ALTAR POLITIK DAN TINDAKAN POLITIK: SEBUAH KONSEKUENSI

ALTAR POLITIK DAN TINDAKAN POLITIK: SEBUAH KONSEKUENSI

Filsafat Politik

ALTAR POLITIK DAN TINDAKAN POLITIK: SEBUAH KONSEKUENSI
Joko Sukmono

_Sosialisme hadir dengan jargon Internasionalisme, bahwa setiap anak manusia yang tinggal di bumi memiliki kesetaraan di hadapan kehidupan sosial._

Hari ini adalah sebuah situasi yang sedang berlangsung dalam kondisi yang normal, biasa, dan rutin.

Matahari tetap bersinar, air dan udara tetap bergerak, dan bagi mereka yang hidup, kehidupan tetap berjalan melalui tindakan-tindakan yang hampir tidak pernah dipersoalkan: bernapas, makan, minum, tidur, kemudian bangun dan kembali menjalani kehidupan.

Semua itu telah menjadi kebiasaan tanpa beban, sebuah tradisi kehidupan sehari-hari yang menghantarkan manusia kepada harapan tentang masa depan yang lebih baik, lebih makmur, lebih sejahtera, dan lebih daripada kesejahteraan yang dimilikinya hari ini.

Namun, sesuatu yang tampak sederhana itu ternyata telah diintervensi dan dianulir oleh sebuah kekuatan yang tidak mudah dibendung. Ia adalah Politik, yang oleh Dechiperis dibacakan sebagai sebuah kejadian yang terus direproduksi kembali menjadi berbagai kategori kontingensi primordial sosio-kultural.

Politik tidak pernah berhenti pada satu bentuk. Ia terus mencari bentuk-bentuk baru, beraneka rupa, beragam, dan terus berdiaspora ke berbagai dimensi kehidupan manusia yang majemuk.

Ia memasuki ruang ekonomi, kebudayaan, agama, moral, hukum, pendidikan, bahkan masuk ke dalam cara manusia memahami dirinya sendiri.

Karena itu Politik bukan lagi sekadar sesuatu yang terjadi di dalam gedung pemerintahan atau di antara para penguasa.

Ia telah menjadi atmosfer kehidupan sosial yang di dalamnya manusia menjalani hari-harinya tanpa selalu menyadari bahwa keberadaannya sedang disentuh, diarahkan, dan dibentuk oleh kekuatan tersebut.

Dalam pembacaan ini, Altar Politik dan Tindakan Politik dibacakan oleh Dechiperis melalui metodologi Dechiperisme yang bernama Metodologi Konsekuensi, yaitu sebuah metodologi risiko yang bermanifestasi dalam bentuk-bentuk perlawanan dan pemberontakan terhadap sesuatu yang dengan tegar berdiri di hadapannya.

Konsekuensi dalam pengertian ini bukan sekadar akibat yang muncul setelah sebuah tindakan dilakukan, melainkan sebuah keadaan ketika struktur yang telah dibangun selama berabad-abad akhirnya harus menghadapi akibat dari keberadaannya sendiri.

Apa yang selama ini dianggap kokoh mulai dipertanyakan, apa yang dianggap sakral mulai dibaca kembali, dan apa yang selama ini dianggap tidak mungkin disentuh mulai dibawa ke dalam ruang pemeriksaan filosofis.

Teknik-teknik metodologinya bernama Restrukturisasi Sosio-kultural dengan instrumen pembebasan yang bernama Destrukturisasi Destruktif, yang oleh Dechiperis dijelaskan sebagai Buldoser Filosofis.

Buldoser Filosofis itu adalah pernyataan terbuka dan telanjang terhadap para Penyembah Altar, yakni mereka yang berdiri sebagai penjaga prosedur, operator politik, dan algojo sosial.

Mereka bukan semata-mata individu, melainkan fungsi sosial yang menjaga agar struktur tetap berdiri sekalipun struktur tersebut telah kehilangan relevansinya terhadap kehidupan manusia konkret.

Dan oleh Dechiperis, para Penyembah Altar, yakni Penjaga Prosedur, Operator Politik, dan Algojo Sosial, dibaca sebagai keberadaan yang harus dihancurkan struktur kekuasaannya melalui sebuah narasi besar yang dalam konstruksi Dechiperisme disebut sebagai Disprosedural Political Revanche Eksekutif.

