Otentisitas Ontologis Politik dan Tindakan Eksistensial Politik

Otentisitas Ontologis Politik dan Tindakan Eksistensial Politik

Filsafat Politik

Otentisitas Ontologis Politik dan Tindakan Eksistensial Politik
Oleh Joko Sukmono

– tindakan eksistensial politik otentik bukanlah tindakan yang selesai dalam satu momentum, melainkan tindakan yang terus-menerus diperbarui oleh tantangan sejarah

Ada sebuah klaim eskatologis yang menyatakan bahwa kebenaran itu konkret di dalam ruang dan waktu serta hadir secara riil di dalam sejarah. Klaim tersebut bukan sekadar pernyataan metafisis yang menggantung di langit kesadaran manusia, melainkan telah memperoleh resonansi historis yang luas dan mendalam.

Keberadaannya menampakkan diri melalui pengakuan iman, praktik kehidupan, pengorbanan eksistensial, serta pembentukan komunitas yang bertahan melintasi zaman. Apakah itu? Ia adalah iman Kristiani. Siapakah mereka? Mereka adalah para penganutnya yang hingga hari ini tetap hadir sebagai kenyataan sosial yang konkret.

Dalam pembacaan dechiperisme, keberadaan iman Kristiani adalah fakta historis yang tidak dapat disangkal, sedangkan para penganutnya adalah manifestasi konkret dari sebuah keyakinan yang telah berhasil menyeberangi ruang dan waktu.

Namun demikian, konstruksi dechiperisme menyatakan bahwa fenomena tersebut masih berada pada posisi yang belum sepenuhnya terjelaskan secara eksistensial, ontologis, dan epistemik.

Oleh karena itu, ia ditempatkan pada apa yang disebut sebagai pembedahan filosofis, yakni sebuah upaya untuk menyingkap hubungan antara kebenaran, keberadaan, dan sejarah secara lebih mendasar.

Kemudian dechiperisme menerangkan bahwa kebenaran itu, dalam satu momentum historis yang sangat menentukan, pernah hadir secara konkret sebagai manusia biologis yang hidup di tengah kehidupan sosial manusia.

Akan tetapi, dari keberadaan biologis tersebut muncul suatu dimensi yang melampaui batas-batas kemanusiaan biasa. Ia dikenal sebagai Yesus dalam tradisi Yunani, Yosua dalam tradisi Ibrani, dan Isa dalam tradisi Arab.

Dalam pembacaan dechiperisme, peristiwa ini merupakan sebuah kontingensi historis yang misterius, yakni sebuah keadaan ketika yang transenden memasuki wilayah yang imanen dan hadir secara konkret dalam sejarah manusia.

Dari situ lahir sugesti yang kuat, imitasi yang luas, serta pembentukan model eksistensial yang romantis dan revolusioner sekaligus. Keberadaan ontologis yang semula bersifat individual kemudian terdistribusi menjadi kesadaran kolektif yang melahirkan peradaban, kebudayaan, dan institusi yang terus bergerak melintasi zaman. Dalam konstruksi dechiperisme, keadaan ini disebut sebagai distribusi keberadaan ontologis esensial.

Inilah yang kemudian oleh dechiperisme dinyatakan sebagai bentuk otentisitas ontologis politik yang berdimensi religius. Sebab sebuah keyakinan yang pada awalnya hadir sebagai pengalaman individual akhirnya menjelma menjadi kekuatan sosial dan politik yang nyata.

Ia membangun lembaga, menciptakan struktur, membentuk otoritas, bahkan melahirkan negara yang memiliki karakter unik dalam sejarah umat manusia. Negara itu adalah Vatikan dengan Paus sebagai kepala negaranya.

Dalam pembacaan dechiperisme, dimensi religius tersebut telah berhasil melampaui batas spiritualitas individual dan memasuki wilayah politik secara konkret. Oleh karena itu, Vatikan dipahami bukan sekadar sebagai negara kecil dalam pengertian geografis, melainkan sebagai simbol keberhasilan sebuah gagasan eksistensial dalam memperoleh bentuk ontologis yang stabil di dalam sejarah.

Kondisi demikian oleh dechiperisme disebut sebagai penaklukan kemanusiaan total, yakni keadaan ketika keyakinan berhasil mengorganisasikan kesadaran kolektif menjadi kekuatan sosial dan politik yang solid, terstruktur, dan relatif otentik.

