Runtuhnya Diplomasi, Limbah Sosial dan Kesiasiaan Sosial

Runtuhnya Diplomasi, Limbah Sosial dan Kesiasiaan Sosial

Filsafat Politik

Runtuhnya Diplomasi, Limbah Sosial dan Kesiasiaan Sosial
Oleh Joko Sukmono

– (Pengembangan pembacaan dechiperisme terhadap Badai Sosial politik, Depresi Sosial dan Luka Sejarah II)

“Menurut Dechiperisme, akar dari badai sosial politik, depresi sosial, dan luka sejarah bukan semata-mata terletak pada kegagalan kebijakan, tetapi pada kesalahan mendasar dalam memahami hakikat institusi, …..”

oo0oo

Keruntuhan diplomasi pada abad ke-21 bukan lagi sekadar kegagalan berbagai negara mencapai kesepakatan politik, melainkan penanda bahwa dunia sosial politik telah memasuki sebuah fase historis yang jauh lebih dalam daripada sekadar kebuntuan negosiasi.

Dalam pembacaan Dechiperisme, eskalasi perang di Timur Tengah, khususnya konflik antara Iran dan Israel yang kemudian menyeret keterlibatan Amerika Serikat secara intensif, merupakan gejala bahwa mekanisme diplomasi internasional telah kehilangan kemampuan ontologisnya untuk menopang kehidupan politik global.

Perang tersebut bukan lagi dipahami sebagai konflik regional ataupun pertarungan ideologi semata, melainkan sebagai manifestasi dari apa yang dalam konstruksi Dechiperisme disebut sebagai Post Demiliterisasi Ekstrem, yaitu sebuah situasi batas sosial politik yang secara historis harus dilalui oleh umat manusia ketika seluruh instrumen negosiasi kehilangan daya hidupnya.

Pada titik ini sejarah tidak lagi bergerak melalui perundingan, kompromi, ataupun memorandum, tetapi melalui benturan-benturan eksistensial yang menentukan keberlangsungan bangsa-bangsa.

Dengan demikian perang bukanlah tujuan politik, melainkan konsekuensi dari kegagalan politik mempertahankan relevansi eksistensialnya di hadapan perubahan sejarah yang berlangsung jauh lebih cepat daripada kemampuan institusi untuk mengikutinya.

Lebih lanjut Dechiperisme menunjukkan bahwa moral politik Israel, Iran, maupun Amerika Serikat telah sampai pada apa yang dinamakan sebagai Situasi Batas Moral Politik Ultimasif.

Dalam konstruksi Dechiperisme keadaan tersebut disebut sebagai Distribusi Stadium Terminal, yaitu suatu keadaan sosial politik ideologis dan geografis yang mencekam sehingga memaksa sejarah memasuki logika peniadaan.

Pada fase ini keberadaan suatu bangsa dipertaruhkan secara menyeluruh; yang kalah menuju kehancuran, sedangkan yang bertahan tetap harus menanggung luka sejarah yang tidak terelakkan.

Oleh sebab itu konflik tersebut tidak lagi mungkin diselesaikan dengan perangkat politik konvensional karena seluruh instrumen yang tersedia telah kehilangan daya ontologisnya.

Dunia sosial politik memasuki wilayah ketika perang dipahami sebagai konsekuensi terakhir dari kebuntuan sejarah.

Menurut Dechiperisme, keadaan demikian bukan hanya mencerminkan krisis diplomasi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana moral politik global telah kehilangan keberanian eksistensialnya untuk membangun hubungan yang benar-benar terhubung dengan realitas konkret kehidupan manusia.

Dalam pembacaan Dechiperisme, tragedi Timur Tengah bukan semata-mata lahir dari pertentangan kepentingan antar negara, melainkan akumulasi historis dari dokumen, piagam, manifesto, dan ambisi politik yang selama puluhan bahkan ratusan tahun dipertahankan sebagai sumber legitimasi tindakan politik.

Israel bergerak berdasarkan konstruksi politik Zionisme beserta konsepsi Israel Raya, sementara Iran bersama berbagai kekuatan regional lainnya membangun orientasi politik yang menempatkan peniadaan Israel sebagai tujuan strategisnya.

Pada saat yang sama Amerika Serikat menjalankan kepentingan geopolitiknya melalui penguasaan sumber daya alam, pengembangan investasi, serta pemeliharaan hegemoni kawasan.

Seluruh aktor tersebut bergerak berdasarkan dokumen dan legitimasi yang mereka anggap benar. Namun menurut Dechiperisme justru dokumen-dokumen itulah yang memperpanjang tragedi politik modern karena tetap dipaksakan hidup meskipun telah kehilangan hubungan dengan realitas sosial konkret yang terus berubah.