Ia adalah sebuah tindakan politik eksistensial otentik yang berdaya ledak tinggi, sebuah tindakan yang muncul ketika prosedur telah berubah menjadi penghalang bagi kehidupan dan ketika mekanisme administratif telah kehilangan hubungan dengan Realitas Sosial.

Dalam keadaan demikian, konstruksi lama dapat mengalami perubahan yang bersamaan dengan ambruknya struktur yang menopangnya.

Meskipun bau anyir darah dan tragedi dapat menyengat kehidupan sosial politik, dalam konstruksi pemikiran ini keadaan tersebut dibacakan sebagai konsekuensi dari mekanisme sosial politik yang telah mencapai Situasi Batas.

Namun konsekuensi historis tersebut tidak harus dipahami sebagai tujuan yang dikejar, melainkan sebagai peringatan mengenai harga yang dapat muncul ketika perubahan ditutup, negosiasi kehilangan daya, dan struktur kekuasaan mempertahankan dirinya tanpa batas.

Di sinilah tragedi politik tampil sebagai konsekuensi yang paling ekstrem dari kegagalan manusia menemukan saluran perubahan sebelum kontradiksi mencapai titik ledaknya.

Kemudian Dechiperis menggambarkan bahwa selama ribuan tahun mekanisme sosial telah membangun dengan susah payah Altar-Altar tersebut dengan alasan pokok sebagai persembahan kepada Bapak Manusia dan Keganasan Kosmos.

Pada awalnya altar memiliki fungsi antisipasi: manusia menghadapi sesuatu yang tidak dipahaminya, menghadapi alam yang tidak dapat dikendalikannya, menghadapi kematian, bencana, kelaparan, dan berbagai ketidakpastian, lalu menciptakan simbol-simbol yang dianggap mampu memberikan keteraturan terhadap dunia.

Tetapi seiring waktu, fungsi antisipatif tersebut mengalami transformasi menjadi fungsi hegemoni. Altar tidak lagi hanya menjadi tempat manusia menghadapi ketakutan terhadap kosmos, tetapi berubah menjadi simbol yang harus dijaga oleh manusia sendiri.

Dari sinilah kemudian muncul kebutuhan akan sakralisasi absolut yang melibatkan para Penjaga Prosedur, Operator Politik, dan Algojo Sosial.

Ketika altar telah disakralkan, kritik terhadap altar dapat dibaca sebagai penghinaan, pertanyaan terhadap prosedur dapat dianggap sebagai penyimpangan, dan manusia yang mengambil jarak dari struktur dapat ditempatkan sebagai devian.

Ketika demikian, Dechiperis menggambarkan kekuatan konservatisme yang telah menjadi penguasa tunggal terhadap altar-altar tersebut.

Babak baru sejarah mulai dilukiskan dan dinarasikan sebagai penyebaran virus mental berupa institusionalisasi dan instruksionalisasi sosial yang bernama nilai-nilai fundamental kemanusiaan.

Dechiperis membacakannya sebagai berikut: Dia adalah Kebenaran. Dia adalah Kebaikan. Dia adalah Keadilan. Ketiganya kemudian mengalami koeksistensi menjadi Perdamaian, Kesejahteraan, dan Keharmonisan.

Pada mulanya semua nilai tersebut dapat dipahami sebagai usaha manusia untuk menemukan bentuk kehidupan bersama yang lebih baik. Namun seiring waktu terjadi komodifikasi adaptatif terhadap nilai-nilai tersebut.

Ia kemudian menemukan bentuk historisnya dalam Revolusi Politik yang digerakkan di Perancis pada abad ke-18 dengan tiga kata yang menjadi simbol besar perubahan: Kebebasan, Kesetaraan, dan Persaudaraan.

Oleh Dechiperis, ketiganya dibaca sebagai cikal bakal ideologi politik yang progresif, tetapi sekaligus menjadi bagian dari perjalanan panjang bagaimana nilai fundamental manusia dapat diubah menjadi bahasa politik, kemudian menjadi institusi, lalu menjadi perangkat kekuasaan yang memiliki kehidupannya sendiri.

