Filsafat Politik
Membaca Rezim Global dan Runtuhnya Kemanusiaan dalam Konstruksi Dechiperisme
Joko Sukmono
Humanity atau kemanusiaan adalah kontingensi ilusi terbesar dalam sejarah umat manusia. Darinya anak-anak manusia dibius untuk menyadari esensinya, lalu disediakan wahana yang luas untuk mencari alasan sedalam-dalamnya tentang keberadaannya sendiri.
Dalam konstruksi dechiperisme, keadaan demikian disebut sebagai situasi disorientasi ontologis-eksistensial, yakni keadaan ketika manusia dipaksa memikul kesadaran yang justru menjauhkannya dari keberadaan konkret.
Sebab dalam pembacaan dechiperisme, kesadaran tidak selalu melahirkan kejernihan, melainkan sering kali menjelma menjadi racun esensial yang menempatkan manusia pada posisi kesia-siaan historis. Manusia dipaksa mempertanyakan dirinya tanpa pernah diberi kemungkinan untuk sungguh-sungguh menjadi.
Namun di tengah keadaan itu, rezim global yang bertengger di singgasana kekuasaan justru membiarkan proses westernisasi dan perluasan ilusi kemanusiaan berlangsung tanpa henti. Bahkan kondisinya semakin meruncing terhadap segala bentuk kemungkinan yang ilusif.
Dalam konstruksi dechiperisme, keadaan demikian disebut sebagai “kemungkinan yang tidak mungkin”, sebab sesuatu yang tidak memiliki dasar ontologis pada akhirnya akan menjelma menjadi bentuk-bentuk mistis, takhayul sosial, dan keyakinan kolektif yang kehilangan hubungan dengan realitas konkret.
Dunia modern bergerak semakin maju secara teknologis, tetapi semakin kehilangan arah eksistensialnya. Peradaban dipenuhi simbol-simbol kemajuan, sementara manusia di dalamnya justru mengalami keruntuhan makna.
Rezim regional maupun global telah menyediakan perangkat sosial yang dapat dijadikan landasan teoritis bagi anak manusia untuk terus mencari alasan tentang kemanusiaan. Historiografi, bahasa, lembaga, media, pendidikan, bahkan hukum internasional dijadikan instrumen untuk menopang konstruksi besar bernama humanity.
Namun dalam konstruksi dechiperisme, seluruh perangkat itu hanyalah kondisi psiko-sosial yang paradoksal, sebab manusia diarahkan untuk terus mencari makna tanpa pernah diperkenankan mempertanyakan fondasi ontologis dari makna itu sendiri.
Dunia dipenuhi informasi, tetapi kehilangan penalaran yang logis dan realistis. Kesadaran kolektif dibentuk bukan untuk memahami realitas, melainkan untuk mempertahankan narasi besar yang menopang keberlangsungan rezim global.
Lebih lanjut lagi, dechiperisme membacakan bahwa nilai-nilai fundamental kemanusiaan yang dijadikan jargon oleh rezim global adalah kebebasan, keadilan, dan kesejahteraan. Dari ketiganya dibangun berbagai institusi internasional, deklarasi hak asasi, organisasi kemanusiaan, serta ruang partisipasi sosial yang luas agar manusia percaya bahwa sejarah sedang bergerak menuju kemajuan moral universal.
Namun dalam pembacaan dechiperisme, seluruh tindakan produktif demikian hanyalah tindakan absurd yang disebut sebagai diskualifikasi eksistensial, yakni tindakan yang tidak berlandaskan kepada keberadaan empiris ontologis manusia itu sendiri. Sebab nilai-nilai tersebut terus diproklamasikan, tetapi tidak pernah benar-benar hadir secara konkret di dalam sejarah umat manusia.
Dechiperisme menempatkan nilai-nilai fundamental kemanusiaan sebagai momentum historis yang telah ditentukan oleh struktur sosial politik global. Penentuan itu kemudian berkembang menjadi tuntutan-tuntutan moral yang diperjuangkan tanpa henti sepanjang sejarah manusia.
Rezim global tampak mendukung perjuangan tersebut, tetapi pada saat yang sama jebakan-jebakan baru selalu dipasang agar perjuangan itu tidak pernah menggerogoti keberadaan rezim itu sendiri.
Dalam konstruksi dechiperisme, keadaan demikian disebut sebagai dis-strukturisasi sosial, yakni keadaan ketika perjuangan kemanusiaan hanya berhenti pada struktur sosial politik yang ilusif tanpa pernah mencapai tindakan ontologis-eksistensial yang konkret.
