Opini:
REVOLUSI SOSIAL
Djoko Sukmono
Hanya sekali di dalam Waktu suatu Bangsa menjelma menjadi besar dan hadir dalam sejarah sebagai mercusuar bagi umat manusia.
Hanya sekali gelombang itu muncul, menghantam segala kelambanan, membakar segala kebekuan, dan memaksa dunia menoleh.
Namun generasi yang hidup di momen itu, terlalu sering, hanyalah stikmanusasi—figur-figur tanpa kedalaman—yang tak sanggup memberi makna sejati kepada zaman.
Mereka hidup, tetapi tidak hadir.
Mereka bergerak, tetapi tidak mengubah.
Mereka berbicara, tetapi tidak menginspirasi.
Dan pada akhirnya, mereka menjadi generasi yang hilang: generasi penonton di panggung sejarahnya sendiri.
Sebab tidak ada petunjuk konkret dalam sejarah.
Tidak ada kitab manual bagi zaman.
Dan tidak ada keharusan bagi generasi masa lalu untuk memaksakan cita-cita mereka kepada generasi masa kini.
Tidak ada.
Tidak ada.
Dan tetap tidak.
Sebab setiap zaman menciptakan manusia konkret, manusia legenda, manusia yang lahir sebagai ketegangan antara ruang dan Waktu itu sendiri.
Ia adalah manusia otentik yang tak bisa dipahami oleh jamannya—karena ia dibentuk oleh sesuatu yang lebih tua dari Tradisi dan lebih muda dari Harapan: oleh kebutuhan sejarah itu sendiri. Zaman memanggil, dan satu manusia menjawab. Hanya satu.
Kecelakaan terbesar dalam sejarah manusia terjadi ketika sebuah komunitas masih menggantungkan dirinya pada pancang-pancang kebenaran dan kebaikan masa lalu.
Mereka ingin hidup di masa kini, tetapi fondasinya tetap masa silam; mereka ingin menuju masa depan, tetapi peta yang mereka gunakan adalah peta nenek moyang yang sudah tidak relevan.
Inilah ironi peradaban: masa lalu terus disembah, padahal masa lalu itu buta terhadap realitas hari ini.
Mereka yang hidup seperti itu adalah manusia bermoral budak. Mereka takut kepada perubahan, takut kepada kebebasan, takut kepada konsekuensi menjadi makhluk historis.
Mereka bersembunyi di balik tradisi, bukan karena hormat kepada warisan, tetapi karena tidak berani berpikir sendiri.
Masih banyak bercokol orang-orang reaksioner di setiap lorong kehidupan sosial. Merekalah orang orang yang membuat revolusi mandek.
Dan para formalis—kaum yuris yang hanya hidup di retorika legalistik—adalah kaum reaksioner yang cerewet, yang kerjanya hanya maido, menggugat, memperkecil segala gagasan besar dengan bahasa yuridis yang kaku.
Dari mereka tidak lahir terobosan.
Dari mereka tidak tumbuh perubahan.
Dari mereka tidak bisa diharapkan ledakan bagi kemajuan Bangsa.
Sebab revolusi tidak pernah lahir dari para penjaga prosedur.
Revolusi lahir dari para penghancur batas.
Selama JS masih hidup sebagai Anak Bangsa Indonesia, Revolusi belum selesai. Itulah beban yang dipikul oleh mereka yang mengerti denyut sejarah. Dan menjadi kewajiban saya, Joko Sukmono, untuk meledakkan Revolusi itu.
Tidak ada kekuatan yang bisa menghalangi.
Tidak ada kiri.
Tidak ada kanan.
Kita tidak berjalan di jalur ideologi dunia; kita berjalan di atas Rel Revolusi kita sendiri.
Kita bukan Marxis.
Kita bukan kapitalis.
Kita adalah Marhaenis—manusia yang bangkit dari puing-puing kehancuran, manusia yang disalakan oleh bara sejarah. Kita adalah embriologis Sukarno, pewaris semangat yang siap membakar dunia yang biadab ini.
Dunia sekarang adalah dunia yang runtuh secara moral.
Dunia yang berjalan pincang.
Dunia yang sontoloyo.
Dan pada hari ini saya tegaskan:
Jika Revolusi Sosial Indonesia tidak diledakkan, maka Indonesia bubar.
Sudah cukup mimpi kosong tentang Indonesia Emas 2045.
Indonesia Emas tidak lahir dari seminar, forum, atau birokrasi.
Indonesia Emas lahir dari Revolusi.
Revolusi, atau Indonesia bubar.
Sejarah sudah mencatat revolusi-revolusi sebelumnya:
Revolusi politik—Revolusi Prancis, Revolusi kemerdekaan Amerika.
Revolusi ideologi—Revolusi Bolshevik.
Revolusi kebudayaan—di RRT.
Revolusi spiritual—Yesus disalib.
Revolusi pemikiran—Socrates dipancung gagasannya.
Revolusi militer—Nazi Jerman mengguncang Eropa.
Revolusi Islam—di Iran.
Semuanya telah terjadi.
Semuanya telah selesai.
Tinggal satu yang belum: Revolusi Sosial.
Dan Revolusi Sosial itu harus meledak dari Indonesia.
Kita adalah Bangsa yang dihitung dalam geopolitik global.
Kita bukan angka pinggiran.
Kita bukan figuran sejarah.
Kita adalah aktor utama, jika kita berani menjadi besar.
Merdeka!
Hiduplah sebagai legenda yang tidak dimengerti oleh zamannya—karena merekalah peledak Revolusi Sosial itu.
Revolusi Sosial berarti menjebol seluruh tatanan sosial.
Yang dijebol bukan sebagian, tetapi seluruh sistem.
Konstruksi dibongkar.
Struktur dirobohkan.
Relasi kekuasaan digilas.
Lalu dibangun kembali tatanan dunia baru yang demokratis-humanis, sebuah dunia yang tidak lagi patuh pada kepicikan lama.
Semuanya digerakkan oleh kebiasaan-kebiasaan baru, oleh cara hidup baru, oleh mentalitas baru.
Tidak ada lagi formalisme yang menjebak, yang membuat bangsa ini diam di tempat.
Inilah saatnya kita bangkit sebagai Bangsa Besar.
Bangsa yang menciptakan sejarah—bukan sekadar membacanya. ***)
Posted: sarinahnews.com, Surabaya, 14 November 2025





