JAM GADANG MENYAKSIKAN AYAH YANG MENEMBAK ANAKNYA SENDIRI

JAM GADANG MENYAKSIKAN AYAH YANG MENEMBAK ANAKNYA SENDIRI

Sebuah Puisi Esai Mengenang 100 Tahun Jam Gadang di Bukit Tinggi

JAM GADANG MENYAKSIKAN AYAH YANG MENEMBAK ANAKNYA SENDIRI
Oleh Denny JA

(Tahun 1958-1961, di Indonesia terjadi pemberontakan PRRI. Jam Gadang menyaksikan rasa pilunya). (1)

 

Aku adalah menara yang memelihara detik.
Aku sudah berdiri sebelum Indonesia merdeka.
Kini usiaku 100 tahun.

Aku memang tersenyum.
Tapi lihatlah mataku,
tak pernah- benar terang lagi,
sejak aku melihat seorang Ayah,
membunuh anaknya sendiri,
dalam pemberontakan PRRI

-000-

Semula hanya riak.

Di daerah, kemarahan naik
menjadi tanah yang retak oleh musim yang tak adil.

Mereka berkata:
hasil bumi pergi seperti anak yang tak kembali,
keadilan berdiri terlalu jauh dari rumah,
dan pusat hanya mendengar
apa yang ingin didengarnya.

Di pusat, suara itu berubah wajah.

Ia tidak lagi keluhan.
Ia menjadi ancaman.

Dan di antara keduanya,
Indonesia menjadi kaca yang retak
pelan…
diam…
namun pasti.

Dari kejauhan,
angin gelisah membawa bisik yang dingin:

Dua kekuatan asing,
mengintai dengan senjata.
dan tanah ini,
yang baru belajar menyebut dirinya negara,
menjadi papan
tempat dunia memainkan masa depannya.

-000-

Mereka yang berdiri di seberang
nama yang sangat dikenal.
Keluarga sendiri.

Mereka pernah sama sama menjadi tiang republik,
pernah memikul beban kemerdekaan
ketika bangsa ini hampir jatuh ke tanah.

Kini mereka berdiri berlawanan.

Bukan karena berhenti mencintai,
tetapi karena cinta mereka
tidak lagi mengenali bahasa satu sama lain.

Dan cinta yang kehilangan bahasa
sering menemukan jalannya
melalui peluru.

-000-

Malam itu, mereka dikumpulkan.

Menjadi huruf-huruf yang dipaksa masuk
ke dalam kalimat yang salah.

Di antara mereka,
seorang lelaki muda berdiri dengan tubuh yang belum selesai menjadi tua.

Matanya tidak mencari langit.
Ia mencari satu wajah.

Dan ia menemukannya.

Di ujung barisan.

Seorang perwira.

Seragamnya rapi
seperti keputusan yang tidak bisa ditarik kembali.

Tangan itu,
tangan yang dulu mengajarinya menulis,
tangan yang dulu memegang bahunya
ketika ia belajar berjalan,

kini memegang senjata.

Ayah.

Di hadapannya

Tidak ada kata.
Tidak ada panggilan nama.

Hanya jarak
yang lebih tajam dari baja.

-000-

Aku ingin menghentikan waktu.

Tetapi aku hanya jam.

Jarumku tetap bergerak
seperti takdir yang menolak belas kasihan.

Teng.
Teng.
Teng.

Setiap dentang seperti menghitung
berapa banyak cinta
yang harus mati
agar negara tetap hidup.

Angin menahan napas.
Langit menutup matanya.

Dan perintah itu jatuh
seperti batu
ke dalam dada manusia.

Peluru dilepaskan.

Satu.

Tubuh itu tersentak.

Dua.

Ia jatuh,
bukan hanya ke tanah,
tetapi ke dalam sejarah
yang tidak akan pernah cukup berani menyebut namanya.

Di udara, namanya pecah pelan, seperti doa yang tak jadi diucapkan siapa pun.

Di mata sang ayah,
aku melihat sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh perang.

Bukan kemenangan.
Bukan kekalahan.

Melainkan kehancuran
yang tidak bisa dipulihkan oleh waktu mana pun.

Sejak malam itu,
ia tetap hidup.

Tetapi tidak pernah benar-benar ada.

-000-

Sejarah akan menulisnya berbeda.

Daerah menyebutnya keadilan.
Pusat menyebutnya pemberontakan.
Dunia menyebutnya geopolitik.

Tetapi aku,
yang berdiri diam di tengah semua itu,
menyebutnya dengan satu kata yang lebih jujur:

kehilangan.

-000-

Tahun-tahun berlalu.

Negara kembali utuh.
Bendera tetap berkibar.
Anak-anak kembali berlari di bawah bayangku.

Tetapi malam itu
tidak pernah benar-benar pergi.

Ia berputar di dalam diriku
seperti luka yang belajar diam.

Aku masih mengingat
lelaki muda itu.

Aku masih mengingat
tangan ayahnya
yang gemetar
meski tak pernah terlihat.

-000-

Hari ini,
orang datang untuk tersenyum di bawahku.

Mereka berfoto.
Mereka tertawa.

Dan aku tidak lagi marah.

Aku belajar bahwa manusia
punya cara yang aneh untuk bertahan:

mereka memilih hidup
meski membawa luka
yang tidak pernah selesai.

Dan perlahan,
dentangku berubah.

Bukan lagi seperti palu
yang memaku kesedihan.

Tetapi seperti napas
yang mengingatkan.

-000-

Jika kau berdiri di bawahku hari ini,
dan kau mendengar suaraku,

ingatlah,

aku tidak sedang menghitung waktu.

Aku sedang mengingatkanmu
tentang satu malam
ketika seorang ayah
menembak anaknya sendiri
demi sesuatu yang ia sebut negara.

Dan bahwa pada akhirnya,

tidak ada kemenangan
yang cukup besar
untuk membayar harga
dari satu peluru
yang menembus darahnya sendiri. ***)

 

 

Posted: sarinahnews.com
Singapura, 22 April 2026

CATATAN
(1) Drama dalam puisi ini, soal Ayah dan anak adalah metafor simbol dari bangsa yang terbelah, di era PRRI

PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia), diproklamasikan 1958 di Bukittinggi, dipimpin Syafruddin Prawiranegara, mantan Ketua PDRI (Pemerintah Darurat Pemerintahan Indonesia), bersama tokoh militer seperti Ahmad Husein, menentang kebijakan pemerintah pusat.

-000-

Berbagai puisi esai dan ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/1Cew5sUJAh/?mibextid=wwXIfr