Filsafat Politik
MEMBACA KEADAAN YANG GELAP
Oleh Joko Sukmono
– Ancaman terbesar dalam sejarah umat manusia sesungguhnya bukanlah perang itu sendiri, melainkan hubungan antar negara yang dibangun di atas kepentingan yang saling menyusupi.
Keberadaan sosial politik hari ini dibacakan oleh Dechiperisme sebagai sebuah keadaan yang tidak lagi mampu dimengerti oleh institusinya sendiri. Bahkan apabila hari ini disebut sebagai sebuah zaman, maka zaman itu telah kehilangan kemampuan untuk membaca dirinya sendiri.
Dunia sosial politik bergerak, tetapi tidak mengetahui ke mana ia bergerak. Institusi bekerja, namun tidak lagi memahami fungsi historis yang menopang keberadaannya.
Para pelaku politik masih berbicara tentang masa depan, tetapi kehilangan kemampuan untuk menjelaskan masa kini. Dalam pembacaan Dechiperisme, inilah gejala awal dari keruntuhan kesadaran politik suatu peradaban.
Fenomena tersebut ditandai oleh kejenuhan para pelacur politik terhadap situasi batas sosial yang akut. Mereka berada di tengah pusaran krisis yang tidak mampu mereka pahami, tidak mampu mereka baca, bahkan tidak mampu mereka namai. Akibatnya mereka meninggalkan ruang-ruang terhormat yang dahulu mereka kuasai.
Mereka meninggalkan singgasana kekuasaan sambil membawa sebagian besar energi politik yang selama ini disembunyikan di dalam goa-goa kekuasaan. Yang tersisa hanyalah prosedur tanpa jiwa, institusi tanpa otoritas, dan simbol tanpa daya hidup.
Ada gelap, ada kegelapan, dan ada penggelapan. Ketiganya berbeda namun saling bertaut di dalam sejarah. Gelap adalah keadaan yang wajar dan dapat diatasi dengan cahaya. Kegelapan masih memungkinkan manusia mencari orientasi baru.
Namun penggelapan adalah sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Penggelapan bukanlah ketiadaan cahaya, melainkan penghancuran kesadaran terhadap keberadaan cahaya itu sendiri.
Dalam konstruksi Dechiperisme, penggelapan merupakan bentuk disidentifikasi sosial politik, yaitu keadaan ketika manusia tidak lagi mampu membedakan antara kenyataan dan ilusi, antara substansi dan simbol, antara sejarah dan propaganda.
Dalam keadaan demikian, segala bentuk pembaruan politik menjadi kehilangan maknanya. Reformasi hanya menjadi pergantian wajah. Revolusi berubah menjadi perubahan administrasi.
Pergantian rezim hanya menghasilkan reproduksi krisis dalam bentuk yang berbeda. Karena itu Dechiperisme menyatakan bahwa tuntutan sejarah berikutnya bukanlah reformasi, melainkan penguasaan total terhadap situasi penggelapan itu sendiri.
Sebab selama akar penggelapan tidak disentuh, maka setiap upaya penyelamatan hanya akan memperpanjang umur penyakit sosial yang sedang menggerogoti tubuh peradaban.
Dalam konteks politik global hari ini, penggelapan tersebut hadir dalam bentuk negosiasi yang terus-menerus ditunda. Dunia internasional masih berbicara tentang perdamaian, diplomasi, stabilitas, dan kerja sama global.
Namun dalam pembacaan Dechiperisme, seluruh istilah tersebut telah kehilangan daya ontologisnya. Negosiasi tidak lagi menjadi sarana penyelesaian konflik, melainkan mekanisme untuk menunda keputusan sejarah.
Pengalihan isu dilakukan terus-menerus agar luka historis yang menganga tidak pernah benar-benar disentuh. Akibatnya dunia sosial politik memasuki situasi batas yang kabur, buram, dan tertutupi oleh lapisan kepentingan yang tidak berujung.
Dechiperisme menyebut keadaan ini sebagai fase historis ultimasif, yaitu suatu keadaan ketika sejarah telah mencapai puncak ketegangannya namun tidak ditemukan keberanian eksistensial politik yang otentik untuk mengambil keputusan.
Semua pihak mengetahui adanya krisis, tetapi tidak seorang pun memiliki keberanian untuk bertindak melampaui batas-batas prosedural yang telah membatu.
