MENCARI PENGUASA DUNIA YANG BARU Oleh Ayik Heriansyah

MENCARI PENGUASA DUNIA YANG BARU Oleh Ayik Heriansyah

Opini

MENCARI PENGUASA DUNIA YANG BARU
Oleh Ayik Heriansyah

 

… Penguasa dunia yang baru itu adalah negara yang ideologis. Suatu negara yang mampu menggabungkan kekuatan materi dengan kekuatan idealismenya.

 

 

Perang Ukraina-Rusia, konfrontasi Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, serta konflik India-Pakistan menunjukkan kesetimbangan baru politik global. Dunia memasuki fase transisi untuk mencari siapa penguasa baru yang akan menentukan arah politik internasional ke depan.

Jika setelah runtuhnya Uni Soviet, Amerika Serikat tampil sebagai penguasa tunggal dunia dengan dominasi yang nyaris tanpa tandingan, maka perkembangan berbagai konflik besar dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa era tersebut mulai berakhir.

Perang Ukraina mengubah persepsi lama tentang Rusia sebagai kekuatan besar yang menakutkan. Selama puluhan tahun Rusia membangun citra sebagai pewaris kejayaan Uni Soviet yang mampu memaksakan kehendaknya kepada negara-negara di sekitarnya.

Akan tetapi perang yang berlangsung sejak 2022 menunjukkan kenyataan berbeda. Rusia memang tidak kalah, tetapi juga belum menang. Ukraina yang secara ekonomi, demografi, dan militer jauh lebih kecil mampu bertahan, bahkan melakukan serangan jauh ke dalam wilayah Rusia.

Kemampuan Ukraina menyerang fasilitas strategis Rusia, pangkalan udara, armada laut, bahkan wilayah yang selama ini dianggap aman dari ancaman perang telah meruntuhkan prestise Rusia sebagai kekuatan besar. Ukraina tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu mempermalukan Rusia di hadapan dunia.

Di Timur Tengah, konfrontasi antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Iran berhasil memaksa Amerika ke meja perundingan. Sementara Israel kehilangan harga dirinya setelah dihujani rudal-rudal Iran. Selama puluhan tahun kedua negara itu membangun reputasi sebagai kekuatan militer yang hampir tidak terkalahkan.

Iran negara ideologis, bukan negara pragmatis. Ada nilai-nilai luhur yang diperjuangkan. Faktor ideologis inilah yang sering kali gagal dihitung oleh para perancang strategi di Washington maupun Tel Aviv.

Fenomena Iran menunjukkan bahwa negara yang memiliki fondasi ideologi kuat mampu membangun daya tahan yang kuat yang tidak mudah dihancurkan oleh tekanan negara lain.

Fenomena serupa juga terlihat dalam konflik India-Pakistan. Selama dua dekade terakhir India dipromosikan sebagai calon kekuatan besar baru yang akan menjadi mitra utama Barat untuk menahan pengaruh China di Asia Selatan.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, modernisasi militer, serta dukungan politik Barat membuat banyak pengamat melihat India sebagai salah satu kandidat penguasa Asia. Namun konflik udara 7 – 10 Mei 2025 menunjukkan bahwa masalahnya tidak sesederhana itu.

Dengan memanfaatkan jet tempur J-10C buatan China dan sistem pertahanan yang dimilikinya, Pakistan berhasil menjatuhkan lima pesawat tempur India termasuk Rafale menjadi simbol modernisasi angkatan udara India. Pakistan mampu menunjukkan kapasitas perlawanan yang efektif.

Dari ketiga konflik tersebut, Rusia gagal menundukkan Ukraina. Amerika dan Israel gagal mematahkan Iran. India gagal menaklukkan Pakistan, ada satu fakta penting yang sering luput dari perhatian, yaitu bahwa aktor-aktor paling tahan banting dalam politik global saat ini adalah negara-negara ideologis.

Negara ideologis adalah negara yang tidak berdiri di atas kepentingan pragmatisme ekonomi semata, melainkan memiliki idealisme yang menjadi sumber legitimasi eksistensinya.

Amerika Serikat selama lebih dari satu abad tampil sebagai kekuatan global karena membawa ideologi kapitalisme, liberalisme dan demokrasi. Iran bertahan karena memiliki ideologi Islam Syiah. Dan Pakistan dengan ideologi Islam Sunni.

Dunia hari ini tampak sedang berada di persimpangan sejarah. Mencari siapa penguasa dunia ke depan. Yang jelas penguasa dunia yang baru itu adalah negara yang ideologis. Suatu negara yang mampu menggabungkan kekuatan materi dengan kekuatan idealismenya. ***)

 

Posted: sarinahnews.com
Bandung, 25 Juni 2026