MANUSIA KONKRET INDONESIA

MANUSIA KONKRET INDONESIA

Filsafat:

MANUSIA KONKRET INDONESIA
Djoko Sukmono

Hidup tidak pernah sesederhana berbagi dan mencintai. Tidak pernah sesederhana memberi dan mengasihi. Tetapi juga tidak pernah sepenuhnya tentang merampas dan menindas.

Kehidupan adalah medan tarik-menarik antara kehilangan dan perjuangan, antara melepas dan mempertahankan. Di sanalah manusia diuji sebagai manusia konkret.

Selama hidup, kita telah membuat tak terhitung keputusan—untuk diri sendiri dan untuk orang lain. Namun keputusan tidak pernah netral: ia selalu memikul konsekuensi.

Maka pertanyaan dasarnya bukan sekadar apa yang kita pilih, melainkan apakah pilihan itu sungguh kita hidupi. Hidup hanya sekali, dan justru karena itu ia menuntut kesungguhan, bukan kepura-puraan.

Memilih teman, memilih lingkungan, memilih jalan hidup—semua itu bukan sekadar preferensi, melainkan komitmen eksistensial. Ketika pilihan telah dibuat, tidak ada ruang untuk setengah hati. Putuskan, lalu eksekusi. Keragu-raguan adalah bentuk penyangkalan terhadap hidup itu sendiri.

Cinta, dalam pengertian terdalamnya, bukan emosi sentimentil. Cinta adalah pelayanan yang menjelma dalam kata dan perbuatan. Ia adalah pancaran kasih Ilahi yang tidak berbatas dan tidak berkesudahan.

Cinta tidak memaksa, tidak tergesa, tidak lelah menanti. Ia membuka pintu bagi seluruh anak-anak manusia tanpa membedakan suku, bangsa, dan keyakinan.

Di sanalah harapan hidup dibentangkan—bukan sebagai janji kosong, tetapi sebagai kemungkinan yang menuntut tanggung jawab.

Namun harapan tidak pernah hadir dalam ruang hampa. Ia tumbuh dari pergulatan psikologis manusia yang nyata.

Dambaan demi dambaan berkembang menjadi renungan, dan renungan itu adalah cermin kegelisahan manusia dalam menghadapi dirinya sendiri dan dunia sosial yang terus berubah.

Perubahan, pada tataran administratif maupun organisatoris, adalah keniscayaan historis. Tidak ada organisasi yang kebal dari disintegrasi. Interaksi—baik politis maupun edukatif—selalu membawa potensi benturan.

Justru dari konflik kepentingan yang tajam dan runcinglah organisasi mulai menunjukkan watak sejatinya: apakah ia bertumbuh atau membusuk. Ironisnya, kehancuran organisasi sering kali tidak datang dari luar, melainkan dari kode etiknya sendiri yang dikhianti oleh kepemimpinan yang tidak becus.

Maka berorganisasi sejatinya adalah latihan kedewasaan, bukan sekadar ritual struktural. Salam perubahan dan kemajuan—tetapi hanya bagi mereka yang berani bercermin.

Waspadalah terhadap situasi sosial yang tampak partisipatif. Sebab sering kali di balik partisipasi semu itu bersembunyi para penindas yang telah melepaskan hantu sosial bernama Drakula Politik—menghisap energi kolektif sambil menyamar sebagai penyelamat.

Waspadalah pula terhadap kondisi psikologis objektif yang tidak stabil dan tak terkendali, karena dari sanalah lahir keputusan-keputusan destruktif yang dibenarkan atas nama keadaan.

Situasi sosial bukanlah abstraksi kosong. Ia adalah fenomena konkret dari manusia-manusia konkret yang merangkai tindakan produktif dalam bentuk yang beragam: sosial-politik, sosial-ekonomi, dan sosial-budaya.

Di sanalah sejarah bekerja, bukan sebagai mitos, tetapi sebagai rangkaian tindakan manusia yang saling berkelindan.

Dalam kearifan Jawa, ada istilah WIWIL. Jika bangsa dianalogikan sebagai pohon, maka tanah tempat ia tumbuh adalah fondasi—itulah Pancasila.

Topografi yang melindungi pohon dari angin, panas berlebih, longsor, dan banjir adalah pemerintah, yang semestinya bersifat ekologis, bukan eksploitatif.

Pohon bangsa tidak pernah hidup sendirian; ia heterogen, penuh keanekaragaman hayati. Di sana terjadi ko-adaptasi dan ko-modifikasi.

Namun hukum alam bekerja tanpa kompromi: siapa yang memperoleh cahaya paling banyak, dialah yang tumbuh paling kuat—bahkan bisa menjadi raksasa yang menindas yang lain.

Masalah muncul ketika campur tangan eksternal yang berorientasi ekonomis mulai mendominasi. Pohon-pohon bernilai ekonomi tinggi dieksploitasi, benih-benih “unggul” diseleksi bukan demi keberlanjutan, melainkan demi keuntungan.

Di titik inilah WIWIL diefektifkan secara paksa, dan akibatnya kualitas pertumbuhan alamiah menurun. Naturalisme—sebagai penghormatan pada keseimbangan—menjadi asing, nyaris tak pernah digaungkan di republik ini.

Sebuah ilustrasi sejarah menegaskan semua ini. Pada suatu masa, lahir lembaga-lembaga baru yang dibentengi tembok raksasa, gedung putih, rumput hijau, dan kebun binatang berwujud manusia.

Sementara itu, kampus biru berubah kelabu; api revolusi dan kemarahan dipadamkan oleh bom atom ideologis. Kampus menjadi saksi bisu—diam, bahkan kehilangan bahasa.

Di panggung global, Hitler dan Stalin saling membagi dunia. Gemuruh marinir mendarat di Normandia, konspirasi gagal, Hiroshima dan Nagasaki diluluhlantakkan. Amerika tampil sebagai pemenang sejarah dengan darah dan api.

Namun di sudut tenggara bumi ini, sebuah ledakan yang jauh lebih sunyi tetapi radikal terjadi: Revolusi Sosial Indonesia, dengan kulminasi Proklamasi Kemerdekaan.

Itulah pengingat terakhir: sejarah tidak selalu digerakkan oleh kekuatan terbesar, melainkan oleh keberanian manusia konkret untuk mengambil tanggung jawab atas nasibnya sendiri. ***)

Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 28 Desember 2025