DJOKO SUKMONO: INFORMASI

DJOKO SUKMONO: INFORMASI

Opini:

INFORMASI
Oleh Djoko Sukmono

Jackson, Sang Narator Berkata: Bahwa di era informasi global ini, segala bentuk informasi yang disinformatif akan otomatis ditinggalkan oleh pergerakan informasi baru yang lebih lengkap, lebih konkret, dan lebih  realistis-obyektif.

Kerangka-kerangka berpikir lama sudah tidak lagi memadai dalam memahami fenomena yang ada saat ini. Hal tersebut disebabkan karena kerangka berpikir tersebut hanya sampai pada situasi batas sosial dari suatu era (keterbatasan kepastian rasional).

Kesadaran transhistorisitas adalah cara berpikir dan cara pandang yang membebaskan rasio dalam membangun kerangka berpikir serta menentukan metodologi baru yang memadai untuk memahami fenomena yang ada dan menjadi.

Fenomena yang ada pada suatu era yang sudah lapuk tidaklah mungkin terus-menerus dijadikan sebagai informasi. Hal demikian terjadi karena ia sudah disinformatif.

Informasi adalah suatu era yang tak terbayangkan sebelumnya dan darinya mampu memicu perubahan sosial yang cepat.

Inilah yang dinamakan revolusi informasi, yang kekuatannya melampaui revolusi-revolusi yang pernah terjadi di dunia.

Tentang apa yang terjadi di masa depan dengan era informasi saat ini, hal itu tidak dapat diprediksi. Era informasi ini adalah revolusi global yang sengaja digerakkan oleh konektivitas sosial dan kesadaran sosial.

Sementara itu, paradigma yang mewarnai era lama sudah terhempaskan dengan sendirinya dan terhapus oleh gerak era informasi yang kekuatannya melampaui batas yang tak terbayangkan.

Sebuah gambaran tentang kondisi obyektif psikologis masyarakat bangsa manusia yang sedang berlangsung di era informasi global sebagai berikut:

Di tempat itu, narator sedang menjelajah ruang dan waktu, terdampar di sebuah situasi batas yang misterius.

Dengan segala kekuatan yang dimilikinya, ia menerobos situasi ruang dan waktu tersebut hingga akhirnya berada pada posisi esensinya, yaitu tempat yang berada di luar ruang dan waktu.

Dengan penuh kegundahan, sang narator menuliskan hal yang selama ribuan tahun menjadi misteri tak terpecahkan secara sosiologis, yaitu tentang surga dan neraka.

Narator melihat dengan jelas segala sesuatu yang terjadi di ruang dan waktu itu.

Di dalamnya, terdapat kejadian menggelikan berupa pertentangan berbagai pendapat—ada yang mengatasnamakan Tuhan dan manusia pilihan, agama dan kebudayaan, ideologi, nilai-nilai fundamental kemanusiaan seperti kebebasan, keadilan, dan kesejahteraan, hingga sains dan teknologi.

Sementara itu, kegaduhan instruksional menciptakan kekacauan dalam pola pikir, pola bicara, dan pola bersikap yang cenderung skeptis.

Sifat dan sikap seperti itu telah menjadi budaya yang ironis. Itulah dunia di dalam ruang dan waktu tersebut, terlingkupi oleh misteri tak terjawab selama ribuan tahun, yang berdampak pada setiap pengambilan keputusan.

Keputusan yang diambil biasanya bersumber dari situasi kronis—dibayangi ketakutan dan keraguan—dan menghasilkan paradoks. Hal semacam ini cenderung dilakukan oleh sebagian besar manusia.

Konstruksi pikiran yang terkooptasi dan terkontaminasi budaya dalam ruang dan waktu itu telah membentuk jiwa sebagian besar manusia yang hidup di sana. Dalam proses interaksi sosialnya, mereka berada pada posisi esensinya yang kronis.

Ilustrasi

Ada pula istilah yang sebenarnya merupakan kebohongan, seperti berita bohong dari surga yang menyatakan bahwa seseorang seperti Joko Sukmono harus dimasukkan ke neraka karena dianggap kafir.

Dua malaikat menyeretnya ke neraka, tetapi tiba-tiba angin kencang dari surga menghantam kedua malaikat itu.

Joko Sukmono terhempas ke masa depan, langsung duduk di kereta kencana, ditemani dua bidadari surga yang memanjakannya.

Apa pun yang diminta Joko diberikan, termasuk sesuatu yang paling indah dari para bidadari.

Mungkin itulah yang disebut surga dan kehidupan nyaman di sana. Singkat cerita, kedua malaikat tadi justru masuk ke neraka.

Demikian informasi saya, percaya atau tidak, terserah anda.

Sebuah renungan filosofis dari seorang narator, Jackson. ***)

Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 30 Juli 2025