Opini
PERANG TIMUR TENGAH MENJADI PERANG NARASI DI INDONESIA
Oleh Ayik Heriansyah
● Situasi di Timur Tengah dengan cepat memasuki ruang publik Indonesia dan membentuk opini masyarakat.
oo0oo
Perang di Timur Tengah memasuki babak baru setelah kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang ditandatangani pada Juni 2026 gagal karena militer AS melancarkan serangan udara ke sejumlah sasaran di Iran, yang kemudian dibalas oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dengan serangan rudal dan pesawat nirawak ke pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Teluk pada Juli 2026.
Perang kemudian meluas ke berbagai front baru sepanjang Juli 2026. Iran mengumumkan blokade Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur distribusi energi terpenting dunia, sementara ketegangan di Yaman meningkat setelah Arab Saudi melancarkan serangan udara ke Bandara Internasional Sanaa yang kemudian dibalas kelompok Houthi dengan serangan rudal balistik dan pesawat nirawak ke wilayah Saudi.
Memasuki pertengahan Juli 2026, bersamaan dengan meningkatnya intensitas perang, pertarungan narasi juga berkembang melintasi batas negara melalui media massa, media sosial, dan jaringan organisasi transnasional.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa perang tidak lagi berlangsung semata-mata sebagai perang konvensional, tetapi juga sebagai proxy war naratif. Perang memperebutkan persepsi, identitas, dan cara berpikir masyarakat dalam memahami realitas.
Indonesia negara yang sangat potensial menjadi wilayah proxy war naratif tersebut. Sebagai negara Muslim terbesar di dunia dengan tingkat penggunaan media sosial yang tinggi, setiap eskalasi perang di Timur Tengah hampir selalu diikuti ledakan konten digital, ceramah, diskusi politik, dan perang tagar.
Situasi di Timur Tengah dengan cepat memasuki ruang publik Indonesia dan membentuk opini masyarakat.
Perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang meluas di kawasan dibingkai secara berbeda oleh masing-masing kelompok untuk memperkuat legitimasi pandangan mereka.
Akibatnya, perdebatan geopolitik bergeser menjadi kompetisi identitas dan otoritas keagamaan di Indonesia.
Indonesia menjadi wilayah pertemuan sedikitnya empat narasi besar. Narasi pertama adalah glorifikasi Syiah sebagai poros perlawanan umat Islam terhadap Amerika Serikat dan Israel. Narasi yang memperkuat solidaritas Sunni-Syiah di Indonesia.
Narasi kedua adalah narasi Salafi yang menjadi antitesis dari narasi tentang Syiah. Narasi playing victim guna mendapat simpati umat Islam Indonesia khususnya yang anti Syiah.
Narasi ketiga adalah khilafah yang menyatukan umat Islam sebagai solusi dari Hizbut Tahrir. Narasi yang memvalidasi keberadaan HTI dan meminimalisir resistensi terhadap gerakan mereka.
Narasi keempat adalah narasi yang mendiskreditkan habib dengan mengaitkannya kepada Yaman sebagai tanah leluhur mereka yang sekarang menjadi musuh Amerika, Israel dan Arab Saudi. Narasi yang secara implisit ingin mencabut akar Islam di Nusantara.
Dalam perspektif sosiologi politik, situasi ini menunjukkan bahwa identitas keagamaan semakin bersifat transnasional. Peristiwa yang terjadi ribuan kilometer dari Indonesia dapat membentuk orientasi sosial politik masyarakat. Batas geografis negara tidak lagi penting.
Perang yang terjadi di Timur Tengah dapat beresonansi menjadi perdebatan ideologis di Indonesia tanpa melibatkan perpindahan medan tempur secara fisik. Perang yang menjadikan ruang digital sebagai medan pertempuran. Berimplikasi pada terciptanya polarisasi baru masyarakat Indonesia.
Tantangan bagi Indonesia adalah membangun ketahanan narasi (narrative resilience) agar masyarakat tidak mudah terseret dalam kompetisi propaganda global. Literasi media, verifikasi informasi, dialog lintas kelompok, dan penguatan wawasan kebangsaan dan geopolitik menjadi hal penting.
Selama perang Timur Tengah masih berlangsung, Indonesia akan tetap menjadi wilayah penting dalam kontestasi narasi mengenai Syiah, Salafi, khilafah, dan isu nasab sehingga ruang publik yang rasional, berbasis fakta, dan menghormati perbedaan perlu terus dijaga sebagai bagian dari upaya memperkuat kohesi sosial dan ketahanan nasional. ***)
Posted: sarinahnews.com
Bandung, 17 Juli 2026





