Opini
MENAKAR KEKUATAN POLITIK DAN PERTARUNGAN HUKUM JOKOWI
Oleh: Saiful Huda Ems.
Kalau saya perhatikan para pengacara Jokowi, apalagi yang hanya sekedar mengaku-ngaku pengacara Jokowi, itu kok tidak sebanding pengetahuan dan keterampilan hukumnya dibanding para pengacara Roy Suryo cs.
Dari berbagai argumentasi perdebatan hukum yang mereka kemukakan, dan yang dapat kita saksikan bersama, baik itu yang disiarkan oleh stasiun-stasiun TV maupun yang disiarkan dalam berbagai podcast, terlihat sekali para pengacara Jokowi kurang memahami pengetahuan hukumnya.
Saya mencoba untuk memahami persoalan itu, kenapa Jokowi sepertinya tidak mampu menemukan para pengacaranya yang handal, padahal Jokowi kan banyak uang dan sangat luas jaringannya?
Jokowi itu banyak uang dan sangat luas jaringan pertemanannya, namun jangan lupa kasus Ijazah Palsu ini sangatlah mudah dibaca oleh para pengacara profesional, seperti apa sebetulnya faktanya.
Karena itu para pengacara profesional, tentunya akan berpikir panjang untuk mempertaruhkan reputasinya, jika saja mereka mau menjadi pengacaranya Jokowi dan sudah dapat diprediksi akan kalah.
Persidangan kasus Ijazah Palsu Jokowi ini sudah pernah digelar berkali-kali di beberapa tempat, anehnya Jokowi belum pernah sekalipun hadir di persidangan dan belum pernah pula menunjukkan ijazahnya, sehingga belum pernah pula dapat dibuktikan di pengadilan, ijazah Jokowi itu asli ataukah palsu.
Ajaibnya, persidangan kasus Ijazah Palsu Jokowi ini yang sudah pernah digelar di beberapa pengadilan ini, sudah memvonis penjara bagi orang yang mempertanyakan keaslian Ijazah Jokowi, dengan berbagai pasal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Ijazah Jokowi yang dipersoalkan.
Maka ketika persoalan hukum yang menimpa Roy Suryo maupun Dokter Tifa cs di seputar kemelut Ijazah Palsu Jokowi itu nanti sampai berlanjut ke persidangan, hasil akhirnya sudah akan dapat dengan mudah diprediksi oleh para pengacara profesional.
Kalau persidangannya itu nanti murni mengedepankan hukum, maka Jokowi akan sangat mudah ditebak, kalah. Akan tetapi jika anasir-anasir politik nantinya akan turut berperan aktif mengintervensinya, maka bisa jadi Roy Suryo cs akan kalah atau bisa juga sebaliknya, menang.
Perlu dicatat, dalam penegakan hukum, anasir-anasir politik itu haruslah dijauhkan, karena jika tidak maka proses penegakan hukum yang harus memperhatikan asas kepastian hukum dan asas due process of Law itu akan sulit terpenuhi.
So, jikapun Jokowi akan tetap memaksakan anasir politik mengintervensi ke dalam proses hukum ini, para lawyer profesional dan memiliki keterampilan berpolitikpun akan mengerti, bahwa situasi politik itu sangat unpredictable.
Jika mereka tidak akurat memprediksinya, maka mereka bisa-bisa malah jadi korban jika nantinya situasi politik berubah.
Situasi pilitik yang terjadi pada hari ini, belum tentu sama dengan apa yang akan terjadi di bulan-bulan mendatang. Bahkan hanya dalam hitungan hari maupun minggu, situasi politik juga sangat bisa berubah. Ditangguhkannya penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa sendiri seolah sudah menunjukkan, bahwa peta politik nasional mulai nampak berubah, dan ini pasti telah menjadikan kubu Jokowi mulai semakin waspada.
Seperti ada Tangan Sakti yang berusaha melindungi Roy Suryo dan Dokter Tifa, dan itu kelasnya kalau tidak sebanding ya pastinya di atas kelasnya Jokowi, sehingga Roy Suryo dan Dokter Tifa penahanannya dengan mudah ditangguhkan.
Itulah yang menjadikan para pendukung Jokowi yang sudah terlanjur pesan Karangan Bunga warna-warni dan mewah-mewah, dengan berbagai ucapan terimakasih pada Polda Metro Jaya, kecewa berat dan mulai teriak-teriak kecut.
Ini berarti kekuatan politik Jokowi perlahan mulai runtuh sebelum pertarungan besar dimulai di pengadilan, dan di perhelatan politik nasional 2029 yang akan menjadi dalang politik bagi putranya, Gibran. Kita lihat saja ke depannya. Wallahu a’lamu bishawab. ***)
Posted: sarinahnews.com
Jakarta, 24 Juni 2026
– Saiful Huda Ems (SHE). Lawyer dan Analis Politik, Aktivis ’98.





