Blitar, 80an: Haul Bung Karno, Megawati, dan Mata yang Melotot 

Blitar, 80an: Haul Bung Karno, Megawati, dan Mata yang Melotot 

Esai: Mata Itu

Blitar, 80an: Haul Bung Karno, Megawati, dan Mata yang Melotot 
Oleh Kadir Wahyudi

– Sekarang saya udah tua. Tapi tiap 1 Juni atau tiap ngomongin Bung Karno, saya inget Blitar 80-an itu.

Panasnya Blitar, Dinginnya Intel
Tahun 80an, tepatnya tahun berapa saya lupa, kira-kira tahun 1988-an, rekan-rekan GMNI Malang dan Surabaya terlibat langsung kepanitiaan Haul Bung Karno di Blitar yang dihadiri oleh Megawati Soekarnoputri.

Ketika saya jadi panitia Haul Bung Karno di Blitar, itu rasanya kayak main petak umpet sama negara. Umur saya masih 20an, darah masih panas. Gak pernah ada takutnya. Saya pun juga mengawasi tingkah mereka walaupun mereka terus melot ke arahku.

Ada catatan kecil yang gak kalah seremnya justru dari teman-teman GMNI sendiri. Yang saya sesalkan, kenapa GMNI ini bisa dipecahbelah dan saling berhadap-hadapan. Kelompok saya diberi trademark “GMNI Tikus” dan mereka “GMNI Jakarta”. GMNI ada dua kubu. Sekarang malah banyak. Kenapa begitu? Tau sendiri lah!

GMNI Jakarta mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah pusat hadir dalam Haul Bung Karno waktu itu. Karena saya tidak cukup kenal satu persatu teman-teman GMNI di luar Malang jadi saya dapat bimbingan menghafal satu per satu dari mereka.

Dua hari persiapan Haul Bung Karno, teman-teman dan tim panitia dari Blitar nyiapin tenda, sound system, naskah pembacaan puisi, sampai konsumsi serta akomodasi hotel sudah disiapkan.

Dari luar keliatan acara biasa: ziarah, doa, dan tabur bunga. Tapi dari dalam, tiap ngangkat spanduk “Bung Karno” rasanya kayak ngangkat dinamit. Berat dan seakan siap pecah di dadaku.

Karena di tiap sudut, ada mata intel Orba yang melot seakan mau copot itu bola matanya. Nggak ngomong. Nggak nangkep. Tapi ngeliatin terus. Dingin. Dobol.

Megawati Datang, Jantung Copot
Terus kabar nyebar: Mbak Mega datang. Suasana langsung beda. Yang tadinya bisik-bisik jadi nahan napas. Megawati jalan pelan, ziarah ke makam Bapaknya.

Kami yang panitia cuma bisa nunduk, salim, terus minggir. Di kepala mikir: “Gila, anak Bung Karno beneran ada di depan gue”. Di saat yang sama, mata intel makin melot merah. Kayak abis nenggak ciu seplastik. Maklum, gaji tentara masih 125 ribu rupiah. Matanya kayak lampu sorot.

Tapi anehnya, pas Mbak Mega naruh bunga, semua mata melot itu jadi nggak ada artinya. Yang ada cuma rasa: “Pancasila ini masih hidup bro. Masih ada yang jagain”. Rakyat dan mahasiswa tak pernah tidur menjaganya.

Pelajaran dari Mata yang Melotot
Sekarang saya udah tua. Tapi tiap 1 Juni atau tiap ngomongin Bung Karno, saya inget Blitar 80-an itu.

Intel melot ngajarin saya satu hal: kalau negara sampai takut sama ziarah dan doa, berarti yang kita ziarahi itu penting banget.
Ketakutan mereka adalah bukti bahwa nilai Bung Karno masih ngeri.

Jadi saya nggak dendam sama mata yang melot dulu. Saya malah makasih. Karena dari sorot mata yang mau copot itu, saya belajar: berjuang itu nggak harus teriak. Kadang cukup nyiapin bunga, nyapu makam, dan berani hadir. Itu aja udah bikin penguasa nggak bisa tidur.

Juni adalah bulan Bung Karno, membuat mereka gelisah tahunan. Copot jantung. Jantung mereka berdebar penuh kebencian karena doktrin Marhaenisme itu Komunisme, dari doktrin salah satu jenderal yang saat ini jenderal itu masih hidup. Jenderal bolos masuk kelas waktu pelajaran ideologi dunia. Tidak paham ideologi global.

Saat ini, saya melihat Megawati sebagai Ketua Umum DPP PDI Perjuangan sudah gak memperdulikan fitnahan receh sekelas jenderal. Partai yang ia pimpin fokus pada kegiatan sosial untuk rakyat. That all. **_)

Posted: http://sarinahnews.com_
Malang, 14 Juni 2026