Filsafat:
SISITEM SOSIAL KONKRET
Djoko Sukmono
Pada hari ini saya sedang menjalani hidup konkret yang berlandaskan pada suatu sistem sosial konkret yang memberi kelapangan bagi keberadaan saya.
Saya berada dalam suatu situasi batas sosial konkret yang luas, di mana terbentang ruang-ruang yang menyediakan kemudahan bagi siapa pun yang menghadap kepadanya tanpa intimidasi.
Di sana, berbagai bentuk kehidupan sosial konkret tampil dengan transparan, memperlihatkan bagaimana sistem sosial konkret bekerja dalam rangka kemanusiaan konkret.
Sistem sosial konkret digerakkan oleh suatu hukum rasional perubahan yang menghantam dinding-dinding sistem sosial imperialistik.
Sistem-sistem imperialistik ini adalah sistem-sistem sosial yang tengah berdialektika: kapitalisme dan komunisme.
Dari keduanya lahirlah suatu tunas muda yang menjadi tesis baru—sebuah sistem sosial konkret yang tidak lagi mengandung pertentangan.
Ia merupakan suatu konsep sosial yang utuh dan menyeluruh, berlandaskan hukum rasional sejarah.
Dalam perkembangan historisnya, sistem sosial konkret telah menghapuskan kategori-kategori fundamental yang selama ribuan tahun menjadi kerangka bagi sistem sosial ilusi.
Perjuangan, pengorbanan, dan pengabdian adalah kategori-kategori yang digencarkan sistem sosial ilusif secara terstruktur, sistematis, dan masif, agar nilai-nilai fundamental itu membebani individu manusia dalam kehidupan sosial.
Begitu sistem ilusi itu berhasil menjadikan tiap individu tunduk pada nilai-nilai itu, langkah selanjutnya ialah menyeret mereka ke dalam figur bernama pahlawan.
Inilah kejahatan kemanusiaan yang berlangsung secara teratur dan masif: manusia dijebak ke dalam mekanisme yang menjadikan pengorbanan sebagai legitimasi kekuasaan.
Sistem sosial konkret mengembalikan makna sistem kepada pengertiannya yang sederhana: integrasi harmonis dari komponen-komponen yang dapat digerakkan.
Sosial adalah wahana yang terhampar luas dalam kehidupan manusia, mencakup seluruh dimensinya. Yang dimaksud dengan konkret adalah segala sesuatu yang terjangkau oleh pikiran serta dapat dirasakan eksistensinya.
Komponen-komponen sistem mengandung esensi yang dihadirkan dalam bentuk-bentuk kontingensi.
Kontingensi adalah keberadaan yang bergantung pada arti yang diberikan pikiran. Manusia, misalnya, adalah kata benda yang otonom.
Namun ketika pikiran memberinya sifat-sifat tertentu, ia berkembang menjadi kemanusiaan dengan nilai-nilai fundamental yang universal.
Kehidupan sosial manusia tidak ditemukan oleh yang transenden atau oleh keajaiban; ia ditentukan oleh kemauan politik yang rasional dan oleh kesadaran bersama sebagai warga kehidupan sosial yang dimusyawarahkan dengan bahasa manusia yang logis dan realistis.
Sistem sosial konkret dengan demikian adalah sistem kemanusiaan yang utuh, yang menempatkan manusia pada esensi dan eksistensinya yang autentik, bukan sebagai alat bagi anasir-anasir tertentu.
Sistem sosial tidak bersumber pada kepentingan pribadi atau kelompok; ia tidak dimaksudkan untuk melanggengkan kekuasaan, melainkan untuk kebahagiaan sosial.
Sistem sosial konkret adalah suatu sistem sosial baru yang dapat disebut sebagai kebijakan publik baru—New Public Policy—yang berorientasi pada masa depan.
Kebijakan ini jujur karena bersandar pada keilmiahan, tidak manipulatif, tidak korup, tidak nepotistik, dan bebas dari fanatisme.
Ia adalah suatu gaya hidup sosial bagi tiap-tiap individu. Kebijakan publik baru adalah fasilitas umum yang terpelihara, gratis, dan merupakan ekspresi kesadaran nasional yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.
Manusia sosial konkret menyatakan bahwa seluruh lembaga sosial di dunia telah menunjukkan ketidakbecusan dan keusangannya.
Lembaga-lembaga itu tidak melaksanakan tugasnya sebagaimana mestinya dan tidak memberikan fungsi memadai bagi keberlangsungan hidup manusia dalam rangka men-dunia.
Penilaian ini bukan berdasar sentimen, melainkan berdasar fakta historis yang logis dan realistis: lembaga sosial yang ada telah retak dalam menjalankan esensinya.
Lembaga-lembaga itu berpuncak pada Perserikatan Bangsa-Bangsa, negara, agama, dan berbagai organisasi sosial lainnya.
Jika dilihat secara objektif, lembaga-lembaga tersebut adalah tempat berkumpulnya manusia-manusia yang hanya mementingkan diri atau kelompoknya.
Jumlah mereka tidak lebih dari empat persen populasi bumi, tetapi mereka menguasai mayoritas.
