amal, bukan medan maksiat. Sebaliknya, iman yang rapuh akan mudah tergadai oleh gemerlap yang menipu.

Maka bertanyalah pada diri sendiri, apakah dunia sedang kita kendalikan, atau justru kita yang dikendalikan olehnya? Apakah kita sedang membebaskan diri dengan ketaatan, atau perlahan menjual diri dengan kelalaian?

Dunia akan kita tinggalkan, cepat atau lambat. Yang akan ikut hanyalah iman dan amal. Maka berbahagialah mereka yang menjadikan persinggahan ini sebagai jalan menuju esensi kemerdekaan di sisi Allah. ***)
Wallahu ‘alam.

Posted: sarinahnews.com
Sumedang, 13 Desember 2025

https://chat.whatsapp.com/HzyPBmOxEBXLUquMVyjUyv