Filsafat Politik
Sang Tiran, Manusia Politik dan Sebuah Ironi
Joko Sukmono
_Politik diciptakan untuk mengatur kehidupan bersama, tetapi politik dapat berubah menjadi kehendak untuk menguasai kehidupan itu sendiri._
Hari ini, pada tahun 2026, di abad ke-21 ini, umat manusia sedang berada pada situasi batas penyesalan.
Situasi tersebut bukan lagi sekadar kegelisahan sosial yang muncul sesaat, melainkan telah berkembang menjadi sebuah kemungkinan tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah umat manusia, yang oleh Dechiperisme dibacakan sebagai disresonansi konektisitas,
Bahwa disresonansi konektifitas adalah sebuah keadaan ketika hubungan antara manusia, institusi, kekuasaan, dan kehidupan sosial tidak lagi menghasilkan keterhubungan yang produktif, melainkan justru menghasilkan keterputusan yang semakin dalam.
Dari keadaan tersebut kemudian terbentuk moral kontingensi politik yang ditopang oleh hukum-hukum rasional sosial politik yang liberal, yakni sebuah situasi yang dilandasi oleh tuntutan sejarah terhadap segala bentuk kontingensi polarisme politik yang stereotip.
Manusia hidup di dalam jaringan sosial yang seharusnya menghubungkan keberadaannya dengan manusia lainnya, namun jaringan tersebut justru berubah menjadi instrumen yang membatasi, mengarahkan, bahkan menentukan keberadaan manusia itu sendiri.
Manusia menciptakan tirani, kemudian ketika tirani ciptaannya itu mengeksploitasi umat manusia, maka manusia harus melawannya.
Perlawanan tersebut pada hakikatnya bukan hanya perjuangan untuk menggulingkan seorang penguasa, tetapi sebuah usaha untuk merebut kembali keberadaan manusia yang telah dianeksasi oleh tirani, oleh sang Tiran yang konkret di dalam ruang dan waktu sebagai manusia politik.
Manusia menciptakan institusi untuk mengatur kehidupan sosial, tetapi institusi itu kemudian memperoleh kekuasaan atas manusia yang menciptakannya.
Manusia menciptakan hukum untuk menjamin kebebasan, tetapi hukum dapat berubah menjadi instrumen yang membatasi kebebasan itu sendiri.
Manusia menciptakan negara untuk menjaga kehidupan bersama, tetapi negara dapat berubah menjadi kekuatan yang menentukan siapa yang boleh hidup, siapa yang harus tunduk, dan siapa yang harus disingkirkan.
Inilah ironi terbesar manusia: manusia menciptakan kekuasaan untuk mengatur kehidupannya sendiri, tetapi pada suatu titik kekuasaan itu berdiri di hadapannya sebagai sesuatu yang asing dan bahkan memusuhi keberadaannya.
Bagi Dechiperis, di dalam pembacaannya, siapakah sang Tiran yang memenuhi prasyarat sebagai seorang Tiran yang sekaligus menempati posisi fundamental di dalam sejarah umat manusia modern? Dia adalah Napoleon Bonaparte.
Oleh karena itu, di dalam Dechiperisme, keberadaan ontologis eksistensial otentiknya dibaca sebagai politik abstrak yang menjadi konkret di dalam sejarah melalui figur manusia Tiran bernama Napoleon Bonaparte.
Ia hadir di dalam politik sebagai akibat dari tragedi politik terbesar di dalam sejarah umat manusia, dan akibat konkretitasnya, politik modern hari ini tetap beresonansi dengannya meskipun bentuk-bentuk kontingensinya berubah seiring dengan hukum rasional perubahan sosial yang bergerak di dalam lompatan waktu.
Sang Tiran bukan sekadar seorang individu yang memiliki kekuasaan, melainkan sebuah bentuk historis yang memperlihatkan bagaimana kehendak politik dapat menjadikan tubuh seorang manusia sebagai medium bagi bergeraknya sejarah.
Dechiperis menuliskan peristiwa historis politik ini ketika malam-malam penghancuran total ilusi politik ideologis dihancurkan tanpa mengenal belas kasihan.
Meskipun pada saat penulisan ini waktu telah berjalan lebih dari dua abad sejak kejadian ironitas tragis itu berlangsung, Dechiperis tetap menempatkannya sebagai sebuah peristiwa yang belum selesai secara historis.
Sejarah tidak pernah benar-benar selesai hanya karena seorang Tiran telah mati atau sebuah rezim telah runtuh. Yang tertinggal adalah struktur, gagasan, bahasa politik, simbol, dan moralitas yang kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, Dechiperis menuangkan peristiwa tersebut ke dalam konstruksialisasi struktural fundamental Dechiperisme yang bernama situasi transhistorisitas, yakni sebuah keadaan ketika peristiwa masa lalu terus bergema di dalam trans-idea rasio historis Dechipering.
