SERAGAM LURIK YANG MEROBEK NURANI PENDIDIKAN

SERAGAM LURIK YANG MEROBEK NURANI PENDIDIKAN

Esai: Pendidikan

SERAGAM LURIK YANG MEROBEK NURANI PENDIDIKAN
Oleh: Kadir Wahyudi

“Upaya untuk membebaskan kaum tertindas tanpa partisipasi reflektif mereka dalam tindakan pembebasan sama saja dengan memperlakukan mereka sebagai objek.” _Paolu Freire_

_***_

Mataku berkaca-kaca ketika saya membaca berita online yang disajikan oleh suarajatimpost.com hari ini (25/9/2026) tentang anak didik ditempeleng oleh Kepala Sekolahnya di SMPN 18 Malang.

Hatiku berdebar penuh emosi. Satu kata buat kepala sekolah itu, _bangsat!_. Saya ini bekas jadi guru. Pernah jadi guru. Guru miskin! Mengajar di yayasan kecil gaji kurang dari seratus ribu perbulan.

Saya berani suruh motong gajiku untuk bayar SPP anak didikku yang SPPnya hanya sepuluh ribu perbulan.

Pun, saya juga pernah memberi bantuan lima puluh ribu buat tambahan beli seragam yang sudah jelek dan memet dipakai muridku.

Kalau kalian bilang saya pamer, riaq, dan sombong, memberi kok diomong-omongken! Sak karepmu! Saya tulis esai ini penuh emosi brengsek! Hati ini terlanjur emosi. Luka. Marah.

_***_

Lihat matamu! Di sana. Ada luka yang tidak terlihat di foto tangkapan layar foto berita itu. Bukan hanya lebam di telinga bocah berinisial P, siswa SMPN 18 Malang, tapi luka pada akal sehat kita tentang pendidikan.

Kamis pagi, 24 September 2026. Seorang anak ditahan di gerbang sekolah. Kesalahannya bukan tawuran, bukan narkoba, bukan membolos. Kesalahannya: tidak memakai seragam Lurik.

“Baju sobek, Pak,” jawabnya lirih.

“Urusanmu!” hardik kepala sekolah berinisial MAH, sebelum tamparan dan jeweran mendarat di kepala dan telinga anak itu.

Emh! Hatiku berdebar-debar!
Brengsek!

Kita perlu berhenti sejenak dan mencerna kalimat itu: _Baju sobek, Pak. Urusanmu!_

Seorang kepala sekolah, yang seharusnya menjadi orang tua kedua bagi muridnya, memilih menghukum kemiskinan dengan kekerasan.

Ini bukan soal disiplin. Disiplin tidak pernah diajarkan dengan cara menampar anak miskin yang tidak mampu membeli seragam. Disiplin adalah mendidik, bukan menganiaya.

Jika seorang anak tidak memakai seragam karena kendala ekonomi, tugas kepala sekolah adalah bertanya: _kenapa nak, ada masalah di rumah?_ Bukan membentak: _salahmu!_

Kan dobol?!
Apa dia gak pernah miskin?
Apa dia gak pernah bergaul dengan anak-anak miskin di kamung?
Darahku mendidih ini. Dobol banget!

Apa yang terjadi di SMPN 18 Malang adalah potret telanjang betapa birokrasi pendidikan kita kadang lebih mencintai seragam daripada manusianya. Kita lebih sibuk menyeragamkan baju, tapi lupa menyeragamkan empati.

Seragam Lurik itu, yang harganya mungkin hanya puluhan ribu bagi pejabat, bisa jadi adalah beban berat bagi keluarga prasejahtera.

Bagi mereka, bisa menyekolahkan anak saja sudah perjuangan. Ketika anaknya dipukul karena tidak mampu membeli atribut tambahan, negara sedang menghukum kemiskinannya dua kali.

_***_

Pendidikan pilar negara.
Kalau anak-anak bangsa ini keplek-keplek, jadi apa bangsa ini.
Negara hadir dalam mencerdaskan kehidupan bangsa itu seperti apa kalau begini jadinya?
Apakah pendidikan ini hanya untuk  bangsangsane orang yang berduit saja?

Saya _mengapresiasi_ langkah cepat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang yang langsung mencopot ‘MAH’ pada Jumat, 25 September 2026.

Pernyataan Kadisdikbud Suwarjana tegas: “tidak memberikan toleransi terhadap segala bentuk tindakan kekerasan di lingkungan pendidikan.” Itu benar.

Tapi pencopotan jabatan tidak cukup.

Anak itu, P, harus dilarikan ke UKS karena demam dan syok berat. Traumanya tidak akan hilang dengan pergantian kepala sekolah hari Senin nanti.

Luka fisiknya bisa divisum, tapi siapa yang mem-visum rasa malunya di depan teman-temannya?

Karena itu, saya _mendukung_ penuh langkah orang tua untuk membawa kasus ini ke ranah hukum.

Kekerasan terhadap anak di bawah umur di lingkungan sekolah bukan pelanggaran etik internal semata. Itu adalah tindak pidana. UU Perlindungan Anak sudah sangat jelas.

_***_

Kasus ini harus menjadi alarm keras untuk semua sekolah di Indonesia.

Pertama, hentikan fetish seragam. Pendidikan bukan fashion show.

Jika ada siswa tidak berseragam karena miskin, tugas sekolah adalah mencarikan solusi, bukan menambah luka. Ada dana BOS, ada BAZNAS, ada _solidaritas wali murid_.

Kedua, seleksi kepala sekolah jangan hanya lihat angka kredit dan administratif. Lihat hatinya. Lihat karakternya. Lihat mentalnya. Seorang pemimpin pendidikan tanpa empati hanyalah mandor berseragam dinas.

Iyo lek mandor bangunan, tukang salah iso dipisui. La ini memanage karakter anak oramg. Anak bangsa. Harus penuh kasih sayang yang tulus. Penuh cinta.

Ketiga, kepada anakku P: maafkan kami orang dewasa yang gagal memberimu rasa aman di sekolah. Baju sobekmu jauh lebih mulia daripada jabatan yang menamparmu.

Negara ini tidak akan pernah menjadi negara maju jika sekolahnya masih menjadi tempat anak miskin ditampar karena kemiskinannya.

Karena seragam bisa dibeli, tapi kemanusiaan tidak. Mind that!

_***_

Posted: sarinahnews.com
Malang, 25 September 2026

Sumber:
● suarajatimpost.com, dengan judul, “Tak Mampu Beli Seragam, Siswa Miskin di Malang Malah Dihajar Kepala Sekolah” (25/9/2026)
● WAG GWN: Pengaduan Publik Malang Raya