Berbeda dengan itu, bentuk negara-negara modern yang hari ini terrepresentasikan melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) justru menunjukkan karakter yang berlawanan.

Dalam pembacaan dechiperisme, keberadaan institusi global tersebut ditopang oleh struktur yang kompleks, rumit, dan sangat bergantung pada legitimasi administratif. Akan tetapi, kompleksitas tersebut tidak serta-merta menghasilkan otentisitas.

Sebaliknya, ia justru menutupi kerapuhan fundamental yang terkandung di dalamnya. Dechiperisme menyatakan bahwa institusionalisasi global telah berkembang menjadi institusionalisasi yang ilusif, yakni sebuah keadaan ketika struktur dipertahankan meskipun substansinya terus mengalami erosi.

Regulasi demi regulasi diproduksi, konvensi demi konvensi ditandatangani, namun berbagai krisis kemanusiaan tetap berlangsung tanpa penyelesaian yang memadai.

Oleh sebab itu, kondisi tersebut disebut sebagai disotentisitas ontologis politik, yakni keadaan ketika sebuah struktur politik kehilangan hubungan eksistensialnya dengan realitas sosial konkret yang seharusnya dilayaninya.

Dalam pada itu, dechiperisme menyatakan bahwa moral politik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) adalah moral positivistik yang relatif. Ia tidak bertumpu pada keberanian eksistensial untuk menentukan arah sejarah, melainkan pada prosedur, konsensus administratif, dan mekanisme birokratis yang sering kali lumpuh ketika berhadapan dengan kenyataan.

Dalam konstruksi dechiperisme, moral semacam ini justru menjadi salah satu penyebab utama lahirnya konflik dan krisis global. Sebab ketika institusi internasional kehilangan kemampuan untuk bertindak secara otentik, maka hukum berubah menjadi formalitas dan keadilan berubah menjadi slogan.

Situasi demikian disebut sebagai warning terhadap manifesto standarisasi kehidupan sosial internasional, yakni sebuah tanda bahwa proyek besar penyeragaman tata dunia telah kehilangan daya hidupnya dan perlahan bergerak menuju titik kejenuhan historis.

Lebih lanjut lagi, dechiperisme menunjukkan bahwa progresivitas kekuatan-kekuatan besar dunia, terutama Amerika Serikat (AS) dan Israel, sering kali berlangsung tanpa hambatan yang berarti dari institusi global.

Berbagai bentuk tekanan politik, intervensi, intimidasi, hingga penggeledahan substansial terhadap negara-negara lain terus berlangsung, sementara respons kelembagaan internasional tampak lemah dan tidak memadai.

Dalam pandangan dechiperisme, keadaan tersebut menunjukkan bahwa otoritas global telah kehilangan kemampuan eksistensialnya untuk bertindak. Padahal, secara teoritis, institusi seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memiliki legitimasi politik untuk mengambil tindakan administratif maupun diplomatik.

Namun ketika tindakan tersebut tidak hadir, yang muncul justru pembiaran terhadap berbagai bentuk dominasi global. Oleh karena itu, konstruksi dechiperisme menyebut keadaan ini sebagai pembiaran terhadap kebrutalan penjarahan global.

Dari situasi tersebut, dechiperisme menyimpulkan bahwa moral politik yang tunduk sepenuhnya pada hegemoni global adalah bentuk akut dari moral budak. Dunia sosial-politik internasional kini memasuki fase yang semakin membahayakan bagi keberlangsungan kehidupan manusia secara keseluruhan.

Kompleksitas krisis global tidak lagi dapat dibendung oleh perangkat-perangkat lama yang telah kehilangan daya jelajah historisnya. Konflik horizontal meledak di berbagai kawasan, disintegrasi sosial meningkat, dan legitimasi institusi terus mengalami kemerosotan.

Dalam pembacaan dechiperisme, dunia sedang menunggu sebuah ledakan historis yang besar, sebuah momentum yang akan meruntuhkan berbagai status yang selama ini dianggap permanen.

Situasi tersebut dinamakan sebagai situasi proyektif distatuta politik, yakni keadaan ketika seluruh bentuk status dan legitimasi politik bergerak menuju titik pembatalannya sendiri. Sebab pada akhirnya tidak ada status politik yang benar-benar abadi; semua tunduk pada hukum rasional sejarah yang terus bergerak tanpa henti.