Konflik Timur Tengah merupakan salah satu manifestasi paling nyata dari situasi tersebut. Dalam pembacaan Dechiperisme, tindakan politik eksistensial yang otentik selalu berhenti pada memorandum, perjanjian, kesepakatan, atau konferensi.
Dunia internasional seolah-olah bergerak, tetapi sesungguhnya hanya berputar di tempat yang sama. Perdamaian dijadikan slogan, sementara realitas konflik tetap berlangsung.
Memorandum tidak lagi menjadi instrumen penyelesaian, melainkan instrumen penggelapan terhadap realitas politik konkret yang sedang berlangsung.
Di dalam memorandum itu tersembunyi berbagai kepentingan yang saling bertubrukan. Perdamaian dijadikan bahasa resmi, namun konflik tetap dipelihara sebagai instrumen politik.
Oleh sebab itu Dechiperisme menyebutnya sebagai kondisi disnegosiatif, yaitu keadaan sosial politik yang sengaja digantung agar tidak mencapai titik penyelesaian maupun titik kehancuran. Dunia dipaksa hidup dalam ketidakpastian yang permanen.
Ancaman terbesar dalam sejarah umat manusia sesungguhnya bukanlah perang itu sendiri, melainkan hubungan antar negara yang dibangun di atas kepentingan yang saling menyusupi.
Dari hubungan semacam itu lahirlah infiltrasi intelegent solid state, yaitu tindakan sistematis untuk memengaruhi kepemimpinan regional agar kehilangan pusat gravitasinya sendiri. Pemimpin tetap ada, negara tetap ada, institusi tetap berdiri, namun daya politiknya telah kosong. Yang tersisa hanyalah simbol-simbol kekuasaan yang bergerak tanpa arah.
Inilah penggelapan politis yang paling berbahaya. Sebab ia tidak menghancurkan institusi secara langsung, melainkan mengosongkan makna yang terkandung di dalam institusi tersebut.
Hari ini dunia sosial politik berada dalam situasi misteri yang tidak terbaca. Ketidaksesuaian antara memorandum dan realitas konkret semakin melebar.
Lembaga-lembaga baru terus dibentuk, tetapi tidak ditopang oleh institusionalisasi yang kuat. Struktur baru lahir sebelum struktur lama benar-benar mati. Akibatnya dunia dipenuhi oleh tumpukan institusi yang saling bertabrakan dan saling melemahkan.
Dalam bahasa Dechiperisme, keadaan ini disebut sebagai situasi paradoksal. Sebuah keadaan ketika manusia berusaha menyelesaikan krisis dengan instrumen yang justru menjadi sumber krisis itu sendiri.
Segala bentuk intervensi akhirnya hanya bersifat kosmetik. Ia menyentuh gejala tetapi gagal menyentuh akar persoalan. Ia meredam suara ledakan tanpa pernah menyingkirkan bahan peledaknya.
Lebih jauh lagi Dechiperisme menunjukkan bahwa dunia sosial politik hari ini ditentukan oleh apa yang disebut sebagai esensialisasi kontingensi, yaitu kecenderungan untuk terus membangun lembaga-lembaga baru sambil mempertahankan lembaga lama yang telah membusuk.
Tidak ada keberanian politik untuk membongkar struktur usang yang sudah kehilangan legitimasi historisnya. Karena itu penyakit sosial menyebar dari satu sektor ke sektor lainnya seperti infeksi yang tidak pernah diobati secara tuntas.
Inilah kegagalan rezim global dalam menjalankan politik eksistensial yang otentik. Mereka bukan hanya gagal menyelesaikan krisis, tetapi bahkan gagal memahami sifat dasar dari krisis yang sedang mereka hadapi. Mereka kehilangan kemampuan membaca kegelapan yang mereka ciptakan sendiri.
Dechiperisme menghadapi keadaan tersebut melalui apa yang disebut sebagai metodologi provokasi politis. Sebuah metode yang bertujuan meniadakan seluruh unsur yang menjadi penyebab utama kematian kehidupan sosial politik.
Dalam bentuknya yang paling radikal, metode ini disebut sebagai diskontruksialisasi struktural korelatif esensial, yaitu tindakan eksistensial politik yang berusaha membongkar akar persoalan tanpa harus menunggu legitimasi dari negosiasi politik yang tidak berujung.
Lebih dalam lagi Dechiperisme menunjukkan bahwa pelacur kekuasaan yang bernama keadilan telah meninggalkan ruang terhormatnya. Politik pun mengalami nasib yang sama. Namun energi kekuasaan tidak pernah hilang.