Akibatnya, konflik tidak pernah benar-benar diselesaikan, melainkan terus direproduksi sebagai mekanisme yang mempertahankan keberlangsungan struktur politik yang telah usang.

Lebih dalam lagi Dechiperisme membacakan bahwa pada abad ke-21 persoalan ideologis politis telah mengalami pergeseran yang sangat mendasar menuju persoalan hegemoni geostrategis.

Setiap bangsa kini dituntut menentukan nasib historisnya sendiri, sebab sejarah tidak lagi memberikan ruang aman bagi bangsa-bangsa yang bergantung pada legitimasi masa lalu.

Dalam konstruksi Dechiperisme keadaan tersebut dinamakan sebagai Distraksi Sosial Politik Masif, yaitu suatu keadaan ketika seluruh struktur sosial politik dipaksa berubah karena fondasi ontologisnya telah mengalami kerapuhan yang kronis.

Luka sejarah memang menjadi konsekuensi yang tidak dapat dihindari, namun luka tersebut justru merupakan tanda bahwa hukum rasional perubahan sedang bekerja.

Oleh sebab itu konflik Timur Tengah dipandang bukan sekadar perang kawasan, melainkan pemantik revolusi sosial terbesar dalam sejarah umat manusia, yakni momentum ketika sejarah memaksa seluruh sistem lama mempertanggungjawabkan keberadaan ontologisnya.

Kemudian Dechiperisme menerangkan bahwa tindakan-tindakan politik produktif yang dijalankan oleh dunia internasional masih bergerak berdasarkan dokumen, piagam, konstitusi, maupun berbagai perangkat normatif yang sesungguhnya telah kehilangan keterhubungannya dengan realitas sosial konkret.

Pemaksaan terhadap perangkat-perangkat politik yang telah kehilangan relevansi historis tersebut justru menghasilkan apa yang dalam konstruksi Dechiperisme dinamakan sebagai Post Dishistorisasi Idiologis Politis Paradoks, yaitu suatu keadaan paradoksal ketika sejarah dipaksa bergerak dengan instrumen yang tidak lagi mampu membaca zaman yang sedang berlangsung.

Persoalan-persoalan sosial akhirnya tidak pernah memperoleh penyelesaian yang substantif, melainkan dibiarkan terurai menjadi limbah sosial yang terus menumpuk sepanjang perjalanan sejarah.

Limbah tersebut perlahan mengeras menjadi racun sosial yang merusak kemampuan masyarakat memahami dirinya sendiri sekaligus menghilangkan daya hidup institusi yang selama ini dianggap sebagai penopang peradaban.

Limbah-limbah sosial itu, menurut Dechiperisme, kini bekerja secara efektif mendistraksi kehidupan umat manusia.

Luka-luka sejarah tidak lagi menjadi milik bangsa-bangsa yang mengalami perang secara langsung, tetapi menyebar melalui krisis ekonomi, polarisasi politik, migrasi, disintegrasi sosial, hingga keruntuhan kepercayaan terhadap institusi.

Kehidupan sosial masyarakat dipenuhi residu-residu historis yang tidak pernah memperoleh penyelesaian, sehingga manusia hidup secara integral bersama racun sosial yang terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Dalam bahasa Dechiperisme keadaan demikian dinamakan sebagai Tragedi Ironitas Sosial Politik, yakni suatu keadaan sosial yang kehilangan pusat orientasi historisnya sehingga liberalisasi sosial berkembang tanpa batas, sementara kesadaran kolektif tercerai-berai ke dalam kepentingan-kepentingan yang saling bertabrakan tanpa mampu menemukan resonansi bersama.

Lebih daripada itu Dechiperisme menunjukkan bahwa perjalanan Eksistensial Politik Otentik sesungguhnya tidak pernah dijalankan oleh sistem-sistem global yang kini mendominasi dunia.

Politik otentik justru dihalangi oleh struktur-struktur yang telah membeku menjadi prosedur, regulasi, dan institusi yang kehilangan fungsi ontologisnya.

Sistem global dipandang sebagai bangkai historis yang tetap dipelihara meskipun telah membusuk, sementara dari pembusukan tersebut racun sosial terus diproduksi secara alamiah.

Oleh Dechiperisme bangkai sistem global itu dianalogikan sebagai seonggok daging busuk yang bergentayangan menjadi hantu sosial, yaitu kekuatan yang secara perlahan menghancurkan kehidupan manusia bahkan melampaui kedahsyatan perang dunia.

Bahaya terbesar bukan lagi peperangan, melainkan sistem yang mampu mempertahankan dirinya sendiri sambil terus memproduksi kehancuran tanpa pernah kehilangan legitimasi formalnya.

