N A R A T O R

N A R A T O R

Opini:

N A R A T O R
Djoko Sukmono

Fakta sejarah memperlihatkan bahwa setiap peristiwa besar selalu ditentukan oleh transformasi sosial—sebuah perpindahan struktur yang tidak tampak, tetapi bekerja secara konkret melalui jaringan informasi global.

Informasi ini bukan sekadar arus data, melainkan instrumen kekuasaan yang menembus seluruh permukaan bumi, menyelinap ke dalam kesadaran setiap manusia, dan membentuk kembali cara mereka berbahasa, berpikir, serta bertindak.

Dunia sosial, dalam seluruh detailnya, telah menjadi ruang di mana kekuasaan beroperasi melalui produksi informasi yang meresap sampai ke unsur paling kecil dari jiwa manusia.

Dalam lanskap itu, semboyan Gold, Gospel, War, Glory, and Victory menjadi kredo Homo Economicus Kapitalisme—rezim yang membangun Kerajaan Material Dunia.

Dunia kini tidak lagi sebatas arena hampa, melainkan realitas yang telah berada pada posisinya yang paling esensial: dikuasai, digenggam, dan dipetakan oleh kapitalisme global.

Sistem itu sudah menundukkan hampir seluruh bangsa tanpa sisa. Ia menyusun struktur sosial, mengatur arah pikiran, dan menciptakan hantu-hantu mental serta drakula politik yang menguras tenaga kolektif umat manusia.

Dalam kondisi demikian, perlawanan tidak lagi menemukan celah. Satu per satu kekuatan besar tumbang: Sukarno dikalahkan; Uni Soviet rontok; Yugoslavia tercerai berai.

Rusia kini berada dalam situasi batas yang disorientatif terhadap dirinya sendiri, seolah berdiri di tepi jurang; Tiongkok menghadapi tertutupnya keran distribusi produksi; Timur Tengah retak di bawah tekanan geopolitik. Semua ini adalah manifestasi dari satu rezim tunggal—Rezim Industri—yang merobohkan rezim politik, rezim kebudayaan, bahkan rezim peradaban.

Semua yang masih menyandarkan diri pada prestasi masa lalu akan hancur oleh laju sejarah yang tidak menunggu siapa pun. Itulah Hukum Rasional Perubahan: dunia bergerak bukan oleh cita-cita, tetapi oleh struktur.

Maka tidak ada lagi gunanya menyebut dominasi informasi global sebagai imperialisme.

Kenyataan objektifnya: arus informasi itu bergerak tidak peduli komentar siapa pun, karena ia bekerja sebagai kehendak sejarah manusia dalam perjalanannya menuju satu titik akhir—Kerajaan Material Dunia.

Dunia material ini bukan ilusi; ia adalah ciptaan sejarah manusia itu sendiri, hasil kerja panjang struktur dan konflik.

Mereka yang menyangkalnya adalah manusia ahistoris, dan sejarah akan melupakan mereka sebagaimana ia melupakan bangsa-bangsa yang menolak realitas zamannya.

Di tengah kondisi ini, tokoh masyarakat, pemimpin agama, raja, presiden, atau perdana menteri tidak lagi menjadi panutan. Mereka sudah dinyatakan usang.

Seluruh figur yang dulu diagungkan kini terbongkar sebagai pembohong, karena mereka gagal memikul kebenaran historis dan hanya memproduksi retorika tanpa substansi.

Manusia masa depan tidak lagi mencari panutan; mereka mencari bentuk-bentuk kebebasan baru—kebebasan yang tidak berakar pada figur, institusi, atau nilai fundamental lama, tetapi pada kesadaran dirinya sendiri sebagai makhluk trans-historis yang bebas membentuk eksistensinya.

Di sinilah muncul potret transformasi sosial yang jauh lebih dalam. Informasi global bekerja sebagai revolusi: ia menyingkirkan kerangka berpikir lama yang hanya mampu memahami realitas sampai batas sosial suatu era.

Ketika informasi menjadi disinformatif, ia mati; dan setiap era yang tidak mampu melampaui dirinya sendiri akan digilas. Informasi baru adalah energi perubahan yang melampaui revolusi mana pun dalam sejarah manusia.

Revolusi ini lebih besar dari kekuatan senjata: ia membentuk ulang imajinasi, waktu, dan eksistensi.

Masa depan tidak bisa diprediksi karena era ini adalah revolusi global—digerakkan oleh konektivitas sosial, kesadaran kolektif, dan mekanisme produksi informasi yang melampaui batas imajinasi manusia.

Paradigma lama runtuh bukan karena diserang, melainkan karena dilampaui oleh kekuatan era baru. Gerak sejarah tidak butuh legitimasi; ia berjalan dengan sendirinya.

Pada titik ini narator menuturkan gambaran objektif psikologis manusia dalam era informasi global. Ia menjelajah ruang dan waktu, lalu terdampar pada situasi batas yang memungkinkan dirinya melihat dari luar batas realitas.

Dari posisi esensial itu, ia memahami bahwa misteri yang selama ribuan tahun tidak terpecahkan—surga dan neraka—sesungguhnya adalah konstruksi sosial dari ruang dan waktu itu sendiri.

Di ruang itu manusia saling bertentangan, mengatasnamakan Tuhan, ideologi, kebudayaan, nilai-nilai fundamental kemanusiaan, bahkan rasionalitas ilmiah.

Namun semuanya hanya melahirkan kegaduhan instruksional yang memecah pola pikir dan menciptakan budaya skeptis yang kronis.

Keputusan-keputusan yang diambil manusia di ruang itu selalu bersumber dari ketakutan, keraguan, dan keterbatasan historis mereka, sehingga menghasilkan paradoks tanpa akhir.

Dalam kondisi itu, konstruksi pikiran mereka terkontaminasi budaya dan membentuk jiwa yang kronis. Mereka hidup, tetapi tidak pernah mencapai eksistensi esensialnya.

Dalam ilustrasi sarkastiknya, narator menunjukkan absurditas informasi palsu—seperti kabar bohong dari surga yang menuduh Joko Sukmono kafir.

Narasi religius yang seharusnya menjadi pedoman moral justru berubah menjadi alat intimidasi. Namun, dalam kisah itu, dua malaikat yang menyeretnya justru dihantam angin surga, sementara Sukmono terlempar ke masa depan dan menikmati kenyamanan surga versi yang lebih manusiawi.

Paradoks ini menggambarkan bagaimana informasi palsu bekerja dalam ruang sosial: ia membalikkan realitas, memanipulasi simbol, dan meruntuhkan logika.

Pesan akhirnya sederhana tetapi mendalam: narator hanya menyampaikan renungan filosofis.

Percaya atau tidak bukan urusan sejarah. Yang menentukan adalah apakah manusia sanggup membaca dirinya sebagai manusia konkret dalam arus besar perubahan global. ***)

Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 30 November 2025