Opini:
POTRET MASYARAKAT INDUSTRI
Oleh Djoko Sukomono
Inilah potret masyarakat industri yang menciptakan model desain masyarakat yang stratifikatif, yang hanya bisa dinikmati oleh kaum borjuis dan antek-anteknya, sementara mayoritas manusia dijadikan pangsa pasar.
Hari ini adalah hari-hari yang harus dilalui, kecuali bagi mereka yang mati.
Hari ini tidak boleh diabaikan begitu saja, karena jika terabaikan, akan berakibat pada hilangnya kesempatan untuk pencapaian yang telah direncanakan secara sistematis.
Hari ini adalah rangkaian tindakan produktif yang progresif dan konkret dalam rangka mendunia, yaitu membangun relasi terstruktur, sistematis, dan konkret.
Hari ini adalah hari yang penuh inisiatif, produktif, dan sukses.
Hari esok adalah bentangan program-program yang logis dan realistis. Banyak sekali ungkapan pragmatis yang ada dalam jiwa manusia modern dalam mengantisipasi progresivitas dari go public yang digelontorkan oleh agen-agen industrialis terhadap kehidupan sosial manusia di muka bumi ini.
Inilah yang disebut sebagai virus mental di era digitalisasi ini, yang di dalamnya terkandung nilai-nilai fundamental terhadap perubahan struktur sosial yang usang dan digantikan oleh struktur sosial baru berbasis masyarakat industri.
Sementara itu, di belahan bumi yang tidak terjangkau oleh konstitusi dan sama sekali tidak terkoneksi dengan konstitusi, hidup ratusan juta manusia yang terpinggirkan dan terasing dari dunianya.
Mereka terpinggirkan karena hidupnya hanya menunggu keberuntungan, dan terasing dari dunianya adalah nasib para buruh yang terlibat dalam proses produksi, tetapi tidak terhubung dan terasing dengan produk yang dihasilkannya.
Inilah potret masyarakat industri yang menciptakan model desain masyarakat yang stratifikatif, yang hanya bisa dinikmati oleh kaum borjuis dan antek-anteknya, sementara mayoritas manusia dijadikan pangsa pasar.
Kekuasaan itu memiliki perompak bernama kapitalis dan borjuis yang membentuk korporasi dengan oligarki sebagai ujung tombaknya.
Namun, ada juga kekuasaan yang masih kekanak-kanakan, di mana penguasanya berada di bawah kendali kapitalis.
Di masyarakat industri yang lain, penguasanya masih malu-malu dan bersembunyi di balik kekejaman para oligarki dengan alasan bahwa negara membutuhkan investasi untuk menumbuhkan ekonomi.
Di sisi lain, petani mulai mencemaskan hasil panenan yang tidak sepadan dengan biaya produksi yang dikeluarkan, dan ini sudah berlangsung puluhan tahun.
Namun, ada juga mantan feodalis yang kini bergelimang kekayaan dan sudah terlibat jauh dalam kapitalisme. Mereka cenderung berhomoluden, menyenangkan diri, dan menikmati hidup.
Hari ini adalah hari yang indah, hidup ini seindah bunga mawar dan seharum bunga melati.
Hari esok bukanlah bayang-bayang yang menakutkan, melainkan tempat segala keindahan dan keberhasilan.
Para feodalis inilah yang kemudian stratifikatif membentuk kelas-kelas dalam masyarakat dengan korporasi sebagai alatnya, yang memungkinkan kaum borjuis kapitalis untuk menjalankan eksploitasi manusia terhadap manusia dan mengeruk sumber daya alam yang sebesar-besarnya, bukan untuk kepentingan nasional, melainkan untuk memperbesar serta memperkuat konstruksi sosialnya.
Masyarakat industri yang sengaja dibentuk dengan dukungan rezim politik ini mengakibatkan perubahan struktur sosial masyarakat yang sebelumnya adem ayem dan tenteram dengan keagrarisannya.
Transformasi sains dan teknologi dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan industrialisasi, yang mau tidak mau terus-menerus berproduksi, bukan lagi untuk kebutuhan konsumen semata, melainkan untuk memperbesar omzet produksi di hampir semua aspek kehidupan sosial.
Sehingga, era baru saat ini adalah suatu orde industri yang tak terelakkan, seperti industri pertanian, industri pangan, industri sandang, industri papan, industri pariwisata, dan bahkan industri ini sudah memasuki wilayah politik dan budaya.
Kelimpahan produksi yang tidak terserap oleh konsumen berakibat fatal bagi kelangsungan hidup para pekerja, dan PHK massal tak terelakkan.
Namun, kelimpahan produksi tersebut akan segera diatasi dengan regulasi yang menguntungkan para kapitalis, karena rezim politik tetap berada di bawah asuhan korporasi.
Apakah kondisi di NKRI ini sudah sedemikian memprihatinkan? Ya. Hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan negara untuk mengantisipasi datangnya masyarakat industri di Indonesia, sedangkan tujuan berbangsa dan bernegara bagi Indonesia adalah terwujudnya masyarakat sosialis yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Bahaya laten saat ini di abad ke-21, khususnya bagi NKRI, bukanlah komunisme atau paham radikal lainnya, tetapi denasionalisasi yang digerus oleh arus liberalisasi sosial yang diperkuat oleh orde industri.
Inilah potret masyarakat industri yang akan mencaplok NKRI dengan cara-cara yang terstruktur, sistematis, dan masif berupa sains, teknologi informasi, dan liberalisasi di segala aspek kehidupan sosial manusia.
Apa itu? Itulah one-dimensional man (manusia satu dimensi) di bawah panji-panji masyarakat industri kapitalistik.
Tulisan ini adalah pemberitahuan kepada seluruh komponen bangsa, elemen masyarakat, dan seluruh rakyat Indonesia bahwa negara bangsa Indonesia ini sudah terancam eksistensinya dan mengarah pada denasionalisasi (hilangnya nasionalisme). ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 25 Mei 2025
Author: Joko Sukmono, Badan Pendidikan dan Pelatian Gerakan Pemuda dan Pelatihan (NASMAR)