Di tengah keruntuhan tersebut kebebasan individu justru berkembang dengan kecepatan yang belum pernah dikenal dalam sejarah. Revolusi industri, digitalisasi, kemajuan sains, dan teknologi informasi memperluas ruang pilihan manusia secara luar biasa.

Akan tetapi Dechiperisme melihat paradoks besar di balik perkembangan itu. Manusia modern justru memasuki fase ketika kebebasan berubah menjadi kutukan yang melekat pada keberadaannya sendiri.

Semakin besar ruang kebebasan yang dimiliki, semakin besar pula beban eksistensial yang harus dipikulnya. Kebebasan kehilangan orientasi ontologisnya dan berubah menjadi ruang tanpa arah yang menguras energi historis manusia.

Oleh sebab itu Dechiperisme menyatakan bahwa spesies manusia sedang menjalani salah satu fase paling berbahaya dalam sejarahnya, yakni ketika kebebasan berkembang jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia memahami makna kebebasan itu sendiri.

Sementara itu benda-benda ekonomi terus diproduksi dalam jumlah yang melimpah melalui eksplorasi sumber daya alam dan eksploitasi manusia secara besar-besaran.

Produksi tidak dapat dihentikan, tetapi distribusi mengalami kebuntuan kronis sehingga modal menumpuk, investasi kehilangan efektivitasnya, dan daya beli masyarakat mengalami depresiasi yang terus memburuk.

Dalam konstruksi Dechiperisme keadaan demikian dinamakan sebagai Disdemanisasi, yaitu situasi ketika permintaan sosial mengalami depresiasi akut sehingga sistem ekonomi kehilangan kemampuan menyerap hasil produksinya sendiri.

Fenomena ini berkembang menjadi depresi sosial ekonomi yang pada akhirnya mempercepat lahirnya distraksi sosial politik dalam berbagai bentuknya. Dunia menghasilkan kekayaan yang semakin besar, tetapi pada saat yang sama kehilangan kemampuan mendistribusikan manfaatnya secara historis kepada kehidupan manusia.

Kesemrawutan sosial yang lahir dari seluruh proses tersebut kini melanda dunia global secara menyeluruh.

Institusi kehilangan daya narasinya, simbol kehilangan kesakralannya, legitimasi kehilangan validitasnya, bahkan kepercayaan masyarakat terhadap berbagai struktur sosial politik mengalami keruntuhan yang sangat tajam.

Menurut Dechiperisme, akar dari badai sosial politik, depresi sosial, dan luka sejarah bukan semata-mata terletak pada kegagalan kebijakan, tetapi pada kesalahan mendasar dalam memahami hakikat institusi, institusionalisasi, esensi, kontingensi struktur ontologis politik, serta pengabaian terhadap bahasa eksistensial mengenai kebebasan, pengalaman sejarah, dan tanggung jawab historis manusia.

Keseluruhan kekeliruan tersebut membentuk suatu keadaan sosial yang kehilangan arah sehingga peradaban bergerak menuju kesia-siaan historis yang semakin mendalam.

Namun demikian, Dechiperisme menegaskan bahwa tuntutan sejarah hari ini tidak lagi berpihak kepada luka-luka sejarah masa lalu yang telah membeku. Tidak ada satu pun peristiwa historis yang harus dipertahankan hanya karena status historisnya.

Masa lalu bukanlah tempat tinggal sejarah, melainkan hanya salah satu lintasan yang pernah dilaluinya. Oleh karena itu orientasi yang dituntut sejarah adalah keberanian untuk berpijak pada yang konkret dan yang otentik.

Yang konkret adalah yang sungguh-sungguh hidup dalam realitas, sedangkan yang otentik adalah keberanian eksistensial manusia untuk melanjutkan historisitasnya tanpa terikat oleh bangkai-bangkai konsepsi yang telah kehilangan daya hidupnya.

Dalam pembacaan Dechiperisme, keadaan tersebut merupakan resonansi korelatif esensial antara sistem sosial politik otentik dengan kondisi objektif psikologis sosial yang konkret.

Meskipun konsepsi ini masih berada pada wilayah ide dan belum sepenuhnya diadopsi oleh para pelaku sosial politik maupun teknokrat, Dechiperisme memperingatkan bahwa apabila pembacaan tersebut terus diabaikan, maka distraksi sosial akan menjadi keniscayaan yang tidak dapat dielakkan.

Luka sejarah yang selama ini hanya dibaca sebagai masa lalu akan berubah menjadi kenyataan yang terus dirasakan oleh seluruh anak bangsa di berbagai belahan dunia.

Dan pada saat itulah sejarah sekali lagi menunjukkan bahwa yang gagal bukanlah perubahan, melainkan manusia yang menolak memahami arah perubahan itu sendiri. ***)

Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 25 Juli 2026