SELAMAT JALAN MARIA: KESETIAAN YANG TAK BERSUARA

SELAMAT JALAN MARIA: KESETIAAN YANG TAK BERSUARA

Esai: In Memorial

SELAMAT JALAN MARIA: KESETIAAN YANG TAK BERSUARA
Oleh: Kadir Wahyudi

Siang itu, setelah aku kalah di Tournamen Orado dalam rangka memperingati Hari TNI ke 81 di Kodim 0833 memperebutkan Piala Panglima TNI, aku bersama Eddy kakak Sony Rudiwiyanto anggota Komisi C DPRD Kota Malang meluncur ke RS Saiful Anwar menengok Maria Cristina Puji Rahayu, kader banteng yang sangat aku sayangi.

Ternyata, kehadiranku di sana adalah terakhir kali untuk melihatnya sebagai teman dekat, sahabat dan keluarga, seperti kakak adik. Dia paling manja dan paling dekat denganku selain Sony Rudiwiyanto suaminya, yang ditinggalkannya penuh sejuta kenangan.

Bagiku, Maria Cristina Puji Rahayu adalah kader yang  sangat loyal pada PDI Perjuangan Kota Malang. Kader Militan bener! Tak diragukan.

Ada kader yang namanya besar karena jabatan, ada yang besar karena kesetiaannya. Dan ada kader yang besar karena nasib.

Maria Christina Puji Rahayu adalah yang kedua. Besar karena kesetiaan. Aku bukan apa-apa. Aku berbangga hati, merasa besar seperti ia karena kesetiaan.

Minggu itu, 27 September 2026, ia berpulang. Hatiku terasa tersayat ketika berita dukan itu datang. Padahal, barusan aku keluar dari rumah sakit itu meninggalkan ia seperti tidur nyenyak, koma selama 32 hari terbaring di sana.

Belum lama pantatku menempel di tempat tidurku, berita duka itu menyambar hatiku. Oh. Tuhan Kau dengarkan doa-doa kami. Kau kasihani ia yang koma selama itu, terimakasih Tuhan. Rest in Peace.

Maria, mantan pengurus Ranting Oro-oro Dowo, Kecamatan Klojen, Kota Malang dari PDI Perjuangan itu kini telah selesai dengan semua hiruk-pikuk duniawi.

Senin pagi, 28 September 2026, ia diantar ke peristirahatan terakhirnya di TPU Nasrani Sukun.

Jika dilihat sekilas, ini hanya berita duka biasa. Tapi jika dilihat lebih dalam, kepergian Maria adalah cermin tentang apa arti menjadi kader sejati.

Ia bukan anggota DPR RI, bukan menteri, bukan ketua DPC. Ia adalah kader struktural ranting – level bawah diatas Anak Ranting partai setingkat RW dalam struktur partai, level yang paling sering bekerja paling keras tapi paling jarang disebut namanya.

Ia yang menempel stiker, ia yang mengatur kursi rapat, ia yang datang paling awal dan pulang paling akhir.

Dan itulah yang membuatnya istimewa.

Dalam peristirahatannya, hadir Wahyu Hidayat, beberapa Kepala Dinas, Willastar Camat Klojen dan yang aku tahu, Solikin Lurah nyentrik Kelurahan Oro-oro Dowo.

Dan, di pemakaman itu, kita melihat potret gotong royong yang menjadi jiwa-jiwa PDI Perjuangan. Suaminya, Soni Rudiwiyanto, anggota Komisi C DPRD Kota Malang, mendampingi dengan tabah.

Amithya Ratnanggani Sirraduhita Ketua DPRD Kota Malang dan juga sebagai ketua DPC partai datang mengantarkan ke peristirahatan terakhir Maria kader partai yang sangat aku sayangi.

Hadir juga di pemakaman, teman-teman DPC, PAC, Ranting, Anak Ranting, hingga mantan Ketua DPRD Kota Malang I Made Riandiana Kartika mengawal hingga liang lahat ditutup.

Semua hadir bukan karena protokol, tapi karena cinta. Karena Maria adalah keluarga.

Seperti yang dikatakan Made Riandiana: “Mbak Maria adalah kader struktural banteng yang setia dan loyal. Banyak kenangan perihal kesetiaan Maria.”

Setia dan loyal. Dua kata yang sederhana, tapi mahal harganya di zaman politik transaksional ini.

Kesetiaan Maria adalah pengingat bagi kita semua bahwa partai politik tidak dibangun di gedung megah DPP, tapi dibangun di gang-gang kecil seperti di Jalan Muria Gg II No. 648 A, tempat jenazahnya disemayamkan. Di situlah denyut nadi partai sesungguhnya berdetak.

Kini Maria telah berpulang di pangkuan Tuhan. Tugasnya di dunia telah selesai. Ia telah memberikan apa yang ia punya: kesetiaannya.

Patah tumbuh hilang berganti. Begitulah kata pepatah. Kader boleh pergi, tapi semangatnya harus tetap tinggal. Dan partai harus tetap hidup selama Indonesia ini ada dan tidak bubar.

Selamat jalan, Mbak Maria. Terima kasih atas baktimu. Istirahatlah dengan tenang di rumah Bapa di surga. Kami akan tetap melanjutkan perjuanganmu. Merdeka!

Tugasmu sudah selesai, bahagialah di peristirahatmu, biar kami yang melanjutkan dan menjaga Banteng-banteng ketaton ini.

Posted: sarinahnews.com
Malang, 30 September 2026

***Kenangan bersama Maria Cristina Puji Rahayu Banteng betina tak mengenal lelah dalam berjuang, 27 September 2026. Rest in Peace! We love you.