Sumpah Pemuda Bukan Sekadar Seremoni, Tapi Panggilan Zaman

Sumpah Pemuda Bukan Sekadar Seremoni, Tapi Panggilan Zaman

Sumpah Pemuda Bukan Sekadar Seremoni, Tapi Panggilan Zaman
Oleh: Kadir Wahyudi

Sore, di warkop dekat rumah, biasa saya nongkrong bersama teman-teman kampoeng tapi tidak kampoengan. Ngomong ngalur ngidul tapi tidak blakrak’an.

Mataku terhenti di sebuah artikel yang ekspos Sri Rahayu. Ia ibuku, temanku dan juga seniorku yang terbaca dari unggahan Gesuri.id, tentang _sumpah pemuda_.

Dan, saya tertarik untuk menukis esai untuk Sri Rahayu, seniorku.

Kita tau bahwa di setiap 28 Oktober, kita kembali mengingat tiga kalimat yang mengubah arah sejarah bangsa: _bertumpah darah satu, berbangsa satu, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia_.

Namun, apakah Sumpah Pemuda hari ini hanya berhenti sebagai upacara, lomba pidato, dan unggahan di media sosial? Pertanyaan inilah yang coba dijawab oleh Wasekjen DPP PDI Perjuangan Bidang Kerakyatan, Sri Rahayu.

Baginya, Sumpah Pemuda bukan hura-hura.

“Maknanya tidak hanya sekadar hura-hura, tetapi memaknai bagaimana peran anak muda sekarang ini di masa-masa yang akan datang yang merupakan generasi penerus bangsa,” ujar Sri Rahayu.

Kalimat itu sederhana, tapi menohok. Di tengah gempuran teknologi, tren viral, dan distraksi digital, banyak anak muda yang hafal sejarah, tapi lupa perannya. Kita bangga menyebut Indonesia negara besar, dengan ribuan suku dan ratusan bahasa daerah, namun seringkali abai pada esensi persatuan itu sendiri.

Sri Rahayu mengingatkan, nilai Sumpah Pemuda justru semakin relevan hari ini. Bukan karena kita harus kembali ke 1928, tetapi karena semangatnya harus diterjemahkan dalam bahasa zaman.

Dulu pemuda berjuang dengan rapat rahasia dan selebaran. Hari ini, perjuangan bisa lewat karya, inovasi, konten edukatif, teknologi, hingga gerakan sosial. Bentuknya boleh berubah, tapi tujuannya tetap sama: terlibat aktif dalam pembangunan bangsa.

“Sangat relevan. Hari Sumpah Pemuda itu tidak hanya sekadar saja, tetapi bagaimana menyemangati anak-anak muda untuk tetap berpikir dan ikut terlibat aktif dalam pembangunan negara,” katanya.

Di sinilah letak tantangan kita. Indonesia tidak kekurangan anak muda cerdas. Yang kita butuhkan adalah anak muda yang mau terlibat. Yang tidak hanya pintar mengkritik dari jauh, tapi mau turun, bekerja, dan memberi solusi sesuai kemampuannya.

Memahami tiga ikrar Sumpah Pemuda, menurut Sri Rahayu, harus diwujudkan dalam laku harian. Menjunjung tanah air bukan berarti menolak budaya daerah, justru menghargai keberagaman itu sebagai kekuatan.

Berbahasa satu, Indonesia, bukan berarti melupakan bahasa ibu, tapi menjadikannya jembatan persatuan di tengah perbedaan.

Indonesia yang besar ini tidak akan maju hanya karena segelintir orang di pemerintahan. Ia akan maju jika generasi penerusnya sadar bahwa mereka adalah pemilik masa depan.

Maka, Sumpah Pemuda seharusnya tidak berhenti pada tanggal 28 Oktober. Ia harus hidup setiap hari, dalam cara kita berpikir, bekerja, dan berkontribusi untuk Indonesia.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak hanya untuk dikenang, tetapi untuk dilanjutkan. ***)

Posted: sarinahnews.com
Malang, 25 Oktober 2026

Referensi: gesuri.id: Sri Rahayu Ajak Generasi Muda Maknai Sumpah Pemuda dengan Berperan Aktif dalam Pembangunan Bangsa