Filsafat Politik
Resonansi Korelatif Hukum Rasional Perubahan Terhadap Politik Otentik
Joko Sukmono
_Partai politik dapat diperjualbelikan, pendidikan dapat dikomodifikasi, rumah sakit dapat menjadi industri, bahkan hukum dan regulasi pun berubah menjadi barang dagangan._
Pada tahun 2026 ini Dechiperisme membacakan bahwa otoritas global dengan progresitas programnya telah menjalankan strategi instruksional politik yang represif, yaitu serangkaian tindakan politik yang mempolarisasi kehidupan sosial hingga struktur sosial politik terpecah menjadi kepingan-kepingan yang saling dipertentangkan.
Di antara kepingan-kepingan tersebut kemudian dibangun berbagai bentuk korelasi yang oleh Dechiperisme disebut sebagai diskorelatif manipulatif, yaitu suatu bentuk pengondisian politik melalui operasi-operasi yang dijalankan dengan instrumen raksasa berupa institusionalisasi global yang imperialistik.
Tekanan historis yang ditimbulkannya diarahkan kepada peniadaan basis material peradaban bangsa-bangsa dan menggantikannya dengan universalitas institusional yang berlandaskan pada satu moral global, yaitu bahwa segala sesuatu dapat dijual, dibeli, dikuasai, dan dijadikan apa pun sesuai dengan kepentingan kekuasaan.
Kemudian daripada itu Dechiperisme menyatakan bahwa moral sosial politik otentik sedang berada pada posisi esensinya yang retak.
Keadaan ini disebut sebagai disotentisitas politis, yaitu suatu situasi ketika esensi politik otentik berhadapan dengan perubahan sosial-kultural yang menjelma menjadi konkretitas basis material peradaban atributif.
Politik kehilangan wajahnya yang tetap dan berubah menjadi kostum yang dapat dikenakan oleh siapa saja sesuai dengan kebutuhan zamannya.
Dalam konstruksi Dechiperisme, fenomena tersebut dinamakan sebagai Casanova politis, yaitu politik yang terus berganti wajah tanpa pernah lagi memiliki pusat moral yang permanen.
Dechiperisme selanjutnya menyatakan bahwa moral global yang berbunyi “yang benar adalah yang dapat dijual, yang baik adalah yang laku dijual, dan yang efektif adalah yang paling laris” benar-benar telah menjadi realitas sosial budaya abad ke-21.
Oleh sebab itu, hampir seluruh aspek kehidupan dapat dianulir dan dinegosiasikan demi kepentingan logika pasar.
Partai politik dapat diperjualbelikan, pendidikan dapat dikomodifikasi, rumah sakit dapat menjadi industri, bahkan hukum dan regulasi pun berubah menjadi barang dagangan.
Inilah yang oleh Dechiperisme dinamakan sebagai Casanova sosial politik, yaitu suatu keadaan ketika seluruh struktur sosial memasuki fase post dishistorisasi ideologis politis paradoks, sebuah fase politik liberal yang tidak lagi bertumpu pada sistem permanen maupun struktur yang kokoh, melainkan pada prinsip bahwa segala sesuatu dapat dinegosiasikan selama dianggap menghasilkan sesuatu yang lebih besar, lebih prestisius, dan lebih menguntungkan.
Dechiperisme kemudian menegaskan bahwa polarisasi sosial politik yang berlangsung pada abad ke-21 merupakan keniscayaan sejarah. Polarisasi tersebut digunakan oleh rezim global sebagai arena uji terhadap keunikan manusia konkret yang, dengan keberanian eksistensialnya, mulai melampaui berbagai esensi yang selama ribuan tahun menghantui kehidupan sosial manusia.
Dari keberanian inilah kemudian lahir komunitas-komunitas politik kecil yang terpolarisasi, namun justru mampu bergerak melampaui situasi batas sosial politik yang telah stagnan.
Meskipun demikian, otoritas global tetap tidak mengakui bahwa resonansi korelatif Hukum Rasional Perubahan sedang mempersiapkan instrumen politik baru yang tidak terbaca oleh mekanisme kekuasaan lama.
Politik otentik sedang mencari bentuk ontologisnya sendiri di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung.
Lebih lanjut Dechiperisme membacakan bahwa basis material peradaban bangsa-bangsa di dunia terus terkikis oleh derasnya arus revolusi industri, revolusi sains, dan teknologi informasi yang tidak lagi dapat dibendung.
Kemandirian bangsa perlahan berubah menjadi ketergantungan terhadap globalisme. Bahkan gagasan mengenai bangsa yang mampu berdiri di atas identitas dan kekuatannya sendiri pun mulai dihancurkan.
Indonesia dijadikan contoh konkret melalui gagasan Trisakti Bung Karno dan Marhaenisme yang, menurut pembacaan Dechiperisme, dihancurkan oleh penetrasi neoliberalisme sehingga bangsa yang besar ini kehilangan jati dirinya.
Oleh karena itu, Dechiperisme menyatakan bahwa kebangkitan bangsa-bangsa untuk membangun basis material peradabannya sendiri menghadapi tekanan global yang sangat besar.
Di tengah situasi tersebut, Iran dipandang sebagai salah satu bangsa yang masih mempertahankan keberadaan eksistensial ideologis-politisnya. Namun, pengalaman Iran sekaligus menunjukkan bahwa setiap bangsa yang berusaha berdiri mandiri harus bersiap menghadapi tekanan geopolitik yang sangat keras.