Ia tetap ada, tetap hidup, tetap menunggu medium baru untuk menampakkan dirinya. Yang hilang hanyalah para pengembannya. Yang runtuh hanyalah simbol-simbol yang selama ini mengklaim dirinya sebagai representasi dari kekuasaan itu.
Para pelaku politik yang dahulu ditopang oleh energi tersebut kini terhempas ke jurang sejarah yang dalam. Mereka kehilangan orientasi, kehilangan legitimasi, dan kehilangan kemampuan untuk memahami perubahan yang sedang berlangsung. Akibatnya dunia sosial politik terjebak dalam kesia-siaan yang panjang dan melelahkan.
Namun bahkan di dalam kegelapan yang paling pekat sekalipun masih terdapat kehendak untuk memahami. Dechiperisme menyebut usaha itu sebagai Dechipering, yaitu tindakan membaca ulang realitas dengan ketajaman ontologis dan keberanian eksistensial.
Melalui pembacaan tersebut, Dechiperisme melihat bahwa kondisi phykilogis sosial politik dunia sedang mencari saluran historis baru, sebuah jalur yang mampu menghubungkan kembali realitas konkret dengan arah sejarah yang lebih mendasar.
Karena itu Dechiperisme menyatakan secara tegas bahwa tidak ada kekuatan apa pun yang mampu menghalangi kehendak sejarah. Institusi dapat menundanya. Kekuasaan dapat mengaburkannya. Propaganda dapat menyembunyikannya. Namun sejarah selalu menemukan jalannya sendiri untuk bergerak.
Malam ini adalah malam yang gelap. Tetapi di balik kegelapan itu Dechiperisme melihat sesuatu yang lebih besar daripada sekadar krisis. Ia melihat keruntuhan mekanisme global yang telah membatu. Ia melihat struktur sosial politik yang keras namun berkarat. Ia melihat institusi-institusi dunia yang perlahan berubah menjadi fosil historis, berdiri tegak namun kehilangan fungsi dan makna.
Dan ketika kebrutalan penggeledahan substansial terus berlangsung, dunia memang sedang membentuk konstruksi baru. Akan tetapi konstruksi itu lahir dalam tekanan historis yang luar biasa besar. Ia kehilangan daya ontologisnya bahkan sebelum mencapai kematangannya. Dominasi struktur sosial politik tidak lagi peduli terhadap keruntuhan kehidupan manusia yang menjadi fondasinya.
Dalam konstruksi Dechiperisme, keadaan tersebut dinamakan sebagai dishumanisasi esensial, yaitu suatu fase sejarah ketika manusia tidak lagi menjadi tujuan dari peradaban, melainkan hanya menjadi material yang dikorbankan demi mempertahankan keberlangsungan struktur yang telah kehilangan jiwanya sendiri.
Dan di titik itulah, menurut Dechiperisme, sejarah sedang berdiri di ambang sebuah peralihan besar yang belum selesai menampakkan wajahnya. Sebuah peralihan yang tidak lagi bertanya tentang siapa yang berkuasa, melainkan tentang apakah peradaban itu sendiri masih memiliki alasan untuk terus dipertahankan.
Dan oleh karena itu Dechiperisme menyatakan bahwa keadaan yang gelap ini bukanlah akhir dari sejarah, melainkan pertanda bahwa sejarah sedang mempersiapkan saluran historis yang baru bagi dirinya sendiri.
Segala bentuk institusi yang telah membusuk, segala struktur yang kehilangan daya ontologisnya, dan segala otoritas yang hidup dari penggelapan realitas akan dihantarkan oleh Hukum Rasional Sejarah menuju situasi batasnya masing-masing.
Dunia sosial politik hari ini boleh saja tampak kokoh, namun kekokohan itu hanyalah lapisan terluar dari bangunan yang retak. Dan ketika retakan itu mencapai titik ultimasi historisnya, maka yang runtuh bukan hanya sistem dan institusinya, melainkan seluruh ilusi yang selama ini menopang keberadaannya.
Inilah keadaan yang gelap itu.
Gelap yang tidak lagi menunggu cahaya.
Gelap yang sedang menunggu keputusan sejarah.
Dan menurut Dechiperisme, keputusan sejarah itu tidak pernah dapat ditunda. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 18 Juni 2026