Dan lebih daripada itu semuanya, Dechiperis membawa ketiga kontingensi esensial politik progresif yang bernama Kebebasan, Kesetaraan, dan Persaudaraan kepada generasi demi generasi sampai dengan hari ini, tahun 2026 abad ke-21 ini. Ia menjadi sebuah situasi historis yang melahirkan ideologi politik besar dunia.

Dalam pembacaan Dechiperis, salah satu bentuk yang kemudian muncul adalah imperialisme modern yang digerakkan oleh tiga kekuatan jiwa politik dunia, yaitu Nativisme, Kapitalisme, dan Sosialisme.

Ketiganya oleh Dechiperis disebut sebagai Predator Politik yang mewakili bentuk-bentuk konservatisme tertentu yang pada akhirnya dapat diarahkan kepada kepatuhan terhadap Altar Politik.

Di sini ketiganya tidak semata-mata dibaca sebagai label ideologis, tetapi sebagai kekuatan historis yang membawa manusia kepada bentuk tertentu dari organisasi sosial.

Masing-masing memiliki bahasa, simbol, institusi, dan cara sendiri dalam menjelaskan bagaimana manusia seharusnya hidup.

Nativisme adalah pembawaan dasar daripada manusia yang menghendaki terus, yang kemudian menjadi kehendak untuk berkuasa.

Oleh Dechiperis keadaan ini dijelaskan sebagai _psycho-social Political Revanche Eksekutif,_ yaitu sebuah keadaan kejiwaan sosial politik yang secara esensial menghendaki bebas daripada imperialisme konservatisme yang telah membelenggu kebebasan otentik kehidupan sosial manusia selama ribuan tahun.

Nativisme dengan demikian dibaca sebagai dorongan untuk kembali kepada keberadaan yang dianggap paling dekat dengan dirinya sendiri, dengan komunitasnya, dengan sejarahnya, dengan tanahnya, dan dengan pengalaman kolektif yang membentuk identitasnya.

Tetapi ketika dorongan tersebut memasuki ruang kekuasaan, ia dapat berubah menjadi kehendak untuk menguasai.

Di sinilah kontradiksi nativisme muncul: kehendak untuk bebas dari dominasi dapat sekaligus menjadi kehendak untuk mendominasi pihak lain.

Dechiperis kemudian menggambarkan bahwa Kapitalisme yang berkonfrontasi dengan Sosialisme juga tidak dapat dilepaskan dari Nativisme yang dipahami secara berbeda-beda karena latar belakang sosio-kultural yang berbeda, tempat yang berbeda, waktu yang berbeda, dan keadaan historis yang berbeda.

Lebih daripada itu, Dechiperis membukakan pintu historis berupa pembacaan ulang terhadap substansi esensial sosial politik yang sampai hari ini masih disalahpahami, yakni tentang narasi yang telah menjadi kesadaran kolektif anak-anak manusia setelah Perang Besar berakhir, yaitu Perang Dunia Kedua.

Dalam konstruksi Dechiperisme, konstelasi yang berkembang sejak 1945 sampai dengan 2026 merupakan perjalanan eksistensial politik yang memperjuangkan kepentingan masing-masing bangsa dan negara.

Konstelasi tersebut seolah-olah dibatasi oleh dua kutub besar, yaitu Kapitalisme dan Sosialisme, yang kemudian berdiaspora secara progresif ke berbagai pelosok bumi dengan jargon dan slogan yang mereka miliki.

Sosialisme hadir dengan jargon Internasionalisme, bahwa setiap anak manusia yang tinggal di bumi memiliki kesetaraan di hadapan kehidupan sosial.

Sementara Kapitalisme membawa jargon Kebebasan, yang dalam konstruksi teks ini kemudian dihubungkan dengan berbagai deklarasi dan piagam mengenai kemerdekaan serta hak-hak manusia, sebelum berkembang lebih jauh menjadi Homo Economicus Capitalism yang bergerak cepat sebagai kekuatan ekonomi sekaligus politik.

Namun demikian, Dechiperis menggambarkan bahwa keduanya adalah entitas yang masih terbelenggu oleh imperialis yang bernama Altar Politik.

