Opini: Filsafat Politik
Kolonialisme, Imperialisme, dan Feodalisme, Sebuah Konsekuen Historis
Oleh Djoko Sukmono
Imperialisme telah konkret menjadi institusi dengan liberalisasinya yang bernama ‘Institusionalisasi’.
Institusionalisasi ini adalah kerangkeng raksasa dengan sistem sosialnya bernama ‘Post Delivered Order’. Dia memiliki cengkeraman yang runcing, tajam dan mengerikan.
Post Modernisme berada pada posisi esensinya yang stagnan. Hal yang sedemikian berakibat kepada terjedahnya Transhistorisitas manusia di dalam Men-Dunia.
Dunia sosial telah gagal dalam Proses menjadi dan cenderung berada pada posisi kesia-siaan dan tidak menjadi apapun.
Kepanikan sosial ini menimbulkan Semacam Aufklarung yang konyol. Misalnya kelimpahan produksi dijadikan instrumen pengelabuhan yang manipulatif. Distribusi mengalami kulminasi dan berakibat kepada kebusukan dan kelapukan terhadap produk yang tidak terkosumsi dengan normal.
Ketika data menjadi sarana utama di dalam proses sosial maka seluruh anak manusia hanyalah sebuah kompilasi, maka kemanusiaan sudah kehilangan nilai-nilai fundamentalnya. Dan manusia adalah mekanik belaka. Ironis!
Rasio Historis memperingatkan bahwa kebingungan sosial ini akan berakibat kepada terjadinya Revolusi Sosial yang tak terbayangkan.
Inilah akibat dari Imperialisme.
Imperialisme telah menjadi Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati, dan walikota.
Sedangkan yang diakibatkan oleh kolonialisme adalah budaya yang telah menjadi pola pikir. Kolonialisme telah menjadi kolonialis-kolonialis konkret.
Mereka adalah koruptor!
Yang diakibatkan oleh Feodalisme adalah suatu kondisi phychosocial yang membentuk pola-pola perilaku. Mereka adalah orang-orang yang menjalankan tugas dan fungsi sebagai tokoh yang bergaya ‘Adigang Adigung Adiguno’. Inilah yang menjadi embrio NEPOTISME.
Sedangkan Liberalisme melahirkan liberalis-liberalis KOLOTIF. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 22 Juli 2025
Note:
Djoko Sukono adalah penulis dan filsuf sosial





