Aufklärung Sebagai Jalan Sejarah Bangsa

Aufklärung Sebagai Jalan Sejarah Bangsa

Filsafat Sosial Politik:

Aufklärung Sebagai Jalan Sejarah Bangsa
Djoko Sukmono

Aufklärung adalah jalan sejarah yang harus ditempuh oleh seluruh elemen bangsa dan seluruh komponen masyarakat serta rakyat Indonesia. Ia bukan pilihan, bukan wacana akademik yang dapat dinegosiasikan, melainkan keharusan historis.

Aufklärung adalah tuntutan rasional sejarah kepada bangsa yang telah terlalu lama hidup dalam kesadaran yang kabur, kompromistis, dan patologis.

Aufklärung adalah pencerahan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pencerahan bukan berarti menjadi “cerdas” secara teknis, bukan pula sekadar peningkatan literasi administratif.

Pencerahan adalah keberanian kolektif untuk menggunakan rasio secara mandiri, tanpa tunduk pada mitos kekuasaan, kultus individu, maupun dogma ideologis yang dipelihara demi stabilitas semu.

Aufklärung adalah restrukturisasi dan rekonstruksi. Restrukturisasi berarti membongkar bangunan kesadaran lama yang telah lapuk: cara berpikir feodal, relasi kuasa yang tidak rasional, serta mekanisme politik yang hanya melayani kepentingan segelintir elite.

Rekonstruksi berarti membangun ulang kesadaran baru yang berlandaskan rasionalitas, keberanian moral, dan tanggung jawab historis.

Aufklärung adalah pencucian kekotoran sejarah. Kerak-kerak sejarah yang menggumpal di tubuh bangsa Indonesia bukanlah warisan netral, melainkan residu penindasan, kompromi, dan pengkhianatan terhadap cita-cita kemerdekaan.

Kerak itu telah menimbulkan penyakit kronis yang menggerogoti kehidupan politik, sosial, dan kultural bangsa secara sistemik.

Penyakit kronis itu tidak bersifat individual, melainkan struktural. Ia menular melalui institusi, diwariskan melalui budaya politik, dan direproduksi melalui pendidikan serta praktik kekuasaan sehari-hari.

Inilah sebabnya mengapa bangsa ini tampak berjalan, tetapi sesungguhnya stagnan; tampak merdeka, tetapi sesungguhnya terikat.

Aufklärung abad ke-21, pada tahun 2026 ini, bukan Aufklärung model Eropa abad pertengahan yang berhadapan dengan dominasi gereja dan metafisika teologis.

Aufklärung hari ini berhadapan dengan bentuk penindasan yang jauh lebih halus, lebih canggih, dan lebih berbahaya: borok politik yang menyamar sebagai demokrasi, menyaru sebagai stabilitas, dan berkamuflase sebagai kepentingan nasional.

Borok politik bangsa Indonesia bukan sekadar praktik korupsi, bukan pula semata-mata penyalahgunaan kekuasaan.

Borok politik adalah kondisi kesadaran yang rusak, di mana ketidakadilan diterima sebagai kewajaran, kebohongan dianggap strategi, dan pengkhianatan dipoles sebagai kompromi.

Borok ini hidup karena dilindungi oleh bahasa moral palsu dan legitimasi prosedural.

Karena itu, Aufklärung hari ini tidak cukup dengan reformasi kosmetik. Ia menuntut peniadaan. Peniadaan terhadap penyakit kronis bangsa yang bernama borok politik.

Peniadaan ini bukan metafora, melainkan tindakan historis yang tegas. Borok politik tidak bisa disembuhkan dengan obat penenang, tidak bisa dipulihkan dengan tambal sulam kebijakan.

Ia hanya bisa diakhiri dengan diputus, dilenyapkan, atau ditinggalkan bersama kesadaran lama yang menopangnya.

Pilihan sejarahnya jelas: bangsa ini mati perlahan bersama borok politiknya, atau bangsa ini hidup dengan meniadakan borok politik itu melalui tindakan-tindakan radikal yang rasional.

Radikal di sini bukan brutal, melainkan menyentuh akar. Akar dari krisis bangsa ini adalah kesadaran politik yang korup, oportunistik, dan tidak bermoral secara rasional.

Borok politik itu telah melekat di dalam setiap jiwa anak-anak bangsa Indonesia. Ia hidup dalam sikap permisif, dalam pembenaran terhadap ketidakadilan, dalam kekaguman pada kekuasaan tanpa etika, dan dalam ketakutan untuk berbeda. Ia hidup dalam kebiasaan “asal aman”, “asal jalan”, dan “asal dapat bagian”.

Maka Aufklärung bukan hanya tugas negara, bukan hanya proyek elite intelektual, melainkan perjuangan kesadaran kolektif.

Ia menuntut keberanian individu untuk memutus rantai kepatuhan irasional, dan keberanian kolektif untuk menata ulang kehidupan bersama berdasarkan rasio dan keadilan konkret.

Aufklärung adalah tindakan pembebasan. Bukan pembebasan dari luar, melainkan pembebasan dari dalam: dari ketakutan, dari kebodohan yang disengaja, dan dari kepalsuan moral yang diwariskan.

Tanpa Aufklärung, bangsa ini hanya akan terus mengulang sejarah sebagai tragedi, tanpa pernah naik ke tingkat kesadaran yang lebih tinggi.

Aufklärung adalah syarat mutlak bagi bangsa yang ingin hidup sebagai bangsa yang berdaulat secara rasional, bukan sekadar berdaulat secara administratif. ***)

Posted: saeinahnews.com
Surabaya, 5 Januari 2026

Note:
Soekarno sebagai manusia metodologis menerapkan aufklärung melalui pidato terstruktur yang membangkitkan kesadaran kolektif rakyat kecil, menghubungkan informasi-komunikasi Eropa dengan revolusi nasional Indonesia via dialog rasional.

Relevansi Sejarah BangsaDi Indonesia, aufklärung menjadi jalan sejarah melalui gerakan anti-kolonial yang mengadopsi liberalisme dan nasionalisme, mendorong solidaritas organik seperti dalam kesadaran kolektif Durkheim untuk negara kesatuan.

https://www.pijarbelajar.id/blog/latar-belakang-aufklarung-dan-dampaknya?utm_source=perplexity