Ruang Filsafat:
Dunia Konkret dan Absurditas Kemanusiaan
Djoko Sukmono
Hanya kepada Manusia Konkret dunia Konkret ini menjadi realitas nyata; bukan kepada yang lain. Dari tindakan-tindakan radikalnya, Revolusi menemukan bentuknya, dan momen historis menampakkan dirinya.
Pada tangan kanannya, Manusia Konkret menggenggam Palu Kekuasaan; pada tangan kirinya ia membawa daftar momen Ahistoris yang satu per satu dihancurkannya.
Yang ahiatoris akhirnya dinyatakan usang, retak, dan tidak becus. Ia terbukti menjadi sumber ilusi, halusinasi, dan takhayul yang menjerumuskan manusia dari realitas.
Dan sejarah, dengan ketenangan dingin, mengucapkan perpisahan kepada semuanya—selamat tinggal segala yang AHISTORIS.
Di dalam ruang dan waktu, momen historis benar-benar hadir sebagai Manusia Konkret. Ia adalah aktor historis, bukan penjaga utopia.
Ia meninggalkan semua yang absurd, semua yang halusinasif, semua yang tidak memiliki koneksi terhadap masa depan.
Dengan mandat penuh dari sejarah, Manusia Konkret meniadakan seluruh mekanisme sosial yang AHISTORIS—sebuah operasi besar dalam sejarah umat manusia.
Dari sini lahirlah postulat material dunia baru: GOLD, WAR, GLORY, VICTORY. Inilah warisan momen historis bagi Manusia Konkret untuk membangun Kerajaan Material di muka bumi.
Dunia Konkret mencapai eksistensi autentiknya; ia menjadi milik Manusia Konkret, tergenggam kuat, terkunci oleh tindakan-tindakan historis yang nyata.
Ia menguasai sumber daya dan mendistribusikannya secepat kilat kepada anak-anak manusia yang telah terbebas dari struktur-struktur ilusif.
Mereka yang masih memelihara hantu-hantu sosial, yang masih terjebak dogma AHISTORIS, yang masih dikuasai virus mental dari konstruksi sosial lama—telah tersingkir oleh gerak sejarah.
Manusia Konkret melaju cepat ke masa depan, dilepaskan oleh momen historis dan dibimbing oleh Hukum Rasional Sejarah dalam membentuk dunia baru.
Namun setelah kemenangan itu, satu pertanyaan besar muncul: jika Manusia Konkret telah mengambil alih dunia, jika sejarah telah menyingkirkan ilusi-ilusi lama, di manakah posisi kemanusiaan?
Apakah kemanusiaan merupakan fondasi yang menopang kemenangan itu, atau justru ia tertinggal bersama AHISTORIS—ditinggalkan oleh sejarah?
Kemanusiaan sering dipahami sebagai keberadaan utuh manusia, puncak eksistensi moral yang diidealkan.
Tetapi kemanusiaan tidaklah perlu diwujudkan; ia hanyalah situasi batas yang tak berbatas, sebuah horizon moral yang terus bergerak mundur.
Ia bukan kebutuhan mendesak sejarah. Kemanusiaan lebih merupakan barometer yang dipoles indah, sebuah kemasan nilai yang tampak luhur tetapi kehilangan daya historis.
Dari konsep itu lahirlah nilai-nilai fundamental: kebenaran, kebaikan, kesejahteraan, kebebasan, keramaian, dan sederet turunannya.
Namun sejarah tidak digerakkan oleh nilai. Sejarah digerakkan oleh geraknya sendiri. Dan anak-anak manusia tidak berjalan menuju kemanusiaan; mereka berjalan mengikuti arah sejarah.
Di sinilah absurditas kemanusiaan itu tampak: kemanusiaan diagungkan tetapi tidak pernah diikuti; ia dikejar tetapi tidak pernah dicapai; ia disebut tetapi tidak pernah membumi sebagai realitas Konkret.
Kemanusiaan telah gagal mendunia, stagnan di dalam keberadaan ontologisnya, menjadi nama yang bergema tetapi tidak pernah menjadi dunia nyata yang dialami manusia.
Ketika kemanusiaan gagal menjadi sejarah, ketika nilai-nilai moral hanyalah ornamen, ketika dogma dan ilusi menciptakan jurang absurditas—maka hanya Manusia Konkret yang mampu mengarahkan jalannya sejarah.
Hanya ia yang bekerja di ranah realitas; hanya ia yang bertindak sebagai momen historis; hanya ia yang menjadikan dunia ini benar-benar Konkret.
Dari sinilah muncul era baru: era Manusia Sosial Konkret, dengan watak imperialistik-revolusioner yang membuka jalan bagi tatanan dunia baru. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 11 Desember 2025
Sumber Tambahan: https://www.perplexity.ai/search/tokoh-filsafat-realisme-Qa__ZROeQr.JdyO3D45iPA
https://eduarduslebe.blogspot.com/2015/11/filsafat-realisme.html?utm_source=perplexity&m=1