Yang telah mati secara biologis belum tentu mati secara historis; dan yang telah runtuh secara politik belum tentu berhenti bekerja sebagai struktur di dalam kesadaran manusia.
Dalam pada itu, Dechiperisme menjelaskan bahwa sampai dengan hari ini, pada tahun 2026, landasan politik modern masih berpedoman secara fundamental kepada prinsip dasar yang dilahirkan oleh peristiwa politik terbesar tersebut.
Dalam konstruksi Dechiperisme, Revolusi Prancis merupakan salah satu revolusi politik yang menjadi inspirasi terbesar bagi perubahan wajah politik dunia.
Dechiperis menampakkan transhistorisasi politis, artinya semboyan Revolusi Prancis yang berbunyi kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan telah berubah menjadi nilai-nilai fundamental politik demokratis yang dituangkan ke dalam piagam dan dokumen hampir semua negara di muka bumi.
Dengan demikian, peristiwa historis tidak lagi tinggal sebagai peristiwa yang terkubur di masa lalu. Ia berubah menjadi bahasa politik yang terus digunakan, menjadi legitimasi bagi institusi, menjadi ukuran moral bagi negara, dan menjadi dasar bagi manusia modern dalam membayangkan bagaimana sebuah kehidupan politik seharusnya dibangun.
Namun demikian, Dechiperisme membacakan bahwa otoritas global yang hari ini menjadi dominator kehidupan sosial politik dunia tidaklah mungkin bisa sungguh-sungguh ada dan menjadi tanpa warisan politik tersebut.
Artinya, seefektif apa pun tatanan politik global yang diinstitusionalisasi dan diinstruksionalisasi, tetaplah merupakan cerminan dari jiwa Revolusi Politik Prancis tersebut.
Otoritas global boleh saja mengubah bentuk, bahasa, perangkat, dan mekanismenya, tetapi di dalam struktur terdalamnya tetap terdapat jejak dari revolusi politik yang pernah menghancurkan tatanan lama dan menggantikannya dengan sebuah konsep baru tentang manusia, negara, hukum, dan kekuasaan.
Inilah transhistorisasi politik: sebuah gagasan yang pada mulanya lahir sebagai pemberontakan terhadap tatanan lama kemudian berubah menjadi fondasi bagi tatanan baru.
Kemudian daripada itu, lebih lanjut Dechiperis membacakan bahwa seiring waktu, hukum rasional perubahan tidak selalu berpihak kepada Prancis sebagai tempat dilahirkannya fundamental politik tersebut, namun terus bergerak mencari saluran-saluran baru ke berbagai ruang sosial politik yang memungkinkan adanya tekanan historis berupa disnormalisasi hegemonistik sistematis.
Artinya, ketika sebuah tirani tidak mampu lagi dibebankan kepada sang Tiran, meskipun dia adalah manusia politik yang maha hebat, terbukti sejarah tetap berpihak kepada hukum rasional peralihan sejarah.
Runtuhnya otoritas Napoleon Bonaparte sebagai Tiran tidak berarti bahwa tirani telah selesai. Tirani tetap berproses mencari bentuk tubuhnya yang baru, dan dalam pembacaan Dechiperisme salah satu bentuk baru tersebut kemudian dilahirkan oleh politik balas dendam antara Prancis dan Jerman.
Sejarah tidak pernah berhenti hanya karena satu tokoh telah dikalahkan. Kekuasaan selalu mencari tubuh baru, bahasa baru, dan legitimasi baru agar dapat terus mempertahankan kehendaknya untuk berkuasa.
Dechiperisme menerangkan bahwa tuntutan sejarah berikutnya adalah peristiwa ideologis politis yang ekstrem, lahir dari kehendak untuk berkuasa dan kehendak mutlak untuk menjadikan dirinya tidak hanya sebagai sang Tiran maupun sebagai manusia politik, tetapi sebagai sesuatu yang lebih kompleks dari itu.
Siapakah dia? Dia adalah diktator Nazi Jerman yang bernama Adolf Hitler, seorang manusia politik yang di dalam pembacaan Dechiperisme melampaui batas-batas kontingensi politik ideologis yang ada pada zamannya.
Hitler bukan hanya tampil sebagai individu yang memegang kekuasaan negara, tetapi sebagai figur yang berusaha menyatukan negara, hukum, sejarah, identitas, dan kehendak politik ke dalam satu tubuh kekuasaan.
Di dalam dirinya, manusia politik berusaha menjadi negara, dan negara berusaha menjadi sejarah. Inilah bentuk ekstrem ketika manusia tidak lagi hanya menggunakan kekuasaan, tetapi berusaha mengidentifikasikan keberadaan dirinya dengan kekuasaan itu sendiri.