Kemerdekaan manusia sebagai penghuni bumi telah ratusan tahun terancam oleh lembaga-lembaga sosial yang imperialistik dan kolonialistik—bahkan kadang otoritatif—meskipun bentuknya kini berbeda dari neokolonialisme sebagaimana disebut Bung Karno.
Ketidakberdayaan manusia melahirkan suatu kebangkitan sosial yang membentuk lembaga sosial baru yang lebih demokratis.
Lembaga sosial baru ini tumbuh di antara tembok-tembok putih, rumput hijau, dan kebun binatang manusia.
Dinding-dinding misterius dan gerbang-gerbang raksasa yang kokoh tidak lagi ditakuti. PBB, negara, agama, dan lembaga-lembaga sosial lama lainnya telah berada pada posisi esensialnya yang disorientatif terhadap realitas sosial konkret.
Para hantu sosial, drakula politik, dan begundal-begundal suntuloyo telah terhapus oleh rasio historis melalui instrumen hukum rasional perubahan.
Ajaran lembaga sosial lama berbunyi bahwa perjuangan, pengorbanan, dan pengabdian adalah mutlak bagi anak-anak bangsa.
Ajakan itu dimaksudkan untuk menopang hegemoni mereka, tetapi akhirnya gagal. Yang tersisa hanyalah fanatisme dan loyalitas berlebihan kepada lembaga dan pemimpinnya.
Loyalitas ini justru mempercepat keruntuhan lembaga sosial lama oleh hukum rasional perubahan. Ketika keberadaan mereka menjadi abu-abu, mereka terjerembab ke dalam situasi batas sosial yang gelap.
Ketersediaan sosial merupakan pilihan bagi sebagian orang atau kelompok. Ia adalah pancang-pancang kebenaran dan kebaikan yang diyakini mampu membawa perubahan.
Ketersediaan itu nyata dan telah menjadi, tetapi ia tetap bersifat kontingensi. Karena itu, ia boleh dipakai atau tidak, sesuai hak tiap individu manusia konkret.
Agama adalah contohnya: ia tersedia, tetapi tidak wajib dipakai. Begitu pula berbagai isme—mereka adalah pilihan. Kebebasan manusia kini tidak dapat lagi diterjemahkan ke dalam teks-teks pasal atau ayat.
Manusia adalah kebebasan; maka ciptakanlah dirimu dengan bebas. Hal-hal yang ilusif, fantastik, halusinatif, dan tahayul tidak pernah ada dalam diri saya.
Saya hanya berinteraksi dengan orang lain demi menjadi, dengan landasan yang logis dan realistis.
Saya meniscayakan diri saya sebagai eksistensi yang autentik, yang menciptakan kebebasan dan cita-citanya sendiri.
Kesadaran sosio-historis dan sosio-kultural saya meniscayakan interaksi dengan individu lain dalam konteks yang lebih luas. Apa yang diperoleh dari interaksi itu bukan tujuan utama; tujuan utamanya ialah menjalani proses kehidupan sosial seumur hidup.
Manusia adalah wujud yang multikompleks, konkret, dan individual. Ia hidup dalam waktu, berada dalam ruangnya, bergerak pada tempatnya, serta bertualang dalam esensinya sebagai eksistensi yang autentik.
Namun ia kerap terperangkap dalam masa lalu atau masa depan sehingga abai terhadap waktu sekarang.
Dalam ruangnya ia menyadari historisitasnya sebagai bagian dari bangsa manusia; dalam tempatnya ia berhadapan dengan interaksi sosial yang kompleks; dalam esensinya ia berjumpa dengan dimensi estetis, etis, dan religius.
Pada puncak eksistensi autentik itu, manusia dapat menjadi apa saja—Homo sapiens, Homo faber, Homo ludens, bahkan homoseksual.
Pemahaman masa depan kini tidak lagi berpijak pada keadilan sosial, melainkan pada proses sejarah. Ini menandakan pergeseran nilai fundamental suatu masyarakat.
Pandangan ini menuntut renungan radikal, karena perubahan orientasi ini menggoyahkan dasar pemahaman kolektif.
Historisitas manusia tidak lagi ditentukan oleh dogma, melainkan oleh kebebasannya sendiri untuk menafsirkan sejarah.
Teruslah menjalani hidup sesuai kapasitas dan talenta kita masing-masing. Berikan ruang bagi diri sendiri dan jaga kehidupan kita.
Jika suatu saat menemukan sahabat sejati, itulah keberuntungan hidup. Di hamparan luas kehidupan, bisikkan kepadanya bahwa dalam kebersamaan kita harus menjadi satu.
Ada lembaga baru yang telah berani meninggalkan gumpalan lama dan melompati situasi batas.
Ia tidak lagi menoleh ke belakang, dan apa yang terjadi pada yang lama tidak lagi menjadi persoalan baginya. Kepada yang baru, tetaplah tegar dan berani.
Meski banyak yang lama mencoba menghalangi, teruslah menjadi yang baru. Hari ini adalah akumulasi dari kegiatan kemarin yang terdampar dalam situasi sosial yang absurd.
Hari ini adalah saat untuk melihat hamparan luas di depan, untuk merangkai tindakan produktif, dan melampaui situasi batas itu. Hari ini adalah waktu yang disediakan hukum rasional sejarah untuk berpikir logis dan realistis. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 6 Desember 2025





