Opini
CLASH DAN CRACK DALAM SEJARAH KHILAFAH
Oleh Ayik Heriansyah
_Sejarah menunjukkan bahwa khilafah tidak pernah benar-benar steril dari persoalan clash dan crack. Khilafah tidak seindah sorga seperti yang dibayangkan oleh aktivis HTI._
Dalam imajinasi aktivis HTI, khilafah adalah surga dunia. Di mana keamanan, kesejahteraan, kebahagiaan dan kenikmatan hidup tersedia. Semua orang hidup tanpa kebencian dan permusuhan satu sama lain. Surga dunia umat Islam yang digambarkan bersatu di bawah satu kepemimpinan seorang khalifah.
Namun, jika dilihat secara empiris, sejarah khilafah tidak selalu berjalan mulus. Hampir selalu ada clash dan crack. Clash adalah benturan kekuasaan, kepentingan, dan legitimasi. Crack adalah keretakan yang melahirkan fragmentasi wewenang, wilayah dan teritorial.
Contoh paling awal adalah Fitnah Kubra. Terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan pada 656 M memicu konflik politik besar. Lalu pada masa Ali bin Abi Thalib terjadi Perang Jamal dan Perang Shiffin. Konflik tersebut kemudian melahirkan Khawarij. Clash politik akhirnya berkembang menjadi crack sosial.
Ketika Abbasiyah menggulingkan Umayyah pada abad ke-8, terjadi clash dalam skala besar. Abbasiyah berhasil menguasai pusat pemerintahan, tetapi Umayyah tidak sepenuhnya hilang.
Abdurrahman ad-Dakhil mendirikan pemerintahan Umayyah di Córdoba pada 756 M. Dunia Islam pun mengalami crack wilayah antara Baghdad dan Andalusia. Pada abad ke-10, crack semakin besar. Abbasiyah di Baghdad, Fatimiyah di Mesir, dan Umayyah di Andalusia sama-sama mengklaim legitimasi kekhalifahan.
Crack juga terjadi dalam bentuk pemisahan antara legitimasi dan kekuasaan. Baghdad pernah berada di bawah dominasi Buwaihiyah, kemudian Saljuk.
Khalifah Abbasiyah tetap ada, tetapi kekuasaan politik dan militer berada di tangan penguasa lain. Khalifah menjadi sumber legitimasi, sementara sultan dan wazir yang menjalankan kekuasaan.
Pada abad ke-12, Dinasti Zanki dan kemudian Ayyubiyah melakukan konsolidasi politik di Syam dan Mesir. Shalahuddin al-Ayyubi berhasil mengakhiri kekuasaan Fatimiyah pada 1171 M.
Namun setelah wafatnya Shalahuddin pada 1193 M, wilayah Ayyubiyah kembali terpecah di antara anggota keluarga dan penguasa lokal. Fragmentasi melahirkan konsolidasi, tetapi konsolidasi kembali melahirkan fragmentasi.
Akhir Ayyubiyah di Mesir memperlihatkan contoh clash elite. Krisis suksesi setelah wafatnya Sultan as-Salih Ayyub membuka jalan bagi dominasi Mamluk. Pada 1250 M, Mamluk mengambil alih kekuasaan. Perubahan rezim tersebut menunjukkan bahwa konflik internal dapat menjadi pintu lahirnya dinasti baru.
Pada 1258 M, Baghdad ditaklukkan Mongol di bawah Hulagu Khan. Khalifah al-Musta’shim terbunuh dan kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad berakhir.
Abbasiyah kemudian dipulihkan secara simbolik di Kairo di bawah perlindungan Mamluk. Ini menunjukkan kembali pemisahan antara legitimasi simbolik dan kekuasaan politik.
Fenomena clash dan crack juga terjadi pada Utsmaniyah. Kesultanan ini mampu bertahan selama berabad-abad, tetapi tidak bebas dari konflik suksesi, persaingan elite, pemberontakan, dan gerakan nasionalisme.
Sejaman dengannya ada Kesultanan Safawi, Mughal, Mamluk, Aceh, Malaka, Demak, Cirebon, Tidore, Ternate, dll. Pada akhirnya, imperium Utsmaniyah runtuh setelah Perang Dunia I dan institusi kekhalifahan dihapus pada 1924.
Dari berbagai kasus tersebut terlihat bahwa clash dan crack merupakan dinamika berulang dalam sejarah khilafah. Clash dapat berupa perebutan suksesi, legitimasi, wilayah, atau kekuasaan.
Crack dapat berupa munculnya dinasti regional, pemisahan wilayah, dualisme kekuasaan, bahkan beberapa kekhalifahan yang berdiri bersamaan.
Kendati terjadi clash dan crack; Umayyah, Abbasiyah, Ayyubiyah, Mamluk, dan Utsmaniyah pernah menciptakan stabilitas, ekspansi, administrasi, dan peradaban besar. Masalahnya, stabilitas itu tidak pernah permanen. Konflik dan keretakan selalu muncul kembali.
Karena itu, sejarah khilafah lebih tepat dilihat sebagai tarik-menarik antara unity dan fragmentation. Sebagai konsep normatif, khilafah dapat dibayangkan sebagai kesatuan politik umat.
Tetapi sebagai institusi dalam sejarah, ia dijalankan oleh manusia yang selalu berhadapan dengan kepentingan elite dan perubahan sosial.
Maka, sejarah menunjukkan bahwa khilafah tidak pernah benar-benar steril dari persoalan clash dan crack. Khilafah tidak seindah sorga seperti yang dibayangkan oleh aktivis HTI. ***)
Posted: sarinahnews.com
Bandung, 26 Agustus 2026