Sampai dengan hari ini justru keduanya dapat dibaca sebagai Penyembah Berhala yang bernama penyembahan kepada Altar Politik, meskipun seolah-olah altar tersebut hanyalah sekadar instrumen politik.

Di sinilah kritik Dechiperis bergerak dari ideologi menuju bentuk yang lebih dalam, yaitu kecenderungan manusia untuk menjadikan instrumen yang diciptakannya sendiri sebagai sesuatu yang lebih tinggi daripada manusia yang menciptakannya.

Kapitalisme dan Sosialisme, dalam pembacaan ini, bukan sekadar dua sistem yang berhadapan, tetapi dua bentuk sejarah yang dapat sama-sama terjebak apabila simbol, institusi, dan doktrin yang mereka bangun berubah menjadi altar yang harus dipertahankan tanpa batas.

Manusia akhirnya bukan lagi menggunakan sistem sebagai alat, melainkan menjadi manusia yang hidup demi mempertahankan sistem.

Kemudian Dechiperis menerangkan dengan konkret bahwasanya bentuk-bentuk aktivitas seperti hormat kepada bendera dan segala jenis upacara kenegaraan dapat dibaca sebagai bentuk primitif manusia yang merasa bahwa tindakan tersebut wajib dilaksanakan sebagai penebusan atas rasa bersalah.

Seolah-olah melalui kelakuan massal seperti itu kewajiban penyembahan kepada Altar Politik mampu membawa manusia kepada masa depan yang lebih baik.

Inilah Ilusi Sosial Politik yang masih dan sedang berlangsung secara terstruktur, sistematis, dan masif dalam konstruksi Dechiperis.

Yang dipersoalkan bukanlah sekadar upacara itu sendiri, melainkan ketika simbol mengambil tempat yang terlalu besar sehingga substansi kehidupan manusia dilupakan.

Ketika penghormatan kepada simbol dianggap cukup untuk membuktikan kesetiaan kepada kehidupan bersama, sementara ketidakadilan konkret tidak disentuh, maka simbol telah berubah menjadi altar dan tindakan manusia berubah menjadi ritual.

Lebih dalam lagi Dechiperis mengkonstruksikan bahwasanya Realitas Otentik Sosial Politik hari ini belum dapat dikatakan telah menjadi, meskipun di dunia idea ia sedang mencari saluran untuk menjadi konkret di dalam Sejarah.

Kekuatan konservatisme yang telah berkuasa atas Altar Politik sedang mempertahankan keberadaannya dengan segala sumber daya yang dimilikinya, termasuk jalan terakhir berupa konfrontasi dan perang tanpa kompromi dan tanpa negosiasi.

Dalam keadaan demikian, Realitas Otentik masih berada sebagai kemungkinan Historis yang belum memperoleh bentuk konkretnya. Ia belum menjadi kenyataan karena masih tertahan oleh struktur yang mempertahankan keadaan lama.

Sedangkan tindakan politik yang ada dan dijalankan belum dapat disebut sebagai Tindakan Politik Otentik, karena tindakan tersebut masih mempertimbangkan akibat-akibat yang dianggap masih dapat direkonstruksi.

Tindakan politik masih berada di dalam kalkulasi, masih bergerak di antara kemungkinan, masih menimbang biaya dan manfaat, masih mempertahankan struktur lama sambil berusaha melakukan perubahan terbatas.

Jalan Sejarah kemudian memilih meninggalkan segala kesemrawutan tersebut dan kembali kepada hukum-hukumnya yang bernama Hukum Rasional Sejarah.

Kehidupan sosial manusia yang terus-menerus dihantam oleh konservatisme dibiarkan berada dalam tekanan sampai kontradiksi yang telah menumpuk mulai membuka dirinya sendiri.

Konfrontasi dari berbagai pihak kemudian muncul sebagai manifestasi dari nativisme yang sedang mengalami penderitaan dan menghendaki pelepasan dari belenggu konservatisme yang berwujud Altar Persembahan Politik.

Dalam pembacaan ini, nativisme bukan hanya persoalan identitas bangsa, tetapi menjadi ekspresi dari kehendak untuk hidup yang menolak keadaan ketika kehidupan konkret sepenuhnya ditentukan oleh struktur yang diwariskan.

Di sinilah Altar Politik bertemu dengan Tindakan Politik sebagai sebuah konsekuensi.