Sementara itu, kemajuan sains dan teknologi yang ditopang oleh revolusi industri justru membawa rezim global menuju kontradiksi baru yang semakin sulit dikendalikan. Kemampuan teknologis meningkat secara eksponensial, tetapi kemampuan institusional untuk mengelolanya justru mengalami kemunduran.

Dunia memasuki fase ketika hampir seluruh aspek kehidupan berubah menjadi industri. Keuangan menjadi industri. Pariwisata menjadi industri. Pertanian menjadi industri. Pendidikan menjadi industri. Kebudayaan menjadi industri. Bahkan pemerintahan dan masyarakat itu sendiri bergerak menuju bentuk industrialisasi yang semakin total.

Dalam pembacaan dechiperisme, keadaan ini menunjukkan bahwa konsepsi lama tentang kehidupan sosial telah berubah menjadi fosil historis. Yang muncul sekarang adalah lapisan sosial baru bernama industrialisasi global.

Oleh karena itu, kondisi ini disebut sebagai diskualifikasi eksistensial politik otentik global, yakni keadaan ketika konsep-konsep lama kehilangan relevansinya sementara bentuk baru kehidupan sosial belum sepenuhnya memperoleh legitimasi ontologisnya.

Lebih dalam lagi, dechiperisme menunjukkan bahwa keruntuhan tatanan global tidak hanya terjadi pada sektor politik. Rezim keagamaan mengalami fragmentasi. Rezim kebudayaan kehilangan pusat orientasinya. Rezim sosial mengalami keterpecahan yang semakin tajam.

Rezim keuangan menghadapi ketidakstabilan yang kronis. Bahkan rezim politik sendiri mengalami konstraksi yang keras dan berat. Dalam konstruksi dechiperisme, keadaan ini disebut sebagai situasi kegentingan global, yakni sebuah fase ketika dunia sosial telah ditinggalkan oleh sistem yang selama ini menggerakkannya.

Struktur masih berdiri, tetapi daya hidupnya telah menurun secara drastis. Dari titik inilah sejarah mulai memaksakan kehendaknya kepada segala sesuatu yang masih memiliki vitalitas original dan otentik untuk bergerak menuju saluran historis baru yang disebut sebagai hukum rasional peralihan.

Dechiperisme kemudian membacakan bahwa sejarah tidak pernah berhenti pada satu bentuk peradaban tertentu. Ketika sebuah sistem mencapai titik kejenuhan, sejarah akan mencari saluran baru bagi keberlangsungannya.

Dalam konteks kontemporer, sejarah tampaknya sedang bergerak menuju dominasi rezim industri global dengan segala perangkat standarisasi kehidupannya. Masyarakat industri tidak lagi sekadar menjadi model ekonomi, melainkan telah menjelma menjadi horizon baru bagi seluruh kehidupan sosial.

Di sinilah hukum rasional sejarah bekerja, bukan sebagai kehendak individu atau institusi tertentu, melainkan sebagai gerak besar yang memaksa perubahan terjadi meskipun berbagai struktur lama berusaha mempertahankan dirinya.

Akhirnya, dechiperisme mengungkapkan bahwa otentisitas ontologis politik selalu berakhir pada situasi batas. Tidak ada bentuk politik yang mampu mempertahankan dirinya secara permanen di dalam sejarah. Negara, agama, institusi, maupun peradaban pada akhirnya akan berhadapan dengan batas eksistensialnya masing-masing.

Karena itu, tindakan eksistensial politik yang otentik bukanlah tindakan yang selesai dalam satu momentum, melainkan tindakan yang terus-menerus diperbarui oleh tantangan sejarah. Ia adalah perjuangan yang tidak pernah mencapai titik akhir. Ia adalah keberanian untuk terus melampaui batas-batas yang telah dibangun oleh masa lalu.

Dalam konstruksi dechiperisme, keadaan tersebut dinamakan sebagai transhistorisitas manusia, yakni kemampuan manusia untuk terus bergerak melintasi setiap bentuk sejarah yang telah mapan demi mencari bentuk keberadaan yang lebih otentik, lebih eksistensial, dan lebih sesuai dengan tuntutan zaman yang terus berubah. ***)

Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 3 Mei 2026