Namun demikian, Dechiperisme membacakan bahwa di seberang benua Eropa tetap bercokol sebuah imperium besar yang sepanjang abad ke-17 sampai dengan abad ke-20 menjadi salah satu kekuatan politik terbesar dunia, yaitu Britania Raya.
Imperium ini menguasai berbagai belahan dunia dan turut menentukan konfigurasi geopolitik global.
Sementara itu, setelah Napoleon melakukan perubahan besar terhadap batas-batas politik Eropa, peta Eropa mengalami perubahan yang terus-menerus, dengan negara-negara yang sebelumnya memiliki bentuk tertentu kemudian mengalami reorganisasi dan pembentukan kembali.
Sejarah politik Eropa dengan demikian tidak pernah benar-benar stabil; ia terus menjadi ruang pertarungan antara imperium, negara, bangsa, dan manusia politik yang berusaha menentukan arah sejarah.
Di sebelah barat Atlantik dan di sebelah timur Pasifik kemudian lahirlah sebuah negara raksasa baru yang sampai pada awal Perang Dunia Pertama masih merupakan raksasa yang sedang tidur.
Namun negara yang didirikan oleh para petualang dan gerombolan cowboy itu terus menempa dirinya sebagai sebuah bangsa dan negara yang memiliki landasan demokrasi modern dengan prinsip politik yang terinspirasi dari Revolusi Politik Prancis dan prinsip ekonomi pasar bebas yang dalam pembacaan ini ditelusurkan kepada Adam Smith dan David Ricardo.
Amerika Serikat kemudian tidak lagi menjadi kekuatan regional semata, tetapi berkembang menjadi kekuatan global yang mampu memproyeksikan pengaruh politik, ekonomi, militer, dan kebudayaannya ke berbagai belahan dunia.
Di sinilah Dechiperisme melihat bahwa manusia politik tidak pernah hanya beroperasi melalui seorang Tiran individual; manusia politik juga dapat menjelma menjadi struktur negara, sistem ekonomi, institusi global, dan mekanisme kekuasaan yang jauh lebih luas daripada tubuh seorang individu.
Lebih konkret lagi, Dechiperisme menerangkan bahwa dalam konstruksi Dechiperisme, seorang Tiran adalah manusia politik yang berani menyetarakan dirinya sendiri sebagai negara, undang-undang, dan sejarah.
Yang oleh Dechiperisme dinyatakan sebagai manusia otentik multikompleks yang konkret di dalam sejarah sebagai kontingensi konkret yang menggenggam sejarah.
Sang Tiran tidak lagi memandang dirinya sebagai bagian dari sejarah, melainkan mulai memandang sejarah sebagai sesuatu yang dapat dimiliki dan diarahkan oleh dirinya. Ia tidak lagi tunduk kepada hukum sejarah, tetapi berusaha menundukkan sejarah kepada kehendaknya sendiri.
Pada titik inilah kehendak untuk berkuasa mencapai bentuk paling ekstremnya, sebab kekuasaan tidak lagi menjadi alat untuk mencapai tujuan, tetapi berubah menjadi tujuan ontologis itu sendiri.
Dan hari ini, pada tahun 2026, pilihan Dechipering jatuh kepada dua anak manusia bernama Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, dan Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Keduanya, dalam pembacaan Dechiperisme, diposisikan sebagai simbol tirani abad ke-21 dan sebagai dua figur yang memiliki pengaruh sangat besar terhadap laju politik dunia.
Keduanya dibaca sebagai raksasa politik sekaligus Tiran raksasa yang siap melalap apa saja dan siapa saja yang dianggap menghalangi jalan sejarah dan instruksi institusionalisasi politiknya.
Namun pembacaan tersebut tidak berhenti pada pribadi kedua figur tersebut. Yang hendak dibongkar oleh Dechiperisme adalah struktur politik yang memungkinkan seorang manusia memperoleh kemampuan sedemikian besar untuk memengaruhi kehidupan manusia lainnya.
Instruksi institusionalisasi politik kemudian bergema dan bergerak melawan tiran-tiran tiruan yang diklaim sebagai penghambat bagi kemajuan global.
Di sinilah hukum rasional perubahan sosial bekerja keras untuk memastikan saluran historis bergerak cepat melampaui batas-batas negara, batas sosial politik ideologis, dan batas sosial geografis.
Dunia politik tidak lagi dapat dibaca hanya melalui ruang nasional, sebab kekuasaan telah berkembang menjadi jaringan global yang menembus batas-batas teritorial. Tindakan politik yang dilakukan di satu tempat dapat menghasilkan konsekuensi sosial di tempat lain.