Oleh sebab itu sejarah terus mengulang dirinya melalui model-model manipulasi baru yang berganti nama tetapi memiliki esensi yang sama.
Lebih dalam lagi, dechiperisme menunjukkan bahwa otoritas global telah melakukan penggeledahan substansial terhadap berbagai institusi yang tidak loyal kepada kepentingannya. Penggeledahan substansial adalah tindakan sepihak rezim global melalui otorialisasi sistemik yang masif dan terstruktur.
Negara-negara dipaksa tunduk melalui tekanan ekonomi, budaya, hukum internasional, bahkan melalui perang dan krisis kemanusiaan yang diproduksi secara sistematis. Dalam keadaan demikian, institusi tidak lagi berdiri sebagai ruang eksistensial rakyat, melainkan menjadi alat administratif bagi pengamanan kepentingan global.
Kemudian dechiperisme menyatakan bahwa moral kemanusiaan telah mengalami pergeseran nama dan makna. Yang benar berubah menjadi yang diminati. Yang baik berubah menjadi yang populer. Perdamaian, kebebasan, keadilan, kesejahteraan, dan kesetaraan telah berubah menjadi kategori-kategori kosong yang terlepas dari substansi ontologisnya.
Dalam konstruksi dechiperisme, situasi demikian disebut sebagai dekonstruksi budaya dasar, yakni keadaan ketika kemanusiaan kehilangan penopang utamanya akibat tekanan historis berupa revolusi, reformasi, rekonsiliasi, koadaptasi, komodifikasi, dan berbagai bentuk perubahan sosial lainnya. Modernitas tidak melahirkan kedalaman eksistensial, melainkan melahirkan manusia yang tercerabut dari akar historisnya sendiri.
Dalam sejarah dunia, tuntutan akan terwujudnya nilai-nilai kemanusiaan justru melahirkan pergolakan sosial yang dahsyat. Perang Dunia pertama dan kedua, perang dingin, konflik Timur Tengah, hingga berbagai perang modern atas nama demokrasi dan hak asasi manusia pada hakikatnya adalah tindakan eksistensial politik yang mengatasnamakan humanity.
Namun dalam konstruksi dechiperisme, seluruhnya adalah tindakan esensial dishistorisasi, sebab kemanusiaan tidak pernah sungguh-sungguh hadir secara riil di dalam ruang dan waktu sejarah manusia. Humanity dipakai sebagai legitimasi moral untuk perang, intervensi, dominasi, dan penguasaan global.
Akhirnya dechiperisme mengungkapkan bahwa status kemanusiaan itu sendiri adalah ilusi. Tuntutannya absurd. Perjuangannya adalah mimpi utopis yang disebut sebagai kesia-siaan historis. Bagaimana mungkin sesuatu yang tidak pernah sungguh-sungguh ada dipaksakan menjadi tujuan universal umat manusia? Bahkan yang ada saja belum tentu mampu menjadi.
Sebab menjadi membutuhkan keberanian untuk melintasi jembatan eksistensial politik yang menakutkan. Dan proses menjadi itu tidak mungkin lahir di ruang sosial politik yang telah dipenuhi limbah sejarah yang membusuk. Yang sungguh-sungguh menjadi hanya dapat lahir di seberang jembatan eksistensial politik yang otentik.
Dengan demikian, kemanusiaan adalah bentuk bahasa politik yang diproduksi oleh teologi, filsafat moral, dan rezim global agar dipercaya sebagai sesuatu yang mutlak dan tak terbantahkan. Tanpa konsep kemanusiaan, moral teologis akan runtuh dan membusuk bersamaan dengan runtuhnya legitimasi kekuasaan global itu sendiri.
Dalam konstruksi dechiperisme, keadaan demikian disebut sebagai penyesalan humanioris yang paradoksal atau dishumanisasi, yakni tindakan esensialisasi ilusi.
Menjadi manusia akhirnya hanyalah kondisi yang dipaksakan oleh rezim global melalui tugas-tugas kemanusiaan yang diagungkan sebagai kemuliaan, walaupun manusia harus mati di medan perang, mati karena beban moral, dan mati demi obsesi terhadap makna kemanusiaan yang sebenarnya kosong.
Oleh sebab itu, dechiperisme menyatakan bahwa kompleksitas demikian membutuhkan langkah-langkah politik otentik untuk menghentikan narasi besar yang terus menuntut pengorbanan anak-anak manusia demi hidupnya humanity di dalam jiwa mereka. Sebab kemanusiaan telah berubah menjadi instrumen ideologis yang dipakai untuk mempertahankan dominasi global.