Altar adalah struktur yang dibangun manusia, tetapi kemudian disakralkan sehingga manusia sendiri menjadi penjaganya.

Tindakan Politik adalah gerak manusia yang muncul ketika struktur tersebut tidak lagi mampu memberikan ruang bagi kehidupan. Ketika jarak antara keduanya semakin kecil, maka konsekuensi Historis menjadi semakin besar.

Manusia berhadapan dengan institusinya sendiri, kehendak berhadapan dengan struktur, dan Realitas berhadapan dengan ilusi yang telah lama dipelihara.

Konflik tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengganti bahasa, mengganti slogan, atau memperbanyak prosedur. Ia membutuhkan pembacaan terhadap substansi yang menyebabkan altar itu tetap berdiri.

Karena itu, tindakan politik yang otentik dalam pembacaan Dechiperis bukanlah sekadar tindakan yang paling keras, paling ekstrem, atau paling destruktif.

Ia adalah tindakan yang memiliki keterhubungan dengan Realitas Sosial Otentik dan mampu membuka jalan bagi keberadaan yang belum menjadi.

Tindakan politik menjadi otentik ketika ia tidak lagi sekadar bereaksi terhadap struktur, tetapi mampu menciptakan bentuk baru bagi kehidupan.

Di sinilah konsekuensi memperoleh makna filosofisnya: setiap struktur membawa kemungkinan kehancurannya sendiri ketika ia kehilangan relevansi, sementara setiap tindakan membawa konsekuensi Historis yang harus ditanggung oleh manusia yang melakukannya.

Maka pertanyaan terakhir bukanlah apakah Altar Politik akan tetap berdiri atau runtuh, melainkan apakah manusia akan terus membangun altar baru setelah menghancurkan altar yang lama.

Sebab apabila manusia hanya mengganti satu altar dengan altar yang lain, maka sejarah tidak benar-benar bergerak; ia hanya mengganti nama dari kekuasaan yang sama.

Hukum Rasional Perubahan menuntut sesuatu yang lebih radikal: manusia harus mampu keluar dari kebutuhan untuk menyakralkan struktur buatannya sendiri.

Ia harus mampu menjadikan institusi sebagai alat, bukan tujuan; menjadikan politik sebagai ruang tindakan, bukan altar persembahan; dan menjadikan kehidupan konkret manusia sebagai ukuran terakhir dari relevansi setiap konstruksi sosial politik.

Dari sanalah Tindakan Politik memperoleh konsekuensinya yang paling dalam. Ia bukan sekadar ledakan terhadap sesuatu yang lama, melainkan kemungkinan untuk menghadirkan sesuatu yang baru.

Ia adalah perjumpaan antara Kehendak untuk Hidup dan Hukum Rasional Sejarah, antara manusia konkret dan struktur yang hendak menentukan kehidupannya, antara apa yang telah menjadi dan apa yang belum pernah ada.

_Dan selama manusia masih hidup, masih bekerja, masih menghendaki terus, maka Altar Politik tidak pernah menjadi akhir dari sejarah._

Ia hanya menjadi salah satu bentuk yang suatu hari harus kembali dibaca, dipertanyakan, dan apabila telah kehilangan relevansinya, ditinggalkan oleh manusia yang sedang bergerak menuju keberadaannya yang lebih otentik. ***)

Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 18 September 2026

Note:
Menempatkan politik dalam metafora “altar” dan “tindakan” mengingatkan kita bahwa politik bukanlah permainan tanpa beban.

Politik adalah ruang pertanggungjawaban. Setiap pilihan untuk bertindak atau diam di dalam bilik kekuasaan akan selalu melahirkan konsekuensi yang menggulung, baik bagi sang aktor politik itu sendiri maupun bagi masyarakat luas yang hidup di bawah naungan kebijakan mereka.

Pada akhirnya, kualitas sebuah bangsa ditentukan oleh apa yang mereka letakkan di atas altar politiknya, dan bagaimana para pemimpinnya berani memikul konsekuensi dari setiap tindakan yang mereka ambil. (ai)

Referensi:
BJ Habibie: Peletak Reformasi, Kebijakan, dan Program Mengawal Era Baru Indonesia Halaman 1 – Kompasiana.com