Keputusan seorang manusia politik dapat mengubah kehidupan jutaan manusia yang bahkan tidak pernah mengenalnya. Inilah bentuk baru dari manusia politik di abad ke-21: tubuhnya berada di satu tempat, tetapi konsekuensi ontologis politiknya bergerak melintasi seluruh dunia.
Inilah yang oleh Dechiperisme disebut sebagai sebuah harapan baru bagi datangnya dunia baru yang otentik. Namun dunia baru yang otentik tidak mungkin hanya dibangun dengan mengganti seorang Tiran dengan Tiran lainnya.
Pergantian wajah kekuasaan tanpa perubahan basis material peradaban hanya akan menghasilkan reproduksi sejarah dalam bentuk yang berbeda.
Sang Tiran mungkin berubah, sistem politik mungkin berubah, bahasa politik mungkin berubah, bahkan institusi dapat dibubarkan dan dibangun kembali, tetapi jika struktur kesadaran manusia masih tetap berada di bawah bayang-bayang kehendak untuk berkuasa, maka tirani akan selalu menemukan tubuh barunya.
Kemudian lebih dalam lagi Dechiperisme mempertanyakan kepada keadaan, yakni hukum rasional sejarah: apakah tirani itu dibutuhkan oleh kehidupan sosial politik?
Apakah sang Tiran selalu hadir di dalam sejarah?
Pertanyaan filosofis ini oleh rasio historis mendapatkan kode-kode yang diterjemahkan oleh Dechiperis sebagai lintasan dunia ide yang bergerak di dalam transhistorisitas manusia selama manusia menjalani hidup otentiknya di dunia sosial.
Dan ketika kekosongan keotentikan hidup itu terjadi, maka sang Tiran otentik juga lenyap bersama keotentikannya. Artinya, keberadaan Tiran tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan individu untuk berkuasa, tetapi juga oleh keadaan sosial yang memungkinkan masyarakat menyerahkan keberadaannya kepada figur tersebut.
Tiran membutuhkan manusia yang menyerahkan kehendaknya; dan manusia yang kehilangan keberanian eksistensialnya membutuhkan Tiran untuk memberinya arah.
Karena itu, Dechiperisme menerangkan bahwa tuntutan sejarah berikutnya adalah menghantamkan godam sejarah ke arah Tiran-tiran imitasi yang oleh Dechiperisme disebut sebagai kebrutalan historis.
Dunia sosial politik pada akhirnya akan runtuh ketika tirani kehilangan kemampuan untuk memberikan makna yang dipercaya oleh manusia.
Runtuhnya tersebut kemudian digantikan dengan bentuk baru yang bernama generasi baru, yaitu generasi yang memiliki model-modelnya sendiri tanpa harus beresonansi dengan Tiran-tiran klasik yang telah terkubur oleh sejarah.
Di sinilah pergulatan manusia politik mencapai batasnya: apakah manusia akan terus menciptakan Tiran baru untuk menggantikan Tiran lama, ataukah manusia akhirnya mampu membangun keberadaan politik yang tidak lagi membutuhkan tubuh seorang Tiran untuk membuktikan keberadaannya?
Sebab ironi terbesar dalam sejarah manusia adalah bahwa manusia selalu menciptakan sesuatu yang pada akhirnya dapat menguasai penciptanya sendiri.
Negara diciptakan oleh manusia, tetapi negara dapat menguasai manusia.
Hukum diciptakan untuk manusia, tetapi manusia dapat dipaksa tunduk kepada hukum yang kehilangan tujuan awalnya.
Politik diciptakan untuk mengatur kehidupan bersama, tetapi politik dapat berubah menjadi kehendak untuk menguasai kehidupan itu sendiri.
Bahkan ide tentang kemanusiaan dapat berubah menjadi mitologi yang digunakan untuk membenarkan tindakan politik tertentu.
Maka pertanyaan terbesar Dechiperisme bukan lagi siapa Tiran berikutnya, melainkan apakah manusia konkret mampu menghentikan reproduksi ontologis dari Tirani itu sendiri.
Dan ketika manusia konkret mampu menjawab pertanyaan tersebut melalui rasionalitas yang logis dan realistis, maka hukum rasional perubahan akan menemukan saluran historisnya.
Sang Tiran tidak lagi menjadi pusat sejarah. Manusia konkret kembali menjadi subjek dari keberadaannya sendiri.
Pada titik itulah politik otentik mulai menemukan bentuk ontologisnya, bukan sebagai kekuasaan yang menggenggam manusia, melainkan sebagai ruang historis tempat manusia merebut kembali keberadaannya yang selama berabad-abad telah diserahkan kepada berbagai bentuk Tirani. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 25 Agustus 2026





