BERJUANG DI LINI KITA MASING-MASING

BERJUANG DI LINI KITA MASING-MASING

Opini

BERJUANG DI LINI KITA MASING-MASING
Oleh: Saiful Huda Ems.

Kita tidak boleh menutup mata, bahwa masih banyak pejabat negara yang sampai saat ini masih suka korupsi dan menyalah gunakan keluasaannya.

Indonesia ini negara besar, menempati di urutan ke 3 negara demokrasi yang terbesar di dunia, setelah India dan Amerika Serikat. Hal ini bisa terjadi mengingat penduduk Indonesia lebih banyak dari negara-negara penganut demokrasi lainnya, selain India dan Amerika Serikat.

Selain itu, Indonesia juga termasuk negara muslim terbesar di dunia, lagi-lagi ini mengingat populasi atau jumlah penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam dan terbanyak di dunia.

Baru kemudian menyusul Pakistan, India, Bangladesh dan Nigeria. Meski demikian Indonesia bukanlah termasuk Negara Islam, melainkan Negara Pancasila yang menjamin kebebasan beragama.

Indonesia juga termasuk salah satu negara yang sangat kaya sumber daya alam, yang memiliki cadangan besar nikel, timah, bauksit, tembaga, emas, batu bara dan gas alam. Memiliki hutan tropis terbesar ketiga di dunia, setelah Brazil dan Democratic Republic of the Congo.

Indonesia juga termasuk negara dengan keaneka ragaman hayati tertinggi di dunia, bahkan sering disebut sebagai salah satu dari negara “megadiverse”. Belum lagi wilayah laut Indonesia yang sangat luas dengan sumber daya perikanan yang besar dan lain-lain.

Pertanyaannya, kenapa Penduduk Indonesia sampai saat ini banyak yang hidup dalam kemiskinan dan kegetiran? Kenapa Rakyat Indonesia yang dikeliling kekayaan alam ini, banyak yang susah mencari pekerjaan, banyak yang kesulitan membiayai pendidikan, banyak yang bercerai dan bunuh diri karena faktor kesulitan keuangan dan lain seterusnya? Inilah yang harus kita jawab bersama.

Kita mempunyai presiden yang sudah nyaris lengkap kelebihannya dibanding rakyatnya sendiri. Sudah kaya raya, mantan jenderal, dari keluarga berpendidikan, jaringan politiknya sangat luas dan seterusnya.

Sebagai manusia normal, kita tentu bertanya-tanya dalam diri sendiri, presiden sudah diberi begitu banyak kelebihan, lah kok keadaan Indonesia masih begini-begini saja, gak maju-maju, malahan koruptornya bertambah subur dan ironisnya hutan-hutan banyak yang gundul, kekayaan alamnya malah banyak yang dijarah, penegakan hukumnya malah kacau balau.

Kenapa semua itu bisa terjadi? Beribu jawaban pasti bisa kita kemukakan, di antaranya: di balik berbagai kelebihan Pemimpin Nasional kita, Presiden Prabowo Subianto juga memiliki banyak kekurangannya.

Beliau pintar namun mudah dibodohi, beliau kaya raya namun ternyata masih suka memfasilitasi kroni-kroninya untuk menjarah kekayaan negara, beliau mantan jenderal tapi masih memelihara banyak loyalisnya yang gemar meneror rakyat.

Menjadi presiden dengan kekuasaan luar biasa, namun diteriaki rakyatnya berbulan-bulan soal korupsi yang sangat besar dan gila-gilaan di seputar program MBG dan Kopdes MP, namun sampai hari ini beliau tidak pernah berani menghentikan program yang sudah berubah menjadi proyek korupsi ini.

Kepala MBG dan dua wakilnya sudah dicopot dan diproses hukum. Ini artinya penegakan hukum dilaksanakan hanya sebatas untuk para pelaksana di lapangannya saja, namun otak-otak kejahatan korupsinya sepertinya masih diamankan, ini yang harus terus menerus kita pertanyakan.

Menjadi pejabat negara memang tidak berdosa, bahkan bisa menjadi keharusan jika memang itu diniati dengan baik dan memiliki kapabelitas di bidangnya. Karena itu saya sendiri tidak pernah menggeneralisasi semua pejabat itu bandit, koruptor, suka menyalah gunakan kekuasaannya.

Dan, masih banyak pejabat negara yang sampai hari ini saya dukung, karena dari pengamatan saya mereka masih relatif steril dari aroma bandit.

Namun kita tidak boleh menutup mata, bahwa masih banyak pejabat negara yang sampai saat ini masih suka korupsi dan menyalah gunakan keluasaannya. Pada mereka itulah perlawanan kita harus diarahkan!

Sebab jika tidak demikian, maka potensi besar yang dimiliki negara ini tidak akan ada artinya apa-apa, bahkan bisa juga lenyap dalam waktu yang tidak akan lama.

Maka berjuang di lini kita masing-masing merupakan suatu keniscayaan. Yang sudah jadi pejabat negara harus mau mendengar dan memperjuangkan aspirasi rakyat, sedangkan yang masih jadi rakyat biasa harus selalu aktif bersuara, menyuarakan aspirasinya dan memperjuangkan cita-cita bangsa dan negara kita secara bersama-sama.

Baik itu melalui tulisan, melalui pergerakan aksi-aksi di jalanan, maupun bekerja sebaik mungkin di bidangnya masing-masing, yang semuanya ditujukan untuk yang satu dan satu untuk semuanya: Indonesia. Sapere aude! Merdeka !!!

Posted: sarinahnews.com
Jakarta, 13 Juni 2026