Opini:
SUPERNOVA KONKRET
Djoko Sukmono
Supernova Konkret telah hadir dan menjadi di dalam waktu. Ia menjelajahi trans-historisitas, menembus batas antara materialitas dan esensi, dan kini berdiri pada posisi esensialnya sebagai Pembuat.
Di tempat itulah ia bertindak sebagai penyedia, sebagai kekuatan yang melampaui batas-batas ruang. Selamat datang, Supernova Konkret.
Pada mulanya terdapat sebuah benda padat. Dengan kekuatan Dekrit Kosmik, benda padat itu meledak dengan kedahsyatan yang tak terbayangkan, melahirkan serpihan-serpihan kecil hingga debu kosmik yang kemudian mengentalkan diri menjadi planet–planet, termasuk bumi, sementara serpihan besar memadat menjadi galaksi-galaksi seperti Bimasakti.
Supernova adalah ledakan sekali-jadi yang mengubah arah seluruh sejarah alam.
Transisi dari kosmos menuju bumi ini mengantar kita pada kesadaran bahwa di tenggara planet kecil ini, sebuah ledakan historis juga pernah terjadi—Dekrit 5 Juli 1959, sebuah pencerahan politik yang memutus Indonesia dari kebuntuan pascakolonial, mengembalikan Republik kepada UUD 1945, membubarkan Konstituante, dan menata ulang representasi politik.
Sejak momen itu, hukum tertinggi sejarah Republik menetapkan kesadaran historis bagi anak bangsa: kesadaran akan tugasnya menjaga ketahanan dan kemajuan.
Dari sini, ide tentang kebesaran bangsa muncul sebagai refleksi yang tak dapat ditawar. Hanya sekali dalam sejarah suatu bangsa menjadi besar; bila ia lenyap, ia tidak dapat kembali.
Yang tersisa hanyalah serpihan-serpihan identitas yang perlahan melayang menuju kepunahan, sebelum kelak mengental menjadi bentuk-bentuk baru yang akan menabrak topografi sosial dan geografis yang lain.
Hukum populasi bergerak tanpa belas kasih, dan setiap bangsa harus menanggung konsekuensi pertumbuhannya sendiri.
Dalam dunia modern, “Tuhan” sering kali berarti loyalitas. Segala yang mampu memproduksi loyalitas absolut diterima sebagai Tuhan, dan setiap komunitas loyalis menganggap dirinya sebagai pemilik satu-satunya kebenaran.
Di tengah dunia loyalitas inilah seorang Narator dibawa menuju pusaran misterius tempat Tuhan dikatakan bersemayam.
Ia diadili karena menciptakan makhluk bernama Star Maker, yang ia biarkan bekerja dengan kebebasan penuh untuk menciptakan bintang-bintang.
Narator terpesona oleh simfoni kosmik itu; ia tertidur, terbangun, dan menyaksikan bintang-bintang yang terlalu banyak, materi yang terlalu boros, sebuah pesta kosmik tanpa perhitungan.
Ketika ia menutup pekerjaan Star Maker, bintang-bintang pun mati dan pecah menjadi serpihan-serpihan yang kemudian membentuk tata surya. Dari kehancuran inilah manusia muncul, sebagai anak dari sisa-sisa ledakan.
Kesadaran tentang asal-usul yang tragis ini membawa kita pada persoalan eksistensial: “Hidup sebagai legenda yang tidak pernah dimengerti oleh zamannya”.
Para Supernova—para pembaharu, pemikir, pemimpin—selalu hidup di antara kekaguman dan penolakan.
Socrates dipancung, Yesus disalib. Keduanya menjadi simbol bahwa kebenaran yang terlalu terang sering kali memicu kekerasan.
Para Supernova sejarah mengguncang dunia sosial; mereka menjadi paradox zaman: dikagumi setelah wafat, dijauhi ketika hidup.
Transisi dari tragedi ke kebesaran ini memperlihatkan pola bahwa manusia besar selalu menjadi mercusuar yang diperdebatkan.
Ketika filsafat pamit dari pangkuan teologi setelah ribuan tahun menjadi anaknya, langit seakan retak.
Plato berdiri membela Socrates, seorang yang dicemooh kotanya sendiri. Dalam diam, dua potret itu—Plato dan Socrates—menjadi simbol keagungan spiritual yang tak mampu dibendung oleh politik kota.
Beberapa saat kemudian, Socrates dihukum mati. Senja kehidupan menelan sang martir kebijaksanaan, dan dari sanalah filsafat lahir kembali sebagai kekuatan yang mandiri.
Perjalanan spiritual juga memuncak pada tragedi lain ketika, hanya sekali dalam sejarah, Tuhan menjadi manusia dalam diri Yesus.
Kierkegaard melihatnya sebagai lompatan eksistensial dari estetika menuju etika dan kemudian religiositas—totalitas tanpa syarat. Peristiwa tunggal itu memengaruhi miliaran manusia sampai hari ini.
Dan di titik ini, tragedi filosofis dan spiritual bertemu sebagai dua percikan dari satu Supernova metafisik.
Sementara itu, kekuasaan formal melangkah dengan semboyan dingin: “Gold, Gospel, War, Glory, and Victory”. Kekuasaan tidak peduli pada tragedi. Ia hanya memahami ancaman dan kontrol.
Ketika dunia terbelah oleh Hitler dan Stalin, ketika Normandia, Hiroshima, dan Nagasaki menjadi saksi ambisi totalitarian yang melampaui batas kemanusiaan, sejarah menunjukkan bahwa kekuasaan selalu menuju benturan.
Namun jauh di tenggara bumi, Indonesia meledakkan revolusinya sendiri. Proklamasi adalah supernova politik bangsa ini.
Pada titik inilah Sukmono memperingatkan: demokrasi di Indonesia bukan demokrasi. Ia manipulatif, tidak terdialektikakan dengan Pancasila, tidak menyatu dengan kepentingan rakyat, hanya menjadi payung hukum bagi eksploitasi sumber daya dan manusia.
Bila bangsa ini menginginkan perubahan, perubahan itu harus radikal, total, dan menyentuh seluruh aspek kehidupan.
Pancasila harus kembali menjadi landasan ideal, UUD 1945 sebagai landasan struktural, dan rakyat konkret sebagai dasar legitimasi yang nyata. Tanpa itu, demokrasi hanyalah sandiwara, dan anak bangsa Indonesia hingga hari ini belum menjadi rakyat.
Kesadaran akan kondisi ini menuntun kita kembali kepada hukum awal: waktu dan ruang adalah limpahan materi tanpa batas.
Ledakan Supernova adalah sebab mula perubahan, dan hukum rasional perubahan bekerja atas seluruh peradaban. Semua tunduk kepada perubahan. Tidak ada yang kebal. Tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 30 November 2025





