Filsafat, Puisi Esai:
Syair Marhaenis: Ketika Bohong Menjadi Konstruksi Budaya
Oleh Djoko Sukmono
Sebuah Konstruksi sosial Konkret telah ada dan menjadi.
Dan konstruksi sosial lama telah dibakar habis.
Konstruksi sosial Konkret tidak lagi membuat struktur sosial dengan model desain yang biadab. (Djoko Sukmono)
MONOLOG
Ada pernyataan bahwa Moralitas telah mati bersamaan dengan matinya jiwa-jiwa para Pendamba.
Kematian moralitas ditandai dengan terbakarnya sebuah tujuan.
PROLOG
Kehidupan sosial manusia tidak bisa dihentikan oleh Kematian Moralitas.
Kehidupan sosial manusia juga tidak Bisa dibatalkan oleh Tujuan
Kehidupan sosial manusia terus menerus bergerak bertumbuh dan berkembang meskipun tidak diarahkan kepada Tujuan
Kehidupan sosial manusia adalah Realitas Sosial Konkret yang tak terelakkan dan Layar Sudah Berkembang.
Kehidupan sosial manusia terus berlayar mengarungi Samudera Kehidupan yang Tiada Berbatas dan Tiada Bertepi.
Yang ada dan menjadi itu adalah efek dari inisiatif.
Yang menjadi itu adalah akibat dari tindakan tindakan produktif.
Yang menjadi itu adalah akibat dari sebab sebab yang ada.
Yang menjadi itu adalah momen historis yang terus-menerus bergentayangan di sepanjang sejarah.
Yang menjadi itu adalah sebuah kontingensi yang terbentuk oleh konstruksi berpikir
Yanh menjadi itu adalah yang Konkret itu.
-oo0oo-
Ketika Kebohongan Menjadi Konstruksi Budaya
Perilaku sosial semakin lama semakin menunjukkan perubahan signifikan
Kebohongan telah menjadi Konstruksi Budaya dimana mana
Sehingga seluruh konstruksi sosial adalah kebohongan belaka.
Kebohongan adalah pintu utama masuknya Candu kehidupan sosial.
Tidak ada sandaran kebenaran maupun kebaikan karena keduanya adalah Kebohongan.
Yang biadab adalah para penganut kebohongan yang dianggap itu adalah kebenaran dan kebaikan apalagi para pengikut dan pengagumnya.
Padahal sejatinya mereka-mereka itu adalah alat penyebar kebohongan saja.
Dimensi DOGMA telah membawa serta anak-anak manusia kepada sebuah tujuan yang tidak ada.
Jika dogma sudah menjadi virus mental yang membentuk Konstruksi Pikiran anak-anak manusia maka dengan mudahnya menjerumuskannya ke dalam jurang ILUSI ABSURD.
Sehingga banyak sekali anak-anak manusia yang tidak memilki kesempatan untuk menjadi manusia konkrit dan sirna.
Terus, teruslah merangkai merajut dan menyulam jiwa-jiwa kalian dengan ILUSI BELAKA.
Dan yang didalamnya terdapat lingkaran setan yang rumit pelik dan berbelit-belit.
Jika hari ini sebagian anak-anak manusia menyadari bahwa sedang hidup maka hiduplah selama yang dimungkinkan.
Tidak ada tujuan yang pernah dibuktikan di dalam sejarah bahwa suatu tujuan itu tercapai.
Bahkan belum ada tujuan yang menghendaki adanya tujuan berikutnya.
Jika ada pernyataan belum ada yang selesai maka minimal selesaikan hidupmu seumur hidupmu
Tujuan yang telah tercapai akan menimbulkan tujuan-tujuan berikutnya.
Benarkah itu?
Tidak benar!,
Dikarenakan hal yang sedemikian itu hanyalah ekspresi niscaya dari kebohongan.
Wajah-wajah dusta adalah ciri-ciri orang yang belum menjadi Manusia Konkret tersebut.
Selamat selamanya berdusta.
Dan selamat menjalankan kebohongan dengan disusul kebohongan berikutnya. ***)
Reposted: sarinahnews.com
Surabaya, 15 April 2025
Penulis: Djoko Sukmono Badan Pendidikan dan Pelatihan Gerakan Pemuda Nasionalis Marhaenis (NASMAR)





