RODA RAKSASA

RODA RAKSASA

Filsafat Sosial Politik

RODA RAKSASA
Joko Sukmono

Inilah malapetaka terbesar dalam sejarah umat manusia, bukan karena ledakan tunggal atau perang sesaat, melainkan karena cara hidup manusia sendiri telah dibentuk menjadi sebuah mekanisme raksasa yang bergerak tanpa henti.

Roda gila raksasa itu bukan benda fisik, melainkan rancang bangun kehidupan sosial manusia yang kini telah mengeras menjadi sistem global. Ia menyatukan ekonomi, politik, teknologi, kesehatan, dan budaya ke dalam satu mesin peradaban yang bekerja melampaui kehendak individu, bahkan sering melampaui kontrol negara.

Dalam pembacaan dechiperisme, pada tahap sejarah ini moral politik tidak lagi menjadi penentu arah. Yang dominan bukan lagi perdebatan tentang benar dan salah, melainkan keberlangsungan mekanisme itu sendiri.

Esensi politik—yakni pergulatan tentang tujuan bersama—telah dicaplok oleh eksistensi politik sebagai teknik bertahan, mengelola krisis, dan mempertahankan stabilitas sistem.

Diplomasi, yang dulu dipahami sebagai seni merawat hubungan antar bangsa, tampak usang ketika keputusan strategis ditentukan oleh kalkulasi pasar, aliran modal, dan kepentingan blok kekuatan.

Lembaga internasional hanya menyisakan simbol, sementara banyak negara kehilangan kemampuan nyata untuk melindungi warganya dari guncangan sistem yang mereka sendiri tidak kuasai.

Rancang bangun kehidupan sosial ini hadir sebagai sesuatu yang tampak mutlak. Ia disokong oleh rejim peradaban—yakni konfigurasi kekuatan yang menopang cara hidup global hari ini.

Di dalamnya bekerja rejim keuangan dengan logika utang, investasi, dan spekulasi; serta rejim kesehatan dengan logika manajemen populasi, risiko, dan normalisasi tubuh. Keduanya tidak berdiri sendiri, tetapi terjalin dengan teknologi, data, dan industri, membentuk jaringan kendali yang halus namun menyeluruh.

Padahal manusia konkret adalah eksistensi yang majemuk, hidup dalam ruang dan waktu, dengan pengalaman yang tak bisa sepenuhnya direduksi menjadi angka, kategori, atau profil risiko. Di sinilah muncul konsep kontingensi.

Kontingensi bukan sekadar kebetulan, melainkan adonan historis: campuran kondisi, keputusan, krisis, dan kebetulan yang sengaja diolah menjadi struktur. Dari kontingensi lahir politik, negara, nilai, dan konstitusi.

Semua itu bukan entitas abadi, melainkan hasil olahan sejarah yang pada saat tertentu mengeras menjadi tatanan.

Hari ini, kemajuan tidak lagi identik dengan kelanjutan kemarin. Bentuk-bentuk yang pernah kokoh kini terbuka terhadap perubahan radikal.

Dechiperisme memandang kondisi riil hari ini sebagai peristiwa historis yang tak terhindarkan—adonan sejarah yang telah mencapai titik tertentu sehingga melahirkan rangkaian peristiwa politik, ekonomi, dan sosial yang saling terkait.

Kontingensi yang dulu terpecah kini mengkristal menjadi peradaban global dengan logikanya sendiri.

Peradaban inilah yang menggerakkan perubahan lintas rejim.

Rejim politik berubah karena harus menyesuaikan diri dengan tekanan pasar dan teknologi.

Rejim kebudayaan berubah karena nilai dan gaya hidup dikomodifikasi.

Rejim keagamaan pun berubah karena harus beroperasi di dalam ruang publik yang dibentuk oleh media, pasar, dan regulasi global.

Komodifikasi menjadi proses umum: gagasan, identitas, bahkan spiritualitas masuk ke dalam sirkuit nilai tukar.

Namun, bagi manusia konkret, roda gila raksasa ini bukan semata ancaman metafisis. Ia adalah peristiwa historis yang memang harus dijalani.

Tidak ada manusia yang hidup di luar sejarah; setiap orang mengalami tekanan, peluang, dan kontradiksi zamannya sendiri.

Di sinilah perjalanan eksistensial memperoleh maknanya. Ketika struktur besar bergerak, manusia dituntut bukan hanya untuk menyesuaikan diri, tetapi untuk berani membaca situasi, mengambil sikap, dan menentukan posisi.

Perjalanan eksistensial menuntut keberanian eksistensial. Ketakutan memang lahir dari ketidakpastian, tetapi ia bukan tuan atas manusia. Ketakutan bisa dikenali, dipahami, dan dikendalikan.

Dalam pengertian inilah eksistensi yang otentik muncul: bukan dengan lari dari sejarah, melainkan dengan berdiri di dalamnya secara sadar, memahami bahwa bahkan roda raksasa peradaban pun adalah hasil gerak manusia—dan karena itu, selalu terbuka pada pembacaan, kritik, dan kemungkinan perubahan baru. ***)