Bohong dan Konstruksi Budaya

Bohong dan Konstruksi Budaya

Opini:

Bohong dan Konstruksi Budaya
Djoko Sukmono

Sebuah konstruksi sosial konkret telah ada dan menjadi. Ia tidak lahir dari kehendak abstrak atau tujuan-tujuan yang diciptakan oleh ilusi manusia, melainkan dari tindakan nyata yang menjebol batasan lama.

Konstruksi sosial lama telah dibakar habis, hangus oleh ketidaksanggupan mempertahankan dirinya sendiri.

Di atas puing-puing itu berdirilah konstruksi sosial konkret yang tidak lagi memproduksi struktur sosial dengan model design biadab, karena ia lahir dari kesadaran manusia konkret yang telah menolak budak dogma, menolak ilusi, dan menolak segala perangkat kebohongan yang selama ini menjadi penopang dunia sosial lama.

MONOLOG
Ada sebuah pernyataan: moralitas telah mati bersamaan dengan matinya jiwa-jiwa para pendamba. Bukan karena moralitas itu runtuh oleh logika atau oleh sejarah, melainkan karena manusia berhenti hidup sebagai dirinya sendiri.

Kematian moralitas ditandai dengan terbakarnya sebuah tujuan, sebab ketika tujuan-tujuan kosong didewakan, manusia menyerahkan hidupnya kepada sesuatu yang tidak pernah terbukti ada.

Dengan matinya tujuan, maka yang tersisa hanyalah manusia telanjang bersama keberadaannya sendiri.

PROLOG
Kehidupan sosial manusia tidak bisa dihentikan oleh kematian moralitas, sebab moralitas bukanlah fondasi kehidupan, melainkan produk dari tafsir atas kehidupan itu sendiri.

Ketika moralitas runtuh, kehidupan tetap berjalan. Ketika tujuan lenyap, kehidupan tetap bergerak.

Kehidupan sosial manusia juga tidak bisa dibatalkan oleh tujuan; ia tidak memerlukan alasan untuk menjadi hidup. Ia bertumbuh, berdenyut, dan bergerak meskipun tidak diarahkan kepada suatu titik akhir.

Itulah realitas sosial Konkret, realitas yang tak dapat ditunda, tak dapat diabaikan, tak dapat digantikan oleh ilusi-ilusi ideal.

Layar sudah berkembang, dan kapal kehidupan manusia telah lama meninggalkan pelabuhan tujuan.

Kehidupan sosial manusia terus berlayar mengarungi samudera yang tiada berbatas dan tiada bertepi.

Dalam perjalanan itu, yang ada dan menjadi bukanlah sesuatu yang dirancang secara metafisik, tetapi efek dari inisiatif manusia.

Yang menjadi adalah akibat dari tindakan-tindakan produktif yang dilakukan tanpa menunggu restu moralitas atau mandat tujuan.

Yang menjadi adalah akibat dari sebab-sebab yang konkrit, bukan dari ide-ide abstrak.

Yang menjadi adalah momen historis yang terus-menerus bergentayangan dan membentuk jaringan pengalaman manusia di sepanjang sejarah.

Yang menjadi adalah kontingensi yang dibentuk oleh konstruksi berpikir manusia, oleh kesadaran manusia yang tidak menerima keterikatan pada mitos tujuan.
Yang menjadi adalah yang Konkret itu.

Ketika Kebohongan Menjadi Konstruksi Budaya

Perilaku sosial semakin lama semakin menunjukkan perubahan yang ekstrem, perubahan yang tidak lagi dapat dibaca dengan kategori moral, melainkan dengan kategori eksistensial.

Kebohongan telah menjadi konstruksi budaya di mana-mana. Ia bukan lagi tindakan individu, tetapi struktur berpikir kolektif.

Akibatnya, seluruh konstruksi sosial berubah menjadi kebohongan belaka, berdiri di atas pondasi rapuh dari ilusi yang dirawat bersama.

Kebohongan adalah pintu utama masuknya candu kehidupan sosial. Ketika kebohongan menjadi sandaran hidup, maka tidak ada lagi kebenaran maupun kebaikan, sebab keduanya direduksi menjadi alat pembenaran bagi dusta kolektif.

Yang biadab bukan hanya kebohongannya, tetapi para penganut kebohongan yang meyakini dirinya sedang membela kebenaran.

Mereka menganggap diri sebagai penjaga nilai, padahal sejatinya mereka adalah alat penyebar kebohongan.

Dimensi dogma telah menyeret anak-anak manusia menuju suatu tujuan yang sebenarnya tidak ada.

Dogma menjadi virus mental yang menginfeksi kesadaran, membentuk konstruksi pikiran yang membutakan manusia dari keberadaan konkrit dirinya sendiri.

Dengan itu, mereka mudah terjerumus ke dalam jurang ilusi absurd, dan banyak di antara mereka kehilangan kesempatan menjadi manusia Konkret.

Mereka hidup dalam bayang-bayang tujuan palsu, dalam mimpi yang tak pernah bangun, hingga eksistensinya sirna sebelum sempat menjadi.

Dan teruslah, teruslah merangkai, merajut, dan menyulam jiwa-jiwa kalian dengan ilusi belaka.

Di dalam ilusi itu terdapat lingkaran setan yang rumit, pelik, dan berbelit-belit, yang membuat manusia menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah terbukti dan tidak pernah selesai.

Jika hari ini sebagian anak-anak manusia menyadari bahwa mereka sedang hidup, maka hiduplah selama yang dimungkinkan. Tidak ada tujuan yang pernah dibuktikan dalam sejarah bahwa ia benar-benar tercapai.

Bahkan tidak ada tujuan yang dapat menghendaki tujuan berikutnya. Ungkapan bahwa hidup harus terus disambung dengan tujuan-tujuan lainnya hanyalah ekspresi niscaya dari kebohongan yang telah mengatur hidup manusia.

Jika ada pernyataan bahwa belum ada yang selesai, maka setidaknya selesaikanlah hidupmu seumur hidupmu. Sebab tujuan yang diklaim telah tercapai selalu akan melahirkan tujuan berikutnya.

Namun jangan tertipu: itu tidak benar. Yang demikian hanyalah produksi dari kebohongan struktural yang bekerja tanpa henti.

Wajah-wajah dusta adalah ciri orang-orang yang belum menjadi Manusia Konkret. Mereka hidup dalam repetisi kebohongan, dalam ritme ilusi yang tak pernah memberikan makna.

Maka selamatlah selamanya berdusta, dan selamat menjalankan kebohongan yang akan selalu disusul oleh kebohongan berikutnya, sampai mereka sendiri hilang dalam kabut ilusi yang mereka agungkan. ***)

Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 11 Desember 2025

Sumber, Referensi: https://www.kompasiana.com/muhar/68bdff5d34777c620f125ad2/kebudayaan-bohong-di-indonesia-antara-humor-harmoni-dan-hipokrisi?utm_source=perplexity