TAS SEKOLAH DI KERETA YANG DITABRAK PUN BERCERITA

TAS SEKOLAH DI KERETA YANG DITABRAK PUN BERCERITA

Sebuah Puisi Esai

TAS SEKOLAH DI KERETA YANG DITABRAK PUN BERCERITA
Oleh Denny JA

(Kecelakaan menimpa sebuah kereta commuter line di bekasi, akhir April 2026. Semua yang wafat adalah perempuan yang berada di gerbong terakhir) (1)

-000-

Aku adalah tas sekolah,
dibeli dengan doa yang dilipat rapi di dalam dompet tipis seorang ibu.

Malam itu, aku masih berbau toko.
Masih menyimpan harapan yang belum sempat dipakai.
Masih kosong dari buku, tapi penuh masa depan.

Aku tergeletak di pangkuan seorang perempuan
yang tangannya masih menyisakan aroma bayi.
Ia pulang kerja lebih cepat hari itu, katanya,
karena ingin melihat anaknya tertidur dengan napas yang utuh.

Di dalam diriku, ia menyelipkan selembar kertas kecil.
Nama: Rina.
Kelas: 1 SD.

Tulisan itu belum sempat disentuh pagi.

Kereta melaju seperti waktu yang tak pernah meminta izin.
Dan aku, tas kecil dengan resleting yang belum aus,
tidak tahu bahwa malam itu
aku akan belajar tentang kehilangan
lebih cepat dari buku apa pun.

-000-

Aku ingat suara itu.
Bukan dentuman biasa.
Bukan suara rel yang bergesekan dengan lelah.

Ini suara logam yang bertemu nasibnya sendiri.

Kereta berhenti sejenak di stasiun,
seperti seseorang yang menarik napas sebelum menangis.
Lalu dari belakang,
datang sesuatu yang terlalu cepat untuk ditolak.

Aku tidak melihatnya.
Tapi aku merasakan dunia terlipat.

Tubuh-tubuh di sekitarku menjadi doa yang tidak selesai.
Tangan yang memegangku terlepas
menjadi janji yang tak sempat ditepati.

Aku jatuh.
Aku terguling.
Aku terdiam.

Dan dalam diam itu,
aku tahu:
tidak semua perjalanan pulang
berakhir di rumah.

-000-

Aku adalah saksi dari gerbong terakhir.
Gerbong perempuan, kata mereka.

Gerbong perempuan disimpan di belakang, disebut paling aman; ketika bahaya datang dari arah yang tak dijaga, ia yang pertama hancur, perlindungan berubah menjadi sunyi yang paling rentan.

Di sini, tawa lebih pelan.
Cerita lebih dalam.
Lelah lebih jujur.

Mereka membawa dunia dalam tas masing-masing:
bekal anak, lipstik murah, surat tagihan,
dan mimpi yang tidak pernah cukup tidur.

Malam itu,
dunia mereka berhenti di satu titik.

Mengapa semua perempuan?
Aku bertanya,
meski aku hanya tas tanpa suara.

Mungkin karena mereka memilih duduk di tempat yang aman,
yang diberi label perlindungan.

Tapi siapa yang melindungi rel?
Siapa yang menjaga kecepatan?
Siapa yang memastikan waktu tidak bertabrakan dengan dirinya sendiri?

Gerbong ini bukan salah alamat.
Tapi sistem yang membiarkannya berada di jalur yang salah.

-000-

Aku pernah ikut ibu Lina, orang tua Rina, ke pasar.
Ia menawar harga sayur dengan senyum yang lelah tapi sabar.
Ia pernah berkata,
“Yang penting Rina sekolah, hidupnya jangan seperti Mama.”

Aku tidak mengerti saat itu.
Sekarang aku mulai mengerti.

Sekolah adalah harapan yang dijahit dari pengorbanan kecil.
Dari bangun pagi sebelum matahari.
Dari naik kereta yang terlalu penuh.
Dari percaya sistem bekerja untuk melindungi.

Aku bagian dari mimpi itu.

Tapi malam itu,
mimpi itu dihentikan oleh sesuatu yang lebih besar dari niat baik.

Oleh sinyal yang mungkin terlambat.
Oleh keputusan yang mungkin salah.
Oleh kelelahan yang mungkin dianggap biasa.

Kecelakaan bukan terjadi karena satu kesalahan.
Ia tumbuh dari kebiasaan yang dibiarkan.

-000-

Kini aku terkulai di lantai gerbong.
Resletingku terbuka seperti luka yang tidak bisa dijahit.
Di dalamku, kertas kecil itu masih ada.

Nama: Rina.

Aku tidak rusak sepenuhnya.
Tapi aku tidak utuh lagi.
Bagai dunia yang ditinggalkan oleh mereka yang tidak kembali.

Aku membayangkan Rina bangun esok pagi.
Mencari ibunya di pintu.
Menunggu suara yang tidak datang.

Aku ingin sampai ke tangannya.
Aku ingin menjadi awal dari hari pertamanya di sekolah.

Tapi aku terjebak di antara logam dan kenangan.

Aku hanyalah tas sekolah
yang gagal mengantar masa depan.

-000-

Beberapa hari setelah itu,
aku berada di tangan seseorang yang bukan ibunya.
Mereka berbicara tentang santunan, tentang investigasi,
tentang prosedur dan perbaikan.

Aku mendengar kata “evaluasi”
seperti mendengar doa yang terlalu sering diulang tapi jarang dijawab.

Aku ingin bertanya:
berapa banyak tas lagi yang harus rusak
agar rel belajar mendengar?

Berapa banyak ibu yang harus hilang
agar sistem berhenti menganggap kesalahan sebagai rutinitas?

Aku hanyalah tas.
Tapi aku tahu satu hal:

Tidak ada kecelakaan yang benar-benar tiba-tiba.
Ia selalu didahului oleh tanda-tanda
yang diabaikan.

-000-

Aku adalah tas sekolah.
Aku dibuat untuk membawa buku.

Tapi malam itu,
aku membawa cerita.

Cerita tentang ibu yang pulang terlalu cepat untuk ditabrak waktu.
Cerita tentang perempuan yang duduk di tempat yang katanya aman.
Cerita tentang kota yang bergerak terlalu cepat
tanpa cukup ruang untuk berhenti.

Dan tentang seorang anak bernama Rina,
yang hari pertamanya di sekolah
dimulai dengan kehilangan.

Di negeri yang tak merenungkan tragedi, yang selalu lebih cepat hanyalah kabar duka. ***)

 

 

Jakarta, 1 Mei 2026

CATATAN
(1) Puisi esai ini diinspirasi oleh kisah sebenarnya. Sekitar 1,2 juta penumpang, mayoritas pekerja komuter, menggantungkan hidup pada kereta api setiap harinya.

https://www.instagram.com/p/DXrH4exFFE6/?igsh=MnB6N29pcWo3d2Z0

-000-

Berbagai puisi esai dan ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/1LPGngJeZ5/?mibextid=wwXIfr