Namun demikian, Dechiperisme membacakan bahwa otoritas global pada akhirnya akan berhadapan dengan Hukum Rasional Perubahan yang, melalui kekuatan hegemoniknya sendiri, justru membuka jalan bagi lahirnya sebuah kontingensi baru yang dinamakan kontingensi polarisme politik.
Paradoks sejarah mulai bekerja. Instrumen yang semula dibangun untuk mempertahankan dominasi global secara perlahan berubah menjadi saluran bagi lahirnya bentuk-bentuk politik yang tidak lagi dapat sepenuhnya dikendalikan oleh kekuasaan lama.
Dalam pembacaan Dechiperisme, kontingensi polarisme politik inilah yang sedang membentuk sejarah baru abad ke-21. Dunia sosial politik terbelah menjadi komunitas-komunitas politik kecil yang kemudian membangun kembali jejaringnya dengan membawa identitas masing-masing.
Keadaan ini disebut sebagai era post modern demokratik Cornel, yaitu suatu kontingensi politik otentik yang lahir dari kontradiksi antarfaksi dan menghasilkan jejaring sosial politik yang keras, tajam, serta penuh pertarungan rasionalitas.
Tidak ada lagi keputusan politik yang dapat diterima begitu saja sebagai kebijakan publik tanpa melalui benturan argumentasi yang menguji keterhubungannya dengan realitas konkret yang logis.
Di sinilah Hukum Rasional Perubahan bekerja dan membangun resonansi korelatif terhadap kehidupan sosial manusia.
Kedatangan kontingensi politik otentik yang lahir dari perubahan sosial politik yang keras tersebut merupakan kehendak politik otentik yang didorong oleh Hukum Rasional Perubahan dan memperoleh ruang historis melalui Hukum Rasional Peralihan Sejarah.
Politik tidak lagi sekadar menjadi instrumen kekuasaan, melainkan perlahan bergerak menuju keberadaan ontologisnya sebagai bagian dari perubahan historis yang tidak dapat dibendung.
Kemudian lebih dalam lagi Dechiperisme menunjukkan bahwa runtuhnya jembatan esensial yang selama ini dibangun oleh rezim global beserta seluruh instrumen politiknya mulai digantikan oleh jembatan eksistensial politik otentik.
Jembatan baru ini bukan dibangun di atas dominasi, melainkan di atas kebutuhan konkret manusia untuk membangun basis material peradaban yang benar-benar otentik.
Oleh sebab itu, politik tidak lagi dipahami sebagai sekadar mekanisme administrasi kekuasaan, tetapi sebagai ruang historis tempat manusia membangun keberadaan ontologisnya secara nyata.
Namun demikian, Dechiperisme tetap mengingatkan bahwa perjalanan menuju politik otentik tidak akan berlangsung tanpa ancaman. Berbagai bentuk gangguan, infiltrasi intelijen, manipulasi informasi, dan operasi-operasi politik tersembunyi akan terus menjadi bagian dari dinamika sejarah.
Oleh sebab itu, keberadaan ontologis eksistensial yang otentik menuntut konsentrasi yang logis dan realistis agar tidak kembali terperangkap ke dalam berbagai bentuk ilusi politik yang dibangun oleh kekuasaan lama.
Hanya dengan keteguhan rasional semacam itulah resonansi korelatif antara Hukum Rasional Perubahan dan politik otentik dapat benar-benar menjadi landasan bagi lahirnya basis material peradaban manusia yang baru.
Kemudian daripada itu Dechiperisme menerangkan bahwa resonansi korelatif Hukum Rasional Perubahan bukanlah tindakan revolusioner yang lahir dari kemarahan sesaat, melainkan sebuah mekanisme historis yang bekerja secara objektif mengikuti perubahan kondisi material kehidupan manusia.
Ketika struktur-struktur lama kehilangan kemampuan menopang kehidupan sosial, maka sejarah dengan sendirinya membangun saluran baru bagi lahirnya politik otentik.
Dalam konstruksi Dechiperisme keadaan ini disebut sebagai transkontingensi historis, yaitu perpindahan pusat gravitasi politik dari institusi yang telah kehilangan vitalitasnya menuju manusia konkret yang memiliki keberanian eksistensial untuk membangun kembali basis material peradabannya.
Oleh sebab itu, sejarah tidak lagi digerakkan oleh kemegahan institusi, melainkan oleh kemampuan manusia membaca realitas secara logis, realistis, dan rasional.
Pada akhirnya Dechiperisme menyatakan bahwa tuntutan sejarah abad ke-21 bukanlah mempertahankan kejayaan rezim-rezim lama ataupun membangun kembali bangunan politik yang telah runtuh, melainkan menciptakan resonansi baru antara Hukum Rasional Perubahan dengan politik otentik yang benar-benar berpijak pada kehidupan konkret manusia.
Inilah titik ketika politik tidak lagi menjadi alat dominasi, tetapi berubah menjadi kehendak bersama untuk membangun basis material peradaban manusia yang otentik.
Selama resonansi tersebut terus bergerak sejajar dengan Hukum Rasional Peralihan Sejarah, maka setiap patahan sejarah akan menjadi jalan lahirnya peradaban baru, bukan sekadar reruntuhan yang diwariskan kepada generasi berikutnya. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 13 Agustus 2026