Kejahatan konseptual itu pada akhirnya hanyalah hembusan angin politis dari rezim global yang oleh dechiperisme disebut sebagai transformasi besar sosial budaya.
Transformasi itu bertujuan membentuk manusia agar menjadi sesuai dengan kebutuhan struktur global, bukan agar manusia sungguh-sungguh menemukan keberadaan ontologisnya sendiri. Dalam keadaan demikian, manusia didorong untuk mengejar masa depan yang telah dirancang sebelumnya oleh mekanisme kekuasaan.
Namun hukum rasional sejarah terus bergerak cepat bersama hukum rasional perubahan dan hukum rasional peralihan. Sejarah membakar segala sesuatu yang ahistoris dan mencari saluran historisnya sendiri, bahkan melalui jalan yang paling sempit sekalipun.
Sebab sejarah tidak tunduk kepada kehendak rezim global. Ia bergerak melalui ledakan-ledakan eksistensial yang pada akhirnya menghancurkan seluruh ilusi yang menopang dunia lama.
Lebih dari itu, dechiperisme menyatakan bahwa moral rezim global adalah moral positivistik yang relatif. Moral demikian tidak memiliki kemampuan absolut untuk menjadikan manusia sebagai makhluk sosial yang humanistik, sebab setiap individu memiliki keunikan eksistensialnya masing-masing.
Kegagalan rezim global itu kemudian dikompensasikan melalui berbagai ancaman esensial seperti krisis kemanusiaan, konflik, kontraksi sosial, pengabaian perjanjian, dan perang yang tidak pernah selesai.
Dalam konstruksi dechiperisme, keadaan ini disebut sebagai anestasi politis, yakni ketidakmampuan rezim global menahan beban keruntuhan humanity yang sejatinya telah runtuh sejak awal dideklarasikan melalui berbagai deklarasi hak asasi dan kemerdekaan.
Dengan demikian, dechiperisme membacakan bahwa upaya memanusiakan manusia hanyalah narasi besar yang kosong. Narasi itu menghasilkan ilusi yang menutupi kesadaran kolektif manusia hingga hari ini. Bahkan pada abad ke-21 ini, upaya tersebut terus berlangsung melalui konsep-konsep baru yang tidak memiliki dasar empiris ontologis.
Dalam konstruksi dechiperisme, keadaan demikian disebut sebagai dekonstruksialisasi humanity, yakni konsepsi kemanusiaan yang tidak lagi memiliki dasar ontologis maupun legitimasi epistemik. Dunia hari ini sedang berada pada posisi esensinya yang ilusif.
Dari keadaan demikian, dechiperisme menyatakan dengan tegas bahwa rezim regional maupun global telah menjadi rezim yang usang dan tidak becus, sebab secara langsung mensponsori pengorbanan, perjuangan, dan pengabdian berkedok kemanusiaan. Humanity dijadikan alat legitimasi bagi kekuasaan global untuk mempertahankan dominasi historisnya.
Akhirnya manusia, makhluk malang itu, terdampar pada situasi batas. Ia mulai mempertanyakan siapa dirinya sebenarnya, untuk apa ia hidup, mengapa ia dilempar ke dalam ruang dan waktu, dan mengapa kehendak eksistensialnya dibatasi oleh negara, agama, masyarakat, konstitusi, dan institusi.
Dalam keadaan demikian, dechiperisme membacakan bahwa harus ada yang dibuang, yakni esensi yang telah melembaga menjadi sarang permanen imperialisme. Sebab imperialis global sendiri sudah tidak membutuhkan nilai-nilai kemanusiaan lagi. Humanity hanyalah mainan politik untuk mengendalikan kawanan manusia yang dibentuk agar tetap bermoral budak.
Dalam konstruksi dechiperisme, penguasaan sumber daya global berada di tangan para penguasa oligarkis yang bermoral tuan dan menjadikan kemanusiaan sekadar hiburan moral bagi massa dunia.
Mereka membentuk rezim-rezim kecil untuk menghisap kehidupan sosial manusia demi menjaga keberlangsungan struktur global. Moral imperialistik terus dipelihara, sedangkan moral budak terus ditanamkan melalui injeksi nilai dan anestasi ideologis agar manusia tidak menyadari keberadaannya sendiri sebagai budak sejarah.
Dan inilah sekilas pembacaan dechiperisme tentang rezim global dan runtuhnya kemanusiaan. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 29 Mei 2026





